Kekerasan Pada Pasangan adalah Tindakan Kriminal


“Gimana caranya ngadepin suami yang suka main tangan? Kalau marah nampar atau nyekik gitu…..”

Seorang teman tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu via whatsapp di suatu pagi. Hari itu dia sedang curhat tentang permasalahan rumah tangganya. Kami pun akhirnya berdiskusi tentang anger management, beberapa hal yang saya sampaikan hanya mengulang dari apa yang pernah saya tulis di artikel berjudul Kelola Amarahmu. Intinya, anger management adalah soal pengendalian diri. Ternyata, diskusi ini justru memancing munculnya pertanyaan di atas.

Walah….nek duwe bojo ngono iku yo tak tinggal ae. Haha

Sesederhana itu pola pikir saya. Kalau punya suami suka main tangan, solusinya ya saya tinggal. Apalagi kalo sebelum menikah sudah ketahuan suka mukul, nggak mungkin saya ajak ke pelaminan. Buat saya, lebih baik menghabiskan hidup dalam tawa bahagia bersama keluarga dan sahabat-sahabat saya, meski tanpa pasangan. Daripada harus terus menderita dengan seseorang yang saya cintai sekalipun. Katanya mencintai, tapi sering menyakiti secara fisik (maupun verbal). Yakin cinta sekeji itu?

Sayangnya, hidup tak sesederhana itu. Banyak perempuan, maupun laki-laki, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang begitu sulit meninggalkan pasangannya meskipun sudah disakiti sedemikian rupa. Banyak alasan personal yang mungkin sulit dipahami orang lain (seperti saya). Alasan yang lebih banyak dipengaruhi pertimbangan emosi daripada logika. Justru karena pertimbangan emosi itu lah, alasan-alasan yang muncul kebanyakan subyektif dan sulit dipahami orang lain. Banyak juga di antara mereka yang takut dengan pasangannya, salah satunya mungkin karena diancam.

Saya barusan mencoba googling dengan kata kunci “Korban KDRT”. Banyak berita maupun gambar yang langsung membuat badan saya lemas, dan hati rasanya jumpalitan. Kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik maupun verbal, bukan tindakan yang bisa dibenarkan dengan alasan apapun. KDRT adalah tindakan kriminal.

Masih ingat dengan kasus Mayang Prasetyo yang dibunuh oleh pasangannya di Australia beberapa waktu lalu? Ini hanya satu dari sekian banyak kasus KDRT yang berakhir dengan kematian. Di Australia, ternyata kasus KDRT (atau disebut Family Violance) maupun kekerasan dalam pacaran (atau di sana disebut Intimate Partner Violance) berada pada tingkat yang cukup mengkhawatirkan. menurut The Australian Institute of Criminology (seperti dilansir dailylife), Satu orang perempuan di Australia meninggal setiap hari di tangan pasangan atau bekas pasangannya. Dari kasus KDRT tersebut, 73% di antaranya adalah pembunuhan perempuan oleh pasangan pria. Iya, pembunuhan! Bahkan, setiap tiga jam sekali, satu perempuan masuk rumah sakit karena KDRT. Ini serius. Serius nyereminnya. 😦

babak-belur-perempuan-amerika-minta-tolong-lewat-facebook

Perempuan di atas bernama Susann Stacy dan berasal dari Negara Bagian Kentucky, Amerika Serikat. Hari Jumat lalu, tanggal 3 Januari 2015, ia memposting wajahnya yang babak belur seperti itu di akun facebooknya, mencoba mencari pertolongan. Ia baru saja dipukul suaminya menggunakan gagang telepon dan mengancamnya dengan pistol. Beruntung ia sempat mengunggah foto dirinya di facebook, sehingga ia berhasil diselamatkan oleh polisi setempat. See? KDRT bisa seserius ini.

Masih ingat kasus seorang perempuan bernama Lisa, yang disiram air keras di wajah oleh suaminya? Ia sampai harus melakukan operasi wajah (face off) belasan kali, dan itupun tetap tidak bisa mengembalikan wajahnya seperti sedia kala. KDRT bisa saja hanya dimulai dengan kekerasan verbal (misalnya teriakan atau cacian), pukulan kecil di tangan atau tamparan di pipi. Tapi, KDRT sangat mungkin berujung pada cacat fisik dan mental permanen, bahkan kematian. Pelaku KDRT juga tidak melulu kaum adam. Perempuan sangat mungkin menjadi pelaku KDRT. KDRT juga tidak selalu dilakukan pada pasangan, tapi sangat mungkin dilakukan pada anak, kandung atau bukan.

