Hidup Lebih Sederhana


“We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like.” – Dave Ramsay

Beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya membaca tulisan Arman Dhani berjudul Cukup dan Bahagia. Sederhana konsep yang diusung, tapi cukup membuat saya kepikiran sampai detik ini. Silahkan baca artikelnya dulu di sini.

“Konsumerisme membuat manusia tidak bahagia. Keinginan untuk memiliki membuat manusia terbebani untuk terus membeli hal yang tidak ia butuhkan.” – Arman Dhani

Artikel ini saya baca selepas perayaan Idul Fitri, di suatu pagi ketika saya mulai berpikir “Akhir-akhir ini duitku kok cepet habis, kemana ya?” Dua kalimat pertama di atas langsung terasa menampar setelah saya baca. Ada salah satu paragraf yang menarik, tentang gaya hidup minimalistik.

“Minimalisme mengajak para pengikutnya untuk hidup sederhana,secukupnya, seminim mungkin, sehingga tidak perlu terlalu banyak memiliki benda. Gerakan ini bukan karena pelakunya miskin atau tidak memiliki uang, tapi percaya bahwa kepemilikan benda yang terlalu banyak akan membuat manusia menjadi tidak bahagia.”

Saya jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu, persis sebelum libur Tahun Baru 2016. Saya membawa enam potong pakaian saya ke laundry langganan dekat kos, memilih laundry satuan karena itu adalah sebagian dari baju-baju kesayangan saya. Sepulang mudik libur Tahun Baru, saya kembali ke tempat laundry untuk mengambil pakaian-pakaian saya kembali. Hasilnya, pakaian saya hilang karena kelalaian petugas laundry yang memberikannya ke pelanggan lain tanpa tahu tempat tinggalnya dimana.

Saya bukan seseorang yang membeli pakaian karena merek tertentu. Bukan karena anti merek, tapi lebih karena uang saya tak cukup banyak untuk sekedar membeli merek. Sialnya, satu dari enam pakaian yang saya laundry adalah satu-satunya pakaian bermerek yang saya beli sendiri, dan harganya hampir setara uang kos sebulan. Sisanya adalah baju-baju kondangan hasil jahit dari kain yang dibeli di beberapa daerah, yang kalau ditotal harganya cukup bikin saya meringis.

Sebelum-sebelumnya saya sudah sering kehilangan barang, dengan harga yang lebih mahal atau yang berdampak buruk pada masa depan. Kehilangan ijazah, misalnya. Atau laptop yang tertinggal di bajaj. Pun kehilangan baju di tempat laundry bukan pertama kali saya alami. Yang hilang tanpa disadari, lalu baru sadar berbulan-bulan kemudian…..banyak. Tapi entah kenapa kehilangan kali ini begitu sulit saya ikhlaskan. Hampir dua bulan saya menunggu kabar baik dari petugas laundry, berharap ada keajaiban yang membawa baju-baju saya kembali.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, termasuk berdamai dengan diri sendiri untuk tidak larut dalam kehilangan dan berdamai dengan petugas laundry (tentunya setelah dia mengganti baju-baju saya dengan seperempat harga dan berjanji akan tetap mencari baju-baju saya sampai ketemu). Yang kemudian saya sadari, ternyata saya baik-baik saja tanpa baju-baju itu. Lemari saya tetap penuh dan setiap hari saya bisa berganti pakaian sesuai yang saya mau. Tidak ada yang berubah dengan kualitas hidup saya, justru ilmu ikhlas saya meningkat sepersekian level.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk membongkar lemari baju saya, memilih baju-baju yang selama ini ‘dibuang sayang’, tapi juga tak pernah saya pakai. Dan toh,setelah baju-baju itu saya packing, saya tetap bahagia dengan baju yang tersisa di lemari, dan kehidupan saya tetap berfungsi normal.

Di dalam salah satu video presentasi TEDx, Ryan Nicodemus menceritakan awal mula ia dan rekannya membuat blog TheMinimalist.com (tonton videonya di sini). Ia adalah seorang profesional muda di Amrik, dan seperti anak-anak muda di sana pada umumnya, ia sempat mengejar apa yang disebut “the American Dreams”. Hidup serba berkecukupan, tinggal di tempat mewah dan bisa memiliki apapun yang ia mau. Pada awalnya, ia berpikir bahwa sukses berarti kaya dan punya banyak uang. Pada awalnya ia berpikir dengan punya banyak uang ia bisa bahagia. Tapi tidak. Ia bekerja keras, dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak ia sukai, untuk membayar tagihan setiap bulan, demi bisa membeli apa yang ia ingin beli agar menjadi kaya dan sukses seperti kata orang kebanyakan.

