Category Archives: Perjalananku

Ini cerita saya tentang perjalanan yang pernah saya lakukan. Saya bukan penulis perjalanan (travel blogger), jadi jangan berharap menemukan ulasan tentang tempat wisata di sini. Apapun itu, selamat menikmati :D

Menikmati Senja di Timur Indonesia


 

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, saat roda ban mobil yang kami tumpangi bergulir cepat menyusuri sepinya jalanan di Kalabahi, Alor, NTT. Di salah satu ujung jalan, mobil mendadak berhenti. Rupanya, ada seekor anak ayam sedang melintas pelan di depan mobil kami.

“Nabrak anak ayam bisa kena denda dua ratus ribu nih,” kelakar Bara di balik kemudi.

Continue reading Menikmati Senja di Timur Indonesia

Advertisements

A Sweet Escape


Hari masih pagi benar ketika pengemudi mobil rental menghubungi kami, mengabarkan bahwa ia dan mobilnya sudah siap di lobi apartemen. Pagi itu, Sabtu, 7 Maret 2015, saya dan beberapa teman kantor akan piknik bersama ke Kebun Raya Cibodas. Hiruk pikuk Jakarta dan rutinitas yang membosankan membuat kami sangat butuh udara segar. Kebun Raya Cibodas dipilih karena lokasinya yang memang berada di kawasan udara dingin, dan kami belum pernah berkunjung ke sana. Pun lokasinya tak begitu jauh dari Jakarta, sehingga energi, waktu dan uang tak perlu terkuras banyak-banyak. Continue reading A Sweet Escape

I am (Not) a Traveller


enhanced-buzz-29911-1358194467-2

A person who is travelling or who often travels.

Itu adalah salah satu definisi ‘Traveller’ yang saya temukan di kamus online. Ada pula yang mendefinisikan ‘traveller’ sebagai “a person who changes location“.

Menilik definisi-definisi di atas, secara harfiah, traveller adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Udah itu aja. Tanpa embel-embel tempat apa yang dia kunjungi, moda transportasi apa yang digunakan, dengan siapa ia melakukan perjalanan, berapa lama ia melakukan perjalanan atau berapa biaya yang ia keluarkan. Intinya, ketika saya melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta, misalnya, saya bisa klaim diri saya sebagai seorang traveller. Continue reading I am (Not) a Traveller

Pintamap… Sebuah Ide Gila yang Berawal dari Rasa Kecewa


Pontianak, 18 April 2014

Hari masih pagi ketika saya dan mbak Tri, salah satu teman kantor, sampai di bandara Supadio, Pontianak. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Pontianak, sekaligus pertama kali mencoba penerbangan paling pagi. Sensasi akan berpetualang di tempat baru menghilangkan rasa lapar di perut sekaligus kantuk menghebat yang saya rasakan sejak berangkat dari Jakarta.

Sayang, kami tidak mencari cukup informasi tentang Pontianak sebelum berangkat. Keluar dari bandara, kami baru tahu kalau kota ini minim angkutan umum. Satu-satunya kendaraan umum yang bisa mengantar kami keluar dari bandara adalah taksi, dengan tarif 120.000 rupiah untuk menuju destinasi pertama. Cukup mahal untuk ukuran pejalan seperti kami. Kepalang tanggung, kaki sudah menginjak bumi Pontianak, sayang kalau harus membatalkan rencana keliling kota hanya karena mahalnya ongkos transport.

Di sepanjang perjalanan, kami mencoba mengumpulkan informasi tentang Pontianak kepada bapak supir taksi tersebut. Dari obrolan tersebut, akhirnya kami malah berdiskusi soal minimnya transportasi umum di Pontianak. “Sekarang angkot pada mati, kalah sama sepeda motor. Dulu ramai angkot di Pontianak, sekarang jarang,” kata pak supir. “Trus, kalau kita pengin keliling Pontianak bisa naik apa ya Pak?” tanya kami sedikit kecewa. Continue reading Pintamap… Sebuah Ide Gila yang Berawal dari Rasa Kecewa

Enjoying My Last Day in the Bugis Land


All that has been started must have an end…

Begitu juga perjalanan saya di Makassar kali ini. Sabtu, 1 Juni 2013, adalah hari terakhir saya berkunjung ke Makassar. Sebagai penutup, saya bersama salah seorang teman — Putri namanya — berencana pergi ke Bantimurung, salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di kota Coto ini. Sempat hampir gagal berwisata karena sopir kantor mendadak tidak bisa mengantar kami, padahal jam di tangan sudah menunjuk angka 11 siang. Syukurlah ada yang bisa dihubungi untuk sewa mobil. Setelah tawar-menawar, kami sepakat menyewa mobil beserta sopir seharga Rp 400.000.

