[Review Buku]: Gelombang


Dee membuka Gelombang dengan kisah Gio yang sedang mencari Diva di belantara hutan terpencil di jantung Amazon. Bagi yang sudah membaca seri pertama Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua nama ini tentu sudah tak asing lagi. Membaca halaman pertama Gelombang langsung membawa saya pada kepingan pertama serial Supernova. Meski sudah sepuluh tahun lalu – kalau  tak salah ingat – saya pertama kali membaca KPBJ, tapi rupanya dua nama ini masih melekat. Namanya saja, isi ceritanya sebagian (besar) sudah lupa. Kode mulai ditebar Dee saat seorang pria misterius tiba-tiba muncul di kediaman Gio di Cusco, tepat saat Gio memutuskan berhenti mencari Diva. Pria itu datang, mengingatkan Gio soal empat buah batu terbungkus kain belacu kumal yang pernah diberikannya pada Gio sebelumnya. Amaru, nama pria itu, menjelaskan bahwa empat batu tersebut masing-masing adalah representasi dari orang-orang penting yang harus ditemukan Gio. Masih ada dua batu lagi yang keberadaannya entah di mana. Empat dari enam orang yang dimaksud Amaru, harus ditemukan oleh Gio. Enam batu, enam seri Supernova dengan masing-masing tokohnya. Barangkali seperti itu, benang merahnya. Tapi siapa? Diva, Elektra, Bodhi, Zarah?

“Ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita. Bukan karena mereka tidak ada. Melainkan, kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya.” -Amaru

*

Alfa. Nama yang dipilih Dee sebagai tokoh sentral dalam seri Gelombang. Gelombang dan Alfa. Tentu bukan tak sengaja Dee memilih padanan itu. Tokoh Alfa dalam novel ini diceritakan mengalami gangguan tidur, yang mirip dengan sleep paralysis, atau tindihan dalam bahasa kita. Alfa sendiri merupakan nama salah satu gelombang otak yang menandai fase pertama dalam tahapan tidur. Dalam kasus Alfa, seperti juga kasus sleep paralysis pada umumnya, simtom muncul sesaat setelah otak memasuki fase terakhir dalam tidur, yang disebut Rapid Eye Movement (REM). Menariknya, Alfa tidak mengalami gangguan apapun selama tahap Non-Rapid Eye Movement (NREM), seperti pada kasus tindihan. Tentu saja, karena gangguan tidur yang dialami Alfa memang bukan karena gangguan fisik atau medis yang wajar.

Bertahun-tahun Alfa hidup dengan insomnia akut. Ketakutannya pada mimpi buruk setiap tidur membuatnya selalu memaksa diri terjaga setiap malam. Di satu sisi, ini menguntungkan Alfa karena dengan terus terjaga, ia bisa mengerjakan banyak hal. Terutama belajar. Ini pula yang akhirnya membuat Alfa bisa diterima di tiga universitas ternama sekaligus. Tiga-tiganya di New York. Salah satu impian besar yang dikejar Alfa, setelah sekian lama hidup penuh perjuangan di salah satu sudut gelap Amerika.

Gangguan tidur yang dialami Alfa bermula saat usianya 12 tahun. Alfa yang lahir di tanah Batak, sedari kecil memang sudah memiliki keanehan. Dia tak bisa mendengar bunyi gondang. Gondang adalah musik Ansambel yang dipadukan dengan tari Tor-Tor, dimainkan saat ada upacara atau perayaan khusus. Sehari setelah perayaan ulang tahunnya yang kedua belas, Alfa dipaksa mendengarkan salah satu Gondang yang akan dimainkan di kampung kelahirannya, Gondang Raja Uti. Sejak malam itu, keanehan-keanehan mulai bermunculan dalam hidup Alfa. Terutama sejak Alfa melihat sesosok makhluk hitam, yang belakangan ia tahu bernama Jaga Portibi. Sejak malam itu pula, Alfa selalu dihantui mimpi buruk setiap tidur. Kapanpun.

