Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)


“Kapal kita nggak bisa merapat ke dermaga,” teriak kak Uti, salah satu relawan yang bertanggung jawab terhadap transportasi tim KIJP 5 menuju pulau penempatan.

Jam tujuh sudah lewat beberapa menit yang lalu, seharusnya kapal kami sudah bertolak menuju kepulauan Seribu, dari dermaga paling ujung Marina, Ancol. Sebuah kapal wisata berwarna putih merapat di Dermaga, menghalangi kapal kami. Di dalamnya sekelompok ibu-ibu berkacamata hitam tampak sedang bergaya di depan kamera, ada juga yang sebagian asyik mengobrol atau sibuk dengan gawai di tangan. Riuh-rendah suara relawan meramaikan suasana dermaga, seolah tidak terganggu dengan jadwal keberangkatan yang harus mundur dari jadwal semula.

Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal :)
Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal 🙂

“Sebentar lagi kita akan berangkat,” teriak kak Uti di tengah kerumunan relawan. Akhirnya, setelah mundur sekitar 30 menit dari jadwal, kami pun dikumpulkan untuk briefing akhir sebelum keberangkatan. “Lihat kapal putih di sebelah sana,” kak Uti menunjuk sebuah kapal besar nan cantik berwarna putih tepat di ujung Dermaga.

Wah, bagus juga kapalnya. Kataku dalam hati.

“Nah, nanti kita akan melewati kapal yang bagus itu, di belakangnya persis itulah kapal yang akan kita naiki. Silahkan dinikmati barang sebentar kapal yang bagus itu, sebelum kita bertemu kenyataan yang harus kita hadapi.”

“Yahhh…..hahahaha,” para relawan kompak tertawa.

Ternyata itu bukan kapal yang akan kami naiki. Kapal kami adalah kapal kayu berkapasitas 200 penumpang, dengan dek sederhana beralaskan terpal, dan satu-satunya penghalau panas adalah angin laut yang menyisip lewat jendela dan sela-sela kayu kapal.

Bahagia kami terlalu sederhana memang. Seperti apapun kapal yang harus kita naiki, semua relawan tampak bahagia dengan caranya masing-masing. Ada yang tidur lelap beralaskan terpal, ada yang bermain kartu Uno, ada yang membaca buku atau koran, foto selfie dan wefie di dek, atau nyanyi rame-rame diiringi ukulele yang dibawa salah satu relawan. Menyenangkan. Tiga jam perjalanan pun tidak terasa, dan tahu-tahu kami sudah sampai di satu per satu pulau penempatan.

Well….here we go. The show is about to start. Are you ready? 

Foto bersama di dalam kapal. Where Am I?
Foto bersama di dalam kapal. Where Am I?

Hari Pertama di Pulau

Bersama 41 relawan lain yang akhirnya berangkat, aku ditempatkan di Pulau Panggang. Sesuai namanya, Pulau Panggang adalah pulau panas minim pohon dan hembusan angin, yang siap membuat kulit kami ter-Panggang. Semenjak briefing pertama, kami sudah mendengar berita buruk soal Pulau Panggang. Tentang airnya yang payau dan bisa bikin kulit gatal-gatal, tentang udaranya yang begitu panas dan mengancam dehidrasi sampai tim di batch berikutnya banyak yang terserang diare, atau tentang karakter penduduk dan anak-anaknya yang keras. “Anak-anak SDN Panggang 01 lebih jahanam dari 03,” kata salah satu relawan yang ke Panggang di batch sebelumnya. Bahkan video yang ditayangkan saat briefing pun menguatkan hal itu. Tim Pulau Panggang memang akan dibagi ke dua sekolah saat hari Inspirasi besok, tim SDN Panggang 01 dan SDN Panggang 03. Aku kebagian SDN Panggang 01. Humm….

Sesampai di Panggang, kami langsung menuju rumah yang akan jadi tempat menginap kami. Tim dibagi dua, relawan laki-laki menginap di rumah bu Lela, persis di seberang dermaga. Tim relawan perempuan harus berjalan beberapa ratus meter dari dermaga untuk menuju penginapan. Hidangan makan siang sudah menanti kami di rumah tempat tinggal perempuan. Cumi dan ikan segar yang dimasak dengan sangat enak, ditambah sayur asem dan kerupuk khas Panggang membuat kami kalap makan. Air di kamar mandi rupanya tidak terlalu payau, dan bahkan si empunya rumah sudah menyiapkan tampungan air hujan untuk mandi kami. Wah, sungguh di luar dugaan.

