Sebelum Menyesal


Pernahkah kalian marah? Apa yang kalian lakukan saat marah? Mungkin ada yang memaki, mengumpat, membanting sesuatu, memukul, menampar, menulis, melukis, menangis, atau bahkan diam. Ada berbagai cara yang dilakukan orang untuk mengungkapkan emosi marahnya, untuk menunjukkan kepada seseorang “Gue nggak suka kayak gini”.

Marah adalah salah satu emosi dasar manusia. Maka, marah itu emosi yang wajar ada pada diri seseorang. “Berarti boleh marah dong?” Yup, bener banget. Setiap orang berhak untuk marah. Justru kalau kemarahan itu ditahan atau dipendam, malah nggak baik. Memendam amarah itu bagaikan merakit bom waktu, suatu saat ketika jumlahnya sudah terlalu besar, meledaklah ia. Amarah yang tertumpuk-tumpuk seperti itu, ledakannya akan jauh lebih hebat dari amarah-amarah kecil yang menyala sebentar lalu mati.

“Berarti sering marah-marah itu sehat ya?”

Ya nggak gitu juga. Apapun itu, kalau berlebihan, pasti hasilnya nggak baik. Bahkan hal baik kalau berlebihan, jadinya nggak baik juga. Terlalu sering menolong orang, misalnya. Baik sih, tapi hati-hati…orang yang anda tolong bisa jadi bukannya ‘tertolong’, malah jadi ketergantungan dengan pertolongan yang anda berikan.  Akhirnya ia jadi nggak mandiri, dan selalu menunggu ‘ditolong’ agar bisa keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi.

“Jadi, gimana dong?”

Marahlah, ketika kamu memang berhak marah. Tapi, hati-hatilah dalam mengungkapkannya. Nasehat ini sebenarnya saya tujukan untuk diri saya sendiri. Karena terus terang saya orang yang gampang mengungkapkan emosi marah. Bukan marah karena hal-hal sepele ya… kalau untuk hal-hal sepele, seperti kaki keinjek, diserobot orang waktu ngantri, ditipu sopir taksi, janjian sama tukang ngaret, (hampir) dicopet, atau sekedar dikerjain orang,,, paling-paling saya tersenyum aja, lantas menjadikan itu sebagai bahan guyonan. Bukannya apa-apa sih, hemat energi aja gitu…marah untuk hal-hal sepele kan nggak ada untungnya juga buat kita. :p

Saya akan marah ketika saya memang berhak marah. Misalnya, baju kesayangan saya diambil orang (dan saya tahu siapa yang ngambil….errrr -__- ). Sayangnya, saya seringkali menyesal setelah saya marah. Apalagi jika kemarahan itu saya ungkapkan langsung kepada yang bersangkutan, dengan kata-kata yang kurang pantas. Bahkan meskipun orang itu memang pantas untuk ‘dimarahi.’ *eh

Saya pernah membaca sebuah ilustrasi cerita seperti ini:

Pada suatu hari ada seorang anak yang marah pada ayahnya. Sang ayah lantas berkata, “Nak, setiap kamu marah…tancapkan sebuah paku di atas papan dengan palu ini.” Sang ayah memberikan palu, paku dan sebilah papan pada anak tersebut. Maka, setiap kali sang anak merasa marah, ia memasang satu paku ke papan tersebut. Seminggu kemudian, sang ayah menunjukkan papan yang telah penuh dengan paku tersebut, lalu berkata kepada sang anak, “Lihatlah nak, ini adalah jumlah kemarahanmu selama seminggu ini.” Kemudian ia mencabut semua paku yang ada di papan, dan kembali berujar, “Lihatlah bekas  paku-paku ini, apakah lubang-lubang ini bisa tertutup kembali?” Sang anak hanya menggeleng sambil menatap ayahnya. “Begitulah ketika kamu marah pada seseorang, Nak… kemarahanmu mungkin hilang saat itu, tapi bekasnya tak akan hilang sampai kapanpun. Bekas itu tertinggal di hati orang yang menerima kemarahanmu.”

 

Menyesal memang selalu datang belakangan. Jadi, sebelum menyesal…berpikirlah. Jangan jadi gegabah karena marah. Marah itu hak pribadi kita, bahkan marah bisa menjadi benteng pelindung saat keselamatan kita terganggu. Tapi…marahlah dengan pintar, marahlah dengan bijak.

Kalau dalam teori psikologi, ada yang disebut dengan sublimation atau sublimasi. Sublimasi adalah salah satu defense mechanism yang bisa digunakan orang ketika marah, yaitu dengan merubahnya menjadi sesuatu yang lebih bisa diterima secara social, misalnya dengan menunjukkan ‘kemarahannya’ dalam sebuah karya. Karya apa saja, tulisan, lukisan, lagu, atau bahkan sekedar coretan. Kalau merasa tidak punya bakat seni, ya buatlah/lakukan sesuatu yang tidak melulu soal seni. Apapun hal positif yang bisa kamu lakukan.

Kalau sudah terlanjur marah?

Yasudah, minta maaf adalah jalan terbaik. Kalaupun orang yang kita ‘marahi’ tidak memaafkan…paling tidak kita sudah berusaha minta maaf…hehe. :D

 

Maling Ter-Sehat *LOL*


Ini baru subuh tadi kejadiannya. Sekitar jam 3.30 aku mendengar suara orang membuka kunci pintu. Nggak curiga sama sekali sih, karena kupikir mbak-mbak penjaga kos lagi kebangun. Beberapa menit kemudian aku memutuskan bangun untuk ke kamar mandi…wudhu, sholat…lalu nyalain laptop nunggu waktunya Subuh. Waktu mau buka pintu kamar, baru tahu kalo pintu kamar dikunci dari luar. Aku emang kebiasaan ngegantung kunci di lubang pintu sebelah luar, tapi baru kali ini ada seseorang yang ‘iseng’ ngunciin aku kayak gitu.

Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku mencoba membuka pintu kamarku dari jendela. Dan saat keluar kamar…jeng..jeng… Aku melihat beberapa pria lagi naik tangga ke arah lantai dua kos. Pria yang berjalan paling belakang sempat menoleh ke arahku..dan kami saling bersitatap. Nggak ada rasa curiga sedikitpun dalam hati, aku cuma berpikir, “Oh, mungkin mas-mas tukang.”

Akupun berjalan dengan santainya ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Pas balik lagi ke kamar, masih ada suara krasak-krusuk di lantai dua, dan aku masih berpikir “Itu mas-masnya lagi benerin apa sih jam segini?”

Aduh mbaknyaaa….mana ada tukang yang beroperasi subuh-subuh begini??? *doh *tepokjidat

Dan bisa-bisanya aku jadiin itu bahan becandaan ama temenku…sms-an sambil ketawa-ketiwi bahas “Mas-mas tukang di kos cewek yang entah-lagi-ngapain subuh2….hadehhhh -___-

Dan aku bahkan masih sempet balik lagi ke kamar mandi, padahal itu pria-pria mencurigakan masih grusak-grusuk di lantai 2.

