I Deserve an Inner Peace


 

“Forgive others, not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace” – Jonathan Lockwood Huie

Saya mungkin salah satu orang yang begitu excited menyambut 2017. Begitu bersemangat. Begitu optimis. Entah kenapa saya yakin banyak hal baik akan datang di tahun ini. Meski tanpa saya duga, justru di hari pertama tahun 2017 saya mengalami hal yang kurang menyenangkan. Mungkin dibohongi bukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan apa yang saya alami, tapi jika kata “tidak jujur” lekat artinya dengan “bohong”, barangkali memang itu yang sedang terjadi.

Shit happens, but life must goes on. Continue reading I Deserve an Inner Peace

It’s Time to Move On


Fyiuhhh. Akhirnya 2016 terlewati. Lega, bahagia, puas, galau, sedih, menyesal, kecewa, dan perasaan lainnya campur aduk. Mewarnai 366 halaman, 12 bab, 30 halaman di tiap bab beserta 24 baris di setiap halamannya. Resolusi, wishlist, target, goal apapun itu yang sempat tertulis di awal tahun sebagian sudah bertanda hijau, sebagian kuning karena belum tercapai sepenuhnya, dan sebagian lainnya merah. Entah karena tertunda, belum dikerjakan, atau sengaja dihapus dari daftar karena satu dan lain hal. Keinginan untuk kuliah lagi, misalnya.

Pertemuan. Satu kata yang bermakna banyak hal di 2016. Continue reading It’s Time to Move On

Hidup Lebih Sederhana


“We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like.” – Dave Ramsay

Beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya membaca tulisan Arman Dhani berjudul Cukup dan Bahagia. Sederhana konsep yang diusung, tapi cukup membuat saya kepikiran sampai detik ini. Silahkan baca artikelnya dulu di sini.

“Konsumerisme membuat manusia tidak bahagia. Keinginan untuk memiliki membuat manusia terbebani untuk terus membeli hal yang tidak ia butuhkan.” – Arman Dhani

Continue reading Hidup Lebih Sederhana

Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)


“Kapal kita nggak bisa merapat ke dermaga,” teriak kak Uti, salah satu relawan yang bertanggung jawab terhadap transportasi tim KIJP 5 menuju pulau penempatan.

Jam tujuh sudah lewat beberapa menit yang lalu, seharusnya kapal kami sudah bertolak menuju kepulauan Seribu, dari dermaga paling ujung Marina, Ancol. Sebuah kapal wisata berwarna putih merapat di Dermaga, menghalangi kapal kami. Di dalamnya sekelompok ibu-ibu berkacamata hitam tampak sedang bergaya di depan kamera, ada juga yang sebagian asyik mengobrol atau sibuk dengan gawai di tangan. Riuh-rendah suara relawan meramaikan suasana dermaga, seolah tidak terganggu dengan jadwal keberangkatan yang harus mundur dari jadwal semula.

Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal :)
Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal 🙂

Continue reading Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)

My Puzzle of Life


One said that the world is like a giant puzzle that has not been put together yet, and we’re trying to find the other piece of this puzzle that goes with us . For me, life’s merely a series of puzzle games; once you put the wrong pieces, you’ll screw the order and your life become clueless.

Beberapa kali saya pernah merasa hidup saya clueless. Aimless. Sampai-sampai lagu Creep-nya Radiohead jadi lagu favorit saya sepanjang masa. Selain karena musiknya bagus, ada lirik yang beberapa kali tepat menggambarkan hidup saya, at some point. Lirik yang sering saya nyanyikan keras, berulang-ulang…..”What the hell am I doing here? I don’t belong here!” Continue reading My Puzzle of Life

FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!


Saya mengenal istilah ‘unfinished-business’ di salah satu kuliah favorit saya dulu, Psikologi Emosi. Sederhananya, yang disebut ‘unfinished-business’ adalah ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan dan masih terbawa sampai sekarang. Cinta belum kelar, Rasa sayang yang belum terucap, rindu yang tak pernah sampai pada pemiliknya, dendam tak berkesudahan, rasa bersalah pada seseorang, perasaan menyesal untuk sebuah kesalahan di masa lalu, kemarahan yang disimpan, maaf yang belum sempat terucap, dan banyak hal lainnya.

Unfinished business harus diselesaikan,” di balik senyum khasnya, ibu dosen berpesan. Continue reading FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!

Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe


“Problem solving isn’t a talent that some people have and others don’t. It’s a habit. By developing the right skills and adopting the right attitude, anyone can become a problem-solving kid.”

Ken Watanabe menulis buku ini dalam upayanya memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Enam tahun berkecimpung di dunia konsultasi manajemen di McKinsey rupanya tidak mengalihkan ketertarikannya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Pada tahun 2007, ketika Perdana Menteri Jepang kala itu memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatian negara, Ken Watanabe memutuskan untuk menulis buku ini. Alasannya sederhana, ia melihat sistem pendidikan di Jepang selama ini lebih fokus pada hafalan dibanding bagaimana mengajarkan anak menyelesaikan masalah (problem-solving-focused education). Maka ia tinggalkan McKinsey, menulis buku lalu mengajarkannya pada anak-anak. Continue reading Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe

My big life in a lil' world…world of words!