Hidup Lebih Sederhana


“We buy things we don’t need with money we don’t have to impress people we don’t like.” – Dave Ramsay

Beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya membaca tulisan Arman Dhani berjudul Cukup dan Bahagia. Sederhana konsep yang diusung, tapi cukup membuat saya kepikiran sampai detik ini. Silahkan baca artikelnya dulu di sini.

“Konsumerisme membuat manusia tidak bahagia. Keinginan untuk memiliki membuat manusia terbebani untuk terus membeli hal yang tidak ia butuhkan.” – Arman Dhani

Continue reading Hidup Lebih Sederhana

Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)


“Kapal kita nggak bisa merapat ke dermaga,” teriak kak Uti, salah satu relawan yang bertanggung jawab terhadap transportasi tim KIJP 5 menuju pulau penempatan.

Jam tujuh sudah lewat beberapa menit yang lalu, seharusnya kapal kami sudah bertolak menuju kepulauan Seribu, dari dermaga paling ujung Marina, Ancol. Sebuah kapal wisata berwarna putih merapat di Dermaga, menghalangi kapal kami. Di dalamnya sekelompok ibu-ibu berkacamata hitam tampak sedang bergaya di depan kamera, ada juga yang sebagian asyik mengobrol atau sibuk dengan gawai di tangan. Riuh-rendah suara relawan meramaikan suasana dermaga, seolah tidak terganggu dengan jadwal keberangkatan yang harus mundur dari jadwal semula.

Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal :)
Sempatkan foto bersama dulu sebelum naik ke kapal🙂

Continue reading Ter-Panggang Kenangan KIJP Batch 5 (Part 1)

My Puzzle of Life


One said that the world is like a giant puzzle that has not been put together yet, and we’re trying to find the other piece of this puzzle that goes with us . For me, life’s merely a series of puzzle games; once you put the wrong pieces, you’ll screw the order and your life become clueless.

Beberapa kali saya pernah merasa hidup saya clueless. Aimless. Sampai-sampai lagu Creep-nya Radiohead jadi lagu favorit saya sepanjang masa. Selain karena musiknya bagus, ada lirik yang beberapa kali tepat menggambarkan hidup saya, at some point. Lirik yang sering saya nyanyikan keras, berulang-ulang…..”What the hell am I doing here? I don’t belong here!” Continue reading My Puzzle of Life

FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!


Saya mengenal istilah ‘unfinished-business’ di salah satu kuliah favorit saya dulu, Psikologi Emosi. Sederhananya, yang disebut ‘unfinished-business’ adalah ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan dan masih terbawa sampai sekarang. Cinta belum kelar, Rasa sayang yang belum terucap, rindu yang tak pernah sampai pada pemiliknya, dendam tak berkesudahan, rasa bersalah pada seseorang, perasaan menyesal untuk sebuah kesalahan di masa lalu, kemarahan yang disimpan, maaf yang belum sempat terucap, dan banyak hal lainnya.

Unfinished business harus diselesaikan,” di balik senyum khasnya, ibu dosen berpesan. Continue reading FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!

Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe


“Problem solving isn’t a talent that some people have and others don’t. It’s a habit. By developing the right skills and adopting the right attitude, anyone can become a problem-solving kid.”

Ken Watanabe menulis buku ini dalam upayanya memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Enam tahun berkecimpung di dunia konsultasi manajemen di McKinsey rupanya tidak mengalihkan ketertarikannya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Pada tahun 2007, ketika Perdana Menteri Jepang kala itu memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatian negara, Ken Watanabe memutuskan untuk menulis buku ini. Alasannya sederhana, ia melihat sistem pendidikan di Jepang selama ini lebih fokus pada hafalan dibanding bagaimana mengajarkan anak menyelesaikan masalah (problem-solving-focused education). Maka ia tinggalkan McKinsey, menulis buku lalu mengajarkannya pada anak-anak. Continue reading Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe

Don’t Be Greedy!


“Kebutuhan manusia itu tidak terbatas.”
Begitu kata guru pelajaran ekonomi saya saat SMP dulu. Benarkah?
Beberapa waktu lalu, beberapa hari menjelang libur lebaran, saya dan dua rekan kantor berbincang tentang masa kecil kami masing-masing di kampung, dulu. Entah bagaimana awalnya, kami tiba-tiba saling mengenang betapa dulu kami bahagia dengan apapun yang kami punya saat itu. Meski belum punya televisi, kami sudah cukup berbahagia bisa nonton film kartun di rumah tetangga. Meski tak punya mobil, kami cukup senang naik angkot berdesak-desakan saat pulang sekolah. Tanpa telepon pintar, kami sudah bisa ngobrol dengan teman di kejauhan lewat telepon kaleng. Dan kami bisa tumbuh besar dan jarang sakit meski Cuma makan nasi dengan garam atau gula jawa, sayur daun singkong, atau tempe dan tahu goreng dengan berbagai variasi. Tempe goreng bawang putih atau tempe garet, tempe mendoan, tahu isi (atau kalau di kampung saya namanya tahu ), tahu bacem, dan sebagainya.
Continue reading Don’t Be Greedy!

Ohana means family…..


“Ohana means family. Family means no one gets left behind….or forgotten!”

Quote di atas adalah penggalan salah satu dialog dalam film Lilo & Stitch, yang sekaligus merupakan salah satu bagian dari budaya Hawaii. Keluarga itu satu kesatuan, maka kalau ingin maju ya harusnya jalan sama-sama. Kalau salah satu jalannya sedang pincang, anggota keluarga yang lain seharusnya bantu menopang, bukan justru meninggalkan.

Saya beruntung (sekali) terlahir dalam keluarga yang rukun, saling membantu dan mendukung dalam segala hal. Untuk apapun yang terjadi, kami berusaha terus berada dalam satu rombongan perjalanan. Meski ada yang posisinya di depan, ada pula yang berada di ujung belakang barisan. Semua ada dengan perannya masing-masing. Continue reading Ohana means family…..

My big life in a lil' world…world of words!