Maka jika ditanya, “Apa yang akan kamu lakukan jika ternyata pasanganmu suka main tangan?” Jawaban pertama saya adalah, “Tinggal…. cari yang lain!” Soal saya belum tentu berhasil ‘mencari yang lain’, itu urusan belakangan. Bukan hal mudah untuk bisa merubah karakter seseorang yang telah terbentuk lewat proses dan pengalaman hidup bertahun-tahun, dari kecil hingga ia dewasa. Pilihannya adalah menerima seseorang apa adanya, dengan segala konsekuensinya… atau tidak memilihnya. Sayangnya dalam beberapa kasus, karakter abusive ini baru muncul ketika pasangan sudah menikah, dan bahkan memiliki anak.

Dalam buku berjudul “How to Avoid Falling in Love with a Jerk” karangan John Van Epp (Yup. I intentionally read that kind of book for this serious case :D), ada lima kategori penentu kebahagiaan pernikahan:

  1. Compatibility potential

Yaitu keseimbangan antara kesamaan dan perbedaan kepribadian, nilai-nilai, maupun ketertarikan antara kita dengan pasangan. Intinya, apakah kita merasa saling cocok satu sama lain.

  1. Relationship Skills

Meliputi kemampuan komunikasi, keterbukaan maupun penyelesaian masalah.

  1. Patterns from other relationships

Meliputi hubungan pasangan (atau calon pasangan) dengan orang lain, seperti teman-temannya, teman-teman kita, mantan, dll.

  1. Family pattern and background

Bagaimana pola hubungan di keluarganya, apakah ia berasal dari keluarga bermasalah atau tidak.

  1. Character and conscience traits

Meliputi kesehatan emosi dan kematangan pribadinya.

Kategori pertama dan kedua sangat mudah diketahui dari interaksi awal kita dengan pasangan (atau calon pasangan). Tiga kategori berikutnya kadang baru muncul justru setelah lama menikah. Maka, mengenali pasangan (atau calon pasangan) sedari awal sangatlah penting. Komunikasi yang baik dan saling terbuka harusnya sudah dibiasakan sedari awal. Ini menurut buku tersebut, tentu saja, karena saya belum menikah dan bahkan belum punya pasangan. Hehehe….

“Not until the last few centuries were planned marriages replaced by marriages where individuals chose partners based on romantic attraction and feelings of love.”

Keputusan menikah akhir-akhir ini lebih banyak didasari oleh keputusan hati, yaitu karena alasan perasaan cinta, namun seringkali mengabaikan pertimbangan-pertimbangan rasional lain. Untuk itu, keseimbangan dalam melibatkan hati dan pikiran dalam pengambilan keputusan sangatlah penting.

“It is possible to combine the resources of our mind with the passions of your heart. Doesn’t it make sense to use them both?” – John Van Epp

Sebuah video di bawah ini barangkali bisa menjadi pelajaran buat banyak orang, khususnya para lelaki. Ketika anak laki-laki berbagai usia dihadapkan pada seorang anak perempuan cantik, lalu diminta menamparnya….semua menolak. Ketika ditanya alasannya, jawaban mereka sungguh mengejutkan. Hampir semua mengatakan bahwa memukul anak perempuan adalah tindakan yang tidak benar. Ada yang menjawab, “Perempuan tidak boleh dipukul, bahkan dengan bunga sekalipun.” Dan salah satu menjawab tegas, “Why? Cause, I’m a man.” 🙂

 

“In the kid’s world, women don’t get hit” – Alessandro, 6 years old

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kekerasan Pada Pasangan adalah Tindakan Kriminal”

  1. iyuuh males banget sama cowo kasar. itu sih bukan cowo namanya. makanya aku bersyukur dijauhkan dari mantan *ehem* yang pernah maki2 aku. kekerasan verbal itu sama sekali ga bisa ditolerir 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s