Belajar Bersyukur


“Ke Plaza Semanggi ya, Pak!” ucapku sesaat setelah menutup pintu taksi si ‘Burung Biru’. Kulihat sekilas, seorang laki-laki yang kutaksir seumuran bapakku, dengan kulit gelap dan badan setipis papan, duduk di depan setir mengendalikan laju taksi. Argo ia nyalakan dalam diam, lalu pelan bertanya, “Mau lewat mana, Mbak?”
Aku merutuk dalam hati. Ini adalah tipikal sopir taksi yang paling kubenci. “Buat apa jadi sopir taksi kalau nggak tahu jalan?” batinku kesal.
“Enaknya lewat mana, Pak?” Aku tidak bermaksud menguji pengetahuan bapak tua ini. Kenyataannya, aku memang tak paham jalan.
“Lewat Cawang gimana, Mbak?” Bapak tua mencoba menawarkan solusi. Namun, melihat mukaku yang meragu, ia menawarkan pilihan lain. “Atau mau lewat Senen aja, Mbak? Mohon maaf, saya belum paham jalanan Jakarta.”

Aku terdiam sebentar, memaksa kemampuan otakku yang tak seberapa ini untuk berpikir. “Lewat Senen aja, Pak!”

Setelahnya aku diam. Mencoba membunuh rasa tak nyaman dengan bermain tablet di tangan. Biasanya, aku akan mengajak sopir taksi ngobrol ngalor-ngidul. Aku tak biasa duduk dalam satu mobil tanpa bicara, pun ketika duduk bersebelahan di kendaraan maupun tempat umum. Buatku, lebih baik mengobrol tanpa arah daripada harus saling diam, apalagi bermain gadget atau membaca di dalam taksi, karena kepalaku biasanya akan pusing. Tapi karena sudah terlanjur kesal dengan sopir yang tak tahu jalan, aku terpaksa memilih aksi bungkam.

Perjalanan Cempaka Putih – Sudirman kulalui dengan diam dan bermain gadget tanpa minat. Sampai akhirnya kami terjebak kemacetan, dan akupun tak tahan membuka percakapan.
“Sudah berapa lama di Jakarta, Pak?” ini adalah percakapan standarku ke setiap sopir taksi untuk memulai percakapan.
“Baru Mbak….baru seminggu.” jawab si bapak dengan logat Jawa yang cukup kental.

Sampai akhirnya kami hampir sampai di Plaza Semanggi, aku tahu bapak ini asalnya dari Sragen, istri dan kedua anaknya pun saat ini tinggal di Sragen. Beliau sudah 12 tahun kerja di Arab Saudi bersama istrinya. Istrinya jadi pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya, ia jadi sopir pribadi keluarga tersebut. Pasangan suami-istri ini hanya bisa pulang ke kampung halamannya setiap empat tahun sekali.
“Udah pernah umroh atau haji dong, Pak…kan deket dari sana?” tanyaku setelah tahu bapak ini beragama Islam.
“Iya, Mbak…Alhamdulillah. Umroh sudah 3 kali, haji sekali, dibayari majikan. Tapi ya…tetap belum mantep kalo belum berangkat dari sini…hehehe”
Aku tersenyum. Bahkan sesulit apapun hidup yang harus ia jalani sebagai TKI, masih ada yang bisa ia syukuri, bisa menunaikan kewajiban sebagai umat Muslim dengan mudah.

“Kenapa milih kerja di Jakarta, Pak?” tanyaku setelah bapak itu menyebutkan gaji yang ia terima selama bekerja sebagai sopir pribadi di Arab Saudi. Gajinya sekitar lima juta per bulan. Angka yang cukup tinggi, mengingat ia dan istri sama-sama bekerja di sana, dan biaya hidup hampir tidak ada. Tempat tinggal dan makan sudah disediakan majikan, bahkan termasuk biaya berobat jika sakit. Kalau pulang ke kampung halaman, tiket juga disiapkan oleh sang majikan, termasuk diantar sampai ke bandara.

“Istri sudah nggak betah di sana, pengin pulang. Ini sebenarnya saya sudah ditelpon diminta berangkat ke sana lagi,” katanya pelan. Aku terdiam.

Seenak apapun hidup di negeri orang, kampung halaman tetap tujuan pulang yang paling nyaman.

“Heran saya ini Mbak. Saya orang sini, tapi saya lebih paham jalanan di sana (Arab). Mau jalanan mblusuk kayak apa juga saya hapal. Di Jakarta ini saya pusing, Mbak. Kalau penumpangnya sabar sih nggak papa, Mbak….tapi kalau nggak sabar, aduh… Saya mending jujur kalau nggak tahu jalan, kalau memang penumpangnya mau turun ganti taksi silahkan, jadi sama-sama enak.”
Aku tertawa pelan. Tiga tahun tinggal di kota ini membuatku terbiasa dengan orang-orang yang minim rasa sabar. Bahkan mungkin tanpa disadari akupun sudah menjelma jadi yang demikian. Entahlah.

“Saya sudah hampir enam bulan nganggur. Saya pulang dari Arab lebaran yang lalu, akhirnya memutuskan kerja di Jakarta. Di kampung tak banyak pilihan…” si bapak berkata gamang.

