Do Not Procrastinate to Not Procrastinate


Aku menatap koper kecilku yang sudah terisi penuh barang. Sekali lagi mengecek, takut ada barang penting yang tertinggal. Hari ini Sabtu, jadwalku pulang untuk menjenguk kakak yang sedang menjalani kemo kesekian kali di Jogja. Kulihat jadwal tiket pesawat di tangan, tertulis 14.40. Beberapa teman sudah mengingatkanku untuk berangkat ke bandara lebih awal. “Takut macet,” katanya. Tapi berhubung ini baru jam 11, kupikir masih ada cukup waktu untuk ke Atrium Senen, mencari tutup kepala pesanan kakak. Lagian, aku belum pernah terlambat sampai bandara, selama ini aman-aman saja.

“Lain kali datang lebih awal ya, Mbak.” kata mbak-mbak penjaga check in counter berseragam merah. Warna yang sama dengan warna maskapainya. Ia dengan enggan mengambil tiket dari tanganku, lalu mengetikkan sesuatu di komputer yang ada di depannya. Aku berdiri di depan check in counter dalam kondisi setengah sadar, tanpa melihat jam. Baru beberapa menit lalu aku terbangun di bus DAMRI yang membawaku ke bandara dari stasiun Gambir. Mataku masih enggan terbuka, dan aku sedikit linglung.
“Mbak, maaf udah nggak bisa check in. Pesawat sudah mau boarding.”

“Loh…..”, aku diam sejenak. . . “Check in sampai jam 13.50 kan mbak? Ini kan baru jam…..” kulihat sekilas angka di jam dinding di atas kepala mbak berseragam merah.
“Ini sudah jam 14.15 mbak, pesawat sudah mau boarding.”
Aku bengong. Dengan sisa kesadaran yang ada, aku mencoba nego agar bisa tetap check in, atau minimal ganti jadwal penerbangan. Percuma. Pun jadwal berikutnya hanya ada di Minggu pagi, yang tidak mungkin kupilih karena aku harus kembali ke Jakarta sorenya.
Dengan langkah gontai, kuseret koper tuaku yang rodanya sering berdecit tanpa malu. Sambil sibuk mencari-cari maskapai lain yang punya jadwal penerbangan sore ini, aku terus memutar memori, “Kok bisa telat, ya?”
Belakangan aku baru ingat, aku terlalu siang berangkat. Jam 12.30 aku baru naik bus DAMRI. Itupun aku tidur pulas sepanjang jalan, tak begitu sadar ketika melewati kemacetan. “Duh…tau gitu tadi aku nggak ke Atrium Senen dulu. Hilang deh duit 500 ribu.” Aku mewek dalam diam dan penyesalan.

Ini bukan pertama kalinya aku rugi, entah rugi waktu maupun materi. Tesisku, misalnya, harusnya bisa selesai satu semester. Karena sering menunda-nunda waktu ngerjain tesis, aku harus nambah satu semester lagi. Dan karena aku terlalu sombong menolak perpanjangan beasiswa dari kampus, aku harus pinjam uang ke orang tua salah satu adek kelasku untuk membayar biaya kuliah semester keempat. Padahal penyebab masalahnya cuma satu, dan kupahami dengan jelas: aku sering menunda mengerjakan segala sesuatu!

“Do not put off till tomorrow what you can do today” – dikutip dari buku tulis Sinar Dunia, bagian bawah setiap halaman.

Pesan yang selalu aku ingat sejak SD, namun tak tak tahu apa artinya, tiba-tiba terpampang nyata di ingatan. Aku baru benar-benar paham apa maksud si pabrik kertasmencantumkan pesan tersebut di setiap halaman. “Jangan menunda sampai besok, apa yang bisa kamu kerjakan hari ini”. Terlalu sering menunda pekerjaan rupanya tak cukup baik untuk kesehatan… baik fisik, mental maupun keuangan.
Aku ingat betul, sekitar akhir tahun 2008 aku mulai sakit-sakitan. Berkat kesukaanku menunda-nunda, aku baru tahu tubuhku diserang bakteri TB di pertengahan 2010. Nggak kebayang kan, apa yang sudah bakteri lakukan pada tubuhku selama itu?