“So as I made more money, I spent more money all in the pursuit of the American dreams.   All in the pursuit of happiness. But, the closer I got, farther away happiness was.”

Maka pada suatu hari, ia bertanya pada sahabatnya, Joshua, yang selalu tampak bahagia. Padahal secara karir ia tidak sesukses dirinya, dan bahkan ia baru bercerai dan kehilangan ibunya. Josh mengenalkan Ryan pada gerakan minimalis yang sudah diikutinya beberapa bulan terakhir. Ryan terinspirasi untuk mengikuti gerakan itu, dan memutuskan untuk melakukan packing party. Ia pindahkan semua barang-barangnya tanpa kecuali ke dalam boks. Dan dalam tiga minggu, ia hanya akan mengambil barang yang ia butuhkan saja. Pada akhirnya ia mengambil kesimpulan, ternyata ia hanya membutuhkan sedikit dari seluruh barang-barangnya untuk kehidupan sehari-hari.

Saya tentu tidak akan se-ekstrim Ryan. Hanya saja setelah membaca artikel Arman Dhani dan melihat video TEDx di atas, saya langsung berpikir untuk membongkar seluruh barang saya kembali. Saya memang tipikal orang penyayang. Setiap kali mau membuang sesuatu, saya selalu berpikir “Ahh, sayang kalau dibuang.” Pun termasuk kenangan. Termasuk perasaan. #ehgimana

Dan kemarin saya melakukannya. Membongkar satu per satu kumpulan barang yang saya simpan, dan menemukan banyak barang-barang tak berguna yang seharusnya saya buang dari dulu. Kuitansi-kuitansi bukti berbagai transaksi, baju-baju yang tak pernah saya pakai setahun terakhir meski masih bagus, obat-obatan yang saya simpan untuk jaga-jaga dan sebagian ternyata sudah kadaluarsa, barang-barang yang entah kenapa saya beli dan tidak bermanfaat, tas-tas yang sudah tidak ingin saya pakai, tiket nonton entah apa, buku yang sudah tidak ingin saya baca dan berbagai barang yang kenangannya-sudah-tidak-cukup-penting-untuk-dikenang-tapi-entah-kenapa-masih-saya-simpan.

Pada akhirnya saya sadar, hidup terlalu sayang jika hanya digunakan untuk mengejar kepemilikan terhadap barang. Bekerja keras setiap hari hanya untuk membayar tagihan bulanan atas apa-apa yang kita beli dan belum tentu benar-benar kita butuhkan. Dan bisa jadi sebagian barang itu kita beli hanya untuk mengesankan orang lain, agar dibilang ‘keren’ dan terlihat punya cukup uang. Padahal sebagian barang mahal itu dibeli dengan cicilan. Atau yang lebih menyedihkan, ada seorang teman yang dalam kondisi punya hutang, tapi di saat bersamaan membeli gadget terbaru dengan harga jutaan. Mau hidup seperti itu sampai kapan?

Cita-cita saya tak muluk. Saya hanya ingin hidup lebih sederhana, secukupnya. Bahagia dengan apapun yang saya punya. Terbebas dari hutang dalam bentuk apapun, dan terbebas dari tekanan sosial untuk memiliki barang-barang yang tidak saya perlukan. Karena hidup untuk memenuhi keinginan orang lain itu sangat melelahkan. Apalagi katanya, setiap barang yang kita miliki di dunia ini akan dihisab pada saatnya nanti, harus dipertanggungjawabkan. Serem juga ngebayangin, akan selama apa saya dihisab, untuk sekedar barang-barang sepele yang saya simpan. Baju-baju yang dibeli karena diskonan, misalnya. Atau sekedar foto mantan gebetan. Duh.

Saya akan mulai dengan langkah sederhana ini. Rutin mengecek barang-barang saya kembali, mungkin seminggu sekali. Memilih barang mana yang memang saya perlukan, mana yang harus dibuang atau didonasikan. Membeli hanya apa yang saya butuhkan, bukan sekedar yang saya inginkan. Mau ikutan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s