Category Archives: Fiksi

Bukan novelis, bukan sastrawan, bukan pula pujangga. Hanya sedang belajar bercerita….

Keyla (Tetesan 3)


Angin sore berhembus pelan, berbisik-bisik pada setangkai anggrek ungu yang tergantung anggun di salah satu sudut balkon Teras cafe. Anggrek cantik itu tampak sesekali mengangguk-angguk, seolah memahami bahasa angin. Keyla menikmati sapaan angin di sela-sela rambutnya, sambil mendengarkan obrolan angin dan bunga anggrek yang tertangkap sudut matanya. Entah apa yang sedang mereka perbincangkan, tapi apapun itu sepertinya sesuatu yang menarik.
“Apa kabar London, Key? Masih banyakkah stok pria ganteng di sana?” Suara seorang perempuan mengalihkan perhatian Keyla. Sejenak ia tergelak, ditatapnya perempuan yang duduk persis di depannya.
“Pria ganteng banyak, Mbak Liz… yang mau sama aku sayangnya nggak ada.” Keyla mengedipkan sebelah matanya, lalu menyeruput espressonya pelan.
“Yang mau sama kamu banyak, Key. Tapi yang kamu mau nggak ada.. itu kalimat yang lebih pas!”
“Hehehe….” Keyla tersenyum jengah.
Perempuan yang dipanggil Liz itu menghela napas, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Selesai hisapan pertamanya, ia menatap Keyla sambil berkata, “Look at me, Keyla… no one is perfect, including you. Finding a perfect person in this kind of unperfect world is nonsense!” Continue reading Keyla (Tetesan 3)

Sedetik untuk Selamanya


Taman Air Awet Muda Narmada ~ Lombok Barat
Taman Air Awet Muda Narmada ~ Lombok Barat

Aku menatap permukaan air yang sedikit bergelombang di depanku. Kuambil segenggam air dengan kedua tanganku, lalu cepat-cepat kubasuhkan ke wajahku. Air di kolam Narmada ini terasa dingin, membuat sel-sel di kulit mukaku serasa dibangunkan dari tidurnya yang panjang. Aku menutup kelopak mataku sejenak, menikmati sensasi dinginnya air kolam Narmada di kulit wajahku.

“Hahaha…tak kusangka kamu percaya kalo air kolam Narmada bisa bikin awet muda.”

Tak kupedulikan suara tawa bernada sember di belakangku. Kuambil lagi segenggam air dengan kedua tanganku, dan lagi-lagi kubasuhkan air dingin itu ke wajahku. Terlepas dari apakah mitos itu benar atau tidak, aku sangat menikmati sensasi air dingin kolam itu ketika menyentuh kulit wajahku. Toh, hanya di sini aku bisa menemukan air sesegar dan semurni ini. Di Jakarta mana ada?

Klik! Continue reading Sedetik untuk Selamanya

Mungkin (Takkan) Ada Lagi


Aku menutup jendela rapat-rapat. Ini adalah hari kedua, sekaligus hari terakhirku, di Raja Ampat. Sudah kuhabiskan semua sisa uangku untuk perjalanan ini. Sudah kuhabiskan pula sisa waktuku jalan-jalan keliling pulau, permintaannya dulu yang belum sempat kupenuhi.

Malam ini semua akan berakhir. Kuakhiri lebih tepatnya! Mungkin takkan ada lagi canda tawa di antara kami, sedu sedan (yang akhir-akhir ini lebih banyak datang dari aku), diskusi panjang lebar di kala malam, atau sekedar sarapan pagi bersama. Atau bahkan rengekan kecilnya minta dibelikan ini-itu, atau sekedar keinginan untuk jalan-jalan di taman dekat rumah.

Semua akan berakhir malam ini. Meski buatku, semua sudah berakhir sejak lima tahun lalu. Sejak terakhir ia berhenti memanggilku dengan sebutan ‘sweety’, sejak terakhir ia berhenti mengajakku keliling pulau-pulau di ujung negeri, dan sejak terakhir ia menatapku dengan cahaya di matanya setiap aku terbangun di pagi hari.

Aku tidak menyerah, aku hanya lelah. Lelah menunggu keajaiban bahwa ia akan kembali. Lelah untuk setiap doa yang kuucap di malam hari, dan kubisikkan ke telinganya setiap pagi. Aku lelah untuk terus berusaha keluar dari mimpi buruk ini, dan semakin lelah ketika akhirnya kudapati, ini bukan mimpi! Continue reading Mungkin (Takkan) Ada Lagi

Langit pun Tersenyum


Aku menatap langit Wakatobi malam ini. Bintang bertaburan di atas sana, bak cendawan di musim hujan. Sekitar sepuluh meter dari tempatku duduk, ada segerombolan remaja tanggung sedang melingkari api unggun. Salah satu dari remaja itu memainkan gitarnya sambil bernyanyi keras-keras.

