Selamat Tinggal 2014!!


Suara cicit burung, angin yang menelisik dari sela-sela jendela kamar, suara napas keponakan yang masih tertidur pulas di sebelah saya, suara minyak panas bertemu jadah di dalam wajan, adalah warna pagi pertama saya di 2015. Tenang, damai, harmonis. Sangat kontras dengan 2014 yang penuh dengan hiruk pikuk dan ketergesaan.

Buat saya, setiap tahun istimewa. Selalu ada pelajaran-pelajaran berharga yang mendewasakan. Tahun 2009 saya harus belajar memilih, antara mimpi yang sudah dibangun jauh-jauh hari, dan kesempatan beasiswa S2 yang tiba-tiba datang tanpa diminta. Tahun berikutnya, saya diingatkan seseorang “Selesaikankah apa yang sudah kamu mulai”. Karena di tahun itu saya tersadar, pilihan yang saya ambil ternyata memang bukan yang saya inginkan. Saya pun belajar bertanggung jawab. Tahun 2011 adalah tahun yang cukup berat, karena saya harus belajar berkorban, sekaligus belajar memilih prioritas. Mimpi menjadi relawan sosial di pelosok negeri harus disimpan karena tak dapat restu orang tua. Padahal mimpi itu tinggal selangkah. Saya harus mengesampingkan ego mengejar mimpi-mimpi besar saya, memilih menjadi budak korporasi, bekerja minimal delapan jam sehari di depan komputer. Sampai akhir tahun 2012, saya seperti kehilangan arah. Saya kehilangan semangat untuk bermimpi. Saya menjadi orang yang sangat menyebalkan, bahkan bagi diri saya sendiri. Hingga akhirnya saya memutuskan mendirikan Jendela Jakarta. Di tahun ini, saya belajar membangun dan mewujudkan mimpi, bukan sekedar merencanakannya. Di tahun ini saya tersadar, bahwa mewujudkan mimpi adalah hak prerogatif saya.

Maka ketika mimpi belum terwujud, harusnya saya mencari cara bagaimana mewujudkannya, bukannya menyalahkan keadaan dan orang lain atas kegagalan saya mewujudkan mimpi saya sendiri.

“Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang” – Imam Syafii

Di tahun 2013, saya belajar percaya bahwa setiap perjuangan akan berakhir indah. Tahun pertama Jendela Jakarta berjalan dengan lancar, saya bisa mulai membangun rumah untuk keluarga seperti mimpi saya sejak kuliah, rencana travelling saya mulai bisa dijalankan, mulai bisa belajar motret, dan banyak hal lainnya. Meskipun di tahun itu juga, saya harus belajar merubah rencana yang sudah disusun begitu panjang dan rapi. Jika diibaratkan hidup ini seperti puzzle, keping-keping puzzle yang sudah saya susun dan mulai terlihat bentuknya tiba-tiba berantakan. Di akhir tahun 2013, Salah satu kakak saya terkena kanker stadium lanjut, dan saya lah yang ‘ditunjuk’ menjadi pengambil keputusan. Saat itu saya disadarkan, saya adalah tumpuan banyak orang. Jadi (lagi-lagi) saya harus belajar mengesampingkan ego dan mimpi-mimpi pribadi saya.
Tahun 2014 adalah tahun yang memorable buat saya. Di tahun ini saya belajar tentang arti kehilangan, dan melepaskan. Masih jelas di ingatan, pagi itu menjelang waktu sahur, 14 Juli 2014…. Ketika salah satu kakak saya menelpon saya yang masih tertidur, memberikan kabar singkat, “Mbak Sri wes nggak kuat, sing ikhlas yo.”

