Mencuri Ilmu Menulis dari Seorang Dee


IMG_9240Seorang perempuan cantik berambut panjang, memakai rok biru dengan tank top putih berbalut cardigan, duduk menunggu di sudut ruangan. Sesekali ia tersenyum, ketika namanya disebut-sebut pembawa acara, ataupun perwakilan dari Perpustakaan Bank Indonesia yang sedang memberi sambutan. Ialah Dewi Lestari, atau sekarang lebih dikenal sebagai Dee, yang akan menjadi pemateri utama acara Dee’s Coaching Clinic Jakarta, hari ini, 5 April 2015. Sebagai seorang (mantan) penyanyi terkenal dan penulis novel best seller, penampilan Dee hari ini buat saya sangat sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Kontras dengan nama dan karya-karyanya yang dipuja dengan beragam cara.

Dee mengawali materi coaching clinic dengan membacakan beberapa pertanyaan terkait proses menulis kreatif. Tulisan kreatif yang dimaksud, menurut Dee, di antaranya adalah prosa, puisi, dan fiksi. Ini sekaligus sebagai penunjuk arah, bahwa diskusi kami hari ini akan terkait pada jenis-jenis tulisan tersebut. Setiap materi dibahas berdasarkan pertanyaan yang muncul dari peserta coaching clinic. Sebelum acara, masing-masing kami memang diminta mengirimkan tiga pertanyaan untuk Dee, yang akan menjadi pemantik diskusi. Rupanya, Dee telah mengelompokkan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam beberapa topik diskusi.

Saat pembahasan tokoh, misalnya, Dee mencoba menjawab salah satu pertanyaan peserta yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Bagaimana memunculkan suara khas? Karena dalam tulisan-tulisan Dee, saya merasa tokoh-tokohnya punya suara yang berbeda. Padahal saya hanya membaca.”

Berikut saya rangkum jawaban Dee atas pertanyaan tersebut:

  • Baca ulang draft tulisan dengan disuarakan, agar lebih terasa karakternya

  • Perbaiki terus draft. Jangan pernah berhenti pada draft pertama tulisan.

  • Untuk membedakan tokoh, coba baca masing-masing dialog karakter/tokoh tanpa menyebut namanya. Apakah masing-masing dialog tokoh terdengar mirip, atau sudah khas

  • Tambahkan hal-hal kecil sebagai karakteristik tokoh. Misalnya menambahkan logat tertentu dalam dialognya.

Dalam menciptakan tokoh, ada dua hal utama yang penting agar tokoh kita mudah dicintai pembaca, yaitu: Tokoh punya keistimewaan sehingga pembaca merasa “Aku pengin kayak dia”, tapi tetap manusiawi dan membuat pembaca berkata “Dia kayak saya”. Seorang tokoh fiksi tidak harus sempurna tanpa cela, tapi karena dia manusiawi maka dia juga punya kelemahan dan usahakan punya kualitas simpati (misalnya mau berkorban).

Ketika mendeskripsikan tokoh, jangan berlebihan. Deskripsi, menurut Dee, ibarat bumbu dalam sebuah masakan. Jika ia kurang, masakan akan terasa hambar dan tanpa citarasa. Tapi jika ia berlebih, apa yang tadinya terasa enak bisa berubah menjadi sesuatu yang bikin ‘eneg’. Deksripsi cukup diberikan sampai sugesti, jangan ditunjukkan dengan jelas. Deskripsi juga sebaiknya disampaikan sedikit demi sedikit, atau ‘dicicil’. Biarkan pembaca sendiri yang menebak-nebak karakter tokoh dalam cerita kita seperti apa.