Waktu balik lagi ke kamar, berniat tiduran sambil nunggu adzan subuh..ada kedengeran suara ibu kos yang ngebangunin mbak penjaga kos dengan panik, “Les, kamu tadi nggak denger apa ada suara orang masuk?”

Nah..baru ngeh aku kalo pria-pria itu bukan mas-mas tukang. Dan kami cewek-cewek ini tetep nggak ngeh kalo kos kamilah yang jadi sasaran maling. Ibu kos malah bilang, “Iya itu tadi katanya ada maling, orang-orang lagi ngejar.”

“Oh, jadi yang masuk tadi orang yang lagi ngejar maling?” tanyaku dengan polosnya. Ibu kos bilang, “iya.”

Duh…Oon banget yak. Mana ada warga kampung ngejar maling masuk-masuk rumah orang tanpa permisi, nggak lewat pintu pula masuknya? *ngok

Saat itu pas kedengeran ada orang ketuk-ketuk pintu pagar. Dan ternyata itu bapak tetangga yang lagi ngejar malingnya. Barulah kami bener-bener ngeh, kalo kos kami kemalingan. Cek-ricek…ternyata laptop di meja kerja ibu kos sudah raib. Waktu itu kami pikir malingnya udah kabur, jadi ibu kos bilang dengan santainya “Yaudah deh nggak papa laptopnya ilang.” Itu laptop memang bukan laptop mahal, dan kata ibu kos…udah agak lama belinya. Laptop dia yang mahal disimpen di kamar, dan aman. Laptopku yang tergeletak di lantai kamar, juga aman. Pun laptop temen di kamar sebelah yang ia taruh di dalam lemari. *pfiuh

Selang setengah jam, warga kompleks masih berkumpul di depan kos kami sambil membahas apa yang baru saja terjadi. Kecurigaan warga kompleks tertuju pada segerombolan anak-anak muda yang semalam mabuk-mabukan di gang depan kos kami.

Beberapa warga pria masih berjaga-jaga, bahkan beberapa naik genteng buat meriksa keadaan. Tiba-tiba salah satu bapak di atas genteng teriak, “Nih, latopnya masih di sini nih.”

Kami bernapas lega….beberapa menit kemudian, “Ni ada susu ultra juga.”

Gubrakkkkk….susu ultra di kulkas ikut diambil dong. -___-

Enggak tahu kenapa gara-gara si susu ultra, suasana yang tadi horor mendadak jadi lucu. Aku dan teman kosku tertawa terpingkal-pingkal membayangkan maling-maling yang kehausan, dan dengan santainya ngambil susu di kulkas. Duh…malingnya sehat benerrrrrr.

Eniwei, maling-maling itu akhirnya ketangkep. Mereka semua berjumlah 5 orang. Tapi cuma 2 yang ‘ketinggalan’, ngumpet di balkon rumah tetangga. Dan sedihnya waktu melihat mereka diseret oleh para warga. Keliatan banget kalo mereka masih ababil, umurnya masih belasan. Waktu ditanya soal kronologis kejadian pencurian itu, khususnya bagian susu ultra (yup, itu kotak susu kosong jadi salah satu barang bukti -__-), malingnya bilang “Iya, kita tadi haus, jadi ngambil susu di kulkas.”

“Lha, minumnya tadi gimana?” tanya si polisi dengan polosnya. (sumpah aku nggak ngerti kenapa pertanyannya begini)

“Ya dibagi-bagi tadi berlima.” jawab malingnya lebih polos.

Aduh dekkkk….bener2 ya generasi muda, mau nyolong aja minum susu dulu…butuh energi lebih kayaknya. -___-

Yah,,semoga habis minum susu jadi lebih sehat dan pintar ya, Dek! *LOL* :) )

Selamat hari Kartini untuk Kartiniku…


Untukmu Kartiniku… untukmu perempuan hebatku.

Perempuan itu berdarah Jawa asli. Lahir dan besar di Sleman, Yogyakarta, sekitar 50 tahun lalu. Hidupnya yang sedari kecil sederhana mungkin tak pernah memberinya bayangan, bahwa kelak hidupnya akan diwarnai dengan ujian yang tak pernah bisa dibilang sederhana.

Pada umurnya yang ke-12, seperti laiknya remaja perempuan di masanya, ia sudah dinikahkan. Menikah, di umurnya yang masih sangat muda, rupanya memberi ketakutan yang sangat pada dirinya. Maka dengan halus, dan penuh rasa takut, ia menolak setiap sang suami mengajaknya ber-’malam pertama.’ Begitu seterusnya hingga sang suami jengah, dan terpaksa mengembalikannya pulang kembali pada keluarganya.

Beberapa tahun kemudian, saat usianya sudah lebih dewasa (meski masih terbilang belasan juga), ia kembali dinikahkan. Kali ini pilihan jatuh pada sesosok pria sederhana dari Magelang, bernama Marsan. Seorang pria yang dengan segala kekurangannya tetap ia cintai dengan sempurna. Seorang pria yang tak pernah tergantikan, meski takdir telah membawanya pulang.

Pada Agustus 1987, saat putri bungsunya masih belajar berjalan di usianya yang baru saja genap setahun, Tuhan mengambil kembali suami tercintanya. Tak ada kesedihan yang lebih hebat, selain ditinggal sang terkasih, dengan titipan tujuh bocah kecil, tanpa harta sedikitpun. Di tempat yang (saat itu) terbilang jauh dari keluarga asalnya.

Perempuan itu tidak lantas limbung, ambruk, atau menyerah. Ia bertekad dalam hati, demi apapun, untuk membesarkan anak-anaknya dengan sebaik yang ia bisa. Maka, dengan berat hati ia titipkan anak perempuan pertamanya yang masih sekolah pada adik bungsunya di Cilacap. Demi satu harapan, di tengah kondisinya yang sedang rapuh, anaknya tak lantas putus sekolah.

Beberapa kali pria baru datang hendak meminangnya, namun dengan halus ia menolak. Alasannya cuma satu, takut nanti anak-anaknya tak bahagia dengan seorang bapak baru. Ah, bahkan di saat kondisinya sekritis itu, ia sama sekali tak memikirkan diri sendiri. Padahal kalau dipikir pakai akal sehat, hidupnya tentu akan lebih bahagia bila ia punya sandaran baru. Bagaimanapun, seorang perempuan yang hanya berijazah SD, tanpa skill khusus apapun maupun modal usaha, tentu sulit membesarkan tujuh bocah kecilnya sendirian. Apalagi dengan gunjingan di kiri-kanan soal status janda-nya.

