FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!


Saya mengenal istilah ‘unfinished-business’ di salah satu kuliah favorit saya dulu, Psikologi Emosi. Sederhananya, yang disebut ‘unfinished-business’ adalah ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan dan masih terbawa sampai sekarang. Cinta belum kelar, Rasa sayang yang belum terucap, rindu yang tak pernah sampai pada pemiliknya, dendam tak berkesudahan, rasa bersalah pada seseorang, perasaan menyesal untuk sebuah kesalahan di masa lalu, kemarahan yang disimpan, maaf yang belum sempat terucap, dan banyak hal lainnya.

Unfinished business harus diselesaikan,” di balik senyum khasnya, ibu dosen berpesan.

Unfinished business kadang tidak disadari, lalu muncul tiba-tiba. Seperti dulu saya yang tiba-tiba menangis di bus tanpa sebab, di perjalanan mudik Jogja-Magelang hanya karena teringat sosok bapak. Rupanya waktu itu saya masih sering berpikir, ‘’Seandainya Bapak masih ada, mungkin…..” Urusan saya kehilangan Bapak ternyata belum selesai. Butuh 20 tahun, dan kuliah di Psikologi, untuk sekedar bisa ikhlas atas kepergian seseorang yang bahkan mukanya pun saya tak ingat sama sekali. Bahkan waktu iseng ngetes Grafis ke anggota keluarga untuk tugas kuliah dulu, semua menunjukkan satu kesamaan kondisi “Rasa kehilangan pada sosok bapak yang masih tersimpan”. Keluarga kami memang tidak pernah terbiasa membahas kesedihan, semua hal dijadikan lelucon dan ditertawakan. Seru memang, tapi rupanya kesedihan menjadi kerak di hati masing-masing. Tersimpan di bawah sadar. Susah hilang.

Setelah melepaskan masa berkabung saya, ternyata semua terasa lebih plong. Saya lebih bisa mensyukuri kondisi saya yang tanpa sosok ayah, dan mulai bisa berpikir, “Ya memang begini cara Tuhan mendidik saya agar kuat.” 🙂

Saya bukan orang yang pintar menyelesaikan urusan masa lalu. “Susah move on,” kalau kata anak-anak jaman sekarang #halah. Butuh entah berapa tahun saya bisa menghilangkan rasa takut berpapasan dengan laki-laki asing di jalan, karena waktu kecil pernah mendapat pelecehan seksual saat berjalan pulang sekolah. Butuh waktu tiga tahun untuk sekedar merelakan batalnya saya ikut program Indonesia Mengajar. Dan bagi saya, menghubungi seseorang di masa lalu tidak pernah semudah mengangkat telepon dan bilang, “Hello, It’s me….” Duh jangankan telepon, mau ngirim chat WA bilang “Hai!” aja mikirnya seribu kali. 😀

Tapi berkat pesan bu Dosen, dan keinginan untuk berdamai dengan diri sendiri, saya belajar menyelesaikan unfinished businesses saya. Karena masih belajar, ya wajar ada yang berhasil, ada yang belum…hehe. Dari semua usaha yang saya lakukan untuk berdamai dengan masa lalu, ada dua hal yang menurut saya penting. Pertama, mau mengakui perasaan yang (pernah) saya alami. Sederhana? Teorinya iya, prakteknya…silahkan dicoba sendiri. Ngaku kalau sayang, kalau takut, benci, marah, sedih, malu, dan berbagai macam perasaan itu kadang nggak mudah. Tergantung objeknya apa/siapa. Saya pernah ngaku suka sama seseorang yang pernah dijodoh-jodohin sama saya, tapi waktu itu saya tolak setengah mati. Ngakunya sama sahabat saya, dan dia tertawa terkencing-kencing dibuatnya. Pengakuan saya itu justru jadi bahan bully-an sampai sekarang. Nyesel? Enggak tuh, karena akhirnya saya lega dan bisa ikut tertawa….lalu move on dengan lebih mudah. Nggak kebayang kan kalau perasaan itu saya simpen sendiri sampai berkerak, bisa baper terus-terusan kan….hehe.

Hidup itu seperti berjalan membawa backpack. Ada perasaan, pemikiran, memori indah, masalah, dan banyak hal lain yang selalu kita bawa kemana-mana setiap hari. Bayangkan kalau hal-hal di masa lalu masih terus kita bawa hingga hari ini, betapa berat beban yang harus kita bawa setiap hari. Maka, buat saya, menyelesaikan urusan di masa lalu itu penting, biar beban di hati lebih ringan. Menyelesaikan urusan masa lalu itu membuat saya lebih bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Mengurangi dendam, mengurangi rasa bersalah yang tak perlu, mengurangi kesedihan. Dan yang paling penting, menambah ruang kosong di hati untuk hal-hal baru yang lebih menyenangkan.

Berani mengakui perasaan juga menambah self acceptance bagi saya. Saya nggak masalah meski pernah gagal, pernah mempermalukan diri sendiri, pernah marah, pernah sedih, pernah menyebalkan, dan sebagainya. Dan tingginya self acceptance membuat saya merasa nyaman menjadi diri saya sendiri, merasa bahagia dengan apapun yang saya punya. Ini penting, karena kebahagiaan itu ya harusnya emang datang dari diri kita sendiri. Bahagia itu diciptakan, katanya, bukan dicari…apalagi dibeli.

Setelah mengakui perasaan, yang saya lakukan biasanya adalah mencari hal-hal kecil yang bisa disyukuri dari setiap hal yang saya alami. Saya berhasil move on dari batalnya ikut IM setelah kakak saya meninggal karena kanker, dan akhirnya tersadar, “Kalau dulu maksa berangkat IM, mungkin saya tidak punya kesempatan membahagiakan kakak di penghujung usianya.” Tuhan memberi kesempatan saya untuk mempertemukan kakak dengan keluarga, sebelum Dia memanggilnya pulang. Sungguh, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur dengan baik, dan ada pesan yang Tuhan ingin Dia sampaikan di setiap kejadian yang kita alami. Selalu ada hal-hal yang bisa disyukuri dari setiap kejadian, sekecil apapun itu. Selalu.

Hidup itu melulu soal pilihan. Memilih berdamai dengan masa lalu, atau membiarkannya menjadi residu. Memilih memaafkan atau menyimpan dendam. Semua kembali pada diri masing-masing. Kalau saya, lebih memilih menyelesaikan apa yang memang belum selesai. Biar plong. Biar kelar. Karena kadang, yang belum kelar bikin hati susah mekar. #dhuarr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s