Selepas makan dan menunaikan ibadah shalat bagi yang muslim, kami segera membagi diri dalam beberapa tim. Sore hari akan ada beberapa kegiatan yang berjalan bersamaan. Ada shooting Quis Ranking 1 bersama anak-anak kelas 4-6,, dikomandoi kak Radit. Untuk kelas 1-3 ada kelas dongeng bersama kak Irma, kak Ale dan kak Rere. Ada Cooking Class bersama ibu-ibu yang dipimpin kak Putri, dan kelas kerajinan oleh kak Rani. Masing-masing tim segera bersiap menuju lokasi kegiatan. Aku yang kebagian tim memasak langsung ikut mengambil pisau, menyiapkan jagung pipil untuk bahan Es Jagung. Tidak ada yang duduk bermalas-malasan, semua sadar dengan tanggung jawab masing-masing. Kami datang untuk masyarakat dan anak-anak pulau Panggang, bukan untuk jadi pengunjung apalagi wisatawan. Maka tidak ada alasan untuk duduk santai berleha-leha, meski sekedar menikmati angin yang malas-malasan datang.

Tim Cooking Class siap beraksi :)
Tim Cooking Class siap beraksi 🙂

Surprisingly, semua mitos tentang Pulau Panggang terpatahkan di hari pertama. Kecuali, tentu saja, kenyataan bahwa Pulau Panggang panas dan benar-benar memanggang. Anak-anak yang ikut Quis Ranking 1 maupun kelas Dongeng bisa mengikuti kegiatan dengan tertib. “Yang mengejutkan, ternyata anak-anak bisa mengikuti aturan dengan baik. Saat diminta duduk di dalam garis, mereka benar-benar tidak melewati garis. Padahal mereka masih kelas 1-3,” cerita kak Ale selepas kegiatan. Termasuk ibu-ibu dan remaja putri yang ikut kegiatan masak dan kerajinan, kesan bahwa penduduk pulau Panggang berkarakter keras luntur lewat tawa mereka selama kegiatan. Bahkan ada satu peserta kelas memasak, namanya bu Kokom, yang di sepanjang kegiatan selalu melemparkan banyolan-banyolan khas yang mengundang tawa. “Kalau onigiri nggak tahu, kalau cinta saya tahu,” katanya sambil tertawa saat kak Putri menyebutkan nama masakan yang akan diajarkan ke para peserta, yaitu Onigiri Bom Cinta. Suasana benar-benar terasa hangat, meleburkan batas antara kami dan (sebagian) penduduk Pulau Panggang. Hari pertama yang menyenangkan. Bagi yang penasaran dengan kegiatan kami di hari pertama, silahkan cek akun youtube kak Sam, dokumentator kami, di sini.

Hari Inspirasi pun Tiba

Senin, 11 April 2016, akan jadi salah satu hari paling berkesan dalam hidup kami. Hari ini kami datang ke SDN Panggang 01 dan SDN Panggang 03, untuk menjadi inspirator bagi mimpi-mimpi masa depan anak-anak. Kami datang dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada yang berprofesi sebagai chef, banker, konsultan marketing & communication, perawat, ilustrator, pengacara, dan sebagainya. Meski profesi dan latar belakang kami berbeda, tapi tujuan kami sama….ikut memajukan pendidikan anak Indonesia. Meski hanya lewat cara sederhana, bercerita. Relawan-relawan cukup kreatif untuk menarik perhatian anak-anak. Ada kak Umar yang memakai jubah hitam jaksa. Bisa dibayangkan betapa panasnya ia dengan kostum tersebut. Ada juga kak Vido yang memakai pakaian pejuang lengkap dari atas sampai bawah, termasuk aksesorisnya…..senapan laras panjang. Materi yang diajarkan pun dikemas dengan cara-cara yang menarik. Ada kak Hilda dengan poster-poster yang ia bawa dari Jakarta, atau kak Putri sebagai chef yang membawa kue untuk dihias di kelas oleh anak-anak. Sebagai tambahan aksesoris, kak Putri pun rela mengenakan topeng Star Wars selama di kelas.

Kak Putri dengan topeng star wars dan kak Vido dengan baju pejuangnya. Terbaik!!
Kak Putri dengan topeng star wars dan kak Vido dengan baju pejuangnya. Terbaik!!

