Mari Berbagi Kenangan Masa Kecil


Hari Pertama Ramadhan, 1995

Bedug Maghrib bertalu. Anak-anak yang sedari tadi sudah resah memandangi menu buka puasanya di depannya, mendadak rusuh. Kata-kata ustadz yang menyuruh mereka tenang menyantap menu pembuka sama sekali tak digubris. Sebagian sibuk mengunyah tempe goreng, sebagian lagi memenuhi mulutnya dengan arem-arem berisi tahu, dan sebagian sisanya sibuk menyeruput teh panas dari plastik pembungkusnya. Suasana mengaji yang tadi tenang mendadak hiruk-pikuk. Ustadz dan para penjaga masjid yang sempat mencoba menenangkan anak-anak sepertinya mulai menyerah. Mereka mengambil menu buka puasa dan ikut menyantapnya, sambil sesekali menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak.

Aktivitas seperti ini akan terus terulang selama 30 hari ke depan, setiap menjelang buka puasa. Takjilan, begitu kami menyebutnya. Ini adalah salah satu aktivitas favorit anak-anak kampung setiap bulan Ramadhan. Selain karena kami akan dapat menu buka puasa gratis, kesempatan bertemu dengan seluruh anak kampung tentunya sayang jika dilewatkan. Isi ceramah ustadz bukan tujuan utama kami ikut takjilan. Toh kami akan segera lupa isi ceramahnya sesaat setelah bedug dibunyikan. Kecuali, tentu saja, jika ustadz menceritakan sesuatu yang lucu. Selain itu, kami yang masih duduk di bangku sekolah dasar biasanya dapat tugas mengisi aktivitas harian selama bulan puasa, di buku yang dibagikan guru agama. Buku menyebalkan itu harus diisi dengan semua aktivitas keagamaan yang kami lakukan selama bulan puasa. Mulai dari Sahur, Shalat 5 waktu, Mengaji, Shalat Tarawih, Tadarusan, hingga Shalat Jumat. Mengikuti takjilan tentunya menjadi salah satu aktivitas rutin yang akan kami tulis di buku harian, berharap tambahan nilai.

Buku harian ini jadi salah satu kenangan yang tak terlupakan, bahkan hingga sekarang. Buku inilah yang membuat saya pernah merasakan Shalat Jumat di masjid kampung. Waktu itu mungkin saya belum paham, Shalat Jumat hanya diwajibkan untuk anak laki-laki. Biasanya saya rajin mengisi buku harian ini di awal-awal bulan Ramadhan. Memasuki minggu ketiga, saya sudah mulai keteteran. Selain karena memang sudah mulai bolos Shalat Tarawih dan mengaji, pun saya mulai kehilangan semangat untuk mengisi buku itu. Biasanya, kolom-kolom aktivitas di minggu terakhir bulan puasa saya isi menjelang berakhirnya masa libur sekolah. Beberapa kolom ceramah sering hanya ditulis singkat dengan “Manusia tidak boleh sombong”, “Sabar itu penting”, atau bahkan diisi dengan rangkuman materi pelajaran agama yang ada di buku.

Bulan Ramadhan selalu jadi bulan yang ditunggu saat kecil dulu, sekaligus didoakan agar segera berlalu, terutama saat harus merasakan lapar dan haus yang menyakitkan. Seringkali saat lapar tak bisa ditahan, saya hanya bisa meringis memegangi perut yang melilit sambil menatap pohon-pohon bunga di halaman. Keluarga belum punya televisi kala itu, jadi tak ada hiburan yang bisa mengalihkan perhatian pada rasa lapar. Toh rasa lapar segera terlupakan ketika waktu Takjilan datang, berganti dengan kesenangan tertawa bersama teman-teman sebaya.

Setiap habis Subuh, kami biasanya jalan-jalan keliling kampung. Ini adalah Salah satu tradisi di bulan Ramadhan yang selalu saya rindukan. Menikmati detik-detik pergantian gelap menuju terang, sambil menyusuri jalanan kampung, dengan mukena yang masih melekat di badan. Sesekali kami berhenti di pohon manggis milik salah satu warga kampung, berharap ada buah manggis yang jatuh. Bahkan buah manggis yang kulitnya masih hijau sering jadi rebutan kala itu.

Jalan-jalan selepas Subuh, mengikuti Takjilan, jajan pecel dan gorengan di sela-sela Tarawih, pesantren kilat di sekolah, menikmati kolak buatan Ibu, menunggu dibelikan baju baru untuk lebaran, mengisi buku harian untuk tugas sekolah, dan banyak hal lain akan selalu saya rindukan dari momen Ramadhan saat anak-anak dulu. Hal-hal yang mungkin akan sulit saya alami dan rasakan saat ini, ketika saya sudah dewasa dan tinggal jauh dari rumah. Pun anak-anak sekarang, mungkin sudah tidak mengalami kesenangan-kesenangan yang saya alami dulu. Setiap Tarawih di masjid bulan Ramadhan tahun lalu, saya lebih banyak melihat anak-anak yang selfie dengan smartphone-nya di sela-sela Shalat Tarawih.

Time flies, people changes, memories stay. Setiap Ramadhan tiba saya pasti merindukan momen yang sama. Ada banyak hal lain yang juga sangat saya rindukan dari masa kanak-kanak saya di kampung. Hidup yang begitu santai, harmonis, menyenangkan, tanpa prasangka dan curiga, dan saya bisa tertawa sepuasnya…kapan saja.

Setiap orang pasti punya kenangan masa kecil yang sampai dewasa masih akan terus diingat. Buat saya pribadi, kenangan-kenangan itu tidak sekedar diingat, tapi juga jadi pengingat dan penyemangat. Kenangan akan momen Ramadhan, misalnya, selalu jadi penyemangat saya setiap menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan saat sudah dewasa seperti sekarang. Rasanya begitu ingin menuliskan setiap momen masa kecil saya, agar sampai tua nanti saya masih bisa terus mengenangnya.

“Menulis itu mengabadikan kenangan” – @nulisbuku

Buat teman-teman yang tertarik untuk mengabadikan kenangan masa kecilnya, bisa ikut lomba menulis yang sedang diadakan Komunitas Jendela. Masih ada waktu beberapa hari sampai tanggal 15 Januari 2015 untuk submit naskah. Akan dipilih 20 tulisan untuk dibukukan, dan hasil penjualan buku untuk donasi pendirian perpustakaan anak. Lihat poster di bawah, atau baca syarat dan ketentuannya di website Komunitas Jendela (link artikel lomba di sini).

Mari berbagi kenangan masa kecilmu. πŸ™‚

20150107-120005.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Mari Berbagi Kenangan Masa Kecil”

    1. Loh…kenapa harus malu? Anggap aja belajar nulis. Kita nggak akan pernah tahu bisa apa enggak melakukan sesuatu, kalo kita nggak pernah coba melakukannya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s