Puisi Favorit Sepanjang Masa


Langit-langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tanrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia
Taufik Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Saya bukan penggemar puisi, apalagi puisi tentang cinta. Kalau disuruh memilih buku yang berjejer di rak, buku kumpulan puisi jelas bukan buku pertama yang akan saya ambil. Meski sudah membaca beberapa karya Kahlil Gibran, dan bahkan follow akun twitter Sapardi Djoko Damono, tetap saja saya tidak menggemari puisi. Setidaknya, kesukaan saya pada puisi tidak sebesar kesukaan saya pada karya fiksi berbentuk prosa dan cerita.

Tapi, ada beberapa puisi yang dari sejak pertama baca sampai sekarang, membuat saya jatuh cinta setengah mati. Kebanyakan adalah puisi bertema politik, atau perjuangan. Salah satunya adalah puisi milik Wiji Thukul yang sempat fenomenal di masa reformasi. Saya pernah menuliskannya di sini.

Puisi lain, yang kebetulan ditulis di masa reformasi juga, adalah milik Taufik Ismail berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Puisi ini terdiri atas empat bait, dan salah satunya saya tulis di atas. Puisi ini begitu menampar, sekaligus menggambarkan kondisi bangsa ini. Sampai detik ini pun, saya masih merasa puisi tersebut relevan dengan kondisi bangsa yang masih sibuk dengan segala silang sengkarut politik dan tetek bengeknya. Mbundhet. Kata orang Jawa.

Taufik Ismail adalah penyair angkatan 66 yang sudah menerbitkan belasan buku kumpulan puisi, serta meraih berbagai penghargaan atas karyanya. Salah satu puisinya sudah begitu akrab bagi saya semenjak bangku sekolah, karena selalu muncul di buku pelajaran Bahasa Indonesia. Pasti banyak yang familiar dengan puisi ini:

Tiga anak kecil
dalam langkah malu-malu
datang ke Salemba
sore itu

‘Ini dari kami bertiga
pita hitam pada karangan bunga
sebab kami ikut berduka
bagi kakak yang ditembak mati
siang tadi.’

Karangan Bunga, ditulis tahun 1966

Puisi-puisi Taufik Ismail selalu sarat dengan gambaran kondisi sosial dan politik negeri. Ini menunjukkan betapa ia adalah sosok yang begitu peduli pada kondisi bangsa dan masyarakatnya. Sejak kuliah pun ia sudah aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa, termasuk menjadi ketua Senat Mahasiswa FKHP UI di tahun 1960. Barangkali, ini yang membuat puisi-puisi karyanya selalu penuh nyawa. Ia menulis apa yang ia lihat, ia alami, ia rasakan…..dan sekaligus ia perjuangkan.

Membaca puisi-puisi Taufik Ismail buat saya seperti membaca kondisi bangsa ini. Malu, marah, geregetan, sekaligus jatuh cinta begitu rupa. Saya tipikal orang yang selalu mengedepankan positive thinking, dan menghindari kata-kata negatif untuk menggambarkan keadaan bangsa tercinta. Tapi entah kenapa membaca puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia ini tidak lantas membuat saya marah atau jengah. Saya justru seperti ditampar, disadarkan. Bahwa negeri ini butuh kita. Bahwa kita tak bisa hanya diam menyalahkan, tapi sudah seharusnya ikut bergerak, berbuat sesuatu untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik. Setidaknya, agar kita tak lagi membenamkan topi baret di kepala, dan merasa malu jadi rakyat Indonesia.

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat¬sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar¬besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan tarang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, baik ke-III

Advertisements

2 thoughts on “Puisi Favorit Sepanjang Masa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s