Bagian paling menarik dari seluruh materi Dee adalah ketika sampai pada pertanyaan “Apa ritual yang dilakukan Dee sebelum menulis?” Tidak ada ritual khusus yang dilakukannya. Tapi ada dua hal yang dilakukan Dee, dan buat saya ini penting untuk diikuti, yaitu:

  • Konkretkan yang abstrak

  • Kuantifikasikan yang kualitatif

Meski terdengar absurd, tapi maknanya sangat luar biasa. Seringkali kita merasa punya banyak ide di kepala, namun bingung harus mulai menulis dari mana. Ini karena ide di kepala kita masih abstrak, belum terlihat bentuk dan wujudnya. Seorang Dee selalu membawa notes kecil, yang berguna untuk menuliskan setiap ide yang muncul di kepalanya. Dengan menuliskan ide yang muncul di kepala, kita telah merubah sesuatu yang abtsrak menjadi lebih konkret.

Dari dulu saya selalu berangan-angan ingin menjadi penulis. Tapi saya tidak pernah sekalipun menulis satu tulisan utuh berbentuk buku. Keinginan saya menjadi penulis hanya berhenti di level harapan dan angan-angan. Rupanya kesalahan saya selama ini adalah, saya tidak pernah menuliskan impian saya menjadi penulis, dalam bentuk kuantitatif yang lebih mudah dicapai. Contoh sederhana dari konsep ‘menguantifikasikan yang kualitatif’ seperti pesan Dee di atas adalah sebagai berikut:

Rencana menulis buku:

  • Buku apa?
  • Apa temanya?
  • Premis?
  • Berapa halaman?
  • Kapan rencana terbitnya?
  • Sudah ada judul?
  • Dll

Hanya dengan pertanyaan, ‘Berapa halaman’ dan ‘Kapan rencana terbitnya?’ kita telah merubah sesuatu yang kualitatif (ingin menulis buku) dengan hal yang sifatnya kuantitatif yang bisa diukur dan dihitung pencapaiannya. Inilah yang selama ini lupa tidak pernah saya buat. Inilah yang membuat keinginan saya menerbitkan buku hanya berhenti di angan-angan, tidak pernah terrealisasi. Karena impian saya selama ini masih abstrak, dan tidak terukur.

“Sebrangkan harapan menjadi action.”- Dee

Deadline juga menjadi salah satu faktor penting seorang penulis dalam menyelesaikan tulisannya. Dee berkata, “Umumkan deadline kita ke orang lain agar kita punya “pressure” untuk menyelesaikan tulisan sesuai target.” Dee bahkan membuat perjanjian dengan suami yang sekaligus managernya, terkait deadline penulisan Intelegensi Embun Pagi. Perjanjian tersebut ia tulis di dalam notes kecilnya.

Pssttt... ini Dee sedang kasih bocoran deadline Inteligensi Embun Pagi :D
Pssttt… ini Dee sedang kasih bocoran deadline Inteligensi Embun Pagi 😀

Ide dan Dunia Ide

Bagi seorang Dee, semua hal punya potensi bercerita. Semua hal. Tak terkecuali benda mati.

Ide bukan sesuatu yang seharusnya kita cari. Ide hidup dalam dunia ide, di luar dunia yang kita tinggali. Sama halnya dengan kita, ide hidup dan tak pernah tinggal diam. Ide akan terus mencari inang untuk tumbuh dan berkembang. Maka pesan Dee, “Jadilah seseorang yang dicari oleh ide.”

“Agar dicari ide, jadilah seseorang yang peka, jadilah pendengar, dan jadilah pengamat.” – Dee

Ketika kita sudah peka pada ide, maka kita akan begitu mudah menemukan ide untuk karya kita dari dunia di sekeliling kita. Jangan pernah diamkan ide. Ide harus dipersonifikasikan, agar ia hidup dan punya nyawa, agar ia menjadi partner kita dalam berkarya, dan dengan demikian kitalah yang akan terus dicari sang ide. Agar ide tak mudah hilang, kita harus menuliskan apapun ide yang muncul di kepala kita. “Konkretkan yang abstrak,” demikian Dee terus berpesan.

