Do You Believe in Karma?


Hari Jumat lalu, saya berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ada meeting pagi yang materinya harus saya siapkan, lanjut meeting lain yang dijadwalkan sampai sore. Malam sebelumnya, saya sudah niatkan untuk membawa laptop baru milik teman saya. HP Pavilion warna merah, warna kesukaan saya. Saya berencana membeli laptop yang sama dengan milik teman saya tersebut, namun ada kekurangan di laptop tersebut yang membuat saya masih ragu. Memang, selain memilih pasangan, memilih gadget adalah keputusan paling ribet yang pernah saya buat. Terlalu banyak pertimbangan, dan biasanya berujung ‘tidak jadi memilih’. Jadilah saya meminjam laptop tersebut, untuk ‘test drive‘. Barangkali dengan mencoba menggunakan laptopnya, dan kemudian suka, saya akan memutuskan untuk membeli laptop dengan merk dan tipe yang sama. Anyway, laptop tersebut baru dibeli beberapa hari sebelumnya.

Saya lupa kalo saya orangnya ceroboh.

Saya lupa kalau saya orangnya sering hilang fokus, tidak here and now. Alih-alih menggunakan ransel untuk membawa laptop dan semua barang-barang pribadi saya agar ringkes, saya justru memilih menggunakan softcase untuk membawa laptop. Saya bawa laptop di tangan kiri, tangan kanan membawa payung sambil sesekali membenarkan posisi tas tangan yang menggantung di pundak kanan. Ribet.

Sampai depan kos, entah kenapa tidak ada satu pun bajaj langganan yang mangkal. Dengan segala keribetan di badan, saya berusaha menghentikan bajaj-bajaj yang lewat, di tengah hujan. Saat ada bajaj yang berhenti, tanpa pikir panjang saya langsung masuk, dan duduk semanis mungkin. Karena ingat dengan perkataan sopir-sopir bajaj baik hati yang selama ini saya tumpangi, saya taruh laptop di samping saya duduk. “Jangan dipangku tasnya, Neng…takut ada jambret lewat,” begitu pesan bapak bajaj selama ini yang tak pernah saya lupakan.

Sepanjang perjalanan, saya memikirkan masa lalu materi rapat yang belum kelar. Konsentrasi pada barang bawaan pun buyar. Begitu sampai di kantor, saya segera membayar bajaj, lalu mencangklong tas, dan mengambil payung. Saya turun dengan konsentrasi penuh membuka payung agar tidak terkena air hujan. Sesaat sebelum masuk ruangan, saya tersadar, “Laptopnya mana?”

Saya segera kembali ke tempat saya turun dari bajaj, lalu dengan harapan yang hanya tinggal 5%, saya berpesan pada bapak satpam, “Laptop saya ketinggalan di bajaj tadi pak, siapa tahu bapak bajajnya baik mau balikin, tolong nanti nitip ya pak. Laptopnya warna merah.” Kata saya sambil tersenyum (walau hati menangis).

Saya kembali lagi ke ruangan, lalu menyalakan komputer, dan menyiapkan materi rapat dengan gamang. Setelah menelpon si empunya laptop, dan berjanji segera menggantinya dengan laptop baru, saya mulai tenang. Seperti kehilangan-kehilangan sebelumnya, saya lalu bertanya pada diri sendiri, “Hal buruk apa ya, yang pernah kulakukan?”

Saya percaya karma itu ada. Mungkin karena terlalu banyak membaca dongeng dan cerpen di majalah Bobo saat kecil, yang kebanyakan berpesan bahwa “Kebaikan akan berbalas kebaikan, dan penjahat selalu kalah.” Dari kecil saya percaya bahwa jika saya berbuat baik, saya akan mendapat kebaikan. Sebaliknya, jika saya berbuat jahat, saya akan mendapat balasannya. Sampai sekarang jika terkena musibah, saya akan berpikir, “Mungkin ini karena saya pernah berbuat jahat sama orang”.

Beberapa orang mungkin akan menganggap saya naif karena percaya karma. Tapi buat saya, percaya karma itu ada manfaatnya. Dengan percaya karma, saya jadi selalu berusaha menjaga ‘siklus kebaikan’, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya. Meski, tentu saja, saya tak selamanya bisa jadi orang baik. Saya kadang masih ngomongin kejelekan orang, saya sering marah, saya pernah berbohong, saya kadang tidak peduli, dan mungkin saya masih sering (sengaja atau tidak) menyakiti hati seseorang. Tapi dengan percaya karma, saya jadi lebih hati-hati bersikap. Saya juga terus belajar untuk menjadi orang yang lebih baik, lagi dan lagi. Setiap terkena musibah, saya sering instropeksi diri, mengingat kesalahan yang pernah dibuat, dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

Saat kuliah dulu, saya pernah belajar tentang locus of control (lokus kendali). Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan lokus kendali sebagai tingkat di mana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Ada dua jenis lokus kendali, internal dan eksternal. Internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang terjadi pada diri mereka, sedangkan eksternal adalah individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan.

Seseorang dengan lokus kendali internal, akan meyakini bahwa apa yang terjadi pada dirinya disebabkan oleh dirinya sendiri. Sebaliknya, orang dengan lokus kendali eksternal akan meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya disebabkan oleh orang atau hal-hal di luar dirinya. Salah satu contoh, saat penilaian kinerja akhir tahun. Karyawan dengan lokus kendali internal, jika mendapat nilai jelek akan berpikir, “Nilaiku jelek karena kinerjaku setahun ini kurang baik, tahun depan harus ditingkatkan.”
Sebaliknya, karyawan dengan lokus kendali eksternal akan menyalahkan faktor di luar dirinya, seperti atasan yang tidak adil, sistem penilaian kinerja yang buruk, rekan kerja yang curang, dan sebagainya.

Lokus kendali ini juga bisa memengaruhi pandangan kita pada dunia sekitar. Saat baru ada rekan kerja promosi, mungkin ada yang berpikir, “Itu karena dia memang hebat dan kerja keras.” Tapi selalu ada yang akan berpikir, “Itu karena dia beruntung aja” atau bahkan, “Ahh….atasannya aja yang bego.”

Buat saya, percaya adanya karma melatih saya untuk memiliki lokus kendali internal. Agar ketika gagal saya bisa belajar memperbaiki diri, dan ketika berhasil saya lebih menghargai diri sendiri. Juga agar saya bisa menghargai kesuksesan orang lain, dan belajar dari kegagalan orang lain. Karena hidup itu ibarat menanam pohon. Apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai.

Bahkan seorang Steve Jobs meyakini, bahwa hidup kita hari ini, terhubung dengan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu.

20150125-231758.jpg

So, do you believe in karma?

Advertisements

4 thoughts on “Do You Believe in Karma?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s