Category Archives: Lain-lain

Apapun yang belum masuk kategori sebelumnya :)

My Puzzle of Life


One said that the world is like a giant puzzle that has not been put together yet, and we’re trying to find the other piece of this puzzle that goes with us . For me, life’s merely a series of puzzle games; once you put the wrong pieces, you’ll screw the order and your life become clueless.

Beberapa kali saya pernah merasa hidup saya clueless. Aimless. Sampai-sampai lagu Creep-nya Radiohead jadi lagu favorit saya sepanjang masa. Selain karena musiknya bagus, ada lirik yang beberapa kali tepat menggambarkan hidup saya, at some point. Lirik yang sering saya nyanyikan keras, berulang-ulang…..”What the hell am I doing here? I don’t belong here!” Continue reading My Puzzle of Life

Puisi Favorit Sepanjang Masa


Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tanrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
Taufik Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Saya bukan penggemar puisi, apalagi puisi tentang cinta. Kalau disuruh memilih buku yang berjejer di rak, buku kumpulan puisi jelas bukan buku pertama yang akan saya ambil. Meski sudah membaca beberapa karya Kahlil Gibran, dan bahkan follow akun twitter Sapardi Djoko Damono, tetap saja saya tidak menggemari puisi. Setidaknya, kesukaan saya pada puisi tidak sebesar kesukaan saya pada karya fiksi berbentuk prosa dan cerita. Continue reading Puisi Favorit Sepanjang Masa

Di Jakarta, Kutemukan….


Hanya di Jakarta, kutemukan….

Bunyi klakson bersahutan, menggertak pengguna jalan yang dirasa lamban.
Kesabaran bukan milik pengguna jalan, apalagi di pagi dan sore menjelang malam.
Perjuangan terberat di sini barangkali memang saat berangkat maupun pulang, apapun dan kemana pun tujuannya.
Maka jangan terlalu heran, jalanan bisa menjadi begitu liar.
Seperti sepeda motor yang melaju kencang di atas trotoar, mengusir para pejalan.
Atau metromini tua yang dengan gesit melompati berbagai jenis pembatas jalan.
“Waktu adalah uang”. Barangkali itu penjelasan sederhana atas menguapnya timbunan rasa sabar di sepanjang jalanan Jakarta.

Continue reading Di Jakarta, Kutemukan….

Selamat Ulang Tahun Arini Uliarahma


“Ririn,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, saat pertama ia dikenalkan padaku. Hari itu adalah pertama kalinya aku ketemu Ririn, meski sebelumnya sudah sempat mendengar nama dan cerita tentangnya. Jujur, saat itu Aku lebih mengenal (mantan) pacarnya, yang kebetulan satu organisasi denganku di kampus. Ririn ini adik kelasku di Fakultas Psikologi UGM, beda dua angkatan. Belakangan aku baru tahu kalau ternyata dia juga adik kelasku waktu SMA.
Kesan pertamaku saat berkenalan dengan perempuan berjilbab ini adalah “senyumnya ramah”. Itu saja. Setelahnya, aku bahkan jarang berinteraksi dengan Ririn.

Continue reading Selamat Ulang Tahun Arini Uliarahma

Mari Berbagi Kenangan Masa Kecil


Hari Pertama Ramadhan, 1995

Bedug Maghrib bertalu. Anak-anak yang sedari tadi sudah resah memandangi menu buka puasanya di depannya, mendadak rusuh. Kata-kata ustadz yang menyuruh mereka tenang menyantap menu pembuka sama sekali tak digubris. Sebagian sibuk mengunyah tempe goreng, sebagian lagi memenuhi mulutnya dengan arem-arem berisi tahu, dan sebagian sisanya sibuk menyeruput teh panas dari plastik pembungkusnya. Suasana mengaji yang tadi tenang mendadak hiruk-pikuk. Ustadz dan para penjaga masjid yang sempat mencoba menenangkan anak-anak sepertinya mulai menyerah. Mereka mengambil menu buka puasa dan ikut menyantapnya, sambil sesekali menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak.

Continue reading Mari Berbagi Kenangan Masa Kecil

Rindu Terhebat


Rindu terhebat adalah milik mereka yang saling menyebut nama dalam doa. Meski rindu tersimpan dalam diam, masing-masing yakin Tuhan akan berpihak pada akhirnya, entah kapan. Kepada hujan, kepada bintang jatuh, kepada apapun doa itu disisipkan, rindu akan tersimpan dalam-dalam.

Rindu terhebat adalah milik mereka yang saling menyapa dalam diam. Yang bahkan untuk sekedar berucap “aku rindu kamu” perlu energi luar biasa. Entah karena ragu, atau sekedar rasa malu pada sebuah rasa yang mungkin tak berbalas.

Rindu terhebat ada di bisik angin yang berhembus di ujung telepon. Menyerukan rasa yang tak sempat terucap hingga akhir salam perpisahan.