Tapi bukan Kartini kalau lantas menyerah pada keadaan. Kartini sejati tak pernah berhenti melangkah, meski rintangan menghalang di kiri-kanan. Pun demikian perempuan itu. Berpeluh ia mencari rezeki halal untuk anak-anaknya, sambil mengawasi perkembangan anak-anak kecilnya yang masih bandel itu. Impiannya tak muluk-muluk, yang penting anaknya sehat dan tak berbuat aneh-aneh. Karna toh ia sadar, hanya dengan dua tangan, ia tak bisa merengkuh ketujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan dua mata, ia tak bisa mengawasi tujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan satu mulut, ia tak bisa mengajari ketujuh anaknya dengan sempurna. Hanya dengan sedikit rezeki yang ia dapatkan ia tak bisa memenuhi keinginan anak-anaknya dengan sempurna. Ia sepenuhnya sadar, bahwa rumah tangga sejatinya ditopang dua tiang. Saat satu tiang roboh, dan tak ada lagi tiang pengganti, satu tiang yang tersisa harus berjuang agar rumah itu tak ikut tumbang dan hancur berkeping. Dan rumah yang ditopang hanya dengan satu tiang, tentunya tak akan setegak rumah bertiang dua. Maka ia hanya bisa berpasrah pada dua hal, ‘sabar’ dan ‘ikhlas.’

“Semua hanya titipan Gusti Allah,” demikian yang ia pahami. Dengan segenap hati, ia jaga titipan itu dengan sebaik yang ia bisa. Dan Tuhan tak pernah tidur saat mengawasi umat-Nya. Tuhan selalu memperhitungkan apa yang dikerjakan umat-Nya.

Dan inilah salah satu hadiah yang Tuhan berikan untuk perempuan itu. Hadiah yang tak pernah ia duga, pun demikian saya. Untuk segala perjuangan yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya,… Perempuan itu memang layak mendapatkan hadiah -hadiah terindah.

Selamat hari Kartini untuk Kartiniku. Selamat hari Kartini, Ibu. Duduklah, tersenyumlah, aku tau engkau lelah. Kini giliranku menjadi perempuan hebat sepertimu…kini giliranku mempersembahkan hadiah-hadiah terindah untukmu.

I love u Mom,,,as always.. :*

*Untuk seluruh perempuan yang kisah hidupnya jauh lebih ‘ringan’ dari ibuku, percayalah…kalian bisa jadi perempuan yang juga jauh lebih hebat dari beliau, dan bisa menghadirkan generasi penerus yang juga jauh lebih hebat dariku. Percayalah…karena kalian semua perempuan hebat.

Selamat hari Kartini…

Jakarta, 21 April 2012

Belajar dari Tukang Pijat


Bu O namanya (sebut saja begitu :D ). Perempuan sepuh berdarah Sunda, tukang pijat langganan anak-anak kos. Meski sudah terbilang sepuh, namun tenaga pijatnya masih luar biasa. Hanya dengan imbalan uang lelah sebesar Rp 50.000, beliau sanggup memijat seluruh badan dari ujung kaki sampai ujung rambut selama 2 jam. Benar-benar service excellent!

Buat saya, bukan hanya pijatannya yang luar biasa, tapi cerita-cerita yang diungkapkannya dengan lugu juga benar-benar juara. Kali pertama saya dipijat, saya hampir kelepasan ngakak waktu beliau bilang “Startehis” untuk menyebut kata yang sebenarnya dibaca “Strategis.” Dan dengan lugunya malam ini Bu O bercerita banyak tentang masa mudanya.

Gegara melihat sebuah cincin melingkar di jari manis tangan kiri saya (yang langsung ia pikir cincin tunangan :p), meluncurlah cerita masa lalu Bu O. Suami Bu O ini sudah meninggal. Konon ceritanya, pernikahannya dengan sang suami adalah hasil perjodohan saudaranya. Hanya setelah perkenalan singkat sekitar satu bulan, menikahlah ia dengan sang suami. Padahal waktu itu, Bu O masih berpacaran dengan seorang calon mantri di Bandung, selama kurang lebih 3 tahun.

Dan lesson learn yang didapat beliau adalah, “Kalau bisa sih sebelum menikah kenal dulu barang setahun, jadi udah tahu karakter masing-masing…nggak kayak saya, banyak konflik.” Waduh…jadi deg-degan saya…padahal nggak berencana pengin pacaran sebelum nikah…haha. Apa berubah pikiran ya? *eh :D

“Sekarang mah, mantri itu udah kaya duluan…udah naik haji, punya rumah tiga…bla..bla…” Hehe…si ibu nyesel tuh keknya nggak jadi nikah ama pak Mantri. Apalagi habis itu dia bilang, “Dulu saya tuh nggak pengin punya suami yang item ama pendek…eh, dapetnya begitu.” Huahaha…sampai di sini saya udah nggak kuat nahan ketawa. Lesson learn-nya oke sih,,,jangan dulu mendahului takdir. Apa yang kita anggap ‘jelek’ sekarang belum tentu ‘jelek’ di mata kita nanti, karena bisa jadi kita justru akan berjodoh dengannya. Buat saya sih, ini nggak hanya berlaku buat calon pasangan hidup, tapi juga buat pekerjaan, teman/sahabat, dll. Barangkali suatu pekerjaan kita anggap nggak keren sekarang, tapi bisa jadi loh ternyata rejeki kita datang dari situ.

Eniwei, bicara soal pekerjaan..ada satu pelajaran berharga yang saya dapat dari Bu O. Bu O sempat bercerita kenapa akhirnya beliau berprofesi sebagai tukang pijat. Selain karena suaminya yang sudah meninggal, dan beliau harus mencari nafkah untuk dirinya dan cucu-cucunya, juga karena sistem kerja sebagai tukang pijat rupanya sesuai dengan keinginannya. “Saya nggak mau kalo kerja di rumah (jadi pembantu_red), soalnya waktu kerjanya terikat…makanya saya pilih jadi tukang pijat saja.”

Wow…bahkan seorang nenek-nenek seperti ibu O sudah bisa memilih pekerjaan yang sesuai passion-nya. Saya jadi termenung. Terus terang saat ini saya bekerja bukan karena passion, tapi lebih karena tuntutan kebutuhan. Kebutuhan finansial, kebutuhan eksistensial, kebutuhan status sosial…apapun itu. Tapi jelas ini bukan passion saya yang sebenar-benarnya. Passion saya ada di tempat lain…passion saya kini hanya jadi aktivitas sambilan, sambil sesekali saya sesali dalam hati. Ah, rasanya saya iri dengan bu O yang berani bilang, ” Saya nggak suka sistem kerja yang seperti itu..makanya saya memilih pekerjaan ini.”

