I Deserve an Inner Peace


 

“Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace” – Jonathan Lockwood Huie

Saya mungkin salah satu orang yang begitu excited menyambut 2017. Begitu bersemangat. Begitu optimis. Entah kenapa saya yakin banyak hal baik akan datang di tahun ini. Meski tanpa saya duga, justru di hari pertama tahun 2017 saya mengalami hal yang kurang menyenangkan. Mungkin dibohongi bukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan apa yang saya alami, tapi jika kata “tidak jujur” lekat artinya dengan “bohong”, barangkali memang itu yang sedang terjadi.

Shit happens, but life must goes on. Saya manusia biasa, jadi saya marah hari ini. Meski marah saya tidak saya tunjukkan dengan kata-kata. “Buat apa,” pikir saya. I’m angry with that person, I know I have the right. Tapi bahkan sebelum dia minta maaf, saya sudah memaafkan orang tersebut. Bukan. Bukan karena alasan perasaan. Karena perasaan saya sudah menguap begitu tahu apa yang selama ini dia sembunyikan. Hanya saja saya paham, marah tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Marah tidak akan membuat yang tidak jujur menjadi jujur. Marah tidak akan mengembalikan apa yang memang bukan milik saya sejak awal.

Saya mungkin bukan muslimah taat, tapi saya selalu ingat kisah Rasulullah berikut ini:

Di sudut pasar Madinah Al Munawarah, ada seorang Yahudi yang buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata:

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan di pengaruhinya.”

Hampir setiap pagi, Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah katapun Rasul menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah SAW melakukan hal itu hingga beliau menjelang wafat. Setelah Rasulullah wafat, tak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi dan yang menyuapi orang Yahudi yang buta itu.

Suatu hari Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya (Aisyah). Beliau bertanya kepada Aisyah: “Anakku, adakah sunnah Rasul yang belum aku kerjakan?” . Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah saja. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja“, ucap Aisyah.

“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar. “Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana“, jawab Aisyah.

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak: “Siapa kamu…!!!” Abu Bakar menjawab: “Aku orang yang biasa“. “Bukan…!!! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut pengemis buta itu.

Lalu pengemis itu melanjutkan bicaranya: “Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”

Abu Bakar yang mendengar jawaban orang buta itu kemudian menangis sambil berkata: “Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah SAW.”

Begitu pemaafnya Rasulullah, bahkan pada orang yang tiap hari menyakitinya. Saya tidak sesempurna itu, tentu saja. Tapi saya belajar banyak dari kisah itu. Selama ini saya dibesarkan oleh perempuan pemaaf, yang selalu mengajarkan saya untuk memaafkan orang bahkan sebelum orang tersebut minta maaf. Yang selalu mengajarkan saya untuk membalas setiap kejahatan dengan kebaikan. Mungkin buat sebagian orang saya terlalu naif. Atau bodoh. Tapi saya sadar sepenuhnya, memaafkan adalah kebutuhan hati. Memaafkan bukan karena semata-mata orang itu berhak dimaafkan, tapi agar saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri. I know that I don’t deserve to be lied, to be betrayed, nor to be hurt. I just know that I deserve an inner peace. So I forgive.

 

Namaste.  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s