Rasanya sudah terlalu sering aku menunda-nunda melakukan sesuatu. Dari hal remeh-temeh, sampai seserius tesis. Dan aku yakin orang-orang sepertiku ini banyak. Menunda-nunda pekerjaan adalah penyakit (ke)banyak(an) orang. Kebiasaan menunda-menunda tugas/pekerjaan ini dalam ilmu psikologi disebut dengan prokrastinasi (procrastination).

Prokrastinasi berasal dari bahasa Latin “pro” dan “crastinus”. Pro berarti “maju atau seterusnya”, sedangkan crastinus berarti “besok”. Berdasarkan kamus oxford, prokrastinasi diartikan perilaku menunda suatu tindakan tanpa alasan yang baik. Bahkan dalam beberapa referensi, prokrastinasi diartikan sebagai perilaku menunda-nunda yang bersifat irasional.

“Defer action, especially without good reason” (Oxford English Reference Dictionary).

Biasanya, pelaku prokrastinasi ini lebih memilih melakukan aktivitas/pekerjaan yang tidak begitu penting, dibanding pekerjaan/tugas utamanya. Misalnya, saat seharusnya mengerjakan skripsi, aku tiba-tiba menjadi sibuk dengan aktivitas-aktivitas lain seperti membereskan kamar (karena kupikir kamar yang berantakan akan mengganggu saat mengerjakan skripsi), membuat teh panas, menyiapkan cemilan, dan sebagainya. Ketika kamar sudah ‘beres’, aku merasa kelelahan dan butuh untuk segera tidur….atau menyalakan TV. Itu terulang setiap hari. Baru benar-benar ngerjain skripsi ketika besok ada jadwal bimbingan. Duh.

Atau biasanya saat berniat mencari referensi jurnal online dari internet, ‘tanpa sengaja’ aku menemukan artikel-artikel menarik yang tidak berhubungan dengan materi skripsi. Yang lebih sering, tentu saja, niat mencari jurnal online berakhir dengan keasyikan mengakses media sosial, entah path, twitter, atau facebook. Aktivitas-aktivitas yang sebenarnya tidak dianggap penting ini dilakukan kemungkinan untuk menutupi rasa bersalah atas waktu yang terbuang karena tidak digunakan untuk mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.

“. . . anyone can do any amount of work, provided it isn’t the work he is supposed to be doing at that moment.” ~ Robert Benchley

Perilaku menunda melakukan pekerjaan penting biasanya terjadi karena kebanyakan kita adalah “pleasure seeker”. Ketika kita dihadapkan pada tugas yang ‘dianggap’ berat atau susah, alam bawah sadar kita akan mencari hal-hal yang menyenangkan untuk dilakukan, untuk ‘menghibur diri’. Sayangnya, kita sering kehilangan fokus, dan justru mengutamakan hal-hal menyenangkan tersebut, dan merubahnya menjadi aktivitas yang lebih penting untuk dilakukan dibanding tugas/pekerjaan utama kita.

Kecenderungan prokrastinasi ini sangat mungkin dimiliki setiap orang. Bahkan, hal ini sudah muncul sejak beberapa ratus tahun sebelum Masehi, misalnya disebut dalam sebuah sajak yang ditulis Hesiod, dari Yunani.