Ah, Bu O yang lugu…yang selalu hadir dengan cerita-cerita lucunya, namun banyak memberi pelajaran. Yang nggak bisa bilang ‘F’, sehingga nge-fans jadi ‘ngepen’ di lidahnya. Yang tahu banyak artis-artis muda seperti Cherry Belle, Derby Romero, Sm*sh, dan sebagainya. Yang terakhir mengajak saya bergosip tentang Raffi Ahmad dan Yuni Shara…yang selalu bilang terima kasih kalau saya sms minta dipijat.

Ah, Bu O…saya mah ngepen sama Ibuuuuuu….*peluk-kenceng* :D

Mari Sayangi Lansia


Malam minggu kemarin (14/4), waktu saya makan di sebuah restoran cepat saji Jepang di Mall Atrium Senen, tanpa sengaja mata saya melihat seorang Bapak tua duduk sendirian di dekat meja saya. Tanpa berniat menelisik ingin tahu, saya melihat Bapak itu kesulitan memisahkan sepasang sumpit kayu yang memang didesain saling menempel satu sama lain. Beberapa kali beliau mencoba memisahkan kedua batang sumpit itu, dan sempat melihat ke kiri-kanan, mungkin hendak meminta bantuan. Tak satupun petugas restoran yang mampir di meja bapak itu, pun saya hanya terpaku tak berbuat apa-apa. Entahlah, saya terlalu takut dianggap ‘ikut campur’ kalau tiba-tiba saya mendekati bapak itu menawarkan bantuan.

Selang beberapa menit, akhirnya Bapak itu berhasil memisahkan sepasang sumpit di tangannya, lalu mulai makan. Saya merasa lega dalam hati, lalu ikut-ikutan mulai makan. Tapi terus terang, selama saya duduk di restoran itu, makan sambil mengobrol dengan teman saya, mata saya sesekali masih melirik pada Bapak itu. Bapak tua yang makan sendirian di sebuah restoran cepat saji di salah satu mall Ibukota. Entah kenapa saya merasa trenyuh.

Trenyuh, karena dalam bayangan ideal saya, seseorang yang lanjut usia sepantasnya menghabiskan waktu di luar rumah beserta anak-cucunya. Memang, hidup tidak selalu sesuai bayangan ideal. Dan kisah hidup yang dialami satu orang dengan yang lain tidak akan sama. Mungkin bapak itu sendirian karena anak dan cucunya sedang sibuk di luar sana, mungkin karena pasangannya sudah tiada, mungkin karena ia memang hidup sendirian…atau ia memilih sendirian?

Dalam salah satu bukunya, Saparinah (1991), mengatakan bahwa pada umumnya masalah kesepian adalah masalah psikologis yang paling  banyak  dialami  lanjut  usia. Beberapa  penyebab  kesepian  antara  lain; longgarnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak karena anak-anak sudah dewasa dan  bersekolah  tinggi, berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah, kurangnya  aktifitas  sehingga waktu  luang  bertambah  banyak, meninggalnya pasangan  hidup, anak-anak  yang  meninggalkan  rumah  karena  menempuh pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak  yang meninggalkan rumah untuk bekerja, atau anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri. Kalau dari penjelasan ini, seolah-olah ‘wajar’ memang jika seorang lansia tampak beraktifitas sendirian di ruang publik. Faktor kesepian menjadi alasan utamanya.

Apapun alasannya, saya selalu merasa trenyuh melihat seorang lanjut usia yang sendirian di tempat umum. Lebih trenyuh lagi kalau melihat seorang lanjut usia yang masih harus berjuang mencari sumber penghidupan, sendirian, di tengah kehidupan ibukota yang semakin keras. Seperti sebuah kisah yang baru saja saya baca di blognya bapak Rinaldi Munir, tentang seorang bapak tua penjual amplop di masjid Salman, ITB (silahkan klik di sini bagi yang ingin membaca cerita lengkapnya)

Dalam artikel yang dilansir VOA Indonesia di website resminya berjudul “WHO: Populasi Lansia di Dunia Semakin Bertambah“, disebutkan bahwa jumlah lansia dalam lima tahun mendatang akan lebih banyak dari jumlah balita. Di artikel itu juga ditulis bahwa lansia paling banyak terdapat di negara-negara miskin dan berpendapatan menengah. Berhubung Indonesia masih termasuk berpendapatan menengah, bisa jadi Negara kita adalah salah satu penyumbang tingginya jumlah lansia di dunia.WOW! Itu artinya, saya mungkin akan lebih sering merasa trenyuh dalam lima tahun mendatang.

Saya tidak bermaksud mengasihani para lansia itu, sama sekali tidak. Karena, meskipun lansia termasuk kelompok usia non-produktif, tapi saya selalu percaya bahwa mereka masih bisa berkarya. Tetapi, perlu disadari juga bahwa bagaimanapun, kondisi fisik mereka sudah mulai menurun. Membiarkan mereka terus bekerja di usia yang terlalu senja, atau bahkan sekedar membiarkan mereka jalan-jalan sendirian di mall, mata dan hati saya rasanya kok tak tega.

Ada satu artikel lain di website VOA Indonesia yang menarik perhatian saya, judulnya Organisasi Nirlaba di AS Bantu Layani Kelompok Lansia. Artikel itu bercerita tentang sebuah organisasi sosial di AS bernama Virtual Village. “Virtual Village adalah sebuah jaringan lokal sukarelawan dan  penyedia layanan untuk membantu kelompok lanjut usia yang tinggal di rumah sendiri. Mereka membantu  orang-orang  lanjut usia dalam hal apa saja, mulai dari  transportasi dan membawakan barang-barang belanjaan, sampai pada memperbaiki rumah dan membawa anjing piaraan berjalan di luar rumah.” Demikian yang tertulis dalam artikel tersebut.

Terus terang saya agak terkejut. Di AS yang berbudaya individualis seperti itu, ternyata masih ada orang-orang yang peduli dengan para lansia di sekitar mereka. Bagaimana dengan Indonesia yang terkenal dengan keramahtamahannya ini? Entahlah. Saya belum pernah mendengar ada organisasi atau komunitas serupa di negeri ini. Justru yang sering saya lihat, banyak dari kita yang masih muda ini, terkesan tak peduli dengan keberadaan dan keterbatasan kondisi mereka.

Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud mengajak pembaca untuk ‘mengasihani’ para lansia. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri, agar lebih peka dan peduli pada sekitar. Agar lebih tanggap ketika ada seseorang berusia lanjut, siapapun itu, yang sedang butuh bantuan. Bukan bantuan bersifat materiil yang saya maksud, tapi bantuan-bantuan sederhana yang mungkin sangat berarti untuk mereka. Menggandeng tangan seorang nenek ketika menyeberang jalan, membawakan barang bawaannya, memberikan tempat duduk di kendaraan umum, atau bahkan sekedar mendengarkan mereka bercerita. Atau mungkin, belajar dari organisasi Virtual Village di negeri Paman Sam sana, saya dan teman-teman pembaca (yang mau peduli) bisa membentuk organisasi serupa di Indonesia.  ;)

Barangkali ada yang berminat? Anyone? :D

*gambar diambil di sini

Emansipasi ala Kartini


April selalu mengingatkan saya pada Kartini. Tentu saja, karna di bulan April, entah kenapa semua tiba-tiba ‘berbau’ Kartini. Perayaan-perayaan kecil bertajuk hari Kartini, kuis-kuis di media yang bertema Kartini, bahkan diskon-diskon untuk produk perempuan dengan alasan ‘hari Kartini.’

