Everyone Deserves Happiness


Beberapa hari terakhir, saya sedang gemar menonton video-video dari TEDTalks. Technology, Entertainment, Design (TED) merupakan sebuah lembaga nonprofit asal California, yang ditujukan untuk Ideas Worth Spreading melalui konferensi. Kumpulan video rekaman konferensi TED selama beberapa tahun silam yang disajikan secara online disebut TEDTalks, seperti nama akun online-nya di youtube maupun twitter. Banyak video-video inspiratif dan bermanfaat yang bisa kita tonton, dalam beragam kategori tema. Pada awalnya, tema yang diusung TED memang hanya tentang Teknologi, Hiburan maupun Desain, seperti nama organisasi tersebut. Namun sampai saat ini, sudah banyak tema-tema lain yang diusung dan diunggah di akun youtube TEDTalks. Dari sekian banyak video yang telah saya tonton, ada salah satu video yang menurut saya sangat berkesan. Video ini bertajuk “My Philosophy of a Happy Life”, yang dibawakan oleh Sam Berns.

Sam adalah seorang pemuda dari Massachussett, yang saat video ini dibuat baru menginjak usia 17 tahun. Sam adalah penderita Progeria atau penyakit penuaan dini.

Progeria merupakan suatu penyakit genetik yang disebabkan oleh mutasi (perubahan) gen. Penderita penyakit ini mengalami penuaan dini dengan kecepatan yang berkisar 4-7 kali lipat dari proses penuaan normal. Artinya, pada usianya yang ke-17, Sam memiliki tubuh seperti seseorang berusia sekitar 70 tahun, bahkan bisa lebih tua. Menariknya, sejak kecil Sam bercita-cita menjadi pemain perkusi dalam sebuah grup marching band. Saat itu ia belum masuk SMA, dan berat badannya hanya sekitar 50 pon (atau 25 kg). Dengan keterbatasan fisik yang dia miliki, ia bersama ibunya serta seorang engineer berhasil membuat alat yang dipasang di badan Sam berikut snare drum khusus yang hanya seberat 6 pon, sehingga dia bisa mengangkat alat tersebut dan memainkannya. Sam yakin bahwa ia mampu mewujudkan mimpinya bermain perkusi, seperti juga ia percaya bahwa ia mampu mewujudkan mimpi-mimpinya yang lain.

“I was able to accomplish my dream of playing snare drum with the marching band, as I believe I can do for all of my dreams.”- Sam Berns.

Dalam sebuah wawancara radio – seperti diceritakan Sam dalam video tersebut – ia pernah ditanya, “Apa hal terpenting yang perlu diketahui orang-orang tentang kamu?”

“I have a happy life,” jawab Sam.

Dari sekian banyak hal yang dia bisa ceritakan pada dunia, Sam memilih menyampaikan bahwa hidupnya bahagia (dengan penyakit yang ia derita). Di saat banyak orang di dunia ini (yang sehat dan baik-baik saja) lebih memilih menuliskan kesedihan dan kegalauan yang sedang dialami di media sosial – (mungkin) agar dunia tahu hal buruk apa yang sedang ia alami atau rasakan.

photo

Ada tiga aspek filosofi kebahagiaan seorang Sam Berns yang ia sampaikan dalam video tersebut. Pertama, Terimalah hal-hal yang memang tidak bisa kita lakukan, karena masih banyak hal-hal lain yang bisa kita lakukan. Seringkali kita terlalu fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan, sehingga seolah kita hanyalah manusia tidak berguna yang tidak bisa melakukan apa-apa. Bagi seorang Sam, banyak hal yang bisa ia lakukan, meskipun beberapa butuh penyesuaian khusus, seperti dalam cerita alat perkusi di atas.

“Sometimes I need to find a different way to do something by making adjustments, and I want to put those things in the “can do” category.” – Sam Berns.

Kedua, kelilingi hidup kita dengan orang-orang yang kita inginkan. Orang-orang tersebut bisa saja keluarga, sahabat, rekan kerja, teman komunitas, guru, dan siapapun yang hadir dalam hidup kita. Kita berhak memilih, siapa di antara orang-orang tersebut yang akan menjadi orang terdekat dalam hidup kita, dan selalu memberikan support positif bagi kita. Keberadaan orang-orang terdekat akan menjadi sumber kebahagiaan yang penting bagi setiap orang. Seperti yang diungkapkan Sam dalam presentasinya, “I feel like I’m at my highest point when I’m with the people that surround me every day. They provide the real positive influences in my life, as I hope I can provide a positive influence in theirs as well.”

Ketiga, Teruslah bergerak maju. Ada satu quote dari walt disney yang dikutip oleh Sam, dan menjadi salah satu panduan penting bagi hidupnya. photo(1)

“I always try to have something to look forward to. Something to strive for to make my life richer. It doesn’t have to be big. It could be anything from looking forward to the next comic book to come out, or going on a large family vacation, or hanging out with my friends……”

Bagi Sam, lebih baik memikirkan hal-hal yang ada di depan dibanding fokus pada masa lalu. Memikirkan masa lalu, apalagi masa lalu yang kurang menyenangkan, hanya akan membuat kita terjebak pada energi negatif yang akan menghambat kebahagiaan dan emosi positif lain hadir dalam hidup kita.

“I try hard not to waste energy feeling badly for myself, because when I do, I get stuck in a paradox, where there’s no room for any happiness or any other emotion.”

Buat saya, sebuah quote dari Einstein yang cukup terkenal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Sam di atas. “Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” Dan bagi seorang Sam, kebahagiaan ada ketika ia terus bergerak maju, bukan berjalan ke belakang.

Sebuah video yang sangat menarik, dan sangat layak untuk ditonton. Sam tidak hanya menunjukkan dirinya seseorang yang bahagia, tapi juga memiliki kemampuan presentasi yang hebat. Saya belajar banyak dari seorang Sam Berns. Dan belajar dari TED, saya ingin apa yang saya pelajari ini juga bisa kalian – pembaca blog saya – pelajari juga. Satu hal yang menurut saya juga penting untuk dipelajari dalam konteks kebahagiaan, yang tidak dikatakan Sam, tapi secara jelas ditunjukkannya: Bersyukur.

Cause gratitude will lead you to the ultimate happiness. And everyone — regardless their skin colour, race, nation, religion, social economy status, disability, or anything — deserve happiness. It’s including you, who deserve to be happy, even for any(bad)thing happen in your life. 🙂

Salam.

Advertisements

5 thoughts on “Everyone Deserves Happiness”

    1. Ahaha, makasih koreksinya…nanti direvisi 😀

      Btw lupa kutulis, Sam ini juga dibuat film dokumenternya sama HBO, judulnya “Life According to Sam”

      Meet the Robinsons aku belum nonton….huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s