Komparasi


“Kamu bisa nggak sih kayak si Anu? Dia itu anaknya rajin, patuh sama orang tua.”

Beberapa kali saya mendengar orang tua yang meminta anaknya menjadi seperti anak tetangganya, anak saudaranya, atau anak-entah-siapa, yang dianggap lebih baik. Tak jarang pula, ada orang tua yang memaksa anaknya mengikuti beragam aktivitas yang (mungkin) sebenarnya tidak disenangi si anak, hanya karena anak-anak lain tampak hebat di aktivitas-aktivitas tersebut. Les balet, les piano, les matematika, ikut bimbingan belajar, dan sebagainya. Beberapa anak dipaksa tumbuh menjadi orang lain, dan tanpa sadar ditanamkam pada dirinya, “Kamu tidak punya kelebihan apa-apa. Kamu tidak hebat seperti yang lain.”

Saat kuliah dulu, saya pernah membaca sebuah penelitian eksperimen tentang dampak labeling. Terus terang saya lupa siapa peneliti dan kapan penelitian itu dilakukan. Yang saya ingat, penelitian itu dilakukan di sebuah sekolah. Saat penerimaan siswa baru, peneliti meminta pihak sekolah membagi siswanya ke dalam kelas-kelas secara acak. Di hari pertama sekolah, peneliti mengatakan kepada guru-guru bahwa kelas tertentu berisi siswa-siswa pintar dan berprestasi, dan kelas lain hanya berisi siswa biasa. Di akhir tahun, prestasi akademik anak di kelas unggulan ternyata lebih bagus dibanding anak-anak yang ada di kelas biasa. Peneliti pun menyampaikan kepada para guru, bahwa sebenarnya tidak ada kelas unggulan seperti yang ia sampaikan. Anak-anak ditempatkan secara acak di dalam kelas. Namun, karena ada label ‘anak pintar’ dan ‘anak biasa’, guru pun memperlakukan mereka dengan cara yang tak sama. Tanpa disadari, guru juga telah menanamkan pada diri anak-anak sesuai dengan kelasnya, ada yang dianggap anak pintar dan ada yang bodoh. Akibatnya, anak yang saat awal masuk kelas sebenarnya punya prestasi, karena dikatakan dirinya biasa saja, maka ia menjadi siswa yang juga biasa saja. Sebaliknya, anak yang tadinya biasa saja, ternyata bisa mendapat prestasi akademik yang baik karena ia dikatakan pintar dan hebat.

Labeling terbukti memengaruhi self efficacy atau efikasi diri seseorang. Efikasi diri adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu (atau tidak mampu) melakukan sesuatu. Semakin tinggi efikasi diri, seseorang akan semakin merasa dirinya mampu melakukan banyak hal, termasuk hal-hal yang melampaui dirinya sendiri. Maka hati-hati ketika mengatakan anak ‘bodoh’, ‘nakal’, dan sebagainya. Bisa jadi, ia akan tumbuh menjadi seperti yang kita katakan.

Individual Differences
Istilah di atas selalu mengingatkan saya pada sosok Albert Einstein, dan quote-nya ini:

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” – Albert Einstein

Setiap orang punya keunikan, pun kelebihan masing-masing. Kita tidak bisa menilai setiap orang dengan standar yang selalu sama. Bahkan seorang Albert Einstein yang kini dikenal sebagai seorang jenius, waktu kecil dianggap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah karena ‘berbeda’ dengan teman-temannya. Apa yang terjadi kalau ibu Einstein berhenti mengajarinya di rumah, dan ikut melabeli Einstein dengan sebutan ‘anak bodoh’? Barangkali, seorang Albert Einstein tidak akan dikenal, dan teori relativitas belum tentu ditemukan.

Setiap orang dilahirkan dengan keunikannya masing-masing. Setiap orang diciptakan Tuhan dengan perannya masing-masing. Membandingkan anak satu dengan yang lain tidak lantas membuat keduanya jadi hebat di bidang yang sama. Bisa jadi, membanding-membandingkan justru akan mengurangi kadar kebahagiannya. Anak yang tadinya bahagia menjadi dirinya sendiri yang senang main bola, tiba-tiba dipaksa les matematika, dan bisa jadi itu menyiksa. Hanya karena orang tua membandingkannya dengan anak lain yang memang jago matematika.
Bahkan tanpa kita sadari, kita pun sering membandingkan hidup kita dengan orang lain. Sayangnya, banyak di antara kita (termasuk saya) yang lebih sering membandingkan diri dengan orang lain yang dirasa ‘lebih’, sehingga membuat kita selalu merasa ‘kurang’. Bisa jadi, hal inilah yang diam-diam mengikis kebahagiaan kita.
Kalau saja kita lebih sering membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tidak seberuntung kita, mungkin kebahagiaan kita akan bertambah, karena kita sering bersyukur.

Everybody is born to be different. Setiap orang dilahirkan berbeda karena perannya di dunia pun berbeda. Jangan dipaksa sama.

“Comparison is the thief of joy” – Franklin Roosevelt

Advertisements

2 thoughts on “Komparasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s