Category Archives: Reviews

Halaman ini berisi ulasan saya tentang beberapa hal, seperti buku, film, musik, dan sebagainya.

Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe


“Problem solving isn’t a talent that some people have and others don’t. It’s a habit. By developing the right skills and adopting the right attitude, anyone can become a problem-solving kid.”

Ken Watanabe menulis buku ini dalam upayanya memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Enam tahun berkecimpung di dunia konsultasi manajemen di McKinsey rupanya tidak mengalihkan ketertarikannya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Pada tahun 2007, ketika Perdana Menteri Jepang kala itu memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatian negara, Ken Watanabe memutuskan untuk menulis buku ini. Alasannya sederhana, ia melihat sistem pendidikan di Jepang selama ini lebih fokus pada hafalan dibanding bagaimana mengajarkan anak menyelesaikan masalah (problem-solving-focused education). Maka ia tinggalkan McKinsey, menulis buku lalu mengajarkannya pada anak-anak. Continue reading Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe

Advertisements

[Review Film]: The Imitation Game


Sebelum menonton The Imitation Game, saya tidak mengenal sama sekali istilah Enigma. Saya memang bukan penggemar sejarah, apalagi sejarah perang. Bahkan meski istilah ini sangat dekat dengan mata pelajaran favorit saya saat sekolah dulu. Iya, Matematika.

Film yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch ini memang bercerita tentang Enigma. Kode Enigma adalah perangkat yang dikembangkan oleh intelijen militer Jerman, di mana informasi bisa dienkripsi. Menurut catatan sejarah, Enigma digunakan oleh tentara dan pemerintah Jerman, sebelum dan selama Perang Dunia II. Waktu itu, mesin Enigma dipercaya sebagai mesin kriptografi paling aman di dunia, dan tidak bisa dipecahkan. Terutama oleh pasukan Sekutu. Continue reading [Review Film]: The Imitation Game

[Review Buku]: Gelombang


Dee membuka Gelombang dengan kisah Gio yang sedang mencari Diva di belantara hutan terpencil di jantung Amazon. Bagi yang sudah membaca seri pertama Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua nama ini tentu sudah tak asing lagi. Membaca halaman pertama Gelombang langsung membawa saya pada kepingan pertama serial Supernova. Meski sudah sepuluh tahun lalu – kalau  tak salah ingat – saya pertama kali membaca KPBJ, tapi rupanya dua nama ini masih melekat. Namanya saja, isi ceritanya sebagian (besar) sudah lupa. Kode mulai ditebar Dee saat seorang pria misterius tiba-tiba muncul di kediaman Gio di Cusco, tepat saat Gio memutuskan berhenti mencari Diva. Pria itu datang, mengingatkan Gio soal empat buah batu terbungkus kain belacu kumal yang pernah diberikannya pada Gio sebelumnya. Amaru, nama pria itu, menjelaskan bahwa empat batu tersebut masing-masing adalah representasi dari orang-orang penting yang harus ditemukan Gio. Masih ada dua batu lagi yang keberadaannya entah di mana. Empat dari enam orang yang dimaksud Amaru, harus ditemukan oleh Gio. Enam batu, enam seri Supernova dengan masing-masing tokohnya. Barangkali seperti itu, benang merahnya. Tapi siapa? Diva, Elektra, Bodhi, Zarah? Continue reading [Review Buku]: Gelombang

[Review Buku]: Berbagi dengan Hati


Tampilan buku Berbagi dengan Hati.
Tampilan buku Berbagi dengan Hati.

“Pilihan menjadi orang berguna memang lebih baik dari orang sukses. Orang sukses hanya membanggakan dirinya sendiri dan hanya dilihat oleh orang di atas dia, serta dipuja oleh orang di bawahnya. Namun, orang berguna selain membanggakan untuk dirinya sendiri, tapi juga dihargai oleh orang di atas dan di bawahnya…dan itu lebih bermakna dari sekedar pujian.”

Itu adalah pesan orang tua Tiara, salah satu relawan Komunitas Jendela. Tiara menuliskan alasannya memilih menjadi relawan sosial, dalam salah satu artikel yang ada dalam buku “Berbagi dengan Hati.” Buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh Komunitas Jendela, lewat nulisbuku.com. Continue reading [Review Buku]: Berbagi dengan Hati

Begin Again with the Chef


“You could tell a lot about a person by their music playlist” – Begin Again

Saya setuju banget dengan quote di atas. Musik adalah cerminan kepribadian seseorang. Makanya, kebanyakan sahabat dekat saya memiliki selera musik yang mirip dengan saya. Pun, katanya, musik yang sering kita dengar dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian kita. Waktu SMA dulu saya begitu menyukai musik yang dibawakan Linkin Park, dan sempat hapal lagu-lagunya. Sejak kuliah, entah kenapa saya lebih senang dengan musik akustik, dibanding musik-musik ‘keras’ seperti yang saya sukai saat SMA. Sekarang, saya bahkan menikmati musik jazz. Entah perubahan selera musik membuat diri saya menjadi pribadi yang lebih tenang dan sabar dibanding masa SMA dulu, atau justru perkembangan kepribadian membuat selera musik saya berubah? Well, sepertinya saya harus baca literatur-literatur tentang psikologi musik untuk tahu tentang hal ini. Continue reading Begin Again with the Chef

Manuskrip yang Ditemukan di Accra


Paulo Coelho mengawali tulisan di buku ini dengan menceritakan sejarah penemuan lembaran-lembaran papirus di daerah Mesir, yang beberapa di antaranya dikenal juga sebagai Kitab-Kitab Apokrif. Pada tahun 1974, seorang arkeolog Inggris bernama Sir Walter Wilkinson menemukan manuskrip lain yang ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Ibrani, dan Latin. Manuskrip itu ditemukan di kota Accra, di luar wilayah Mesir. Buku ini ditulis Paulo Coelho berdasarkan salinan teks manuskrip tersebut, yang ia peroleh dari anak sang arkeolog. Continue reading Manuskrip yang Ditemukan di Accra

The Dressmaker of Khair Khana…. Kekuatan Perempuan itu Nyata Adanya!


20140810-155618.jpg

The Dressmaker of Khair Khana gives voice to many of our world’s unsung heroines. Against all odds, these young women created hope and community, and they never gave up. This book is guaranteed to move you — and to show you a side of Afghanistan few ever see.” ~ Angelina Jolie

Dalam kata pengantarnya, Gayle Tzemach Lemmon — sang penulis — mengawali kisah dalam buku ini dengan detail awal perjalanannya ke Afghanistan. Waktu itu musim dingin tahun 2005. Meski ancaman Taliban bisa dibilang telah usai, namun teror bom bunuh diri dan serangan roket masih menghantui rakyat Afghanistan. Hal ini Membawa Gayle dalam kesulitan yang serius saat harus mewawancarai para tokoh yang akan menjadi isi cerita dalam buku ini. Buku ini memang bukan tujuan utama Gayle terbang ke Afghanistan. Ia datang untuk sebuah riset tentang tokoh perempuan pebisnis yang berpengaruh di tengah kekacauan perang negeri Timur Tengah itu. Dalam usahanya yang penuh resiko itulah, akhirnya ia menemukan sosok Kamila. Continue reading The Dressmaker of Khair Khana…. Kekuatan Perempuan itu Nyata Adanya!