Jangan Lupa(kan) Shalat


Pagi tadi, di mushola kantor. Seorang perempuan di balik mukena, berdiri di atas sajadah, tersedu. Khusyuk ia bermunajat. Atau berserah? Entah.

Persis di belakangnya, seorang perempuan lain dalam pose yang sama, tergesa bersujud. Perempuan itu saya.

Saya selalu iri (pun malu sebenarnya) pada orang-orang yang bisa khusyuk saat shalat. Bisa memaknai sebenar-benarnya apa, kenapa, dan bagaimana shalat itu. Bahwa shalat adalah jeda dari kesibukan dunia. Seperti halnya spasi pada sebuah kalimat, shalat menjadikan hidup lebih bermakna. Maka selayaknya jeda, ia tak boleh tergesa.

Bahwa shalat bukan sekedar kewajiban, tapi kebutuhan. Kebutuhan untuk ‘bertemu’ Tuhan, untuk mengistirahatkan hati dan pikiran, untuk sebentar saja diam. Shalat itu seharusnya menjadikan sabar, dan sadar.

Hai orang orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. – Al Baqarah:153

Maka beruntunglah mereka yang bisa shalat dengan sabar. Tidak seperti saya, yang selalu terburu-buru. Jangankan shalat….berjalan, makan, bicara, apapun aktivitasnya selalu saya lakukan dengan cepat. Seolah saya sudah tidak punya waktu lagi untuk melakukan itu semua. Akibatnya, saya sering kehilangan makna dari apapun yang saya lakukan, terutama shalat. Saya tidak bisa menikmati setiap detik yang saya lalui, tidak memberi waktu bagi tubuh untuk sekedar diam, menghela napas dengan tenang. Saya selalu terburu-buru, memburu waktu. Seolah pencapaian selalu lebih penting dari Tuhan. Dan setiap hari, saya menutup malam dalam kelelahan.

Saya tumbuh di generasi serba instan. Internet cepat, informasi yang hadir dalam satu kali klik, komunikasi sebatas sentuhan jari di layar, dan bahkan segala makanan kini dibuat instan. Semua berlomba menjadi yang tercepat. Berjalan pelan akan membawa kita pada ketertinggalan. Semua harus cepat tersaji, kadang harus sambil berlari. Melelahkan.

Dalam sebuah perjalanannya di Taiwan, Jason Mraz bertemu dua orang Zen yang mengajarkannya tentang meditasi.

“Zen is about sustaining a meditative state, trully living in the moment. Being artful in every breath. Meditation doesn’t always mean sitting in repose, with your eyes close for hours on end. Meditation can be while you walk, serve, cycle, sing, dance, cook, draw, drive…whatever.” – Jason Mraz

Can you hear the birds singing? If so, then you’re meditating.” kata salah satu Zen pada Jason Mraz, seperti diceritakannya dalam sebuah rekaman suara bertajuk “Can You Hear the Birds Singing?

“… By slowing down to the natural speed of our breath, we can again be present to the beautiful song of the birds, the sound of the winds, in tune with nature, at peace, where true loves are reside, when our heart are aligned with our mind , where body heals, and life is consciously enjoyed. At this phase one begin to see life and its all glory. At this phase, it’s easier to accept it.”

Meditasi itu seperti berdoa. Maka, belajar tentang meditasi mengingatkan Jason Mraz pada salah satu kawannya di Maroko, seorang Muslim. Ia melihat bagaimana sang kawan shalat lima kali setiap hari. Setiap selesai shalat, wajahnya menjadi tampak lebih bersinar dan bahagia. Tentu saja, karena ia shalat dengan khusyuk, dengan sepenuh hati. Ia tidak tergesa. Ia tidak terpaksa. Ia sadar sepenuhnya bahwa shalat adalah saat tubuh dikembalikan pada ‘default setting‘-nya…..yang tenang, tidak tergesa-gesa, tanpa prasangka, tanpa banyak hal (tak penting) di kepala. Bahwa Shalat, adalah saat kita mengembalikan tubuh pada fitrahnya…menjadi bahagia.

Jangan lupa shalat. šŸ™‚

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s