Di Jakarta, Kutemukan….


Hanya di Jakarta, kutemukan….

Bunyi klakson bersahutan, menggertak pengguna jalan yang dirasa lamban.
Kesabaran bukan milik pengguna jalan, apalagi di pagi dan sore menjelang malam.
Perjuangan terberat di sini barangkali memang saat berangkat maupun pulang, apapun dan kemana pun tujuannya.
Maka jangan terlalu heran, jalanan bisa menjadi begitu liar.
Seperti sepeda motor yang melaju kencang di atas trotoar, mengusir para pejalan.
Atau metromini tua yang dengan gesit melompati berbagai jenis pembatas jalan.
“Waktu adalah uang”. Barangkali itu penjelasan sederhana atas menguapnya timbunan rasa sabar di sepanjang jalanan Jakarta.

Pun hanya di Jakarta, kutemukan….

Rumah bukan hanya bangunan berdinding, berlantai, beratap, berpintu dan berjendela, seperti yang diajarkan guru SDku di pelajaran menggambar, dulu.
Rumah adalah sebuah gerobak kayu yang terseok-seok menyusuri jalanan Jakarta.
Rumah adalah sebuah lapangan tenis bekas, di samping stasiun.
Rumah adalah bentangan kain batik usang di bawah pohon, persis di samping tumpukan sampah dan lalat-lalat yang beterbangan.
Rumah bisa di mana saja, dan berbentuk apa saja.
Di terminal, di bawah jembatan layang, di pinggir-pinggir jalan, atau di bangku taman.
Tapi, rumah juga bisa serupa bangunan besar berpagar tinggi dan dijaga pria berseragam, berharga milyaran….yang seringkali minim penghuni.

Di Jakarta, kutemukan….

Banjir adalah rutinitas tahunan, dibenci namun diam-diam dirindukan.
Setiap tahun ia datang, setiap itu pula kita saling menyalahkan.
Warga menyalahkan pemerintah yang dianggap lamban, pemerintah lelah pada warga yang tak patuh aturan.
Buang sampah sembarangan selalu jadi kambing hitam.
Tapi solusi tak kunjung ditemukan.
Semua diskusi (tanpa solusi) hanya berakhir di Warung kopi, di meja redaksi, atau di depan televisi. Banjir, sepertinya sudah jadi tradisi.

Di Jakarta aku belajar….

Menilai seseorang tidak cukup hanya melihat tampilan luar.
Karena yang bertato dan bertampang preman bisa begitu lembut hatinya, membantu sesama.
Sebaliknya, mereka yang berpenampilan seperti calon penghuni surga terkadang punya banyak tipu daya.
Ada sisi gelap yang bersembunyi dalam setiap orang, sebaik apapun penampilannya.

Di Jakarta, kutemukan…..

Orang yang sering tersenyum di depan kita, ternyata menyimpan belati yang siap menusuk kita dari belakang.
Percaya dan (di)perdaya hanya soal waktu dan giliran.
Politik busuk tidak hanya ada di Senayan, tapi juga bertebaran di kantor dan hubungan pertemanan.
Saling tuding, saling tusuk, saling sikut dan saling menjatuhkan.

Pun di Jakarta telah kutemukan….

Arti mencintai yang sebenar-benarnya.
Yaitu mencintai segala ketidaksempurnaan objek yang kita cintai, dengan begitu sempurna.
Seperti aku yang mencintai Jakarta, dengan segala ketidaksempurnaannya.
Sering merutuk kota ini dengan segala carut-marutnya, namun diam-diam merindukan saat berjauhan.
Sering mendoakan kota ini, meski tak henti juga berkata, “Aku tak ingin tinggal di sini lebih lama”

Jakarta, dengan segala isinya…
Jakarta, dengan segala carut-marutnya…
Jakarta, dengan daya tariknya yang tak biasa dan membuat banyak orang jatuh cinta.
Tak terkecuali aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s