Do not put your work off till to-morrow and the day after; for a sluggish worker does not fill his barn, nor one who puts off his work: industry makes work go well, but a man who puts off work is always at hand-grips with ruin. (Works and Days, l.413)

Dalam sebuah jurnal penelitian berjudul The Nature of Procrastionation oleh Pier Steel (2007), disebutkan ada beberapa penyebab prokrastinasi, di antaranya:
1. Karakteristik tugas, yaitu apakah tugas membosankan atau tidak, sulit atau mudah, dan apakah ada reward dan punishment. Ini juga meliputi kapan deadline tugas tersebut. Biasanya semakin lama deadline suatu tugas, lebih besar kecenderungan seseorang menunda untuk mengerjakannya.
2. Karakteristik masing-masing individu, Individu yang berbeda bisa jadi memiliki tingkat prokrastinasi yang berbeda. Hal ini bisa berkaitan dengan disiplin dan kontrol diri, tingkat stres dan depresi, maupun tingkat ekstroversi. Ternyata dalam skala pengukuran depresi yang sangat terkenal, yaitu The Beck Depression Inventory (BDI), ada salah satu pertanyaan terkait prokrastinasi ini: “I put off making decisions more than I used to”.
3. Hasil dari pekerjaan yang akan dilakukan. Seseorang akan lebih termotivasi untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan ketika berharap bahwa apa yang akan dia kerjakan menghasilkan sesuatu yang cukup berharga untuk dirinya. Misalnya, kalau pekerjaan cepat selesai bisa pulang kantor tepat waktu, tidak perlu lembur.

Kalau melihat penyebab di atas, maka salah satu cara yang efektif (khususnya buat aku) menghindari prokrastinasi adalah dengan membuat “self reward”, dan tentunya didukung dengan disiplin diri yang baik. Misalnya, ketika sedang mengerjakan tugas dan muncul keinginan untuk ngetwit atau membalas chat whatsapp, kita bisa bilang pada diri sendiri untuk, “aku bisa twitter-an sepuasnya nanti kalau tugas ini sudah selesai.”

Cara kedua yang biasa aku lakukan adalah dengan mencatat tugas-tugas beserta deadline-nya, dalam sebuah To Do List. List ini bisa dibuat dalam bentuk harian, mingguan, atau bulanan, tergantung kebutuhan. Dari semua tugas yang kucatat, biasanya aku tandai mana saja yang paling utama untuk segera dikerjakan. Prioritasi ini penting, agar kita tahu tugas atau pekerjaan mana yang harus didahulukan. Selain itu, memiliki target-target pencapaian juga penting untuk mengingatkan kita pada tugas-tugas yang harus dikerjakan.

Karakteristik setiap orang berbeda, maka penyebab dan cara mengatasi prokrastinasi bagi masing-masing orang akan berbeda pula. Bisa jadi, apa yang aku lakukan di atas tidak berhasil buat beberapa orang. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan? Jangan menunda apa yang bisa kamu kerjakan saat ini. Dan yang penting, jangan menunda untuk ‘tidak menunda-nunda’ pekerjaan. 😀

Aku selalu ingat kutipan ini:
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu selama satu tahun, tanyakanlah pada seorang anak yang tidak naik kelas.
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu satu bulan, tanyakanlah pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu satu minggu, tanyakanlah pada editor majalah mingguan.
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu satu hari, tanyakanlah pada buruh harian yang punya enam anak.
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu satu menit, tanyakanlah pada seorang yang ketinggalan bus terakhir untuk pulang.
Kalau kau ingin tahu betapa berharganya waktu satu detik, tanyakanlah pada orang yang baru saja selamat dari kecelakaan…

Waktu terus berlalu, ia tidak menunggu. Bergegaslah…

Salam.

Advertisements

6 thoughts on “Do Not Procrastinate to Not Procrastinate”

    1. Nggak paham.

      Maksudnya tulisan yang benar harusnya ‘procastination?’ AKu juga selama ini mikirnya gitu, tapi udah cek beberapa jurnal ilmiah dan cek definisi, penulisan yang benar ‘Procrastination’ 🙂

  1. Sy yg keliru.. Maksudnya pertama saya komen menulis “procrastination” yg ter-“procrastinated”. Jadi menulis “procrasti…” dan “nation”-nya ditunda, dg alasan tulisan di atas adl ttg prokastinasi. Hehe
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s