Setelah menjalani terapi tidur, Alfa justru menemukan misteri lain dalam hidupnya. Satu per satu pertanyaan besar di kepalanya mulai terjawab, setelah ia belajar mengendalikan mimpi tidurnya. Mimpi-mimpi yang selama ini menghantui Alfa memang tak begitu saja lenyap. Tapi ia kini belajar mengendalikannya. Karena ternyata, mimpi-mimpi itu punya pesan khusus untuk Alfa. Demi memahami isi mimpinya, Alfa mencari seorang dokter dari Tibet. Rupanya, dokter itulah jawaban atas semua misteri hidup Alfa, sekaligus misteri Supernova. Meski belum utuh, meski belum bisa menjawab pertanyaan besar para pembaca, tapi setidaknya benang merah sudah mulai terlihat.

Seperti novel-novel Supernova sebelumnya, Dee selalu melakukan riset mendalam, hingga bisa meramu cerita yang tak hanya mengaduk-aduk emosi pembaca, tapi juga menjungkirbalikkan isi otak. Setelah KPBJ yang – terus terang – membuat saya bingung dengan alur dan tujuan ceritanya, Dee menghadirkan Petir dengan tokoh Elektra yang begitu unik. Bodhi muncul di cerita Akar, membuat saya jatuh cinta begitu rupa dengan serial ini. Kehadiran Zarah di seri Partikel menunjukkan semakin kuatnya riset yang dilakukan oleh Dee. Perjalanan seorang Zarah yang berprofesi sebagai wildlife photographer, dengan segala pertentangan spiritualitasnya sedari kecil, membuat saya belajar banyak hal dan istilah baru. Kali ini tidak sepelik KPBJ (yang membuat saya harus mengerutkan kening terlalu dalam) karena berbagai istilah yang buat saya kadang ketinggian.

Di seri Gelombang, lagi-lagi Dee menunjukkan ia bukan penulis sembarangan. Minimal, tidak sembarangan dalam melakukan riset. Sebagai seseorang yang dulu pernah insomnia, dan sekarang justru menjadi orang yang terlalu mudah tidur, saya tentu saja tertarik dengan tema yang ditulis oleh Dee. Insomnia, tidur, dan sleep paralysis adalah hal-hal menarik buat saya. Dan Dee merangkum semuanya dalam sebuah cerita yang epik, dan tak membosankan untuk disimak. Berbagai istilah baru masih dimunculkan Dee dalam novel ini. Tapi entah kenapa semuanya sekarang terasa ringan. Seperti orang yang baru belajar membaca. Di buku pertama, saya seperti baru diajar mengenal huruf. Melihat tulisan seperti hal buram buat saya. Tak heran, cerita di KPBJ begitu mudah lesap dari pikiran. Di buku kelima ini, ibaratnya, saya sudah mengenal kata-kata. Saya mulai memahami sebuah kalimat, meski masih sepotong-potong. Maka, cerita di Gelombang – dan juga keseluruhan cerita Supernova – perlahan mulai saya temukan jiwanya.

Serial Supernova adalah novel dengan genre yang tak biasa, di Indonesia. Wajar, jika komentar pro dan kontra selalu bermunculan setiap ada seri baru terbit. Saya sendiri baru bisa menyukai Supernova setelah edisi Akar. Kekuatan riset Dee yang semakin kuat di dua seri terakhir, Partikel dan Gelombang, memang menunjukkan kematangan Dee sebagai penulis fiksi. Namun, jika terlalu terpaku pada riset, saya takut seri berikutnya justru menjadi terlalu hambar dan kurang menarik. Tentu saja, karena Supernova tetaplah cerita fiksi, yang butuh lebih banyak paparan imajinasi dibanding sains.

Mungkin memang butuh inteligensi yang tinggi untuk memahami kode-kode yang ditebar Dee dalam setiap detail ceritanya. Seperti halnya kita, yang perlu menunggu Inteligensi Embun Pagi untuk memahami pesan utama yang hendak disampaikannya lewat Supernova. Semoga Dee tidak terburu-buru menyelesaikan serial terakhirnya, dan memaksa mencari ending hanya karena ini harus berakhir. Semoga Dee tetap menjaga sisi misterius Supernova, meski misteri yang ia buat sedari awal akan segera dia jawab di Inteligensi Embun Pagi. Buat saya, cerita terbaik adalah yang bisa membuat pembaca tidak menginginkan akhir, meski penulis sudah mengakhiri tulisannya. Semoga itu Supernova.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s