Belajar Toleransi, Belajar Mencintai Tanpa Syarat


“…..Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” – (QS: Al-Maidah Ayat: 48)

Saya kutip kembali potongan ayat di atas, seperti juga telah saya kutip versi terjemahan bahasa Inggris-nya di artikel saya sebelumnya. Buat saya yang muslim, ayat ini adalah pengingat penting, di tengah kondisi kehidupan beragama yang sepertinya makin menjauh dari sikap saling toleransi.

Toleransi beragama, tenggang rasa dan tepa salira adalah kata-kata yang selalu muncul di pelajaran PPKn saat SD dulu. Saya tak pernah kesulitan menjawab pertanyaan terkait hal-hal tersebut saat ujian. Bukan. Bukan karena saya pintar, tapi karena memang hal-hal tersebut selalu muncul dalam kehidupan saya sehari-hari. Kehidupan masyarakat kampung, yang jauh dari hingar-bingar dan gemerlap kota. Kehidupan masyarakat kelas menengah (cenderung ke bawah), yang selalu menjunjung tinggi keharmonisan hidup bertetangga.

Saya tinggal di sebuah kampung yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Penduduk beragama selain Islam bisa dihitung jari, itu pun jika ditarik asal-usulnya, keturunan muslim juga. Tapi, setiap hari raya Idul Fitri, saya sekeluarga tidak pernah absen bersilaturahim ke rumah saudara di kampung lain, yang agamanya Kristen. Ini bukan hal aneh buat kami. Justru ini sudah jadi tradisi, yang sudah kami lakukan sejak saya masih kecil.

Kehidupan antar umat beragama di daerah kami memang cukup harmonis. Persis seperti yang tertulis di buku pelajaran PPKn saat SD dulu. Tidak pernah sekali pun, sepanjang ingatan saya, ada konflik berlatar belakang agama di daerah tempat tinggal saya. Pun saudara saya yang beragama Kristen seperti di cerita saya di atas,  tinggal di dekat pesantren. Tak pernah sekali pun keharmonisan hidup bertetangga kami terusik, meski ada perbedaan keyakinan.

“Istri saya nggak betah, Mbak. Jadi sekarang dia balik kampung,” kata bapak pengemudi taksi berwarna putih yang saya tumpangi. Hari Sabtu lalu, dalam perjalanan dari kos menuju Plaza Semanggi, lagi-lagi saya belajar dari seorang pengemudi taksi. Awalnya kami hanya membahas soal rencana diturunkannya harga BBM oleh pemerintah. Namun, mendengar logat jawanya yang cukup kental, saya jadi tertarik untuk bertanya banyak hal pada bapak ini.

“Saya sama istri kan beda mbak.” Di tengah obrolan ringan kami, beliau berujar.
“Beda gimana maksudnya Pak?” tanya saya yang tak paham.

Rupanya yang dimaksud ‘beda’ oleh si bapak adalah ‘beda keyakinan’. Bapak ini muslim, istrinya Katholik. Meski mengalami perjuangan yang cukup berat di awal pernikahan mereka, tapi mereka bisa bertahan selama dua puluh tahun lebih. “Kalau sudah jodoh ya gimana Mbak,” katanya sambil terkekeh. Saya ikut tersenyum. Meski pernikahan beda agama bukan pilihan saya, tapi saya selalu salut dengan pasangan-pasangan beda agama yang bisa bertahan hingga puluhan tahun.

“Saya heran mbak dengan kondisi di sini. Kalau di daerah kita, kehidupan beragama kan bisa rukun ya…tapi di sini lain,” ujar si bapak yang ternyata berasal dari Klaten, masih satu propinsi dengan kota asal saya. Saya tertawa kecil, mengiyakan. Di benak saya langsung terbayang peristiwa demonstrasi beberapa waktu lalu, menolak Gubernur baru.

“Waktu itu pernah mbak, istri saya membagikan makanan ke tetangga-tetangga. Makanan tersebut semua dibuang di depan rumah masing-masing. Padahal kami tidak pernah masak babi….” kata si bapak pelan. “Hehehe…kehidupan bapak kayak di film aja,” jawab saya, mencoba mencairkan suasana. Buat saya yang dari kecil hidup harmonis bertetangga, cerita tersebut memang terdengar seperti kisah di film. Miris mendengarnya.