Maka, bulan April bagi saya juga identik dengan perempuan..dan segala pernak-perniknya, terutama kebaya. Saya pecinta kebaya, dan sangat suka berkebaya. Tapi..apakah berkebaya sudah cukup untuk ‘merayakan’ hari Kartini? Apakah hingar-bingar perayaan hari Kartini bagi setiap perempuan di Indonesia sudah cukup untuk melanjutkan perjuangan Kartini? Apakah kita, sebagai perempuan, sudah benar-benar ber-emansipasi?

Emansipasi. Perempuan. Dua kata yang sangat melekat pada sosok perempuan kelahiran Jepara bernama Kartini. Emansipasi, yang diartikan kebanyakan perempuan sebagai ‘kesetaraan gender’ antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender, yang kemudian sering diartikan oleh para pejuang feminis sebagai “kesempatan yang sama dalam segala bidang untuk laki-laki dan perempuan.” Yang kini mulai disalahartikan oleh beberapa perempuan sebagai “Saya juga bisa seperti laki-laki.”

Maka, jangan heran kalau sekarang mulai banyak perempuan yang memiliki posisi sebagai pemimpin, setara dengan laki-laki. Banyak pula perempuan yang berpendidikan sangat tinggi, bahkan sampai bergelar profesor, sama dengan laki-laki. Makin banyak pula perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga, menggantikan peran suami, sang laki-laki. Banyak perempuan yang kini terbiasa pulang lembur dari kantor, tak sempat mengurus ‘laki’-nya.

Kartini dulu mungkin tak berpikir sampai sejauh ini. Bahwa emansipasi yang diperjuangkannya dulu, menghadirkan sebuah peran baru bagi perempuan-perempuan Indonesia saat ini: menjadi wanita karir. Yang sayangnya, peran ini seringkali disalahartikan pula. Bahwa wajar seorang perempuan sibuk dengan pekerjaannya hingga pulang larut malam. Bahwa wajar seorang perempuan tak bisa memasak untuk suami dan anak-anaknya. Bahwa wajar seorang perempuan tak memberi ASI untuk 6 bulan pertama kehidupan generasi penerusnya. Bahwa wajar seorang anak lebih banyak diasuh oleh baby sitter ketimbang ibu yang melahirkannya, untuk sebuah peran baru yang sedang ia sandang: menjadi wanita karir. Bahkan kini mulai wajar, seorang perempuan merokok di depan umum, atau bahkan di pinggiran jalan.

Bukan. Bukan seperti ini mungkin, menurut saya, emansipasi yang diusung Kartini. Bukan lantas menyamaratakan laki-laki dan perempuan, dalam segala hal. Karna toh sejak lahir laki-laki dan perempuan sudah berbeda, bukan?

Kalau menilik di KBBI, emansipasi berarti: n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl hukum (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria).

Hak. Inilah yang diperjuangkan oleh Kartini kala itu. Kartini ingin perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Hak dalam hal apa? Pendidikan yang terutama.

Kenapa? Karena perempuan, secara estimologi berasal dari kata ‘empu’ yang artinya ‘mahir atau berkuasa.’ Maka, menjadi perempuan berarti menjadi seseorang yang mahir dalam segala hal, istilah kerennya multitasking. Menjadi seseorang yang mahir dalam segala hal hanya bisa dilakukan jika kita tahu banyak hal, salah satunya ya dengan pendidikan. Dengan pendidikan, perempuan menjadi pintar. Dengan menjadi pintar, perempuan akan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dan sebaik-baiknya. Karena dengan menjadi pintar, seorang perempuan bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya, entah dalam sikap, pola pikir, maupun perilaku.

Maka menurut saya, emansipasi yang diusung Kartini bukan lantas menjadikan kaum perempuan sama persis dengan laki-laki. Tidak. Perempuan yang beremansipasi, (lagi-lagi) menurut saya, adalah perempuan yang pintar dan mahir dalam segala hal. Ia adalah perempuan yang bisa sukses dalam karir, namun tetap bisa ambil bagian dalam mendukung suksesnya sang ‘laki’, dan siap sedia meluangkan waktu dan tenaga untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

Maka jangan ragu untuk belajar memasak, belajar mengasuh anak, belajar memelihara rumah tangga, sambil terus belajar mempercantik dan memperpandai diri. Karena sesukses apapun perempuan, secantik apapun perempuan, rasanya belum sempurna jika keluarganya di rumah tak sesukses dan secantik dirinya.

Emansipasi memang bukan perjuangan mudah. Emansipasi butuh pengorbanan, entah waktu ataupun tenaga. Untuk seluruh kaum perempuan, mari terus berjuang mewujudkan emansipasi ala Kartini. Menjadi perempuan yang seperti ‘empu’, mahir dalam banyak hal. Menjadi perempuan yang sukses di setiap jengkal tanah yang ia pijak, termasuk tanah di dalam rumah.

Mari menjadi perempuan hebat! ^_^

Time Perspectives…


Baru aja nonton video kuliah seorang professor psikologi, yang sebenarnya udah aku copy sejak jaman kuliah dulu dan baru ‘sempat’ kutonton sekarang (lebih tepatnya aku baru ‘tertarik’ untuk menonton video itu sekarang, hehe).

Nama professor itu Philip Zimbardo. Tema kuliah di video ini tentang ‘Time Perspective’ sekaligus promosi bukunya si professor berjudul ‘Time Paradox’ (silahkan tanya mbah Google kalo penasaran).

Si professor mengawali kuliahnya dengan slide tentang definisi time perspective dan beberapa istilah lain yang…maaf…aku lupa isinya apa aja..hehe. Maklum lah, kalo slide emang agak susyeh ya diinget2? :D . But then, dia nunjukin sebuah video eksperimen yang berjudul “Marshmallow Temptation.” And here I start to love the lecture. Subjek eksperimen ini adalah anak-anak kecil-bule-lucu-menggemaskan berumur around 4 years old. (Oh Gosh, they’re so cuteeeeeeee *peluk-si-anak-bule-satu-satu*). Ceritanya si anak ini dikasih beberapa simple questions, trus dikasih hadiah sebiji marshmallow. Sebelum si anak ngambil tu marshmallow, the professor said “You may eat this now, but if you want to wait until I come back for about 5 minutes, becoz I have to go outside for a while to check my car..then, you’ll get one more marshmallow. Will you wait for me?”

