My Puzzle of Life


One said that the world is like a giant puzzle that has not been put together yet, and we’re trying to find the other piece of this puzzle that goes with us . For me, life’s merely a series of puzzle games; once you put the wrong pieces, you’ll screw the order and your life become clueless.

Beberapa kali saya pernah merasa hidup saya clueless. Aimless. Sampai-sampai lagu Creep-nya Radiohead jadi lagu favorit saya sepanjang masa. Selain karena musiknya bagus, ada lirik yang beberapa kali tepat menggambarkan hidup saya, at some point. Lirik yang sering saya nyanyikan keras, berulang-ulang…..”What the hell am I doing here? I don’t belong here!”

Tahun pertama masuk SMA, dulu adalah perjuangan buat saya. Jadi satu-satunya yang masuk SMA 1 Magelang di seluruh angkatan SMP saya kala itu, membuat saya seperti anak hilang di antara ratusan siswa baru lain. Berasal jauh dari kampung, tak punya apa-apa, tak kenal siapa-siapa, introvert pulak. I was totally lost. Tapi pada akhirnya saya tetap bisa lulus dengan kepala tegak, dan menemukan sahabat-sahabat terbaik yang bertahan di kanan-kiri hingga hari ini.

Sebagai anak IPA pecinta Matematika garis keras sejak di bangku TK, melanjutkan kuliah di fakultas Psikologi setelah lulus SMA adalah sebuah pilihan yang terlalu berani. Bahkan guru kesayangan saya saat SD setiap ketemu anggota keluarga saya masih sering berkata, “Sayang ya dulu nggak ngambil Matematika aja”, sambil geleng-geleng kepala. Setahun pertama, saya kesulitan mengubah pola pikir ilmu pasti saya ke arah ilmu yang lebih abu-abu. Psikologi adalah ilmu abu-abu yang jawaban dari permasalahan yang sama bisa jadi berbeda-beda. Tergantung melihat dari sudut pandang mana, tergantung memakai pendekatan dan teori apa.

Setahun pertama kuliah di Psikologi benar-benar membuat saya berpikir “I don’t belong here”. Di balik wajah dan nilai-nilai saya yang tampaknya selalu tersenyum bahagia di setiap semester, ada perjuangan berdarah-darah untuk membuat saya tetap waras dan bertahan di kampus. Lagi-lagi pada akhirnya, saya justru jatuh cinta setengah mati dengan ilmu Psikologi. Ilmu Psikologi lah yang membuat saya berada di titik ini sekarang, dan menjadikan saya seperti saya yang sekarang. Ribet ya….pokoknya Psikologi mengubah pribadi saya, banyak, dan lebih baik. Ilmu yang saya dapat di bangku kuliah terus bermanfaat hingga hari ini.

Berulangkali menjalani “pilihan yang terlihat salah”, justru membuat saya sekarang tersadar. Tidak ada pilihan yang salah. Semua pilihan adalah baik, hanya kadang manfaatnya baru berasa belakangan. Semua hal yang pernah saya alami, sebaik dan seburuk apapun itu, punya andil terhadap kehidupan baik yang saya alami sekarang. Saya dulu menyesali pilihan saya mengambil S2, dengan berbagai alasan. Karir yang tertunda, pilihan jurusan yang salah, rasa bosan berada di kampus yang sama selama bertahun-tahun. Dan berbagai hal lainnya. Saya pernah menyesali pilihan saya berkarir di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Sampai-sampai lagu Creep pernah menjadi backsound abadi hidup saya, dan lirik “What the hell am I doing here?” terus berteriak di kepala saya selama beberapa bulan lamanya. Rasa-rasanya seperti pacaran dengan orang yang sangat tidak disukai, tapi mau putus nggak berani. Kata temen saya sih, wong saya nggak pernah pacaran jadi nggak tahu rasanya…hehe.