“Padahal kan namanya keyakinan, tidak bisa dipaksakan. Masing-masing merasa bahwa keyakinannya yang paling benar. Ibaratnya, dari kecil kita sudah diajarkan bahwa 1+1 = 2. Kalau tiba-tiba ada yang bilang 1+1=3, kita pasti merasa dia salah. Padahal mungkin dia juga merasa dialah yang paling benar, sementara kita yang salah. Buat apa ini diperdebatkan, toh tidak akan pernah selesai karena masing-masing merasa benar. Saya yakin, tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan, semua pasti mengajarkan pada kebaikan….”

Ucapan bapak ini mengingatkan saya kembali pada isi ayat di atas. Allah sengaja menjadikan umat-Nya berbeda, agar saling berlomba berbuat kebaikan. Bukan justru sebaliknya. Saling membenci, saling merendahkan, menghina, bahkan saling menyakiti. Bukan seperti itu yang diajarkan. Saya paham toleransi beragama ada batasannya. Tapi menjadikan batasan itu sebagai alasan untuk merendahkan, apalagi menyakiti orang lain dengan keyakinan berbeda, tentu bukan hal yang bisa dibenarkan.

Tuhan menjadikan kita berbeda-beda, tentu ada maksud dan tujuannya. Ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang mencintai sesama manusia dengan tulus, tak peduli apa keyakinan dan latar belakang kehidupannya. Ada pula yang mencintai sesama manusia (dan bahkan makhluk lainnya) dengan syarat…. mencintai kalau seiman, kalau sepemikiran, kalau menguntungkan, kalau punya uang, dan sebagainya. Yang demikian, semoga cintanya pada Tuhan tetap tanpa syarat. 🙂

Perbedaan, seperti pesan Tuhan, harusnya menjadi alasan bagi kita untuk selalu belajar menjadi orang yang lebih baik. Ketika bertemu seseorang yang pemarah (seperti saya, misalnya), ada pelajaran soal ‘sabar’ yang bisa didapat. Ketika bertemu orang yang mengeluh, kita bisa belajar akan pentingnya rasa syukur. Menghina orang yang kita anggap lebih buruk dan lebih rendah dari kita, tidak akan membuat diri kita jadi lebih baik, malah sebaliknya.

Jadi, buat apa menghina perbedaan? Selama masih ada hitam-putih, siang-malam, tinggi-rendah, laki-perempuan, perbedaan akan selalu ada. Rasanya sulit berharap semua orang di dunia ini satu pemikiran dengan kita. Setiap orang dilahirkan berbeda, bahkan termasuk bayi kembar sekalipun. Toleransi akan selalu dibutuhkan, kalau kita ingin berdamai dengan hidup (termasuk berdamai dengan diri sendiri).

Dari kecil saya diajarkan, bahwa dunia dan segala isinya adalah ciptaan Tuhan. Bukan hanya pelangi saja yang ciptaan Tuhan, manusia dan segala makhluk yang ada di dunia juga ciptaan Tuhan. Setidaknya itu yang saya yakini selama ini. Kalau saya menghina sebuah lukisan karena saya anggap jelek, bukankah itu sama saja saya menghina pelukisnya? Kalau saya marah setelah makan kue yang rasanya tak karuan, bukankah itu berarti saya juga marah pada pembuatnya.

Saya jadi takut, jangan-jangan kalau saya menyakiti seseorang, saya juga menyakiti Tuhan sebagai pencipta-Nya? Jangan-jangan kalau saya merendahkan orang lain, saya sebenarnya merendahkan Tuhan? Katanya, mencintai yang tertinggi adalah mencintai tanpa syarat. Seperti cinta ibu pada anaknya. Maka, jika benar kita mencintai Tuhan, harusnya kita (belajar) mencintai semua makhluk-Nya juga tanpa syarat.

Belajar soal toleransi, buat saya, mirip dengan belajar mencintai. Dua hal yang sampai sekarang saya belum juga lulus dan harus terus belajar. Karena keduanya sama-sama butuh kesadaran untuk menerima  kekurangan yang (menurut kita) ada pada orang/hal yang kita cintai. Karena toleransi, seperti halnya mencintai, sumbernya dari hati.

Semoga kita bisa terus belajar mencintai Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya, tanpa syarat. Semoga. 🙂

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Belajar Toleransi, Belajar Mencintai Tanpa Syarat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s