Si anak kecil-bule-lucu-menggemaskan itu ngangguk dan bilang “I’ll wait.”

And what happen next?

Beberapa anak memang bertahan, menunggu si professor balik lagi selama beberapa menit, dan akhirnya mereka dapet 2 biji marshmallow. Meskipun, dalam usaha bertahan itu..mereka sangat-sangat keliatan mupeng ngeliatin marshmallow di atas meja. Kebanyakan dari anak-anak itu nggak tahan dengan ‘godaan’ si marshmallow, langsung memakan marshmallow itu tanpa nunggu si professor balik lagi.

After years, penelitian dilakukan lagi terhadap anak2 kecil itu. They are about 18 years old now. Dan hasilnya…ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok anak tersebut: yang nggak tahan terhadap godaan si marshmallow, dan yang bisa nahan diri terhadap godaan.

Mereka yang tidak bisa menahan godaan dikategorikan sebagai present-oriented person, sedangkan yang bisa bertahan dikategorikan sebagai future-oriented person.

Dan ini cirri-ciri mereka:

Present-oriented: moody & overreacted toward frustration, indecisive, envy or jealousy

Future-oriented: get 250% higher on SAT scores, cooperative and work well in frustration, confident

Intinya, orang2 yang future oriented itu bakalan lebih ‘sukses’ dan berprestasi ketimbang yang present oriented. Kenapa? Karena orang2 yang present oriented itu hanya memikirkan kesenangan masa kini, tanpa berpikir tentang akibat dari apa yang mereka lakukan hari ini terhadap masa depan mereka.

Secara spesifik, eksperimen ini menghasilkan 6 kategori atau kelompok orang, yaitu:

  1. Past-positive oriented à focus on positives
  2. Past-negative oriented à focus on negatives
  3. Present-positive oriented à hedonism
  4. Present-negative oriented à fatalism
  5. Future-positive oriented à life goal – oriented
  6. Future-negative oriented à transedental (life after death of the mortal body)

Dari kategori di atas, tampak bahwa orang-orang dengan orientasi masa kini cenderung hedonis. Mereka adalah orang-orang yang nggak bisa nahan diri terhadap godaan sesaat. Godaan ini bisa macam2 bentuknya, dari yang sederhana sampai yang ekstrim. Misal: godaan makan, padahal lagi puasa ato diet; godaan untuk FB-an or twitter-an, padahal harusnya ngerjain skripsi; godaan untuk sms-in pacar orang *eh; godaan untuk ngerokok; godaan untuk belanja di akhir bulan, saat kondisi keuangan lagi sekarat *T.T..dan sebagainya.

Sebaliknya, orang dengan future-oriented cenderung lebih punya perencanaan terhadap masa depannya. Mereka adalah orang-orang yang rajin  bikin ‘to-do-list’ setiap hari, mereka yang selalu punya mimpi, mereka yang bisa menahan diri dari godaan-godaan hedonism, dan sebagainya.

So guys…kalian saat ini termasuk tipe yang mana?

Udah ketemu jawabannya? Atau masih bingung? Don’t worry…menjadi seseorang yang future-oriented bukan berarti gak bisa menikmati hidup hari ini, bukan berarti gak pernah ‘tergoda’ sedikitpun, gak pernah ‘have fun.’ And so with other types. Menjadi present-oriented juga bukan berarti 100% hedon. No, it’s not like that. Kalian bisa kok memiliki keenam cirri kelompok di atas. But..pasti ada salah satu yang lebih dominan, and there you are. Yang dominan itu lah tipe kamu.

And don’t be so upset then… it’s not something biological. It is something that can be learned.

Kalau kamu ngerasa orang yang present-oriented, dan pengin jadi future-oriented…then, you can be. Time perspective itu bisa berubah, dan bisa dipelajari.

Ada satu hal lagi yang menurutku penting untuk dicatat dari video lecture ini. Orang-orang perokok adalah mereka yang cenderung present-oriented. Silahkan amati orang-orang di sekitarmu yang merokok, dan simpulkan sendiri. Kebetulan aku besar di lingkungan perokok (T.T), dan aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang dengan orientasi masa kini, bukan masa depan.

Dan inilah jawaban, kenapa peringatan di setiap bungkus rokok yang berbunyi “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin,” Tidak akan pernah mempan mengurangi jumlah perokok. Bahkan setiap tahun jumlah perokok terus bertambah, padahal peringatan itu selalu muncul dimana-mana.

Kenapa? Karena peringatan itu sifatnya future-oriented. Si kanker dan kawan2 itu baru akan muncul entah tahun kapan. Sementara, para perokok itu adalah present-oriented. Peringatan itu hanya akan berlaku bagi mereka-mereka yang tidak merokok, yang lebih future-oriented. So..peringatan2 dan himbauan tentang efek rokok bagi kesehatan tubuh di masa yang akan datang itu tidak tepat sasaran bagi para perokok yang present-oriented.

Well…life is change, and always change…and so our perspectives. Kalau kamu ingin jadi orang sukses, ingin meraih mimpi, ingin segera lulus sekolah/kuliah, ingin berhenti merokok…dan yang terpenting, ingin bahagia…belajarlah untuk jadi orang yang future-oriented. Belajarlah jadi seseorang yang menatap ke depan dengan penuh percaya diri, yang nggak gampang terpancing dengan godaan di kiri-kanan. Belajarlah jadi orang yang berpikir, “Keputusan yang kuambil hari ini, akan memberi konsekuensi bagi masa depanku.”

If u want to be a better person tomorrow, do something better today…!! ^_^

Teater Pertama yang Membuat Saya Terkesan


Terus terang saya bukan pecinta teater. Saya hanya penikmat seni dan penonton pertunjukan. Tapi bukan teater.

Dulu waktu kuliah saya pernah nonton teater. Pertunjukannya teman-teman kampus saya pecinta teater. Teaternya bagus. Bagus saja, tapi tidak membuat saya lantas mencintai pertunjukan teater.

Sampai sekitar sebulan lalu, saya membaca sebuah iklan pertunjukan teater di Jakarta, sekaligus ulasannya di Kompas Minggu. Saya pecinta Kompas Minggu, tapi bukan pecinta teater.

Berhubung saya penikmat seni, dan suka menonton pertunjukan, saya mengajak teman kantor saya untuk menonton teater itu. “Lumayan, untuk mengisi waktu luang di Jakarta”, demikian pikir saya kala itu.

Setelah berencana sekian lama, dan tak kunjung terlaksana, akhirnya semalam saya berhasil menonton pertunjukan teater itu bersama dua teman kantor, dan pacar salah satu teman kantor saya itu. Tak banyak yang saya tahu tentang pertunjukan malam itu, kecuali nama komunitas – judul – nama sutradara – dan nama dalangnya, yang saya baca sekilas di Kompas Minggu.