Kami sampai di Bantimurung saat jam makan siang, setelah melewati perjalanan yang cukup bikin jantung deg-degan. Jalan menuju Taman Bantimurung adalah jalan kecil yang merupakan salah satu jalur masuk ke Kab. Maros, dan selanjutnya Makassar. Jalan sekecil itu seringkali dilewati truk bermuatan barang yang akan menuju pelabuhan. Ditambah lagi pada hari itu adalah hari pengumuman kelulusan SMP. Jadilah hari itu kami berkejar-kejaran dengan waktu, sambil sesekali berpapasan dengan truk-truk bermuatan barang di sebuah jalanan sempit yang sedang dipenuhi anak-anak SMP bermotor-tanpa-helm-kebut kebutan-dan berbaju warna-warni penuh piloks. Fyiuhhhh…..

Tapi…begitu sampai di Taman Bantimurung, semua kengerian di perjalanan tadi menguap. Sejuknya udara di lingkungan taman, kupu-kupu kecil yang beterbangan, suara anak-anak tertawa riang, dan suara air terjun serta pemandangan taman yang indah membuat saya merasa nyaman. Buat saya yang terbiasa tinggal di bisingnya Ibukota, berada di Bantimurung adalah hal yang sangat menyenangkan. Sayang kami hari itu tidak mempersiapkan baju ganti di backpack, dan juga karena waktu yang sangat terbatas, sehingga tidak memungkinkan kami mencicipi mandi di bawah air terjunnya yang dingin.

Putri berpose di depan air terjun
Putri berpose di depan air terjun

Selesai berfoto ria di air terjun, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah Goa (I forget the name T.T), yang terkenal dengan monyet pertapa-nya. Untuk masuk ke dalam Goa, kami harus menyewa senter dengan harga Rp 10.000/orang, serta guide yang akan mengantar kami masuk ke dalam Goa dengan tarif Rp 50.000. Cukup mahal untuk individual traveller. Tapi jika sangat penasaran dengan isi Goa dan tidak ingin terpeleset apalagi nyasar, it is not that expensive. 😉

Ini adalah Foto di pintu masuk Goa:

Persis di depan Goa....seremmmmm
Persis di depan Goa….seremmmmm

Serem kan? Jadi, buat yang takut gelap atau penderita claustrophobia, atau asma, tidak saya sarankan masuk ke dalam Goa. Karena si Putri baru masuk sekitar 10m sudah sesak nafas, dan tetap harus bayar sewa senter…hiks *eh

Konon ceritanya, Goa ini dulu pernah dipake sesosok pertapa berwujud monyet yang sekaligus jadi penunggu Goa ini. Ini adalah salah satu dinding Goa yang (kata guidenya) merupakan jelmaan si monyet.

"Relief' di dinding Goa yang -katanya- representasi monyet
“Relief’ di dinding Goa yang -katanya- representasi monyet

Bagian yang ditunjuk pake tongkat adalah relief monyet. Guide saya sambil nunjuk ‘relief’ itu sempat bertanya pada saya, “Ini kalau dilihat-lihat mirip monyet kan?” Karena menurut saya tidak sopan jika dijawab “tidak”, jadilah saya hanya bergumam “ooo….” sambil sibuk memotret. 😀 Di bagian lain Goa, ada sebuah ceruk kecil yang diyakini sebagai tempat bertapanya sang monyet tadi. Terlepas dari benar-tidaknya mitos pertapaan ini, saya iseng-iseng foto di ceruk tadi. Hehehe…..sebenarnya cuma mau nyoba badan saya muat nggak di situ. :pEniwei, sayang sekali hasil jepretan si Guide agak burem, jadi fotonya nggak bisa saya uplot di sini. Lesson learn-nya, sebelum masuk Goa settinglah dulu kamera sampai bener-bener oke…dan ajari si Guide untuk ambil foto dengan cara yang benar. -___-” Di salah satu bagian Goa yang lain, yang diyakini sebagai tempat Shalat-nya si pertapa, ada sebuah petromaks yang ditaruh di lantai. Di bagian itu pula, saya sempat menemukan sebuah alat kecil yang tergantung di dinding Goa. Menurut penjelasan guide, itu adalah alat pendeteksi kandungan gas, yang dipasang untuk keperluan penelitian. 

There's a light in the cave :D
There’s a light in the cave 😀
Ini si alat pendeteksi kandungan gas di dalam goa....bentuknya unyu :D
Ini si alat pendeteksi kandungan gas di dalam goa….bentuknya unyu 😀

Yang menarik dari goa ini sih buat saya adanya stalagtit-stalagtit yang menggantung di langit Goa. Terlepas dari apa yang diyakini penduduk setempat, buat saya Mitos yang disampaikan guide lebih sebagai pemanis dan pelengkap wisata. Kalau tidak ingin mengeluarkan minimal Rp 60.000,00, barangkali sekedar berfoto di depan Goa sudah cukup untuk melengkapi album wisata Anda.

Selesai berwisata di Goa, kami sempatkan mampir di tempat penangkaran kupu-kupu.