Rindu terhebat ada di ujung jari yang sedang menyentuh layar smartphone, yang enggan mengetik rasa meski setiap huruf berlompatan keluar dari hati yang paling dalam, berjumpalitan di rongga mulut ingin diucap. Padahal si empunya rindu sedang saling tertawa, berkirim emoticon lucu di linimasa. Rindu terhebat adalah milik mereka yang tak pandai berkata-kata, yang hanya mampu berbisik di antara nada lagu-lagu. Bahkan hanya dengan membaca sebait lirik, mereka bisa berpura-pura rindu telah tersampaikan, pun berbalas. Terkadang, lirik ditulis panjang-panjang di status media sosial, berharap si empunya rindu membaca lalu paham. Pahamkah ia? Entah.

Rindu terhebat adalah ia yang hanya bertengger di angan. Bahkan untuk sekedar disampaikan pada Tuhan, tak ada sedikitpun keberanian. Hingga akhirnya rasa saling memudar, rindu diam-diam masih tertanam.

Rindu terhebat, adalah ia yang terpasung ego. Adalah ia, yang terbungkus rapi oleh harga diri!

Wiji Thukul: yang Hilang Namun Tetap Dikenal


Nama aslinya Wiji Widodo. Dikenal kemudian sebagai Wiji Thukul, yang berarti ‘biji yang tumbuh’. Dia adalah sastrawan yang mungkin dulu tak dikenal banyak orang, namun disegani banyak aktivis nasionalis. Badannya kurus kerempeng, rambut awut-awutan, sekilas hanya tampak sebagai sosok rakyat jelata biasa saja. Tapi dari tangannya lahir ratusan puisi yang mampu mengubah sejarah bangsa ini. Dari matanya terpancar semangat membela rakyat yang tak pernah padam. Dari mulutnya terdengar teriakan yang menyiutkan nyali penguasa di masanya, “Hanya ada satu kata: Lawan!”

Perkenalan pertama saya dengan Wiji Thukul terjadi tanpa sengaja di sebuah toko buku, ketika saya melihat sampul buku bertuliskan namanya sebagai judul, dengan poster seorang laki-laki kerempeng yang tak menarik hati. Saya tentu saja tidak tertarik. Hingga pada Pertemuan kedua yang terjadi di perpustakaan kantor, saat saya sedang mencari majalah fotografi, mata saya justru tertumbuk pada majalah Tempo dengan edisi khusus ‘Wiji Thukul’. “Tentu dia bukan sembarang orang, sampai harus dibuatkan edisi khusus sebuah majalah nasional”, begitu pikir saya kala itu. Baru membaca satu halaman, saya pun melongo….saya terus lanjutkan membaca, makin ciutlah nyali saya.

Wiji Thukul adalah salah satu aktivis pergerakan reformasi 1998 (yang saat kejadiannya saya baru menginjak kelas 6 SD). Lewat puisi yang ia ciptakan, ia mampu menggoyahkan pertahanan rezim Orde Baru kala itu. Ia juga aktif memperjuangkan hak-hak kaum buruh, sampai matanya hampir buta dipopor senapan saat memimpin demo. Di tengah gonjang-ganjing reformasi, Wiji Thukul adalah salah satu tokoh yang dicari-cari Tim Mawar (sebutan bagi pasukan khusus yang dibentuk Rezim Orde Baru untuk melenyapkan para aktivis yang dianggap mengancam eksistensi rezim tsb). Maka dimulailah petualangan Wiji Thukul hidup dalam persembunyian. Banyak tempat yang ia singgahi untuk bersembunyi, bahkan sampai Kalimantan. Dua tahun setelah pamit dari istrinya, Wiji Thukul tak kembali….tanpa kabar sedikitpun. Wiji Thukul menghilang (atau dihilangkan??). Bahkan sampai detik ini, keberadaannya masih jadi pertanyaan. Masih hidupkah ia? Entah.

Yang pasti….karya-karyanya masih terus hidup sampai tulisan ini saya unggah. Bahkan dalam persembunyiannya, ia masih sempat melahirkan puluhan (bahkan mungkin ratusan) puisi. Sebagian di antaranya berhasil diselamatkan, dan -thanks God- dikumpulkan oleh Tempo menjadi sebuah buku kumpulan puisi yang sangat menggugah. Membaca puisinya, sekaligus perjalanan hidupnya, membuat saya malu bukan kepalang. Rasa cinta saya pada tanah air ini masih belum seujung kuku-nya Wiji Thukul. Perjuangan saya untuk rakyat Indonesia bagaikan butiran debu jika disandingkan dengan perjuangan yang dilakukan Wiji Thukul. Memang jalur perjuangan kami berbeda…tapi sudah sepantasnya saya mencontoh semangat juangnya yang tinggi. Bahkan nyawa rela ia taruhkan untuk sesuatu hal yang ia yakini benar untuk diperjuangkan.

Wiji Thukul mungkin sudah raib entah dimana, tapi karyanya akan terus menyala. Membaca salah satu puisinya yang berjudul ‘Peringatan’ membuat saya langsung paham, kenapa Penguasa Orde Baru kala itu meradang:

Jika Rakyat pergi ketika penguasa berpidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: LAWAN!!!

(Solo, 1986)