Belajar Bertanggung Jawab


Beberapa waktu lalu saya berkesempatan datang ke Yayasan Tzu Chi, sebuah yayasan Budha yang ada di Jakarta Utara. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke tempat tersebut, dan sempat terheran-heran melihat bangunan yang cukup besar dan indah, dengan simbol patung Budha di bagian depan gedung. “Menarik,” kata saya dalam hati.
Saya sampai tempat tersebut sekitar jam tujuh. Terlalu pagi untuk mengunjungi sebuah kantor yang jam kerjanya baru mulai jam sembilan. Driver yang menjemput saya pun berinisiatif mengantarkan saya ke kantin yang ada di basement. “Sepatunya dilepas ya, Mbak. Hehehe….seperti di masjid.” kata bapak driver yang menjemput saya, sambil tersenyum, sesaat sebelum memasuki area kantin. Saya ikut tersenyum, lalu bergegas melepas sepatu sebelum menginjakkan kaki ke lantai kantin yang bersih dan dingin. “Menarik,” lagi-lagi hati saya berkomentar.
Setelah menunggu sekitar satu jam, kantin baru buka. Menu yang terhidang baru ada mie dan bihun goreng, serta air lemon. Entah kenapa saya teringat menu sarapan saya di sebuah warung makan pinggir jalan di kawasan Chinatown, Singapore, beberapa waktu lalu. Bihun goreng dan air lemon, perpaduan yang cukup ‘unik’ bagi lidah jawa saya yang terbiasa minum teh panas saat sarapan.
“Mbak, berapa?” kata saya di depan kasir sambil membuka dompet, setelah menghabiskan seporsi bihun goreng. Beruntung, sebelum satu kata pun keluar dari mulut mbak-mbak manis penjaga kasir, mata saya tak sengaja membaca sebuah tulisan yang tertempel di dinding, “Piring & gelas bekas makan harap dicuci sendiri”. Saya sebenarnya lupa, tulisan persisnya seperti apa. Tapi saya ingat betul, dengan sedikit malu saya bergegas mengambil piring & gelas di atas meja bekas saya makan, lalu menuju tempat pencucian peralatan makan.
Seingat saya, ini adalah tempat makan pertama saya di Indonesia yang meminta pembeli membersihkan sendiri bekas makannya. Biasanya, pembeli meninggalkan piring dan gelas kotor di atas meja begitu saja, lengkap dengan sampah makanan dan saos yang berceceran di atas meja. Jangankan di tempat makan yang kita memang bayar, seringkali saat makan di kantor atau di rumah, kita dengan santai meninggalkan piring dan gelas kotor di meja, lalu menyuruh OB atau asisten rumah tangga untuk membersihkannya. Saya jadi ingat, dulu saat masih kuliah di Yogyakarta, saya pernah tinggal di sebuah kos putri yang mayoritas penghuninya cukup malas untuk mencuci piring. Peralatan masak/ makan bekas seringkali ditinggal begitu saja di tempat cuci piring, berhari-hari sampai berjamur. Beberapa kali saya mencuci peralatan makan kotor yang entah-milik-siapa itu, dan perilaku pemiliknya tak jua berubah.

Ini sebenarnya bukan hanya soal kebersihan semata. Ini soal tanggung jawab. Betapa banyak di antara kita , termasuk saya tentu saja, yang terlalu malas untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan. Sekecil apapun itu. Kalau sekedar mencuci piring bekas makan saja enggan, apalagi bertanggung jawab pada hal yang lebih besar?
Perilaku kurang bertanggung jawab ini juga sering saya temui di toilet, entah itu toilet di kantor, mall ataupun di tempat umum. Seringkali saya dibuat gemas saat hendak menggunakan toilet. Beberapa orang – tak jarang perempuan cantik dengan penampilan rapi dan bersih – dengan cueknya keluar dari toilet, meninggalkan kloset bekas ia pakai dalam kondisi basah ataupun kotor. Padahal bisa jadi, di depan toilet ada orang lain yang sudah antri akan menggunakan kloset tersebut. Meski ada cleaning service yang bertugas menjaga kebersihan toilet, tidak ada salahnya selesai menggunakan closet, kita bersihkan dulu closet tersebut dengan tisu, sebelum ada orang lain yang akan menggunakannya. Me-lap dudukan closet dengan tisu tidak akan menurunkan level kecantikan sedikitpun kok. Serius.

“Eventually we all have to accept full and total responsibility for our actions, everything we have done, and have not done. ”
― Hubert Selby Jr., Requiem for a Dream

Manusia biasa seperti saya memang sering lupa, bahwa hal-hal besar selalu dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Rasa cinta yang begitu dalam, mungkin tadinya hanya berawal dari sebuah senyuman, yang (barangkali) tak disengaja. Sebuah buku tebal, selalu diawali dari satu kata, yang lantas menjelma menjadi jalinan kalimat bermakna. Bahkan sebuah lagu yang indah, sangat mungkin hanya bermula dari satu nada saja.
Pun begitu halnya dengan kebaikan. Kebaikan besar seringkali dimulai dari hal-hal sederhana. Maka kalau kita ingin menjadi seseorang yang bisa bertanggung jawab, cobalah mulai bertanggung jawab pada hal-hal kecil terlebih dulu. Membuang sampah di tempat sampah, mencuci sendiri piring dan gelas bekas kita pakai, membersihkan meja kantor sebelum pulang, membersihkan dudukan closet setelah kita pakai, atau sekedar mengembalikan barang yang kita pakai ke tempatnya semula. Karna persis seperti kata Hubert Selby di atas, kita bertanggung jawab pada apapun yang sudah (atau bahkan belum) kita lakukan. Apapun.

Advertisements

One thought on “Belajar Bertanggung Jawab”

  1. Setuju banget Prienz, andaikan semua kita warga SeNusantara ini mau bertanggung jawab untuk apapun yg kita gunakan dan yg akan kita gunakan Insya Allah tanah air kita tdk secarut marut sekarang minimal Tanah dan Air kita nyaman unt kita lihat dan manfaatkn. Di sekolah lebih mudah melatih siswa2 TK-SD tertib buang sampah dan mengembalikan barang pd tempatnya dibanding orang dewasa disekitar anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s