Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe


“Problem solving isn’t a talent that some people have and others don’t. It’s a habit. By developing the right skills and adopting the right attitude, anyone can become a problem-solving kid.”

Ken Watanabe menulis buku ini dalam upayanya memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Enam tahun berkecimpung di dunia konsultasi manajemen di McKinsey rupanya tidak mengalihkan ketertarikannya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Pada tahun 2007, ketika Perdana Menteri Jepang kala itu memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatian negara, Ken Watanabe memutuskan untuk menulis buku ini. Alasannya sederhana, ia melihat sistem pendidikan di Jepang selama ini lebih fokus pada hafalan dibanding bagaimana mengajarkan anak menyelesaikan masalah (problem-solving-focused education). Maka ia tinggalkan McKinsey, menulis buku lalu mengajarkannya pada anak-anak.

Ternyata buku yang ia tulis justru menjadi booming, dan disukai tidak hanya oleh anak-anak, tapi juga orang dewasa. Buku ini menjadi buku laris di Jepang, dan menjadi acuan teknik problem solving baik di dunia pendidikan, dunia korporasi maupun masyarakat secara umum. Karena buku ini memang dari awal ditulis untuk anak-anak, bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat sederhana dan penuh dengan ilustrasi yang menarik. Wajar memang jika kemudian banyak orang yang tertarik membaca buku ini, termasuk saya. Tema Problem Solving yang sering muncul di berbagai text book tebal dipaparkan dalam konsep yang mudah dicerna, tanpa istilah-istilah rumit yang membuat bosan, dan analogi yang dipaparkan sangat dekat dengan kehidupan sehari-sehari sehingga mudah diaplikasikan.

Di bab pertama, misalnya, saat menjelaskan kenapa penting menjadi seorang problem-solving kid. Ken menganalogikan berbagai karakter orang pada umumnya. Miss Sigh yang senang mengeluh dan menyerah sebelum mencoba mencapai tujuannya. Mr. Critic yang selalu mengomentari ide orang lain, tapi dirinya sendiri tidak melakukan apa-apa. Miss Dreamer yang selalu punya mimpi, tapi tidak tergerak untuk mencapainya. Mr. Go-Getter yang aktif melakukan banyak hal, selalu trial-and-error dan tidak pernah menyerah untuk mencapai sesuatu meskipun gagal, tapi tidak pernah membuat perencanaan yang matang. Dan terakhir, tentu saja, Problem Solving Kids yang bisa membuat perencanaan jelas dan selalu mencari cara yang efektif dalam mencapai target atau tujuan yang ingin dicapai.

tumblr_lrljf7DxW71qkqw7u

Ini adalah gambaran dari masing-masing karakter yang disebutkan di dalam buku ini. Buat saya, ini cukup menyentil sih. Terkadang tanpa kita sadari, kita jadi salah satu di antara karakter-karakter di atas. Membaca buku ini seperti mengingatkan untuk kembali pada jalur yang seharusnya kita tempuh untuk mencapai tujuan. Membaca karakter Miss Dreamer membuat saya ingat kembali pada daftar impian yang sudah ditulis entah dari kapan. Sekedar ditulis, tapi tanpa ada usaha untuk mencapainya. Impian pun hanya jadi sekedar wacana.

Di bab-bab selanjutnya, Ken menjelaskan lebih detil mengenai teknik penyelesaian masalah, khususnya menggunakan teknik pohon logika (Logic Tree). Pohon logika adalah salah satu teknik yang bisa digunakan dalam menguraikan akar sebuah permasalahan, lalu mencari solusi yang paling tepat. Ibarat dokter, resep seharusnya diberikan setelah mempelajari penyebab sakitnya. Dengan demikian obat yang diberikan bisa tepat sesuai penyakitnya, bukan sekedar mengobati gejalanya.

Pohon logika dibuat dengan memecah masalah menjadi berbagai kategori yang relevan, dan mengelompokkannya sesuai kesamaan. Misalnya ketika kita akan membahas buah-buahan, kita bisa membaginya sesuai bentuk (bulat, panjang) atau sesuai warna (hijau, kuning, merah) dan sebagainya. Dengan memecah masalah menjadi hal-hal yang lebih sederhana, kita akan lebih mudah menemukan akar utama penyebab masalah tersebut, lalu mencari solusinya.

“Problem solving is not complicated. All you have to do is understand the situation, identify the root cause, develop an effective plan, and execute. Even if the problem you face is big and complicated, if you learn how to break it down into smaller, manageable problems, you will be able to solve it.”

Melalui contoh-contoh kasus sederhana, Ken mengajarkan teknik pemecahan masalah dari mulai mencari akar masalah, membuat prioritasi sampai menemukan solusi terbaik. Ada kasus band kampus bernama Mushroom Lovers yang ingin konsernya dihadiri banyak penonton, John Octopus yang bingung memilih laptop sesuai kebutuhan atau Kiwi yang sedang memilih sekolah sepakbola terbaik. Membaca buku ini seperti sedang membaca buku cerita. Seru, menarik, tapi tanpa disadari kita sambil belajar tentang ilmu problem solving yang selama ini diterapkan di dunia bisnis dan korporasi.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapapun, termasuk orang tua yang ingin mengajarkan teknik problem solving pada anak-anaknya. Karena setiap orang pasti pernah, dan akan, menghadapi masalah dalam hidupnya. Dari sejak bangun tidur sampai akan tidur lagi, dari kita kecil sampai tua, dari masalah kecil sampai masalah yang sangat kompleks. Setiap hari kita dihadapkan pada masalah, maka setiap hari pula kita dituntut untuk bisa memecahkan masalah. Kalau kita bisa menguasai teknik pemecahan masalah, hidup akan jadi lebih mudah. Kan?

“If you make problem solving a habit, you’ll be able to make the most of your talents and take control of your life. You can solve not only your own problems, but the problems of your school, your business, and your community – and maybe even the world.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s