Being Here and Now


“Do not dwell in the past, do not dream of the future, concentrate the mind on the present moment.”

Being in the moment, atau disebut juga being in the present, atau kalau saya lebih mengenalnya sebagai “Being here and now”, adalah salah satu prinsip penting dalam Zen, salah satu ajaran Budha dari Jepang. Dalam ilmu psikologi, ia dikenal juga sebagai mindfullness.

Saya mengenal istilah “Here and Now” saat mengambil kelas Psikologi Emosi. Pengajarnya adalah all time favorite lecturer-nya Psikologi UGM, ibu Johana Endang Pratiwi, atau biasa dipanggil bu J.E.P (dibaca Je-E-P, seperti saat membaca P-D-K-T. Okesip!)

Here and Now ini adalah salah satu cara beliau mengingatkan mahasiswanya untuk fokus saat di kelas. Fokus pada apa yang sedang (dan harus) mereka dengarkan dan perhatikan di kelas, bukannya memikirkan hal-hal lain yang ada di luar kelas. Being Here and Now, berarti kita tidak memikirkan hal lain saat sedang mengerjakan sesuatu hal. Tidak mengingat orang lain, saat bersama dengan seseorang. Tidak memikirkan masa lalu atau masa depan, ketika kita sedang menjalani hari ini. Fokus pada apa yang memang sedang ada di depan kita, pada apa yang sedang kita kerjakan, dengarkan, perhatikan, baca, apapun…..saat ini!

Ini bukan hal mudah buat saya, terus terang. Saya dikenal sebagai seseorang yang multitasking. Saya bisa mengerjakan, dan memikirkan beberapa hal dalam satu waktu. Saya bisa membuat laporan saat di kantor, sambil mendengarkan musik lewat earphone di telinga, dan di saat bersamaan mengobrol dengan rekan kerja saya. Saya biasa mengetik sesuatu sambil berbicara, atau mendengarkan seseorang lain berbicara di telepon. Saat di semester lima kuliah S1 saya di fakultas Psikologi UGM, saya mengambil empat praktikum sekaligus. Itu di luar aktivitas saya di organisasi kampus, proyek riset, maupun tugas sebagai asisten praktikum. Di akhir tahun 2009, saya bahkan pernah menjadi sekretaris untuk tiga lembaga/kepanitiaan sekaligus…sambil kuliah.
Keren? I don’t think so. Capek? Jelas.
Did I enjoy almost everything? Well…. Ini masalahnya.
Seharusnya saya tetap bisa menikmati every-single-moment-I’m-being….at that time. Unfortunately, I did not. Saya masih bisa tidur nyenyak, bahkan beberapa kali tetap bisa tidur delapan jam sehari. Saya masih bercanda dan tertawa lepas bersama teman-teman kampus. Mungkin yang paling kacau hanya jadwal makan saya. Masalahnya adalah, saya tidak pernah benar-benar merasa ada di setiap momen dengan utuh. Saat sedang rapat di kepanitiaan A, saya memikirkan tugas saya di kepanitiaan B. Saat sedang di kelas, saya memikirkan laporan yang belum selesai, atau sibuk dengan ponsel karena harus mengoordinir berbagai macam hal. Bahkan saat sedang bersama teman-teman, saya sesekali masih harus mengangkat ponsel, menyelesaikan permasalahan di tempat lain.

Saya tidak menikmati itu semua. Saya bahkan begitu mudah lupa dengan berbagai momen yang saya lewati saat kuliah dulu. Selama ini saya menggambarkan diri saya sebagai seorang pelupa. Lupa naruh barang, sering kehilangan sesuatu, lupa tanggal ultah teman. Lebih parah lagi, saat kuliah dulu….saya sering lupa dengan hal-hal sepele. Saya mengambil piring saat berniat menuang air minum dari teko,saya menuang shampoo di tangan saat hendak bersabun, saya mengeluarkan pasta gigi saat cuci muka. Dan banyak kekonyolan lainnya. Dan itu sering saya lakukan.

Belakangan saya sadar, hal-hal tersebut terjadi bukan karena saya lupa. Tapi karena saya tidak pernah ‘here and now’. Saat mau makan, saya ingat ada pekerjaan yang belum selesai. Saat hendak gosok gigi, tiba-tiba saya ingat ada janji ketemu yang harus segera ditepati, dan saya sudah terlambat. Saat mau makan, saya ingat seseorang di masa lalu, dan tiba-tiba saya kehilangan selera makan. Ah maaf, itu hal lain….

Intinya, karena saya tidak ‘here and now’, saya tidak pernah bisa fokus pada apa yang SAAT INI sedang saya kerjakan. Apapun. Ini yang menyebabkan saya sering jadi pelupa,dan hidup saya tampak kacau. Ini yang menyebabkan, saya sering tidak menikmati momen-momen yang sedang saya lalui. Termasuk saat shalat, seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya.

“Wherever you are, be there. If you can be fully present now, you’ll know what it means to live.”
― Steve Goodier

Sepakat dengan quote di atas, kita tidak akan pernah bisa benar-benar merasakan hidup kita, kalau kita tidak fokus dengan apa yang dihadapi saat ini. Seringkali saya tidak memahami suatu topik diskusi saat rapat, bukan karena saya tidak paham, tapi karena saya tidak fokus. Pikiran saya sering tidak berada di tempat yang sama dengan di mana badan saya sedang berada. Kacau.

“You’re cheating yourself out of today. Today is calling to you, trying to get your attention, but you’re stuck on tomorrow, and today trickles away like water down a drain. You wake up the next morning and that today that you wasted is gone forever. It’s now yesterday. Some of those moments may have had wonderful things in store for you, but you’ll never know.”
― Jerry Spinelli, Love, Stargirl

Hidup itu seperti sedang menikmati seporsi makanan. Pahit, asam, manis, asin dan apapun rasa makanan itu hanya bisa kita nikmati ketika kita memasukkan satu sendok makanan itu ke mulut kita. Kalau kita terlalu fokus pada masa lalu, itu atau masa depan, itu ibarat kita harusnya menikmati ayam goreng hari ini, tapi kita justru membayangkan rasa mie ayam yang kita makan kemarin, atau bakso yang baru ada besok. Maka jangan heran, kalau hidup seringkali rasanya hambar. Mungkin bukan karena hidup kita yang kurang citarasa, tapi karna hati dan pkiran kita tidak menikmati apa yang Tuhan hidangkan hari ini.

So, let’s enjoy every single moment we live in. Let’s being here and now. Let’s enjoy our life, and be happy each time.

Advertisements

4 thoughts on “Being Here and Now”

  1. tulisannya bagus mbak^^ akhir akhir ini saya juga tertarik dengan konsep zen dan mindfulness itu mbak. masih susah ya being always here and now hehe..tapi saya terus berlatih, setiap ingat langsung dilakukan hoho.
    ^^d

    1. Iya. Aku juga masih terus belajar, dan tetap belum berhasil here and now…. hehe. Mungkin bisa dimulai dg lebih sering naruh HP ya, terutama saat lagi interaksi dg orang lain 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s