Untuk Apa?


Pagi itu, seperti biasa, saya sedang menikmati sarapan sebelum mulai masuk kelas untuk belajar. Salah satu menunya adalah sayur bayam bening, kesukaan saya, waktu itu. Saya begitu menikmati sarapan, sambil mengobrol ringan dengan teman yang duduk satu meja. Setelah beberapa suap, mata saya tertuju pada isi mangkuk sayur di depan saya. Saya berhenti sejenak, termangu. Ragu apakah harus melanjutkan sarapan atau tidak. Di antara helai daun bayam dan kuah bening di dalam mangkuk, ada seekor ulat kecil berwarna hijau mengambang. Tak bernyawa.

Ragu saya melihat sekitar. Kalau saya berhenti makan dan menceritakan alasannya, akan ada orang-orang yang ikut berhenti makan. Bukan hanya hari ini, bisa jadi selamanya. Karena ini adalah tempat makan kami selama beberapa bulan ke depan ke depan. Saya bisa saja berteriak, “Ada ulaattttt”, dan memarahi koki atau pelayannya. Sebagai konsumen, Saya berhak melakukan itu. Tapi saya pikir, “Untuk apa?”

Maka pelan saya ambil mangkuk sayur itu, dan membawanya ke dapur. Sampai di dapur saya panggil salah satu pelayan. “Mas, di sayur saya ada ulatnya. Besok lagi tolong lebih bersih nyuci sayurnya,” kata saya sambil menunjuk jenazah ulat yang masih santai mengambang di kuah sayur bayam. Pelayan tersebut terbungkuk-bungkuk meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Urusan selesai. Tamat.

Ini bukan sekali saya mengalami kejadian tak menyenangkan saat makan. Sendiri ataupun ramai-ramai. Pun pernah terjadi juga di acara makan bersama di kantor. Di tengah nikmatnya menyantap makanan sambil bercengkerama dengan rekan yang lain, tiba-tiba saya melihat sehelai rambut di dasar mangkuk yang sedang saya pegang. Saya terdiam. Hampir saja saya keceplosan bercerita pada teman di depan saya. Untungnya otak saya bertanya lagi, “Untuk apa?”

Masakan itu dibawa salah satu rekan kantor. Kalau saya cerita kejadian ini pada satu saja teman yang lain, saya tidak bisa jamin cerita ini akan berhenti. Bisa jadi ceritanya akan berkembang, tersebar, dan sampai pada orang yang membawa masakan tersebut. Selain jadi gosip, masalah sederhana ini bisa berujung fitnah. Maka saya taruh mangkuk itu diam-diam di antara mangkuk kotor yang lain, lalu lanjut ngobrol dengan teman saya. Urusan selesai. Tamat.

Sayangnya, hidup tidak sesederhana itu lagi semenjak saya hidup di dunia maya. Begitu mudah orang menceritakan buruknya sesuatu atau seseorang di linimasa. Entah itu presiden, pejabat, artis, teman kantor, saudara, tempat makan, atau sekedar merek dagang. Banyak yang mungkin lupa, kata-kata buruk itu begitu mudah tersebar, hanya dengan sekali retweet, repath, reshare, atau sekedar dinikmati para silent reader. Kalau kata-kata yang ditulis fakta dan teruji kebenarannya, barangkali masih bisa saya maklumi. Kalau ternyata salah, bukannya jadi fitnah? Terus, apa untungnya buat kita?

Ada yang saya rindukan dari masa-masa sebelum dunia maya begitu hidup seperti sekarang. Masa-masa ketika hal buruk cukup dibicarakan dengan teman, bukan disebarluaskan begitu mudah di media sosial. Masa ketika diam berarti kata-kata dipendam di pikiran, bukan ditebar di linimasa secara sembarangan. Masa ketika hanya mulut yang bisa bicara, sesuai kodrat ia diciptakan, belum tergantikan dengan jari-jemari yang lebih sering bicara tanpa makna di dunia maya. Tuhan menciptakan satu mulut barangkali agar kata-kata tajam yang keluar tidak sebanyak jika ia diciptakan dua, tiga, lima, atau sepuluh seperti jumlah jari-jemari di tangan manusia kebanyakan. Sayang, kini lebih banyak yang bicara lewat jari-jemari ketimbang mulutnya.

Seperti beberapa akun yang saya ikuti di beberapa media sosial, akhir-akhir ini. Banyak di antaranya berisi berbagai keluhan. Mulai dari pelayanan di rumah makan A yang begitu buruk, merek B yang begini dan begitu, strategi pemasaran anu kok begitu, adminnya akun ini kok jutek, rasa makanan di resto anu hambar, dan banyak hal lainnya. Rasanya begitu mudah kita mengeluarkan uneg-uneg, bahkan sumpah serapah, di dunia maya. Tentu saja, apa atau siapa yang kita lempar dengan cacian dan sumpah serapah tidak akan tiba-tiba menghampiri kita. Mereka jauh di sana, dan kita di sini. Hanya berjumpa di linimasa…….

Seringkali kita lupa, kata-kata sederhana yang keluar dari mulut (atau jemari) kita bisa menimbulkan efek jangka panjang bagi yang mendengar (atau membaca)-nya, baik positif maupun negatif. Sekedar mengeluh kalau makanan di sebuah warung makan rasanya hambar, sepertinya memang tidak terdengar salah, apalagi jahat. Toh sebagai konsumen kita memang berhak melakukan itu. Tapi, untuk apa? Kalau keluhan kita didengar atau dibaca banyak orang, lalu pelanggan warung itu berkurang, bukankah kita berarti telah mendzalimi rejeki orang? Barangkali lebih baik memberi tahu langsung pada pemilik warung, atau kalau memang tak bisa menahan diri untuk bercerita, ceritakan pada yang dekat-dekat saja. Ada banyak sarana resmi untuk menyampaikan keluhan, kalau memang dirasa sangat merugikan. Melalui surat pembaca di media massa, kotak saran, call center, sampaikan langsung pada sumber keluhan, atau untuk merek-merek dagang yang sudah terkenal biasanya punya akun media sosial resminya. Sampaikan dengan baik, bukan dimuntahkan. Seringkali orang lupa, bicara dan muntah itu dua hal yang berbeda. Yang pertama bisa mampir ke otak dulu untuk dipikirkan, yang kedua tidak. Tolong bedakan. Niatkan bahwa tujuan kita menyampaikan keluhan untuk memberitahu dan mengingatkan (sumber keluhan ataupun pelanggan lain), bukan menjatuhkan.

Saya menulis ini juga karena saya sering memuntahkan keluhan di media sosial. Semoga bisa jadi pengingat, setiap ingin menulis keluhan di media sosial, agar bertanya dulu pada diri sendiri, “Untuk apa?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s