Belajar Melihat Kesalahan Sendiri


“Kalau nyimak orang lain yang lagi baca kita tahu ya mana yang salah dan cara baca yang bener harusnya seperti apa, tapi giliran kita baca sendiri kenapa tetap salah?”

Saya dan mbak Tri saling berbisik, di sela-sela menyimak mbak Riesa yang sedang membaca salah satu ayat di Surat Ali Imran. Mbak Tri dan mbak Riesa adalah senior saya di kantor. Sejak tiga bulan lalu, kami bertiga belajar membaca Al Qur’an, sekaligus belajar bahasa Arab. Sudah tiga bulan belajar, namun belum ada perkembangan signifikan yang kami rasakan. Kami masih sering membaca dengan salah, baik pelafalan huruf maupun tajwidnya. Anehnya, setiap kami menyimak salah satu teman yang sedang membaca Al Qur’an, kami bisa dengan mudah tahu di mana letak kesalahannya. Tapi saat giliran kami membaca, kami selalu mengulang kesalahan yang sama.

 Easy is to judge the mistakes of others, Difficult is to recognize ur own mistakes.

Kita cenderung lebih mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, namun sebaliknya sangat sulit untuk melihat kesalahan atau kekurangan diri sendiri. Tulisan saya yang terakhir tentang customer service bercerita tentang betapa sering saya menemui orang-orang yang tidak merespon email maupun telepon di kantor. Seringkali saya harus mengonfirmasi ulang ketika mengirimkan email, dan justru mendapat jawaban, “Email yang mana ya?” Menurut saya, sikap tersebut bukanlah sikap seorang pekerja yang customer focus. Sesaat setelah saya publish tulisan tersebut di blog, salah seorang teman saya memberikan komen berikut: “Kamu juga lama kalau bales email. I’m wondering, ini excuse? Atau apa?

Rupanya, saya sendiri selama ini tidak customer focus. Bukan hanya email, SMS/whatsapp dari teman pun sering lupa saya balas. Padahal di artikel tersebut, saya menyampaikan bahwa customer service seharusnya bukan hanya diterapkan dalam konteks pekerjaan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini saya mencoba customer focus dalam pekerjaan, tapi rupanya saya lalai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, di luar urusan pekerjaan. Saya menilai orang lain tidak customer focus, padahal saya sendiri belum sepenuhnya menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi saya membuktikan, bahwa kesalahan orang lain memang lebih mudah terlihat dibanding kesalahan saya sendiri.

“It’s easy to point out other people flaws, but it takes true courage and strength take a look in the mirror, admit personal flaws and strive to do and be better. That’s growth!”

― Yvonne Pierre, The Day My Soul Cried: A Memoir

Padahal, kemampuan untuk mengidentifikasi (dan sekaligus menerima) kesalahan sendiri adalah salah satu faktor penting seseorang dalam meningkatkan kompetensi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Henry Ford menunjukkan bahwa orang yang berpikir mereka bisa belajar dari kesalahan, memiliki reaksi otak yang berbeda dibandingkan orang yang berpikir bahwa inteligensi itu bersifat tetap. Dengan mengetahui kesalahan yang pernah kita lakukan, kita akan lebih mau belajar dan bangkit dari kesalahan tersebut.  (Sumber di sini)

Selain itu, kemampuan untuk melihat dan mengakui kesalahan sendiri juga penting agar kita tidak mudah memberikan penilaian negatif pada orang lain.

“Dia itu tukang gosip,” kata seseorang dalam sebuah obrolan ringan saat makan siang.

“Iya, masa’ kemarin dia ngomongin si anu waktu rapat. Padahal kan…bla…bla…bla..,” obrolan pun menjadi panjang, menggunjingkan seseorang yang mereka sebut ‘tukang gosip.’ Mereka lupa, yang sedang mereka lakukan juga masuk kategori ‘bergosip’.

Saya sering terjebak dalam kondisi seperti itu. Membicarakan keburukan orang lain, padahal keburukan itu sebenarnya ada juga dalam diri saya. Saya dan rekan-rekan kantor, misalnya, sering membicarakan salah satu rekan kantor lain, yang diduga sering melakukan kecurangan. Kami lupa, mengobrol saat jam kantor juga termasuk salah satu bentuk kecurangan. Pun kebenaran dugaan kami tersebut masih dipertanyakan.

Sepertinya saya harus mulai belajar melihat orang lain sebagai cermin. Saat saya menganggap orang lain baik, harusnya saya menjadikannya cerminan agar saya juga ikut berbuat baik. Pun saat saya menilai orang lain melakukan kesalahan, harusnya saya sambil melihat diri sendiri dan bertanya, “Pernah nggak ya melakukan kesalahan yang sama? Jangan-jangan malah lebih parah dan lebih sering dari dia….”

Melihat kesalahan sendiri memang tak mudah, tapi layak dicoba. Belajar melihat kesalahan sendiri itu sama halnya dengan belajar menerima bahwa diri kita tidak sempurna. That’s the sweetest path that will lead us to the ultimate happiness, and we simply call it…. self acceptance!

If you can learn to love yourself and all the flaws, you can love other people so much better. And that makes you so happy –Kristin Chenoweth

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s