It’s Time to Move On


Fyiuhhh. Akhirnya 2016 terlewati. Lega, bahagia, puas, galau, sedih, menyesal, kecewa, dan perasaan lainnya campur aduk. Mewarnai 366 halaman, 12 bab, 30 halaman di tiap bab beserta 24 baris di setiap halamannya. Resolusi, wishlist, target, goal apapun itu yang sempat tertulis di awal tahun sebagian sudah bertanda hijau, sebagian kuning karena belum tercapai sepenuhnya, dan sebagian lainnya merah. Entah karena tertunda, belum dikerjakan, atau sengaja dihapus dari daftar karena satu dan lain hal. Keinginan untuk kuliah lagi, misalnya.

Pertemuan. Satu kata yang bermakna banyak hal di 2016. Bertemu seseorang yang memberi banyak pelajaran, bertemu sahabat-sahabat baru dari berbagai komunitas, bertemu kesempatan-kesempatan penting untuk terus berkembang, dan banyak hal lainnya. Setiap orang yang saya temui, saya yakin bisa jadi salah satu di antara hal berikut: to be a blessing, or a lesson. Bersyukur karena di 2016 tidak ada kata perpisahan yang muncul, perpisahan yang menyakitkan, yang menguras air mata,  seperti tahun-tahun sebelumnya. Semoga bukan karena ‘belum’ (meski ‘hampir’), tapi memang ‘tidak’.

Belajar. Tahun 2016 adalah tahun belajar buat saya. Saya belajar keahlian-keahlian baru seperti memasak, berenang, yoga dan lainnya. Pun belajar menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih pandai bersyukur, lebih toleran, lebih waras dan masuk akal, lebih terbuka pada pemikiran-pemikiran yang beda dan bahkan bertentangan, sekaligus belajar berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang seharusnya memang tidak saya kerjakan. Termasuk belajar mencintai, dicintai, dan melepaskan. Termasuk belajar melupakan. Belajar menyadari bahwa memang ada hal-hal yang harus ditinggalkan di masa lalu. Diletakkan begitu saja tanpa perlu ditengok dan diambil kembali. Belajar memahami bahwa menyelesaikan unfinished business terkadang perlu dua pihak, tidak bisa sendirian. Bahwa melepaskan adalah pilihan yang lebih baik ketimbang berandai-andai pada hal yang semestinya terjadi di masa lalu, tapi tidak terjadi dan kita terus menyesalinya.

Tahun 2016 adalah tahun belajar mengenal orang-orang di sekeliling dengan lebih baik. Baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Karena ternyata tidak semua yang dekat adalah sahabat. Ada yang jaraknya secara fisik begitu jauh, tapi terus saling berkabar dan memberi dukungan. Yang jaraknya terlalu dekat, kadang justru lebih mudah menyakiti. Dan penting untuk jaga mulut, jaga bicara. People who gossip to you will gossip about you, too. Don’t trust anyone, cause someone that you trust the most can stab you in the back, or talking about your bad behind. And it’s happen.

Pelajaran terpenting di 2016. Berhenti menilai baik-buruk orang hanya dari apa yang terlihat. Apalagi menjudge orang kafir, atau lebih rendah keimanan dan akhlaknya dibanding kita. Bukan tugas kita mengukur keimanan orang, apalagi menakar siapa masuk surga siapa ke neraka. Keimanan tidak hanya bisa diukur dengan ibadah dan apapun yang tampak, karena iman adanya di hati dan pikiran.

Satu kata yang ingin saya hapus di 2017 adalah “kanker” dan “sakit”. Dua kata yang sangat menyebalkan dan menguras emosi. Tapi harus dihadapi jika sudah terlanjur datang. Cancer is suck, and it hits my family twice. Semoga tidak ada yang ketiga. Semoga.

Di 2016 saya membaca buku “Happiness Project” dan belajar banyak dari sana, sampai saya memutuskan menulis Happiness Recipe versi saya di board yang tergantung di dinding kamar. Here they are, my Happiness Recipe;

  1. Be true to myself
  2. Be here and now. Enjoy the present life.
  3. Do it now!
  4. No expectation
  5. Love unconditionally
  6. Judge less, appreciate more
  7. Help more people
  8. No complaining
  9. Live a healthy life
  10. Enjoy every process
  11. Do art. Enjoy arts.

Saya juga tulis ini di notes HP, My Happiness Exercise:

  1. Stay clean and tidy. Give away any unneeded stuffs
  2. Do exercises regularly: a 30 minute yoga every morning, walking/joging once in a week
  3. Write a gratitude sentence/letter every night before bed.
  4. Never postpone the prayers. Dhuha every morning before 8Am
  5. Less social media & watching TV
  6. Treat every people kindly and personally

Belum semua yang tertulis di atas bisa terlaksana di 2016, semoga bisa berlanjut di 2017. Saya highlight poin 4 dari resep kebahagiaan versi saya di atas. Salah satu hal yang sering membuat kita kecewa kadang bukan orang lain atau hal-hal di luar diri kita, tapi ekspektasi kita yang berlebihan terhadap sesuatu atau seseorang. Maka untuk apapun, jangan pernah bangun ekspektasi terlalu tinggi, kalau perlu jangan bangun ekspektasi sama sekali. Berhenti berharap pada sesama manusia, berharap hanya pada Pencipta manusia saja.

Menurut saya poin 4 ini sangat erat hubungannya dengan poin 5. Kalau kita sudah bisa menghapus ekspektasi terhadap seseorang, maka kita bisa mencintainya tanpa syarat. Mencintai tanpa harap kembali, seperti surya menyinari dunia. Seperti cinta ibu pada anak(-anak)nya. Susah memang, dan saya belum bisa melakukannya dengan sempurna. “Mencintai kalau nggak harap kembali, itu bodoh namanya”, kata seorang sahabat.  Saya Cuma bisa tertawa. Perasaan tidak untuk dijelaskan, memang.

To sum up, 2016 is about learning that shit always happen, but life must goes on. That every good thing takes time, so I have to be more patient to get the best. Miracles happen, but it’s not the reason to not fighting for what we want in life. Nothing and no one is perfect, so try to love unconditionally. It’s not perfection that lead to a real love, but true love that makes every imperfection perfect.

Semoga semua resolusi dan wishlist 2017 yang sudah tertulis bisa tercapai. Saya tidak berdoa agar terhindar dari cobaan dan masalah di sepanjang 2017 nanti. Saya berdoa, agar terus diberi kekuatan lebih jika cobaan dan masalah itu datang. Dan semoga apapun yang saya hadapi nanti di 2017 membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, lagi dan lagi.

Selamat menyambut tahun 2017. Mari move on dari 2016.

 

Cheerssssssss.

Advertisements

2 thoughts on “It’s Time to Move On”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s