Sie Jin Kwie di Negeri Sihir, demikian judul pertunjukan teater malam tadi. Dipentaskan oleh Teater Koma, dengan sutradara Nano Riantiarno. Dalangnya Pak Budi Ros.

Saya datang sekitar jam 7-lewat-sedikit ke Taman Ismail Marzuki, tempat teater itu dipertontonkan. Sampai di sana, saya sempat nyasar ke sebuah galeri-entah-apa yang sangat ramai, dan terdengar suara seorang pria berambut kriting yang sedang berdiri di depan mikrofon “Di pojok sebelah kanan ada snack, dan di lantai 2 masih banyak lagi yang bisa dilihat….Yak, di pojok sebelah kanan ada snack.” Mendengar kata ‘snack’, entah kenapa saya dan teman saya langsung menyimpulkan kalau kami salah ruangan. “Ah, nggak mungkin nonton teater dapet snack,” simpel saja pemikiran kami kala itu.

Sekitar pukul 19.30, pertunjukan teater dimulai. Dan, seperti judul yang ditawarkan pertunjukan itu, saya mulai tersihir dari sejak pertama saya duduk di depan panggung.

Pertunjukan dimulai dengan sajian tari para tentara berseragam warna emas, dengan musik tetabuhan bertalu-talu. Ki Dalang kemudian muncul bersama beberapa tokoh yang menceritakan awal kisah bermula. Dilanjutkan dengan munculnya wayang Tavip, yang menjadi salah satu bagian penting penceritaan kisah, sepanjang pertunjukan berlangsung. Dan sepanjang pertunjukan teater ini, saya tidak hanya menikmati lakon peran dan wayang Tavip saja, tapi juga seni tari, dan suara para tokoh yang melantunkan lagu-lagu nan sendu. Perpaduan seni yang menyatu harmonis, dengan tata panggung, make up dan kostum, serta musik yang tertata apik, adalah kehebatan teater ini. Termasuk pula kepiawaian para seniman Teater Koma yang berlakon dengan penuh totalitas.

Yang paling menarik bagi saya tentu saja suara lantang ki Dalang dan kepiawaiannya memancing tawa penonton. Paling suka adalah ketika ki Dalang menirukan berbagai suara dengan mulutnya, seperti suara musik ‘plak,,ketimplung‘ atau suara jatuhnya peci di atas kepala Sie Ting San ‘pluk!’ (Salut untuk Pak Budi Ros!). Selain Dalang, ada banyak hal lain di tengah cerita yang juga memancing tawa penonton: pembicaraan tentang konsep jalan tol oleh seorang tokoh kepala perampok, gaya&tingkah yang menggemaskan dari peri-peri di akkhhhhhirat (harus begitu ngomongnya :D ), gaya Hwanlihoa menyebut nama ‘Siiiiiie Teng San’ (dengan logat cina yang khas), atau figur-figur wayang Tavip yang unik.

Beberapa kesalahan teknis kecil rupanya juga mampu memancing tawa penonton, seperti saat peri-binan menjatuhkan Kipas di tangannya, lalu dengan buru-buru mengambilnya kembali…atau tongkat sang guru Hwanlihoa yang nyangkut di sanggulnya…hahaha.

Kelucuan paling juara, bagi saya, adalah ketika salah satu tokoh – si kepala perampok yang mengaku penemu konsep jalan tol – mengeluarkan jurus ambles bumi. Dia berdiri sambil mengangkat satu tangannya, lalu menggoyang-nggoyangkan pantatnya, merunduk, dan langsung merangkak bersembunyi di bawah meja. Sesaat kemudian sebuah kain hitam turun menutupi kolong meja tempatnya bersembunyi, dan di atasnya tertulis kata ‘BUMI’. Haha…benar-benar juara!!

Ada beberapa pesan yang tersampaikan lewat pertunjukan sepanjang 4 jam ini. Tentang kejujuran, pengorbanan, kasih sayang keluarga, dan masih banyak lagi. Tapi ada satu tema yang saya tangkap dari dialog salah satu tokoh “Jangan terjebak pada takdir, manusia punya kesempatan untuk memilih masa depannya sendiri.”

Yup! Bagi saya, ini adalah tema yang penting dan menarik dari keseluruhan pertunjukan teater. Manusia selalu punya kesempatan untuk mengambil keputusan bagi masa depannya sendiri. Jangan pernah menyalahkan takdir untuk setiap kesulitan atau kesusahan yang dihadapi hidup. Jangan berhenti  bermimpi dan berjuang untuk sebuah alasan bernama ‘takdir.’ Life is in our hand…and the decision is already in our pocket. Let’s decide our own destiny! ;)

Menonton teater selama 4 jam memang cukup membuat ngantuk. Apalagi ada beberapa cerita yang terkesan diulang-ulang sehingga kadang membosankan.

Tapi, sungguh..pertunjukan teater tadi malam merubah pandangan saya terhadap teater dan keseluruhan pernak-perniknya. Saya tetiba mulai menyukai teater. Dan kalau ada yang mengajak saya menonton pertunjukan teaternya Teater Koma suatu hari nanti, saya tidak perlu berpikir dua kali. Saya akan menonton teater lagi! :D

Hugo’s Message…


Have you ever watched Hugo movie? A screenplay adapted from the novel ‘The Invention of Hugo Cabret’, that wins some Oscars from its beautiful and sophisticated cinematography.

I’m not intend to tell you about its cinematography, or its Oscar, or even its story. I just wanna try telling you the message that is implied from the movie. I call this ‘Hugo’s message.’ The message that I almost missed, till then my friend came up with a question “What is the message you think you’ve got from the movie?” I was just yawning to hear that question, trying hard to give an answer but I didn’t have any clue. Then he gave me that clue: Machine…Life is like a machine, a big giant machine.

Feeling hard to figure it out what the quote means? I did also. Until I watch again the movie, and find the answer…here from what Hugo told his fellow, Isabelle:

Everything always have a purpose, just like machines. They do what they meant to do. If they lose their purposes, they may broken….and life is like a machine, a big giant machine. We are part of that giant machine. And I believe that I’m here for a specific purpose …”

I agree with what Hugo tells us in the movie, that everything is always have a purpose. In another word, we may say that everything is made for a reason, and so do we…as a human being.

Like the air that give us a breath, the sun that gives us a day, the moon that bring us a beautiful night, the river that deliver water for our life, or even the leaves that produce oxygen everyday. And so the machine do for us…they work for a specific purpose. The clock tinkling to tell us the time we are in; the wheels spinning to move something forward; the bell ringing to notice us an important thing…

And so do we…the most complicated-creature in this world; a human being. Each of us is born for a specific reason..and purpose. For whatever we are, and whatever we do, we always take a part – even the smallest one – of the entire moments happen in this world. We are made to be a help for each other. And just like a big machine, each of us is part of that machine, that have to work together, help each other…in order to make that machine work as they meant to.

