FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!


Saya mengenal istilah ‘unfinished-business’ di salah satu kuliah favorit saya dulu, Psikologi Emosi. Sederhananya, yang disebut ‘unfinished-business’ adalah ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan dan masih terbawa sampai sekarang. Cinta belum kelar, Rasa sayang yang belum terucap, rindu yang tak pernah sampai pada pemiliknya, dendam tak berkesudahan, rasa bersalah pada seseorang, perasaan menyesal untuk sebuah kesalahan di masa lalu, kemarahan yang disimpan, maaf yang belum sempat terucap, dan banyak hal lainnya.

Unfinished business harus diselesaikan,” di balik senyum khasnya, ibu dosen berpesan. Continue reading FINISH YOUR “UNFINISHED BUSINESS’!

Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe


“Problem solving isn’t a talent that some people have and others don’t. It’s a habit. By developing the right skills and adopting the right attitude, anyone can become a problem-solving kid.”

Ken Watanabe menulis buku ini dalam upayanya memperbaiki sistem pendidikan di Jepang. Enam tahun berkecimpung di dunia konsultasi manajemen di McKinsey rupanya tidak mengalihkan ketertarikannya pada dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Pada tahun 2007, ketika Perdana Menteri Jepang kala itu memilih pendidikan sebagai salah satu fokus perhatian negara, Ken Watanabe memutuskan untuk menulis buku ini. Alasannya sederhana, ia melihat sistem pendidikan di Jepang selama ini lebih fokus pada hafalan dibanding bagaimana mengajarkan anak menyelesaikan masalah (problem-solving-focused education). Maka ia tinggalkan McKinsey, menulis buku lalu mengajarkannya pada anak-anak. Continue reading Problem Solving 101: A Useful Life Guide from Ken Watanabe

Don’t Be Greedy!


“Kebutuhan manusia itu tidak terbatas.”
Begitu kata guru pelajaran ekonomi saya saat SMP dulu. Benarkah?
Beberapa waktu lalu, beberapa hari menjelang libur lebaran, saya dan dua rekan kantor berbincang tentang masa kecil kami masing-masing di kampung, dulu. Entah bagaimana awalnya, kami tiba-tiba saling mengenang betapa dulu kami bahagia dengan apapun yang kami punya saat itu. Meski belum punya televisi, kami sudah cukup berbahagia bisa nonton film kartun di rumah tetangga. Meski tak punya mobil, kami cukup senang naik angkot berdesak-desakan saat pulang sekolah. Tanpa telepon pintar, kami sudah bisa ngobrol dengan teman di kejauhan lewat telepon kaleng. Dan kami bisa tumbuh besar dan jarang sakit meski Cuma makan nasi dengan garam atau gula jawa, sayur daun singkong, atau tempe dan tahu goreng dengan berbagai variasi. Tempe goreng bawang putih atau tempe garet, tempe mendoan, tahu isi (atau kalau di kampung saya namanya tahu ), tahu bacem, dan sebagainya.
Continue reading Don’t Be Greedy!

Ohana means family…..


“Ohana means family. Family means no one gets left behind….or forgotten!”

Quote di atas adalah penggalan salah satu dialog dalam film Lilo & Stitch, yang sekaligus merupakan salah satu bagian dari budaya Hawaii. Keluarga itu satu kesatuan, maka kalau ingin maju ya harusnya jalan sama-sama. Kalau salah satu jalannya sedang pincang, anggota keluarga yang lain seharusnya bantu menopang, bukan justru meninggalkan.

Saya beruntung (sekali) terlahir dalam keluarga yang rukun, saling membantu dan mendukung dalam segala hal. Untuk apapun yang terjadi, kami berusaha terus berada dalam satu rombongan perjalanan. Meski ada yang posisinya di depan, ada pula yang berada di ujung belakang barisan. Semua ada dengan perannya masing-masing. Continue reading Ohana means family…..

Tentang Pagi


Bicara tentang pagi, adalah bicara tentang keindahan. Tentang langit kuning keemasan yang sedang menyambut terbitnya matahari, tentang tetes-tetes embun yang masih menempel di dedaunan dan kelopak bunga, tentang kabut yang sesekali masih menyelimuti desa, atau suara kokok ayam dan cicit burung di sela-sela keheningan. Di kampungku, dulu, pagi adalah suara sapu beradu dengan rerumputan kering di halaman, juga derit timba air di sumur atau gemerisik beras di atas tampah. Sesekali, hidung bisa menyidu wangi aroma tempe atau pisang berbalut tepung di wajan penggorengan, atau sekedar wangi kopi yang baru diseduh di dalam gelas belimbing.

Meski semua yang kusebut di atas tak mewarnai pagiku di Jakarta, tapi tetap saja, pagi adalah soal keindahan. Pagi adalah tentang lahir kembali, tentang bagaimana kita mengawali hari. Bahwa katanya tersenyum di pagi hari mampu membangun mood seharian adalah benar adanya. Bahwa pagi adalah syahdu, maka ia seringkali lekat dengan rasa rindu.

Continue reading Tentang Pagi

Menikmati Senja di Timur Indonesia


 

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, saat roda ban mobil yang kami tumpangi bergulir cepat menyusuri sepinya jalanan di Kalabahi, Alor, NTT. Di salah satu ujung jalan, mobil mendadak berhenti. Rupanya, ada seekor anak ayam sedang melintas pelan di depan mobil kami.

“Nabrak anak ayam bisa kena denda dua ratus ribu nih,” kelakar Bara di balik kemudi.

Continue reading Menikmati Senja di Timur Indonesia

Mencuri Ilmu Menulis dari Seorang Dee


IMG_9240Seorang perempuan cantik berambut panjang, memakai rok biru dengan tank top putih berbalut cardigan, duduk menunggu di sudut ruangan. Sesekali ia tersenyum, ketika namanya disebut-sebut pembawa acara, ataupun perwakilan dari Perpustakaan Bank Indonesia yang sedang memberi sambutan. Ialah Dewi Lestari, atau sekarang lebih dikenal sebagai Dee, yang akan menjadi pemateri utama acara Dee’s Coaching Clinic Jakarta, hari ini, 5 April 2015. Sebagai seorang (mantan) penyanyi terkenal dan penulis novel best seller, penampilan Dee hari ini buat saya sangat sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Kontras dengan nama dan karya-karyanya yang dipuja dengan beragam cara.

Continue reading Mencuri Ilmu Menulis dari Seorang Dee

My big life in a lil' world…world of words!