Lagi-lagi aku terdiam. Jakarta memang bukan pilihan terbaik untuk ditinggali, tapi buat sebagian orang ia menawarkan banyak harapan. Seperti halnya bapak ini, dan juga sopir-sopir taksi lain yang kutemui. Tiga tahun tinggal di kota ini, dan sampai sekarang aku masih terus belajar mencintai. Padahal bisa dibilang aku lebih banyak merasakan enaknya Jakarta. Jarang kena macet, tak harus ikut berjejal di commuter line maupun transjakarta setiap hari, tidak tinggal di daerah banjir, lebih sering di ruangan ber-AC daripada kena panas dan debu, dan banyak kenikmatan lain yang harus disyukuri. Betapa sombong aku jika terus menuntut Tuhan memberikan pilihan lain. Betapa sombong aku yang terus mendikte Tuhan dengan pilihan yang kuanggap paling baik, padahal belum tentu itu yang paling kubutuhkan.

Semakin banyak cerita yang kudengar dari si bapak, rasanya semakin malu jika harus menggerutu. Tentang majikannya yang sering memberi perintah dengan nada kasar, tentang temannya sesama TKI yang meninggal karna sakit di Arab dan harus dikubur di sana, tentang beberapa teman TKWnya yang harus pulang membawa anak tanpa bapak (tentang ini si bapak berkali-kali konfirmasi, seringkali anak yang dibawa adalah hasil affair antara seorang pembantu dengan sopir yang juga berasal dari negara di luar Arab. Entahlah), dan banyak cerita lainnya.

Di sisa perjalanan menuju Plaza Semanggi, aku sudah tak lagi punya nyali untuk menggerutu. Pada macet yang tak berkesudahan, pada angka rupiah di argo yang sudah mendekati 100 ribu, pada sopir taksi yang sering ragu, pada hujan yang mendadak turun, pada HP yang ketinggalan sehingga aku kesulitan menghubungi teman-temanku. Rasanya semua kesulitan yang kualami hanyalah butiran debu dibanding kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang lain, termasuk bapak sopir taksi ini.

“Maaf ya Mbak jadinya harus memutar,” ada ketulusan yang kudengar saat bapak sopir taksi mengatakan kalimat itu, hanya karena dia tidak tahu pintu masuk ke Plaza Semanggi yang terdekat. Begitu turun dari taksi, aku bergegas menemui satpam di depan pintu masuk lobi, menanyakan letak mushola. Dari sudut mataku kulihat, taksi masih diam menunggu, baru beranjak ketika aku sudah berjalan masuk lobi. Tiba-tiba terselip rasa bersalah karena lupa nama si bapak. Doa tanpa nama, entah sampai atau tidak, “Semoga dimudahkan rejekinya, Pak. Kalau jadi menghubungi orang yang nawarin bapak jadi sopir pribadi seperti yang bapak ceritakan, semoga dia orang baik. Aamiin.”

Dan semoga, aku bisa terus belajar syukur dan sabar. ๐Ÿ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Belajar Bersyukur”

  1. Pengemudi blue bird memang diajarkan menayakan rute kepada tamu Itu adalah SOP mereka.
    SOP tsb dimaksudkan agar pengemudi tidak disalahkan ketika ada persepsi yang salah timbul dari pihak tamu. Jika tamu tidak menjwab apa yang ditanyakan pengemudi tentang rute tsb, maka SOP selanjutnya adalah menawarkan alternatif rute.
    Memang seharusnya pengemudi taxi hafal rute dan jalan2 di jakarta. Namun tidak mungkin bisa 100% menghafalnya. Apalagi pengemudi baru. Di sini baru bisa membedakan mana pengemudi yg bisa berkomunikasi (asertif) yang bagus atau tidak.
    Pengemudi taksi tidak hafal jalan sangat banyak. Demand terhadap taksi tidak pernah menurun, dan blue bird berusaha terus utk memenuhi demand tsb. Oleh karena itu perusahaan mem-push HRDnya untuk merekrut pengemudi sebanyak-banyaknya dengan kualifikasi yang tidak dipatok terlalu tinggi. Dalam proses rekrutmen, meng-asses kecenderungan perilaku kriminalitas lebih penting daripada asessment pengetahuan jalan. Karena komplain kriminalitas oleh pengemudi taxi akan sangat mencoreng brand image blue bird. Namun mereka juga terus-menerus melakukan pembinaan yang tidak berhenti utk meningkatkan pelayanan kepada tamu (dan juga pengetahuan jalannya).
    Oh iya, salah satu SOP yang lain yang harus dituruti oleh pengemudi adalah tidak memulai pembicaraan dg tamu. Namun jika tamu mengajak bicara, pengemudi harus menjawabnya dengan komunikasi yang baik.

    1. Wow…..nice info Mas.

      Soalnya ngga sekali aku diputer2in sopir taksi, jadi agak ‘trauma’ dengan pertanyaan “mau lewat mana?
      Tapi emang makin kesini pelayanannya makin oke sih.

      1. Jika memang ada kesengajan diputer2in komplain saja lewat email atau telepon. Kapan, dimana, dan siapa/no lambung berapa. Komplain akan diteruskan ke bagian operasional pool pengenudi tab dan kemudian dia akn diberi sangsi.

        Namun, jika pengemudi taksi telah menanyakan “lewat mana bu/pak?” lalu tamu tidak menjawab atau menjawab terserah, saat tamu merasa diputer2in dan kemudian si tamu komplain, maka cust-service hanya akan membalan komplain dg permohonan maaf, dan pengemudi tidak akan mendapatkan sangsi.

        Perhatikan saat saya menggunakan kata “pengemudi”, lebih enak didengar kan daripada “supir” :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s