There’s nothing happen as a coincidence. Everything happen for a reason. So you…yes you! You are not born as someone who is ignorable and unuseful. Don’t ever – for every single second that you live – to think like that. You are born for a specific reason… when you feel that your life is suck and you can’t hardly figure out what your role in this world is, as a person. Maybe, you simply haven’t found your own purpose. Your life purpose. So now try to ask yourself ‘What is my life purpose?”

And life is like a machine, a big giant machine.

Then, who has created that big giant machine?”

Yes, He is. Our Lord…^_^

There’s no such a coincidence…everything happen for His Reason:

“And with Him are the keys of the unseen; none knows them except Him. And He knows what is on the land and in the seaNot a leaf falls but that He knows it. And no grain is there within the darknesses of the earth and no moist or dry [thing] but that it is [written] in a clear record.” (Al-An’am: 59)

Thanks Mr. Goose…for your question that made me think, and the insightful conversation this morning. ;)

 


Ikhlas itu Tuhan yang Menentukan…


Tadi siang dapet materi menarik dari Ust. Arifin Ilham di pengajian bulanan kantor. Bersyukur banget, kerja di sebuah perusahaan yang peduli pada kebutuhan pekerjanya akan pengetahuan agama. Dan nggak tanggung-tanggung, setiap bulan selalu ada ustad terkenal yang diundang di pengajian bulanan kantor. Alhamdulillah ya, sesuatu banget…:D

Eniwei, tema pengajian siang tadi adalah tentang ‘Tujuan Hidup‘. Ada beberapa hal yang masih kuingat dari apa yang disampaikan Ust.Arifin tadi.

Pertama, ada tiga jenis manusia di bumi ini: Manusia Zero/kosong (atau apa gitu istilah bahasa Arabnya, uhuk…lupa T_T), yaitu mereka yang kehadirannya tidak berarti sama sekali bagi orang lain. Dia ada atau tidak ada, orang lain tidak merasa diuntungkan ataupun dirugikan. Pernah mengenal orang semacam itu? Atau pernah merasa menjadi orang semacam itu? Naudzubillahimindzalik…semoga tidak ya :)

Yang kedua adalah orang yang kehadirannya justru merugikan orang lain. Kalau orang itu tidak ada, orang lain justru berbahagia. Yang begini biasanya golongan-golongan penjahat, mulai dari kelas teri-cucut-bandeng-pindang-sarden-atau kakap…hehehe.

Yang terakhir nih, adalah mereka yang kehadirannya selalu dirindukan dan dinantikan, karena keberadaan mereka selalu memberi kebahagiaan. Kehilangan orang-orang seperti ini akan membuat banyak orang sedih.

Tentunya menjadi manusia jenis ketiga (yang lagi-lagi saya lupa istilah bahasa Arabnya, hiks) adalah dambaan setiap ummat. Menjadi seseorang yang bermanfaat, atau Impactful…meminjam istilahnya Pak Anies Baswedan, hehe.

Semoga kita semua tergolong orang yang Impactful ya. Amiinnnn…

Disamping itu, kata Ust.Arifin, ada lagi penggolongan umat Muslim yang wajib kita tahu. Pertama, adalah Muslim saja, yaitu mereka yang berstatus sebagai umat beragama Islam, namun belum menjalankan ajaran-Nya dengan baik dan benar. Barangkali agak dekat istilahnya dengan ‘Islam KTP’ ya, hoho.

Di level kedua ada Mukmin, yaitu umat Islam yang telah menjalankan ajaran-Nya dengan baik, namun  masih sering ‘lupa’ berbuat hal yang dilarang. Umat di level ini bisa kita jumpai di masjid, dalam saf sholat berjama’ah, atau di pagi buta saat orang lain tertidur dan dia berdingin-dingin mengambil air wudhu.

Level ketiga disebut Muklis, ini adalah golongan umat yang hampir sempurna ibadahnya. Namun ada beberapa hal yang membuat ibadahnya kurang sempurna. Misalnya sifat Ujub (semoga penulisannya benar :D ), yaitu membanggakan diri sendiri atas ibadah yang telah dilakukan.   Ujub ini berbeda dengan Riya’, karna Riya’ berarti membanggakan diri di hadapan orang lain. Barangkali kita pernah ya berbuat baik, lalu terlintas di pikiran ‘Orang lain belum tentu nih bisa kayak gini,’ sifat seperti ini bisa tergolong Ujub loh. Uhuk…

Level tertinggi dimiliki oleh Muklas, yaitu mereka-mereka yang berpikir bahwa apapun yang mereka kerjakan adalah ibadah kepada Allah, dan mereka selalu berusaha mencari Ridho-Nya.

Orang-orang seperti ini adalah mereka yang selalu ikhlas dalam berbuat baik dan beribadah. Ikhlas dan Sabar menjadi kunci dalam segala perbuatannya. Selain itu, mereka selalu ‘merendahkan diri’ di hadapan Allah. Allah bahkan menyukai orang-orang yang selalu ‘menghinakan diri’ di hadapan-Nya. Artinya apa? Kita sebagai manusia nggak boleh sombong dengan apapun yang kita punya. Karena semua yang kita punya adalah pemberian dari Allah, Tuhan kita. Maka dari itu, dzikir yang sangat dianjurkan    setelah shalat, terutama shalat malam, adalah istighfar…Astaghfirullahaladzim. Agar kita selalu ingat akan kesalahan dan dan sifat sombong yang ada pada kita. Agar kita selalu memohon ampunan untuk setiap dosa yang kita perbuat. Agar kita selalu ‘merendah dan menghinakan diri’ di hadapan-Nya. Dan sikap ‘merendah’ ini juga sebaiknya tidak hanya kita tujukan pada Allah, tapi juga seluruh makhluk di muka bumi ini. Termasuk ‘merendah’ di hadapan orang-orang yang berada di bawah kita. Artinya apa? kita harus menghormati siapapun orang yang ada di hadapan kita, bahkan mereka yang status sosialnya dipandang lebih rendah dari kita. Karna bisa jadi, di hadapan Allah status mereka jauh lebih tinggi dari kita. Tentunya tanpa sifat Ikhlas, akan sulit bagi kita untuk selalu ‘merendah’ ya…

Ilmu ikhlas memang bukan ilmu yang mudah. Apalagi kita, sebagai umat manusia, tidak pernah bisa menentukan apakah kita sudah benar-benar ikhlas atau belum. Hanya Allah-lah yang tahu persis kadar keikhlasan kita. Tugas kita sebagai umat manusia adalah terus berusaha mencari Ridho-Nya, karena ikhlas itu hanya Tuhan yang bisa menentukan…^_^

Sebenarnya masih banyak yang disampaikan Ust.Arifin tadi. Berhubung kapasitas memori otak saya terbatas, hanya ini yang bisa teringat…hehe, semoga bermanfaat ;)