Maaf….


“Kalau minta maaf berguna, buat apa ada kantor polisi?” ~ Tau Ming Tse

Quote ini saya dapatkan dalam salah satu perbincangan sebuah grup whatsapp. Setelah sebelumnya salah seorang anggota grup, bertanya “Apakah minta maaf menyelesaikan luka hati?”

Pertanyaan ini terus terang berhasil menampar saya begitu keras. Apalagi, malam sebelumnya, saya baru saja mengirim sebuah pesan singkat untuk seseorang yang (mungkin) hatinya saya lukai. Sebuah kata sederhana yang buat orang lain tidak bermakna apa-apa, tapi buat saya sangat dalam maknanya, “Maaf”.

“Seringkali, sekedar kata maaf tidak menyelesaikan sebuah permasalahan”

Iya, saya paham. Pun setiap kata maaf yang saya ucapkan, selalu dibarengi perasaan bersalah yang entah kapan hilang. Saya adalah seseorang yang lebih memilih jujur untuk banyak hal, dan bahkan menjadikannya sebagai prinsip hidup. Meski belakangan saya sadar, kejujuran saya sering terlalu menyakitkan buat seseorang. Maka konsekuensinya, saya harus punya stok maaf yang tanpa batas (termasuk maaf untuk diri saya sendiri). Tak peduli meski orang lain menganggap bahwa permintaan maaf saya tidak bisa mengembalikan keadaan, dan bahkan tidak akan mengubah apapun. Tapi setidaknya dengan meminta maaf, saya sadar sepenuhnya bahwa saya telah melakukan kesalahan. Dan sebagai manusia pembelajar, saya berharap tidak akan mengulangi kesalahan itu pada orang lain. Dengan meminta maaf, saya sadar bahwa saya lah yang salah, bukan orang lain. Maka orang yang saya sakiti berhak marah pada saya, berhak membenci saya, bahkan berhak pergi menjauh dari kehidupan saya. Saya paham, dan mau tidak mau harus siap dengan konsekuensi itu.

“Right actions in the future are the best apologies for the bad actions in the past” ~ Tryon Edwards.

Tentunya saya tidak bisa memperbaiki kesalahan saya di masa lalu jika saya tidak sadar, atau bahkan tidak mau mengakui, kesalahan itu. Dengan meminta maaf, saya belajar menerima kesalahan yang sudah saya lakukan, lalu melakukan perbaikan. Jadi, siapa bilang minta maaf tidak berguna? Minta Maaf sangat berguna kok. Bahkan meskipun kata maaf tidak menyelesaikan masalah, setidaknya minta maaf berguna untuk diri kita sendiri.

Dalam ilmu Psikologi dikenal istilah subjective well-being, yang merupakan salah satu indikator penting kesehatan mental seseorang. Subjective well-being kurang lebih adalah perasaan nyaman terhadap diri sendiri, atau dalam bahasa saya : bagaimana kita bisa bahagia dengan diri kita sendiri. Salah satu faktor penting penentu subjective well-being, atau kebahagiaan, seseorang adalah bagaimana ia bisa menerima dirinya apa adanya. Ini disebut juga dengan penerimaan diri (self acceptance). Mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri adalah bagian dari penerimaan. Menerima kekurangan/kesalahan diri sendiri, lalu (kalau dianggap perlu) memperbaikinya adalah jalan menuju bahagia. Setidaknya itu yang saya simpulkan.

Maka, sekali lagi, buat saya meminta maaf adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Bahkan meski tidak ada yang meminta saya melakukannya. Saya akan tetap minta maaf ketika saya merasa bahwa saya telah melakukan kesalahan. Bahkan meski orang akan menganggap saya berlebihan dan kata maaf saya tak ada gunanya. Itu adalah salah satu cara menunjukkan betapa tidak sempurnanya saya.

Bahkan meski ketidaksempurnaan bukanlah sebuah kesalahan. Sorry, I can’t be perfect…..

(Tulisan ini didedikasikan untuk siapapun yang pernah saya sakiti. Maaf, untuk setiap ‘maaf’ yang belum sempat terucap. Maaf, karena hanya minta maaf yang bisa saya lakukan. Maaf, untuk apapun hal buruk yang pernah saya lakukan…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s