“Let me go homeeee….I’m just too far, from where you are, I wanna come home…”

Oh sh*t! Alam begitu kompak mengejekku malam ini. Ingin rasanya kusumpal mulut remaja itu dengan pasir di genggaman tanganku . Tapi demi mengingat pelajaran moral jaman SD dulu, kuurungkan niatku. Kulempar segenggam pasir di tanganku ke bibir pantai, sambil berteriak kesal. Continue reading Langit pun Tersenyum

Aku Tak Mengerti


“Aku tak mengerti.”

Gumamku pelan sambil mengamati sebuah foto yang tertempel di dinding, menggambarkan suasana Makasar tempo dulu. Aku mengamati sekeliling, dan aku semakin tidak mengerti dengan semua ini.

“Aku sudah menghabiskan waktuku sia-sia selama dua tahun di kampus…and all I’ve got is just this shit. Oh man….” Aku menggelengkan kepalaku, entah untuk yang keberapa ratus kali selama seminggu belakangan ini. Semakin hari, aku semakin merasa hidupku sia-sia.

Kalau semua mengikuti rencana yang kususun, hari ini aku tidak sedang berada di museum sialan ini. Aku mungkin sedang berada di salah satu perpus keren di Amrik sana, mengerjakan tugas kampus, atau berdiskusi tentang kasus-kasus hukum yang terjadi di sana, di seluruh dunia. Atau mungkin aku sedang presentasi di depan murid-murid kampusku yang berasal dari berbagai Negara. Atau….dimanapun, selain tempat terkutuk ini. Dimanapun, selain Makasar. Oh man….aku bosan 20 tahun hidup dan tinggal di kota yang sama. Seandainya aku tidak harus menuruti keinginan orang tuaku. Continue reading Aku Tak Mengerti

Memori Tentangmu


Angin berhembus pelan, sepelan langkahku menapaki setiap tangga menuju Pura Besakih. Kunikmati langkah demi langkah ini, seperti aku menikmati detik demi detik momen bersamamu. Dan setiap langkah kaki serasa menguar satu memori tentangmu. Pun di setiap helaan napasku, ada ribuan detik memori tentangmu yang terhirup. Terhirup sangat dalam, menembus pori-pori, lantas paru-paru, menyedot habis udara di rongga dadaku. Ini mungkin penjelasan paling ilmiah kenapa setiap mengingat kamu, dadaku langsung sesak.

Aku menghela napas dalam-dalam, berat! Berharap ada sedikit ruang yang tersisa untukku. Tapi tidak, tidak sama sekali. Tidak ada sedikitpun ruang yang tersisa untukku. Semua telah terisi memori tentangmu, tentang wajah teduhmu, tentang mata indahmu, tentang rambut ikalmu yang sering kumainkan dengan jemariku, tentang senyum yang selalu terukir di bibirmu, tentang kecupanmu yang setiap pagi menyapa pagiku. Ahh, hidupku sudah terlanjur penuh olehmu.

Penuh, hingga benar-benar sesak. Bahkan setiap senti, setiap mili, bagian tubuhku ada memori tentangmu. Kamu memenuhi isi kepalaku, hanya tersisa sedikit ruang yang masih memungkinkanku untuk menulis dan memasak masakan kesukaanmu setiap hari. Kamu bahkan ada di setiap helai rambutku, membuatku menikmati setiap momen menyisirnya dengan jari jemariku. Kamu ada di semua ruang hatiku, benar-benar tak tersisa satu sudut pun. Kamu ada di setiap titik kulit tubuhku, membuatku terkadang enggan menyiramnya dengan air sabun, takut memori itu perlahan luntur. Continue reading Memori Tentangmu

Sasirangan


Aku terayun-ayun di atas sebuah klotok di antara para pedagang di Pasar Terapung, Banjarmasin. Air sungai Barito yang kecoklatan tak henti bergerak. Riak kecilnya menghadirkan sensasi tersendiri bagi perutku yang tak biasa dibuai gelombang. Susah payah aku bertahan, menahan laju isi perut yang rasa-rasanya hendak keluar.

“Galuh…”

Seorang perempuan berbaju merah melambaikan tangan ke arahku. Caping besar di atas kepalanya hampir membuatku tak mengenali perempuan itu.

“Bu Ami!”

Aku melambaikan tanganku dengan semangat. Perempuan inilah yang membuatku rela terombang-ambing di atas klotok sepagi ini. Setidaknya perempuan ini akan memberiku sedikit petunjuk atas sebuah pertanyaan yang tersimpan di benakku. Pertanyaan yang membawaku terbang dari Jakarta sedari subuh tadi. Continue reading Sasirangan