Saya terbangun, mengiyakan…lalu melanjutkan kabar ini pada kakak saya yang lain. Tidak setetes pun air mata keluar. Saya bahkan masih sempat menyiapkan sahur, mencari-cari info tiket untuk pulang, melempar canda di linimasa, mencoba melakukan berbagai aktivitas sambil menunggu Subuh. Saya sudah bersiap untuk sebuah kehilangan sejak pertama mendengar kabar kakak sakit. Justru ketika kehilangan itu datang, saya seperti orang linglung yang tak tahu harus bereaksi apa. Yang saya ingat, saya terus berucap dalam hati, “Jangan nangis!” Tangis baru benar-benar pecah ketika salah satu sahabat menelpon, menanyakan kondisi saya.
Seharusnya saya dan keluarga sudah terbiasa dengan kehilangan. Dua puluh tujuh tahun hidup tanpa kepala keluarga adalah persiapan yang cukup untuk kehilangan-kehilangan berikutnya. Tapi ternyata tidak seperti itu mekanismenya. Setiap kehilangan selalu menghadirkan sedih yang berbeda, luka yang tak sama.
Saya lupa, setiap kita membangun hubungan dengan siapapun (dan apapun), itu ibarat kita mengikat dua utas tali menjadi satu. Ketika kita membangun hubungan dengan orang (atau hal) yang berbeda, kita membuat sambungan baru. Bisa jadi sambungan baru ini berhubungan dengan sambungan yang lain, bisa jadi tidak. Maka ketika satu orang pergi dari hidup saya, rasanya seperti ada yang tercabut dari dalam diri saya. Bahkan meski saya sudah mempersiapkan diri, tetap saja rasanya sakit.

20150101-210635.jpg

Tapi saya percaya Tuhan selalu punya rencana baik untuk saya, bahkan meski rencana baik itu Dia bungkus dalam bentuk musibah dan kesedihan. Saya percaya segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, dan tujuan. Pun ketika tepat di malam terakhir di 2014, saya merasa disadarkan untuk melepaskan apa yang selama ini membuat saya ragu melangkah. Seseorang, yang sempat ingin saya tinggalkan, tapi rupanya masih tertahan. Kali ini, saya harus belajar melepaskan. Dua orang dengan takdir berbeda memang tak bisa dipaksakan bersama. Jalan kami sepertinya memang berselisih arah.

20150101-210735.jpg

Entah kenapa di hari pertama 2015 ini saya merasa begitu bersemangat. Setahun kemarin saya jalani hidup seperti air mengalir, pasrah saja dengan kehendak Tuhan. Melepaskan semua rencana hidup yang sudah saya susun, melepaskan mimpi-mimpi yang sudah mulai dibangun. Tahun ini saya ingin kembali membangun mimpi-mimpi saya, kembali menyusun keping-keping puzzle hidup saya satu per satu. Entah ada kekuatan apa di depan yang mungkin menghancurkannya kembali, saya tak peduli. Saya juga tak ingin sedetik pun menyesali tahun-tahun yang telah berjalan. Keputusan-keputusan sudah diambil, tak ada keputusan yang salah, menjadi (terlihat) salah ketika kita tak siap dengan konsekuensinya. Bahkan meski konsekuensinya adalah tidak disukai, bahkan dibenci, orang lain. Karena saya sadar saya tak bisa kembali ke masa lalu, yang bisa saya lakukan adalah menjalani hari ini dengan baik, dan lebih baik dari kemarin.

20150101-210834.jpg

Ada salah satu tweet sahabat saya hari ini yang menarik:

20150101-210925.jpg
Entah pesan apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan, tapi buat saya ini pengingat penting. Kita punya 12 bab, 365 halaman kosong, dan 24 baris lepas yang bisa kita isi apapun di sepanjang 2015. Berita baiknya, apapun yang kita kerjakan akan membawa kita pada bab 12 dan halaman ke-365. Bahkan meski kita hanya tidur dan melamun di sepanjang 2015. Tapi, yang menentukan apakah agenda 2015 kita akan bermakna atau tidak, justru ke-24 baris lepas itu. 😀

Selamat menjalani hari-hari di tahun 2015 ini dengan baik, dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Selamat mengisi 365 halaman di agenda 2015, dengan cerita-cerita yang menarik. Semoga di penghujung tahun nanti, lebih banyak senyum dan tawa yang hadir ketika membaca ulang bab demi bab, halaman demi halaman yang telah dilalui. Semoga kita tidak lupa bahwa setiap halaman punya 24 baris yang harus diisi. Isilah setiap barisnya dengan kebaikan, dan saling mengingatkan pada yang baik dan benar.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia benar benar berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran…” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Selamat tinggal 2014, selamat datang 2015. Mari tinggalkan kisah lama, dan bersiap menyambut kisah-kisah baru yang lebih seru.

Salam hangat. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Tinggal 2014!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s