Manuskrip yang Ditemukan di Accra


Paulo Coelho mengawali tulisan di buku ini dengan menceritakan sejarah penemuan lembaran-lembaran papirus di daerah Mesir, yang beberapa di antaranya dikenal juga sebagai Kitab-Kitab Apokrif. Pada tahun 1974, seorang arkeolog Inggris bernama Sir Walter Wilkinson menemukan manuskrip lain yang ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Ibrani, dan Latin. Manuskrip itu ditemukan di kota Accra, di luar wilayah Mesir. Buku ini ditulis Paulo Coelho berdasarkan salinan teks manuskrip tersebut, yang ia peroleh dari anak sang arkeolog.

Alih-alih menuliskan kembali isi manuskrip itu dalam format Alkitab yang mungkin buat beberapa orang membosankan, Paulo Coelho menyusun buku ini dengan cukup cerdik. Mengambil setting cerita di Yerusalem tahun 1099, dikisahkannya bagaimana sekelompok orang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata bijak dari seseorang yang disebut Guru. Lewat tokoh Guru inilah, Paulo Coelho menyisipkan pesan-pesan tentang keindahan, cinta, bagaimana mengatasi rasa takut, kekalahan, kebijaksanaan, dan lain-lain.

Lalu tetanggaku Yakob berkata:

“Ajari kami tentang kekalahan.” (hlm. 23)

Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri.” Demikian sang Guru menjawab.

Tentu tak sesingkat itu jawaban Guru. Setiap pertanyaan dan permasalahan dijabarkan dengan apik oleh Paulo Coelho, lewat tokoh sang Guru. Ada sekitar 20 pertanyaan atau tema yang dibahas di buku ini. Tapi pelajaran yang bisa kita dapatkan dari buku ini jauh lebih banyak dari itu. karena seperti buku-buku sebelumnya, setiap kalimat yang ditulis Paulo Coelho hampir selalu quotable. Membaca buku Paulo Coelho seperti membaca puisi yang diprosakan. Setiap kata dipilih dengan hati-hati, lalu disusun menjadi kalimat yang indah dan menggugah. Namun seperti halnya puisi, ada banyak kata dan kalimat yang maknanya tersirat, bukan tersurat. Sehingga di beberapa bagian, kita perlu mengerutkan kening dalam-dalam agar mampu menangkap maknanya. Khas Paulo Coelho.

“Di mata Tuhan, tak ada yang tak berguna di dunia ini. Sehelai daun yang jatuh dari pohon, seutas rambut dari kepalamu, bahkan serangga yang mati pun bukannya tak berguna. Segala sesuatu mempunyai alasan untuk hidup.”

Itu adalah jawaban Guru ketika ada yang merasa dirinya tak berguna. “Jangan berusaha untuk berguna. Berusahalah menjadi dirimu sendiri; itu sudah cukup, dan itu saja sudah membuat perbedaan besar.” Menarik. Membaca bagian ini membuat saya tertampar, karena selama ini saya sering merasa bersalah ketika menganggap diri saya kurang berguna buat orang lain. Padahal setiap makhluk diciptakan Tuhan dengan perannya masing-masing. Dengan menjadi diri sendiri saja kita sudah berhasil menjalankan peran yang diamanatkan Tuhan pada kita saat dilahirkan. Tak perlu memaksa diri menjadi orang lain, hanya agar kita dilihat ‘baik’ atau berguna.

“Keindahan ada pada perbedaan, bukan keseragaman. Siapa bisa membayangkan jerapah tanpa lehernya yang panjang, atau kaktus tanpa duri-durinya? Puncak-puncak gunung yang mengelilingi kita tampak begitu megah justru karena tinggi-rendahnya berbeda-beda. Kalau semuanya kita pukul sama rata, hilanglah kekaguman kita pada mereka.

Justru yang tidak sempurna itu yang membuat kita takjub dan terpikat.” (hlm. 72).

Jawaban yang tepat menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini. Bagi sebagian orang, perbedaan tidak dilihat sebagai keindahan, tapi justru ancaman. Sehingga ada beberapa kelompok orang yang memaksa orang lain harus sama dengan apa yang mereka yakini sebagai suatu kebenaran. Padahal seperti kata sang Guru di atas, keindahan justru ada pada keragaman, bukan keseragaman.

Buku terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama setebal 200 halaman ini sangat menarik untuk dibaca dan dikoleksi. Setiap tulisannya selalu terselip pesan-pesan kehidupan yang bermanfaat. Dengan ketebalan seperti itu, buku ini cukup ringan untuk dibawa kemana-mana. Tentu saja, membaca buku Paulo Coelho harus menyiapkan otak berpikir lebih keras, agar mampu menangkap pesan-pesannya yang banyak tersirat. Berita baiknya, setiap bab dalam buku ini tidak saling terikat satu sama lain, sehingga kita bisa membaca secara acak dan memilih bagian mana yang kita mau baca terlebih dahulu. Menurut saya, ini adalah buku yang paling ‘ringan’ di antara buku-buku Paulo Coelho yang lain.

So, selamat membaca dan memetik banyak pelajaran berharga dari buku ini. Barangkali, setelah membaca pesan-pesan dari sang Guru di buku ini, hati kita akan lebih damai. Barangkali…. 🙂

“Apakah kesuksesan itu? Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.” – Paulo Coelho

Advertisements

2 thoughts on “Manuskrip yang Ditemukan di Accra”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s