[Review Buku]: Berbagi dengan Hati


Tampilan buku Berbagi dengan Hati.
Tampilan buku Berbagi dengan Hati.

“Pilihan menjadi orang berguna memang lebih baik dari orang sukses. Orang sukses hanya membanggakan dirinya sendiri dan hanya dilihat oleh orang di atas dia, serta dipuja oleh orang di bawahnya. Namun, orang berguna selain membanggakan untuk dirinya sendiri, tapi juga dihargai oleh orang di atas dan di bawahnya…dan itu lebih bermakna dari sekedar pujian.”

Itu adalah pesan orang tua Tiara, salah satu relawan Komunitas Jendela. Tiara menuliskan alasannya memilih menjadi relawan sosial, dalam salah satu artikel yang ada dalam buku “Berbagi dengan Hati.” Buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh Komunitas Jendela, lewat nulisbuku.com. Sesuai dengan judulnya, buku ini berisikan cerita-cerita inspiratif tentang kegiatan berbagi, atau menolong orang lain. Dalam salah satu artikelnya, Tiara bercerita tentang aktivitas sosial yang pernah dia lakukan. Mulai dari menjadi relawan di panti jompo saat kuliah di Jerman, relawan sosial di Vietnam, Kamboja, sampai Kenya. Dia bahkan pernah ‘magang’ menjadi pemulung, membantu seorang bapak pemulung yang pernah ia temui saat SMA.

“Akhirnya saya menawarkan diri bekerja bersama bapak itu selama seminggu ketika libur. Saya Cuma ingin membuktikan, paling tidak ke teman-teman saya, bahwa tidak ada satupun pekerjaan yang harus dipandang sebelah mata, apalagi jika memang kita lakukan dengan bahagia.” – Tiara

Anak-anak SMA 72 Jakarta pun ikut membaca buku Berbagi dengan Hati. SMA lain mau ikutan? ;)
Anak-anak SMA 72 Jakarta pun ikut membaca buku Berbagi dengan Hati. SMA lain mau ikutan? 😉

Selain Tiara, ada dua puluh penulis lain di buku “Berbagi dengan Hati” ini. Lima belas di antaranya merupakan para pemenang lomba menulis yang diadakan Komunitas Jendela tahun lalu. Perbedaan latar belakang para penulis menjadikan cerita-cerita yang tersaji di buku ini sangat beragam. Kata “berbagi” ternyata dimaknai berbeda oleh masing-masing penulis. Anjar, misalnya, yang menuliskan pengalamannya mendirikan sebuah komunitas sosial dengan berbagai rintangan yang harus dia hadapi. Lewat tulisannya berjudul “Surat Kecil dari Manusela”, Anjar bercerita tentang upayanya mengirim buku ke sebuah desa di pelosok Maluku.

“Tempat ini sangat terpencil, berada di pelosok negeri timur Indonesia. Butuh waktu empat hari berjalan kaki dari Mosso, sebuah desa di kecamatan Tehoru, titik nol pendakian menuju Gunung Binaiya, untuk sampai di tempat itu.” (hlm.39)

Bisa dibayangkan, betapa besar rintangan yang harus dihadapi Anjar dan rekan-rekannya untuk bisa mengirimkan buku ke desa Manusela. Tidak ada jasa pengiriman barang yang sampai ke tempat se-terpencil itu. Buku-buku harus dikirim sendiri, dengan menumpang kapal, dilanjutkan dengan perjalanan darat. Yang dimaksud perjalanan darat ini bukan naik mobil atau kendaraan lain, tapi jalan kaki sambil membawa buku-buku tersebut dengan tas punggung. Demi bisa mengirimkan kebahagiaan pada anak-anak di sana – dalam bentuk buku bacaan – rintangan seberat apapun rela mereka taklukkan. Toh, beratnya perjuangan langsung sirna begitu Anjar menerima surat dari anak-anak kecil Manusela. “Terima kasih atas bantuan buku yang kakak berikan. Saya akan belajar sampai saya pintar.” Isi salah satu surat ini membuat Anjar menitikkan air mata haru.

“Saat manusia enggan berbagi karena takut rugi, ia tak pernah ingat jika yang sedang dia nikmati dalam hembusan napasnya adalah pemberian Tuhan.” – Dian Pertiwi Joshua (hlm. 123)

Meski berasal dari latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda, tapi para penulis di buku ini membawakan cerita dengan pesan yang sama: bahwa berbagi bukan hal sulit untuk dilakukan, dan berbagi adalah kewajiban kita sebagai makhluk Tuhan. Bahkan meski hanya berbagi sekeping roti pada pengemis yang sedang kelaparan, atau memberi tempat duduk pada yang lebih membutuhkan saat di kereta, atau sekedar meluangkan waktu mendengar curhatan teman yang sedang kesusahan, terkadang hal-hal kecil itu bisa membuat hidup kita sedikit lebih berguna.

“Jangan menunggu kita merasa mampu untuk memberi. Karena kita tidak pernah tahu, seberapa berartinya kita untuk orang lain saat ini.” – Tiara

Buku setebal 235 halaman ini dibandrol harga Rp 67.000 dan bisa dibeli secara online di nulisbuku.com, belum termasuk ongkir. Harga berbeda jika dibeli langsung melalui Komunitas Jendela. Relatif mahal memang untuk sebuah buku antologi. Tapi, dengan harga Rp 67.000, royalti sebesar Rp 7.000/buku akan langsung didonasikan untuk pendirian perpustakaan anak di Indonesia. Bahkan, hanya dengan membeli buku ini, Kamu sudah ikut berbagi untuk anak-anak Indonesia.

“Caring for others is like a drop of water. It will make ripples throughout the entire pond. Kepedulian dan kebaikan yang kita bagikan akan terus bergaung dari satu orang ke lainnya. Dan tidak akan pernah berhenti sekalipun karena gaung itu akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Apa yang kita bagikan hari ini akan kembali kepada kita dengan jumlah yang lebih besar, sekalipun yang kita berikan hanya sekedar kepedulian. Mari peduli, mari merasa baik dengan melakukan kebaikan.” – @DyLunaly

Relawan Jendela Jakarta sedang asyik membaca buku Berbagi dengan Hati
Relawan Jendela Jakarta sedang asyik membaca buku Berbagi dengan Hati
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s