Menikmati Senja di Timur Indonesia


 

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, saat roda ban mobil yang kami tumpangi bergulir cepat menyusuri sepinya jalanan di Kalabahi, Alor, NTT. Di salah satu ujung jalan, mobil mendadak berhenti. Rupanya, ada seekor anak ayam sedang melintas pelan di depan mobil kami.

“Nabrak anak ayam bisa kena denda dua ratus ribu nih,” kelakar Bara di balik kemudi.

Kami yang ada di dalam mobil tergelak bersamaan. Sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang masyarakat Alor, mobil kembali melaju kencang menuju Pantai Kokar. “Salah satu tempat terbaik untuk menikmati sunset di Alor”, kata Bara yang sudah 48 bulan berada di Kalabahi. Sore itu, kami memang sedang mengejar matahari. Mengejar dalam arti sebenar-benarnya, karena kami tak ingin ketinggalan momen melihat matahari terbenam di Pantai Kokar.

Beruntung kami diantar orang yang sudah cukup mengenal Alor, sehingga kami dibawa ke tempat di mana matahari tenggelam persis di depan mata. Beruntung lagi, karena air laut sepertinya sedang surut, sehingga banyak penduduk lokal yang turun ke pantai untuk mencari binatang-binatang laut.

“Setiap hari diambilin nggak habis, Mama?” tanya saya pada ibu-ibu yang sedang mencari meting, atau kerang laut untuk dimasak.

“Tidak, malah nambah setiap hari,” salah seorang ibu menjawab pertanyaan saya ramah.

Itulah luar biasanya Tuhan. Diciptakannya alam semesta ini sebegitu lengkap, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita, manusia. Andai tak banyak orang serakah, alam seindah dan sekaya ini pasti akan terjaga sampai anak cucu kita nanti. Sayang, banyak yang tak paham.

Sambil menunggu matahari menuju peraduannya, saya pun bercakap-cakap dengan ibu-ibu tersebut. Menyenangkan sekali bisa berbaur dengan penduduk lokal, meski hanya bercerita tentang hal-hal remeh. Terbit rasa haru ketika mereka meminta saya untuk berhati-hati saat tahu saya menginap di Kepa, mengingat Kepa adalah sebuah pulau kecil di seberang Alor. Padahal saya bukan siapa-siapa mereka, padahal perjumpaan kami hanya dalam hitungan menit saja, bahkan kami tak sempat bertukar nama. “Hati-hati ya, jangan pergi-pergi sendirian saat malam,” kata mereka saat saya pamit,kembali pada teman-teman yang sedang menikmati senja di pinggir pantai.

Seorang mama tertawa ramah saat hendak saya foto
Seorang mama tertawa ramah saat hendak saya foto

Persis saat saya tiba di bibir pantai, kembali berkumpul dengan teman-teman serombongan, matahari hampir tenggelam. Langit yang tadinya agak gelap berubah kemerahan, dan matahari bulat sempurna pelan-pelan tenggelam seperti ditelan lautan. Allahu Akbar.

Detik-detik menjelang tenggelamnya matahari di Pantai Kokar
Detik-detik menjelang tenggelamnya matahari di Pantai Kokar

Selain pantai Kokar, kami juga sempat menikmati sunset di pantai Deere. Sebenarnya pantai ini tidak termasuk dalam salah satu daftar tempat yang akan kami datangi. Tadinya kami berniat ke pantai Batu Putih, yang katanya juga salah satu tempat menikmati sunset di Alor. Namun karena lokasinya cukup jauh, Bang Ori yang mengantarkan kami hari itu berinisiatif membelokkan mobil ke pantai Deere. Bukannya kecewa karena tidak jadi ke Batu Putih, kami justru berteriak kegirangan menemukan pantai berpasir putih yang sepi pengunjung.

“Wooooo….private beachhhhhhhh!!!” teriak kami di bawah rindang pepohonan kelapa, sambil menatap birunya laut dan langit Deere.

image
This is why we called it 'private'

Menjelang senja, air di pantai Deere mulai surut. Penduduk lokal berduyun-duyun turun ke pantai, mengumpulkan bahan makanan. Barangkali di antara sekian banyak orang di pantai Deere sore itu, hanya kami yang terbengong-bengong melihat matahari terbenam. Semua orang tampak sibuk menunduk, memungut sesuatu dari dalam air, atau dari balik pasir pantai. Mereka tak peduli dengan indahnya langit merah sesaat sebelum matahari tenggelam. Barangkali mereka sudah terlalu terbiasa dengan pemandangan yang menurut saya magis ini, yang buat saya berkali-kali seperti kehilangan nafas saking takjubnya, dan bolak-balik bergumam, “Allahu Akbar”.

image
Anak ini mungkin tak mengerti, ada orang2 dari belahan bumi lain begitu mengagumi apa yang sedang ia punggungi

image
Sesaat sebelum matahari tenggelam di pantai Deere

Senja di Alor, Nusa Tenggara Timur, adalah senja terindah yang pernah saya nikmati sejauh ini. Masih banyak senja lain di Indonesia timur yang belum saya nikmati. Karenanya, saya berjanji akan kembali. Semoga tak lama lagi. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Senja di Timur Indonesia”

  1. Saya sangat menyukai tulisan2 Anda begitu detil dan ‘berasa’. Kita seolah bisa ikut menikmati apa yg anda rasakan. Tks sdh berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s