Tentang Pagi


Bicara tentang pagi, adalah bicara tentang keindahan. Tentang langit kuning keemasan yang sedang menyambut terbitnya matahari, tentang tetes-tetes embun yang masih menempel di dedaunan dan kelopak bunga, tentang kabut yang sesekali masih menyelimuti desa, atau suara kokok ayam dan cicit burung di sela-sela keheningan. Di kampungku, dulu, pagi adalah suara sapu beradu dengan rerumputan kering di halaman, juga derit timba air di sumur atau gemerisik beras di atas tampah. Sesekali, hidung bisa menyidu wangi aroma tempe atau pisang berbalut tepung di wajan penggorengan, atau sekedar wangi kopi yang baru diseduh di dalam gelas belimbing.

Meski semua yang kusebut di atas tak mewarnai pagiku di Jakarta, tapi tetap saja, pagi adalah soal keindahan. Pagi adalah tentang lahir kembali, tentang bagaimana kita mengawali hari. Bahwa katanya tersenyum di pagi hari mampu membangun mood seharian adalah benar adanya. Bahwa pagi adalah syahdu, maka ia seringkali lekat dengan rasa rindu.

Beberapa orang bilang, “life begins at 40“. Buatku, hidup tidak dimulai di usia 40, 30, 20, atau 17 tahun. Hidup dimulai ketika kita bangun pagi, sampai mata kembali terpejam di malam hari. Setiap hari, kita diberi kesempatan untuk berkarya. Setiap hari, semua orang diberi jumlah jam yang sama untuk berbuat atau bahkan menghasilkan sesuatu. Kalau kemudian ada sebagian orang yang seharian tidak melakukan pun menghasilkan apa-apa, coba tengok paginya. Barangkali ia melewatkan pagi, atau melalui pagi tapi tidak menikmatinya dengan pikir dan rasa.

Dalam beberapa hadist, bagi umat Muslim, disebutkan salah satu doa yang diucap Rasulullah SAW, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Betapa istimewanya pagi hari, sampai-sampai Rasulullah menghadiahi umatnya dengan doa. Sayang, beberapa orang (seperti aku) seringkali tak paham. Waktu pagi seringkali lebih banyak dihabiskan di balik selimut daripada untuk berdoa atau berkarya.

Pagi, lagi-lagi adalah tentang keindahan. Seperti indahnya potongan prosa yang ditulis Dee dalam salah satu karyanya.

“Tiada yang lebih indah dari cinta dua orang di pagi hari. Dengan muka berkilap, bau keringat, gigi bermentega, dan mulut asam… mereka masih berani tersenyum dan saling menyapa ‘selamat pagi’. (Selagi Kau Lelap- Dee Lestari)

Selamat pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s