Kelas pertama yang aku masuki adalah kelas 3, kebetulan tandem dengan kak Radit. Salah satu hal yang membuat terkesan adalah ternyata anak-anak di kelas 3 mendengarkanku dan kak Radit dengan sangat baik. Tidak ada yang berlarian di kelas, tidak ada yang mengeluarkan kata-kata kasar. Entah karena masih pagi, atau memang karakter anak-anak kelas 3 yang baik dan penurut. Bahkan saat dinyanyikan lagu ciptaan mami Oyie, “Hei…katakan pada dia. Berani jujur itu hebat,” Mereka ikut menyanyikan lagu dengan sangat baik. Wow….kesan pertama yang sungguh di luar dugaan. Sayang, waktu kami mengajar hanya 15 menit, karena terpotong acara pembukaan.

Di sesi ketiga, aku kebagian mengajar di kelas 1. Dan ya….. ini adalah kelas yang cukup sulit. Hanya separuh yang mau mendengarkan dongeng yang kubawakan, padahal sudah siap dengan boneka di tangan. End up, beberapa anak justru sibuk membuka-buka tas perlengkapan yang kubawa, berusaha mengambil boneka tangan dan berebutan memainkannya. Dongeng pun bertahan kurang dari 10 menit. Metode mengajar segera kuganti dengan lagu dan permainan. Lagi-lagi, hanya separuh dari seisi kelas yang memperhatikan. Di 10 menit terakhir, akhirnya kubagikan kertas kosong…kuminta anak-anak menggambar. Di tengah kegiatan menggambar, ibu wali kelas masuk, berteriak dengan suara lantang. “Siapa itu bilang tak bisa menggambar? Kemarin kan sudah diajarin? Jangan macam-macam….”

Aku terdiam sejenak. Hummm….ini rupanya salah satu penyebab anak-anak sulit diam.

Di lima menit terakhir sebelum pelajaran berakhir, seorang anak berjalan mendekatiku, “Ibu, Yani mau berak,” sambil menunjuk temannya yang duduk diam di bangku.

Lagi-lagi aku terdiam sejenak. Selain kagum dengan keberanian dan sopan-santun anak ini, juga karena berpikir, “Pantas, ada bau kurang sedap yang tercium sedari tadi. Humm…”

“Ohh iya….silahkan sayang. Sendiri bisa?”

Anak itu mengangguk, lalu teman sebangkunya yang bernama Yani bergegas keluar kelas.

Fyiuhhh….setidaknya dia nggak berak di kelas. *nyengir*

Di kelas terakhir, aku mengajar bareng kak Yuli, perawat baik hati dari Bandung. Kami berbagi waktu mengajar. Aku mengawali dengan cerita soal profesi dan nilai-nilai kejujuran, dan diakhiri dengan simulasi psikotes. Dilanjutkan dengan kak Yuli yang bercerita tentang profesinya sebagai perawat, dan praktek cek denyut nadi dan pernafasan. Mengajar kelas 5 cukup menantang, apalagi ada yang sempat berkelahi selama pelajaran. Panasnya pulau Panggang makin terasa dibuatnya.

Gerbang Kejujuran bersama Badut Dudu
Gerbang Kejujuran bersama Badut Dudu

Kegiatan di sekolah dengan anak-anak ditutup dengan pembuatan wayang dudu, dan diakhiri dengan Gerbang Kejujuran. Badut Dudu yang menjadi maskot kejujuran menjadi aktor utama di acara penutupan. Semua anak semangat bernyanyi membentuk rangkaian kereta, melewati gerbang kejujuran di halaman sekolah yang cukup panas. Selepas berfoto bersama dengan seluruh anak-anak dan tim guru, kami pun makan siang bersama di bawah teduh pohon besar di pojok halaman sekolah. Meski menu makannya sederhana, tapi rasa dan momennya sungguh luar biasa. Baru setengah hari kami mengajar, tapi peluh sudah membanjir dan lelah mulai terasa. Tak habis rasa kagum kami pada Bapak/Ibu guru yang sanggup mengajar hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Spontan, kak Vido dengan suara lantangnya meminta semua relawan berdiri menghadap Bapak/Ibu Guru. Kami persembahkan lagu Hymne Guru untuk beliau-beliau yang telah banyak berjasa. Momen yang sangat mengharukan dan membuat salah seorang ibu guru menitikkan air mata.

“….Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku

S’bagai prasasti terimakasihku ‘ntuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa.”

Terima kasih Bapak/Ibu Guru. 🙂

 

 

 

 Continue to part 2…….

Advertisements

2 thoughts on “Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)”

  1. Ini cocok dimasukin ke steller gw….ntah knapa gaya ceritamu lebih menarik dibanding aku pri hahaha….ajarin yak cara bercerita lewat tulisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s