Don’t Be Greedy!


“Kebutuhan manusia itu tidak terbatas.”
Begitu kata guru pelajaran ekonomi saya saat SMP dulu. Benarkah?
Beberapa waktu lalu, beberapa hari menjelang libur lebaran, saya dan dua rekan kantor berbincang tentang masa kecil kami masing-masing di kampung, dulu. Entah bagaimana awalnya, kami tiba-tiba saling mengenang betapa dulu kami bahagia dengan apapun yang kami punya saat itu. Meski belum punya televisi, kami sudah cukup berbahagia bisa nonton film kartun di rumah tetangga. Meski tak punya mobil, kami cukup senang naik angkot berdesak-desakan saat pulang sekolah. Tanpa telepon pintar, kami sudah bisa ngobrol dengan teman di kejauhan lewat telepon kaleng. Dan kami bisa tumbuh besar dan jarang sakit meski Cuma makan nasi dengan garam atau gula jawa, sayur daun singkong, atau tempe dan tahu goreng dengan berbagai variasi. Tempe goreng bawang putih atau tempe garet, tempe mendoan, tahu isi (atau kalau di kampung saya namanya tahu ), tahu bacem, dan sebagainya.

Baju baru bagi kami hanya ada dua macam, baju seragam saat kenaikan kelas atau baju lebaran. Yang kedua pun tidak setiap lebaran terbeli, dan yang pertama seringkali tergantikan dengan baju bekas kakak. Warung makan yang kami kenal hanya warung yang ada di kantin. Kami tidak perlu malu karena belum pernah makan jagonya ayam, atau rajanya burger, dan berbagai makanan mainstream lainnya. Buat kami, dulu, makanan adalah penghilang rasa lapar, bukan penghilang rasa malu, apalagi penambah gengsi.
Konsep bahagia-itu-sederhana lekat dengan masa kecil kami dulu. Tanpa barang-barang mewah, tanpa baju bermerek, tanpa gadget, tanpa harus ke tempat ini atau itu, tanpa harus mencoba makanan ini atau itu. Apa yang kami butuhkan, itu yang disiapkan orang tua kami. Apa yang dibutuhkan, bukan diinginkan. Dan kami bahagia dengan apapun yang kami punya saat itu. Meski hanya serentengan karet gelang untuk lompat tali, atau pecahan genteng untuk main congklak.
“Kamu udah coba makan di sini belum? Lagi hits banget nih di Jakarta”
“Kamu udah main ke tempat itu belum? Aku udah dongggg….”
“Hapemu mereknya apa?”
“Kok belum beli rumah sih? Beli rumah lah, investasi itu wajib….”
“Masak pekerja P**tamina naik kereta ekonomi?”
Apa yang salah dengan naik kereta ekonomi? Saya bahagia naik kereta ekonomi saat pulang ke Magelang. Karena yang membuat saya bahagia adalah ‘pulang’, bukan jenis transportasi apa yang saya gunakan. Saya bahagia tinggal di kos-kosan dekat kantor, karena tak perlu repot-repot berangkat dini hari dan pulang malam setiap hari. Saat ini, saya lebih merasa butuh bikin rumah untuk keluarga saya di Magelang, dibanding beli rumah di Jakarta yang harganya semakin tak masuk akal. Dan saya selalu bahagia makan masakan sendiri, yang meski rasanya belum tentu enak, tapi saya bisa pastikan kebersihan dan kesehatannya. Bahagia itu (seharusnya) kita yang ciptakan, dengan apapun yang kita punya saat ini. Bahagia (semestinya) tidak tergantung pada orang lain, apalagi pada hal-hal yang belum kita miliki. Bahagia (semestinya) tanpa syarat, kan?
Tanpa sadar, kita sering mengurangi kadar kebahagiaan seseorang hanya dengan sebuah pertanyaan sederhana. Seseorang yang tadinya sudah bahagia tinggal di kontrakan, menjadi kurang bahagia karena menurut temannya, ia harus beli rumah. Seseorang yang selama ini bahagia naik ojek ke kantor, menjadi sedih karena (lagi-lagi) menurut temannya, seharusnya ia beli mobil. Bukankah bahagia itu harusnya ada di hati kita masing-masing? Kenapa orang lain yang harus menentukan?

“Itulah hebatnya kapitalisme, merubah keinginan menjadi kebutuhan,” kata salah satu teman kantor saya.

image

Ketika dewasa, konsep bahagia-itu-sederhana pada beberapa orang menguap entah ke mana. Beberapa orang nampaknya lebih fokus mengejar kebahagiaan yang dinilai besar. Kebahagiaan yang sifatnya lebih materiil. Bahagia karena punya rumah baru, bahagia karena beli mobil keluaran terbaru, bahagia dengan gadget terkini, bahagia karena sudah piknik ke berbagai tempat, dan sebagainya. Tidak ada yang salah dengan hal ini, tentu saja. Toh uangnya hasil kerja sendiri, tidak merugikan orang lain, dan halal kan? Apalagi kalau belinya tanpa berhutang. Kan?
Tidak. Tidak ada yang salah. Pun saya juga termasuk si pencari kebahagiaan materiil itu. Seperti dalam lirik lagunya Doraemon “Ingin ini, ingin itu, banyak sekali.” Keinginan saya sepertinya tak pernah terbatas. Dan kadang tak bisa dibendung. Hari ini saya pengin beli baju warna pink, minggu depan bisa jadi saya pengin beli sepatu pink agar matching. Kalau keduanya sudah terbeli, rasanya belum pas kalau saya belum punya pasangan jilbab warna pink yang serasi. Begitu seterusnya.

“I am called ‘the poorest president’, but I don’t feel poor. Poor people are those who only work to try to keep an expensive lifestyle, and always want more.” – Jose Mujica (President of Uruguay

Membaca kata-kata Presiden Uruguay di atas, saya merasa tertampar. Keras. Berkali-kali.
Seringkali saya membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena pengin. Saya merasa butuh beli jilbab karena kebetulan habis beli baju, dan belum punya jilbab yang warnanya senada dengan baju tersebut. Kebutuhan, atau keinginan? Beberapa kali saya masuk sebuah toko karena ada tulisan “sale” atau “promo”, lalu ke luar toko dengan tentengan di tangan. Kebutuhan, atau keinginan?
Tidak ada yang salah ketika kita ingin memiliki sesuatu, yang mahal sekalipun. Yang salah adalah menjadi serakah, dengan terus menerus memenuhi semua keinginan kita tanpa kendali. Apalagi jika itu berarti harus mengambil hak orang lain, meski tanpa disadari. Yang harus dihindari adalah menjadikan semua keinginan sebagai kebutuhan, lalu terjebak dalam usaha tanpa henti untuk memenuhi semua keinginan itu, hingga kebahagiaan dan ketenangan hidup justru terlupakan.

“Whether you have a Maruli or a BMW, the road remains the same. Whether you travel economy class or business, your destination doesn’t change. Whether you have a Titan or a Rolex, the time is the same. Whether you have apple samsung or lava, people who call you remains the same. There is nothing wrong in dreaming a luxurious life. What needs to be taken care of is to not let the NEED become GREED. Because needs can always be met, but greed can never be fulfilled.” – Rajinikanth

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s