Ini salah satu koleksi kupu-kupu di penangkaran
Ini salah satu koleksi kupu-kupu di penangkaran

Taman Bantimurung memang terkenal sebagai taman kupu-kupu. Sayang sekali saat ini sudah tidak banyak kupu-kupu yang beterbangan bebas di tempat ini. Kupu-kupu lebih gampang ditemukan di toko suvenir, dalam bentuk awetan. Sungguh sayang (dan kejam) menurut saya. Padahal ini bisa jadi aset wisata penting bagi Makassar. Saya sempat dideketin salah seorang pedagang suvenir, dan saya cuma bisa berkomentar “kasihan sekali kupu-kupunya.” Si pedagang dengan nada agak tinggi mencoba menjelaskan, “Memangnya mbak tahu siklus hidupnya kupu-kupu? Kupu-kupu itu selesai bertelur langsung mati, jadi ini awetan kupu-kupu yang sudah mati.”

Saya segera berlalu dari tempat itu, takut emosi saya meluap. Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan kupu-kupu mati sebagus dan sebanyak itu. Bagaimana pula mereka bisa menjelaskan drastisnya penurunan populasi kupu-kupu di Taman Bantimurung jika mereka hanya menangkap kupu-kupu yang sudah mati. I do believe in that life cycle, dan memang yang saya tahu siklus hidup kupu-kupu tidak panjang. Tapi, dari artikel yang saya baca….pada umumnya saat berkopulasi (atau bahasa gaulnya ‘kawin’ :p), sayap belakang si kupu-kupu akan terkoyak. Rusaknya sayap ini adalah bukti bahwa kupu-kupu telah berkopulasi. Nah….masih mau berdebat bahwa ribuan kupu-kupu awetan yang cantik dan dijual itu SEMUA sudah mati sebelum diawetkan? I do not believe….not at all!!

So….buat teman-teman yang mau menyelamatkan populasi kupu-kupu di Bantimurung, please jangan pernah beli kupu awetan sebagai oleh-oleh. Melihat kupu-kupu hidup dan beterbangan di sekitar kita dijamin jauh lebih indah dan memorinya lebih awet dibanding hiasan kupu-kupu yang mungkin akan rusak/hilang.

Wanna see more butterflies in Bantimurung? Do save them.... stop buying them as a souvenir!
Wanna see more butterflies in Bantimurung? Do save them…. stop buying them as a souvenir!

Days in The Bugis Land (2nd Day)


Akhirnya, setelah terjebak rutinitas sekian lama, saya bisa meneruskan cerita saya tentang Makassar. (alasan klasik untuk keterlambatan postingan blog :p)

Eniwei, di hari kedua saya di Makassar, ada banyak cerita seru. Hotel yang saya tempati misalnya, sebuah hotel yang baru-baru ini berubah nama dari Hotel Me*****, menjadi Ro***(entah untuk alasan apa). Hotel dengan tarif kamar Rp 500.000,00/malam ini (tarif kantor tentu saja :D), menurut saya sangat tidak recommended. Bagi backpacker atau wisatawan biasa dengan budget dari kantong sendiri, harga kamarnya terlalu mahal, namun dengan kualitas pelayanan yang tidak cukup bagus. Lobi hotel tersebut waktu kami datang sedang dalam tahap renovasi, sehingga untuk masuk ke hotel kami harus melewati parkiran di basement. Sebenarnya bukan sesuatu hal yang mengganggu, seandainya ada tulisan di depan hotel yang menginformasikan perihal tersebut, sehingga kami yang dari luar kota ini tidak perlu kebingungan mencari pintu masuk. -__-”

Begitu masuk ke dalam kamar, langsung ketahuan dari desain dan settingannya kalau hotel ini adalah hotel lama. Sepertinya agak spooky kalau nekat nginep sendiri di sini. :p Continue reading Days in The Bugis Land (2nd Day)

Days in the Bugis Land (1st day)


Good morning from Makassar.

Yup… Pagi ini saya posting blog dari kota Bugis, Makassar! Eniwei, selama ini saya taunya Makasar itu nulisnya dengan satu ‘s’…setelah sampai di kota ini, dan berfoto di depan tulisan ‘city of Makassar’, saya baru tahu kalo ternyata penulisan yang benar untuk nama kota kelahiran petinggi PMI ini adalah M-A-K-A-S-S-A-R, dengan dua ‘s’.

Saya berangkat dari Jakarta hari Minggu sekitar pukul 15.00, dan sampai di Makassar hari Minggu petang, sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Penerbangan sekitar 2 jam yang cukup menyenangkan, meski sempat bertemu cuaca yang kurang bersahabat. Begitu turun dari pesawat, saya dan teman-teman yang berangkat bareng dari Jakarta langsung foto-foto dengan noraknya. Betapa tidak, bandara Sultan Hasanuddin ternyata adalah salah satu bandara internasional di Indonesia yang sangat bagus dan besar. Bahkan, menurut saya, bandara ini lebih bagus dan lebih besar dari bandara Soetta. What a wow…sangat rugi kalau tidak diabadikan. 😀

Beruntung kami sudah ada yang menjemput begitu keluar dari bandara. Kami rombongan berenam, masing-masing membawa koper seukuran 15-20kg, dan dijemput dengan mobil berkapasitas 7 orang. Bisa dibayangkan betapa kami harus bersempit-sempit di dalam mobil. Brhubung badan saya paling kecil, alhasil saya harus betah dipangku selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju penginapan. Continue reading Days in the Bugis Land (1st day)