[Review Film]: The Imitation Game


Sebelum menonton The Imitation Game, saya tidak mengenal sama sekali istilah Enigma. Saya memang bukan penggemar sejarah, apalagi sejarah perang. Bahkan meski istilah ini sangat dekat dengan mata pelajaran favorit saya saat sekolah dulu. Iya, Matematika.

Film yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch ini memang bercerita tentang Enigma. Kode Enigma adalah perangkat yang dikembangkan oleh intelijen militer Jerman, di mana informasi bisa dienkripsi. Menurut catatan sejarah, Enigma digunakan oleh tentara dan pemerintah Jerman, sebelum dan selama Perang Dunia II. Waktu itu, mesin Enigma dipercaya sebagai mesin kriptografi paling aman di dunia, dan tidak bisa dipecahkan. Terutama oleh pasukan Sekutu.

Demi memenangkan perang, pemerintah Inggris membentuk tim rahasia pemecah kode Enigma yang terdiri atas para ahli dari berbagai bidang. Alan Turing (diperankan Benedict Cumberbatch), terpilih sebagai salah satu anggota tim atas keahliannya di bidang Matematika. Dengan segala keunikan – kalau tak bisa disebut keanehan – pribadinya, Alan Turing menjadi sosok yang tidak disukai oleh rekan-rekan satu tim-nya. Namun justru dengan kepribadiannya yang unik, ia akhirnya terpilih menjadi ketua tim. Dan selama menjadi ketua tim itulah, Alan akhirnya bisa menciptakan mesin pemecah kode Enigma, yang diyakini berhasil membuat PD II berakhir dua tahun lebih cepat.

“Sometimes, it is the very people who no one imagines anything of, who do the things that no one can imagine.” – Christoper, dalam film The Imitation Game

Sejak awal menonton film ini, entah kenapa ingatan saya langsung tertuju pada dua film lawas dengan genre serupa: A Beautiful Mind dan The Aviator. Dua film ‘berbau’ Psikologi yang dulu selalu jadi tugas andalan di mata kuliah Psikologi Klinis. Ketiga film ini punya kesamaan: dibintangi oleh aktor terbaik (pada masanya), diangkat dari kisah nyata, tokoh utama adalah penemu sesuatu, sekaligus penderita gangguan mental. Di film A Beautiful Mind, Russel Crow berperan sebagai John Nash, seorang profesor Matematika yang berhasil mencetuskan game theory. Ia berhasil meraih Nobel di bidang Ekonomi pada tahun 1994 atas penemuannya tersebut, meski bertahun-tahun menderita Skizofrenia Paranoia.

Lain halnya dengan Howard Hughes di film The Aviator, yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio. Howard Hughes adalah seorang kaya raya yang berprofesi sebagai pengusaha, sekaligus pembuat film, aviator, pencipta pesawat terbang, penemu, dan sebagainya. Demi membuat sebuah film tentang pesawat terbang tercepat pada masa itu, Howard Hughes menciptakan sekaligus menerbangkan sendiri pesawatnya. Ia mendirikan Hughes Aircraft Company, dan masuk ke dalam jajaran para pahlawan di bidang aviasi. Meski dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia pada masa itu, Hughes punya sisi hidup yang kelam. Selain kisah-kisah percintaannya yang gagal (termasuk salah satunya dengan artis terkenal, Katharine Hepburn), Hughes juga tercatat menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Di film The Imitation Game, Benedict Cumberbatch dengan apik memerankan sosok Alan Turing yang terbukti gay (pada masa itu, gay masih masuk kategori gangguan mental, dan bahkan di Inggris dianggap perilaku kriminal), dan juga menunjukkan simtom-simtom Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Dengan alur yang dibuat maju mundur, film The Imitation Game berhasil memotret kehidupan Alan Turing selama menjadi pemecah kode Enigma di Bletchley Park, sekaligus kehidupan pribadinya yang penuh kontroversi. Jika jeli mengamati, sebenarnya film ini begitu jelas menggambarkan penyebab Alan Turing menjadi penderita homoseksual. Sejak kecil, Alan Turing dikenal sebagai pribadi yang aneh. Barangkali, otaknya yang terlalu jenius membuat pemikirannya puluhan langkah lebih dulu dibanding orang kebanyakan, sehingga ia terlihat aneh. Bahkan ibunya pun menjuluki Turing “an odd duck“. Di masa SMA-nya, Turing sering menjadi korban bullying oleh teman-teman sekolahnya. Dalam sebuah adegan yang ditampilkan di film ini, tampak Alan Turing pernah ‘dikubur’ di lantai kelas oleh teman-temannya. Alih-alih berteriak ketakutan, dengan kecerdasannya ia masih sempat melakukan analisa.

“Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… Hollow.” – Alan Turing, dalam film The Imitation Game

Kejadian itu rupanya mempertemukan Alan Turing dengan Christopher, yang belakangan diyakini sebagai cinta pertamanya. Sebagai seseorang yang sering disudutkan, dan bahkan dikucilkan, tidak berlebihan jika Alan Turing kemudian jatuh cinta pada sosok Christopher yang menjadi pahlawan hidupnya. Di saat semua orang menuding Turing sebagai ‘orang aneh’, Christopher menguatkannya dengan mengatakan ia orang yang ‘berbeda’. Bahkan Christopher pula yang mengenalkan Turing pada kriptografi untuk pertama kalinya.

Sebagai orang Psikologi, saya sebenarnya lebih tertarik dengan sisi kehidupan pribadi seorang Alan Turing yang diangkat di film ini, ketimbang kesuksesannya menciptakan mesin pemecah kode Enigma. Sayang, kehidupan keluarga Turing semasa kecil tidak sempat diangkat (atau barangkali memang tidak ada catatan tentang itu). Saya yakin, ada lebih banyak hal yang bisa diungkap dari seorang Alan Turing, jika kehidupan masa kecilnya terungkap. Seperti di film The Aviator, yang menunjukkan cuplikan masa kecil Howard Hughes (meski sebentar), yang sekaligus menjadi jawaban atas sebab OCD yang dialaminya saat dewasa.

Tulisan saya ini mungkin tidak layak disebut review film, karena saya justru membahas sosok Alan Turing dibanding kualitas filmnya dari berbagai sisi. Buat saya pribadi, tulisan ini sekedar pengingat. Bahwa hidup ini tidak sempurna. Selalu ada sisi gelap dalam diri setiap orang, seperti juga sisi terang yang ia miliki. Menilai seseorang hanya dari satu sisi tentunya tidak adil, apalagi hanya dari sisi gelapnya. Bahkan seorang Alan Turing yang telah berjasa bagi Inggris, harus meninggal (diduga) bunuh diri karena tidak kuat menjalani terapi hormon atas ‘kesalahannya’ menjadi seorang gay. Meski pemerintah Inggris berkali-kali menyampaikan maaf untuk Turing atas perlakuan yang pernah ia terima semasa hidup, sepertinya itu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka hatinya.

Maka, jika benar hidup ini tak sempurna, kenapa orang yang berbeda dan terlihat tak sempurna begitu mudah dicela?

“No. They beat you up because you’re different. So you’ll have to try a little harder to blend in.” – Christhoper, dalam The Imitation Game

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s