Hidup itu seperti potongan-potongan puzzle, kalau dilihat sepotong kadang nggak bermakna apa-apa, baru bermakna setelah potongan-potongan itu digabung dengan potongan yang lain. Setiap kejadian menjadi bermakna justru setelah ia digabungkan dengan kejadian-kejadian yang lain. Saya sempat frustasi saat pertama kali tahu kakak saya didiagnosa kanker stadium lanjut. Waktu itu saya baru satu tahun bekerja, dan saya sedang senang-senangnya membangun rencana-rencana indah masa depan. Rasanya seperti sedang mengerjakan sebuah puzzle, susunannya sudah mulai rapi, dan tiba-tiba ada yang datang mengacak-acak puzzle saya. Semua rencana hidup saya mendadak berantakan. Semua rencana yang sudah saya susun terpaksa bubar jalan. Selama setahun berikutnya hidup saya akhirnya Cuma punya satu tujuan, “Bagaimana caranya kakak sembuh dan keluarga saya bahagia.”

Justru setelah kakak meninggal, saya sadar. Tuhan tidak menghancurkan susunan puzzle hidup saya, Dia menata ulang puzzle saya. Menyadarkan saya pada tujuan terpenting hidup saya, keluarga. Dan setelah melihat kembali hidup saya ke belakang, rupanya semua kejadian adalah potongan-potongan puzzle yang tanpa sadar tersambung satu sama lain dan punya makna luar biasa. Saya memutuskan lanjut sekolah di SMA 1 Magelang karna disuruh kakak, memilih Psikologi karna ‘disuruh’ konsultan sebuah lembaga bimbingan belajar yang sedang promosi di kelas, memutuskan lanjut S2 karena “Yaudahlah sayang kalau tawarannya dilewatkan.” Semua seperti serba kebetulan dan tak sengaja, tapi kalau dipikir-pikir seperti sudah ada yang mengatur. Kalau saya tak memilih berkarir di perusahaan saya bekerja sekarang, belum tentu saya bisa membantu pengobatan kakak dan membawanya kembali di tengah-tengah keluarga. Kalau saya tak memutuskan menerima tawaran kuliah S2, belum tentu saat ini saya bekerja di perusahaan ini. Kalau saya dulu tak memilih Psikologi, belum tentu hidup saya sebahagia dan se-enteng sekarang. Dan belum tentu saya tiba-tiba bisa kuliah di UGM kalau saya dulu sekolahnya bukan di SMA 1 Magelang. Every single thing happen in my life is inter-connected. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Termasuk pertemuan saya dengan banyak orang, dengan mereka, dengan dia, dengan kamu.

Saya sadar bahwa ada beberapa orang yang memang ditakdirkan untuk tidak saya kenal, untuk sekedar singgah sebentar, untuk bertahan lama tapi tidak pernah benar-benar tinggal, atau yang pada akhirnya menetap. Bahwa ada yang datang untuk memberi luka, untuk memberi senyap, memberi harapan-harapan yang entah kapan terwujud, dan ada yang tulus memberi kebahagiaan. Bahwa ada yang datang untuk bermain, untuk belajar dan memberi pelajaran, dan bahkan ada yang ingin tumbuh bersama. Bahwa mereka, dia, kamu dan siapapun yang datang dalam hidup saya adalah potongan-potongan puzzle yang kalau dirunut ternyata saling terkoneksi dan membentuk sebuah cerita bermakna. Bahwa di antara potongan-potongan puzzle itu ada yang memang berguna untuk menyusun puzzle besar hidup kita, ada yang memang sebaiknya dilupakan karena mungkin tidak pas untuk puzzle kita. Dia tidak salah, hanya lebih pas untuk puzzle yang lain. Itu saja.

Semakin hari, saya belajar bahwa setiap pilihan diambil tidak untuk disesali, tapi untuk menjadikan kita lebih bijak memaknai hidup. Termasuk memilih potongan puzzle mana yang mau kita pasang di hidup kita. Pilihan yang sedang diambil mengajarkan arti komitmen dan tanggung jawab, pilihan yang belum diambil mengajarkan arti kesempatan dan berhati-hati mengambil keputusan, pilihan yang sudah diambil mengajarkan saya soal ikhlas dan mengikhlaskan. Apa yang sudah pernah saya pilih di masa lalu sudah saya ikhlaskan (untuk juga berlalu). Apa yang saya pilih hari ini, dan mungkin nanti, semoga menjadi pilihan terbaik, dan pas dengan potongan-potongan puzzle lain yang sudah terpasang di hidup saya. Semoga di antara pilihan-pilihan itu, ada kamu. Siapapun itu. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s