Ada dua tips penting yang disampaikan Dee untuk menjaga ide, dan agar kita bisa fokus pada ide yang akan kita jadikan karya. Pertama, jadikanlah semua ide sebagai sahabat. Seringkali kita terlalu sombong dengan terlebih dulu memilah mana ide yang baik, dan mana yang buruk. Akibatnya, kita sering menolak ide yang muncul di kepala. Padahal, ide yang buruk hari ini belum tentu bagus esok. Pun sebaliknya. Untuk itu tips Dee yang kedua, buatlah ‘celengan ide’. Celengan ide ini bisa berbentuk notes, agenda, file di komputer, dokumen, sekedar coretan, dan bentuk-bentuk lainnya. Intinya, jangan pernah membuang ide. Karena ide sesederhana apapun, suatu saat bisa menjadi karya yang tak ternilai harganya.

Tentang ini, Dee bercerita. Salah satu puisi yang ada dalam novel Perahu Kertas rupanya pernah ia tulis beberapa tahun sebelumnya. Puisi yang dulunya hanya sekedar coretan dan disimpan tanpa tujuan, ternyata bisa menjadi salah satu bagian penting dalam karyanya.

Tentunya, masih banyak hal lain yang disampaikan Dee dalam coaching clinic. Tidak semua hal akan saya bagi di sini. Selain karena terlalu banyaknya materi yang Dee sampaikan, juga karena acara coaching clinic ini terlalu istimewa buat saya. Rasanya sayang kalau semua harus dibagi di blog….hehehe.

Salah satu penyampaian Dee lain yang penting adalah tentang riset.

“Riset berfungsi untuk memunculkan keyakinan atau conviction, pada apa yang kita tulis.” – Dee

Agar hasil riset menjadi tulisan yang menarik dan bisa dinikmati pembaca, pesan Dee, “Campur hasil riset dengan sedikit fakta, tambahkan sedikit fiksi, dan sisipkan dalam dialog.”

Dari Dee saya belajar satu hal, menulis itu seperti memasak. Racikannya harus pas, tak boleh lebih, tak boleh kurang. Bumbu yang sama, diracik oleh tangan yang berbeda, bisa menghasilkan rasa yang tak sama. Pun begitu juga dengan tulisan. Ide bisa jadi sama, tapi jika ditulis dua orang yang berbeda, hasilnya juga bisa jauh berbeda. Seperti halnya memasak, yang tak hanya butuh menghapal menu dan nama-nama bumbu. Menulis juga tak butuh sekedar tahu cara menulis dan menghapal kosakata. Menulis, pun memasak, harus dilakukan dengan sepenuh jiwa. Kalau ingin hasil terbaik, tentu saja.

Maka menulislah, dan terus menulislah. Jadikan ia bukan sekedar rutinitas belaka, tapi juga bagian dari aktivitas jiwa kita. Mari menulis. 🙂

Saya dan penulis idola. Bahagia! :)
Saya dan penulis idola. Bahagia! 🙂

20150427-223836.jpg

Advertisements

6 thoughts on “Mencuri Ilmu Menulis dari Seorang Dee”

  1. makasih mba:) wah penulis favorite saya juga nih.. kalo boleh berbagi saya masih dibingungkan dengan tanda baca dan dialog mba:,) mungkin bisa membantu?

    1. Kemarin nggak dibahas soal tanda baca, tapi kalo mau diskusi soal itu hayuk aja…siapa tahu aku bisa bantu.

      Tentang dialog hanya disinggung sebentar sama Dee. Karena kurang mendalam jadi aku nggak tulis di sini 😉

      1. iya mba, aku kan masih penulis pemula hehe jdi bingung bgt sama kapan tanda koma/ tanda titik digunakan 😀 karena mungkin waktu pelajaran b.indo tidur kali yaa (?). Dan enaknya kalo buat novel dialog antar tokoh yg baik dan benar gmna ya mba priez^^

        makasih jawabannya. maaf ngerepotin huhu T,T atau minta email-nya dong mba boleh gak *ngarep ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s