Ohana means family…..


“Ohana means family. Family means no one gets left behind….or forgotten!”

Quote di atas adalah penggalan salah satu dialog dalam film Lilo & Stitch, yang sekaligus merupakan salah satu bagian dari budaya Hawaii. Keluarga itu satu kesatuan, maka kalau ingin maju ya harusnya jalan sama-sama. Kalau salah satu jalannya sedang pincang, anggota keluarga yang lain seharusnya bantu menopang, bukan justru meninggalkan.

Saya beruntung (sekali) terlahir dalam keluarga yang rukun, saling membantu dan mendukung dalam segala hal. Untuk apapun yang terjadi, kami berusaha terus berada dalam satu rombongan perjalanan. Meski ada yang posisinya di depan, ada pula yang berada di ujung belakang barisan. Semua ada dengan perannya masing-masing.

Ibu saya beberapa kali mengatakan bahwa dia sayang dengan semua anaknya, tanpa kecuali, tanpa membeda-bedakan. Bahwa dia lebih sering tertawa atau cemberut dengan salah satu anaknya di antara yang lain, itu tidak mengurangi takaran rasa sayangnya. “Anak iku titipan Gusti Allah,” begitu berkali-kali ia katakan dalam berbagai kesempatan.

Barangkali karena ibu saya mencintai anak-anaknya tanpa syarat , maka ia juga tak pernah menuntut anaknya dengan beragam syarat. Tak pernah ia minta anaknya harus ranking di kelas, harus pintar ini itu, harus kerja di sini atau di situ, harus begini atau begitu. Ibu memang hanya lulusan SD yang tak paham soal smart parenting atau semacamnya. Ia hanya makhluk Tuhan yang percaya bahwa anak adalah titipan-Nya, maka harus dijaga dengan segala yang ia bisa, dan dicintai dengan caranya yang sederhana….tanpa syarat.

Ada sharing menarik dari Dedy Corbuzier di blog pribadinya, silahkan dibaca di sini. Suatu hari saat menjemput anaknya sekolah, Azka – nama anaknya – bercerita bahwa ia baru saja mendapat urutan ke-lima saat lomba renang. Spontan Dedy menjawab, “Woww, I’m so proud of you. You’re amazing.” Seorang ibu yang mendengar respon Dedy heran dan berkomentar, “Mas Ded, yang tanding kan per enam orang. Masak anaknya urutan ke-lima malah bangga. Anak saya aja urutan ke-tiga saya bilang payah… Nanti malas mas Ded…”

Berapa banyak orang tua yang akan merespon seperti Dedy saat mendengar anaknya bukan di urutan pertama sebuah pertandingan? Barangkali tak banyak. Barangkali lebih banyak yang responnya seperti ibu-ibu dalam cerita di atas. Beberapa orang tua seringkali memaksakan anaknya menjadi sempurna, melebihi kemampuan yang sebenarnya ia punya. Harus ranking di kelas, harus jago ini itu, harus juara di berbagai lomba, harus ambil jurusan A, dan sebagainya. Saya khawatir, kalau seperti itu anak akan menganggap orang tua hanya sayang padanya kalau ia hebat. Kalau ia bisa jadi seperti yang orang tua inginkan. Yang saya lebih khawatir, ia juga akan mencintai orang tuanya dengan syarat.

Beberapa kali saya mendengar ada orang tua menyebut anaknya malas, bodoh, dungu, bebal, nggak becus, nakal, dan sebagainya. Hanya karena anaknya tidak bisa menjadi seperti yang diharapkan orang tuanya. Hati-hati, kekecewaan terbesar kadang timbul dari harapan atau ekspektasi. Kalau ekspektasi ketinggian, siap-siap aja saat jatuh sakitnya nggak ketulungan.

Barangkali karena ibu saya tak pernah punya harapan muluk-muluk, jadinya ia tak menuntut macam-macam pada anaknya. Pernah suatu hari saat kelas dua SMP, saya pulang dengan muka cemberut. Sampai rumah tas saya lempar dengan penuh amarah. Di dalam tas itu, ada rapor saya dengan tulisan angka 3 di kolom ‘ranking’, beda dua angka dari yang biasa tertulis di sana. Apa reaksi keluarga saya? Bukannya marah, mereka justru menertawakan saya.

“Yauwes, cawu ngarep ranking siji meneh,” begitu kata ibu saya menenangkan. Sesederhana itu responnya, untuk anaknya yang lagi males dan prestasinya turun. Yaudah, caturwulan depan ranking satu lagi. Udah, gitu aja. Tanpa amarah, tanpa nasehat berbunga-bunga. Keluarga saya tidak pernah memaksa saya belajar, bahkan saat menjelang ujian. Seringkali yang ada, saya disuruh istirahat karena kelamaan belajar. “Urip kok mung nggo sinau terus,” begitu kata mereka. Hehehe….

Saya setuju dengan pernyataan Dedy Corbuzier di tulisan blognya:

Tapi apabila para orang tua memaksakan anak sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan maka hanya akan terjadi 2 hal:

  1. Si anak Stress dan membenci hal itu

  2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Saya selalu diberi kesempatan untuk memilih jalan hidup saya, and it’s helping. Dengan diberi kebebasan memilih, saya belajar untuk bertanggung jawab terhadap apapun pilihan saya. Bahkan saat hendak memilih jurusan kuliah, keluarga saya hanya berkata, “Kamu yang tahu mana pilihan terbaik untuk dirimu sendiri.” Padahal hanya saya satu-satunya di keluarga yang akan kuliah, dan bisa jadi itu menentukan nasib mereka. Meski saya tahu ibu saya ingin saya jadi guru matematika, kakak tertua saya ingin saya masuk STAN, dan ada yang diam-diam berharap saya jadi dokter. Dan meskipun Psikologi adalah sesuatu yang asing bagi keluarga kami, dan tak pernah terbayang saya nanti akan jadi apa, tapi mereka menyerahkan keputusan itu sepenuhnya pada saya. That’s what makes me run this far, to the point that I (or we) never expected before.

Saya tidak bisa renang, tidak bisa main alat musik apapun, tidak pintar memasak, bahkan tidak bisa mengendarai kendaraan apapun selain sepeda, dan akibatnya sering merepotkan karena selalu minta diantar-jemput. Saya kecil adalah anak yang manja, cengeng, toh keluarga saya sayang begitu rupa. Salah satu kakak saya ada yang tak mau sekolah, dan tak satupun kata ‘bodoh’ pernah keluar dari mulut ibu saya.

Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang sempurna, termasuk keluarga kita. Setiap anak lahir sudah sepaket dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kenali kelebihannya, lalu dukung agar ia sukses di bidang yang ia sukai dan kuasai. Jangan tenggelamkan potensi anak dengan tumpukan jadwal les, target nilai yang kadang nggak realistis, atau bahkan dengan cita-cita orang tua yang belum tercapai. Nilai Matematika saat SD bukan jaminan seseorang akan sukses saat dewasa nanti. Serius! Menang lomba saat sekolah juga tidak akan membuat kehidupannya nanti bahagia.

Anak adalah titipan Tuhan. Seperti cara Tuhan mencintai makhluk-Nya, cinta pada anak juga harusnya tanpa syarat. Daripada saling membenci dan memarahi satu sama lain dalam satu keluarga karena tidak memenuhi harapan pribadi, lebih baik bersama-sama menertawakan hidup dan segala isinya. Seperti keluarga saya, misalnya.

Gimana? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s