Sederhananya Berbagi


Beberapa kali saya berjumpa dengan seseorang yang punya prinsip, “Saya pengin jadi orang kaya biar bisa berbagi.” Saya tentu senang dan mendukung orang-orang seperti ini. Apalagi kalau semua orang kaya di dunia ini punya prinsip, ‘mau membantu orang tak mampu karena punya materi berlebih’. Betapa dunia ini akan menjadi dunia ideal yang saya idam-idamkan.

Sayangnya, dunia ideal itu biasanya hanya ada di angan-angan. Hampir tidak ada di dunia ini yang bisa memenuhi 100% keinginan kita. Saya ingin semua orang saling peduli, saling berbagi, tidak ada yang saling membenci dan mencaci-maki. Tapi karakter setiap orang kan berbeda-beda. Ada yang senang berbagi, ada yang tidak. Ada yang bicaranya lemah lembut, ada pula yang kasar dan mudah memaki. Saya ingin selalu jadi orang baik yang mau berbagi, tapi bahkan saya sendiri tak bisa menjamin apakah karakter ini akan terus bertahan di diri saya atau berubah suatu hari nanti. Time flies, people changes, problems come and go…and some stay! Setiap orang akan terus berubah dari sejak lahir sampai dewasa, tua, atau bahkan mati. Tidak ada orang yang sama persis dari pertama lahir sampai apa adanya ia sekarang. Ada yang berubah secara drastis, ada yang perubahannya sangat minor sehingga tak banyak yang mengenali. Tapi, perubahan itu pasti ada. Baik berubah jadi lebih baik, atau sebaliknya. Waktu kecil saya mudah sekali nangis & merajuk, sekarang sudah berkurang. Waktu kecil saya bisa menertawakan banyak hal, sekarang saya bisa bedakan mana tawa yang tulus mana yang sekedar basa-basi. Waktu kecil saya suka makan nasi, sekarang pun sama. Tapi nasi yang dulu saya rasa bisa jadi berbeda dengan yang saya rasa sekarang.

“Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri (Nothing endures but change)” – Heraclitus

Itulah kenapa saya lebih suka melakukan apa yang saya inginkan sekarang, sepanjang itu baik untuk dilakukan, di waktu sekarang…bukan nanti-nanti. Kalau sekarang saya punya keinginan berbagi untuk orang lain, kenapa harus menunggu kaya dulu? Apa iya saya akan benar-benar kaya seperti yang saya inginkan? Apalagi ukuran ‘kaya’ itu sangat personal. Teman saya yang sudah punya mobil dan apartemen masih sering mengeluh karena duitnya tidak cukup untuk beli barang-barang bermerek setiap bulan. Teman saya yang lain terus menabung agar bisa pergi ke tempat yang dia mau kunjungi, padahal minimal sebulan sekali dia pergi ke tempat baru. Ada orang yang belum bisa berangkat haji karena (katanya) gaji bulanannya hanya lima juta saja. Eh, di suatu kampung yang tak bergitu terkenal, ada penjaga sekolah bergaji 600 ribu per bulan yang bisa menabung untuk naik haji. Ada lagi seorang supir pribadi yang bisa menghidupi puluhan anak yatim dari gaji bulanannya yang tak seberapa. Di antara orang-orang yang saya sebut, mana yang lebih kaya?

Apalagi, kalaupun suatu hari nanti saya kaya-raya (secara materi), apa iya saya masih punya keinginan untuk berbagi? Saya sendiri tak bisa jamin. Memang benar kalau kita punya materi lebih banyak, kita juga bisa berbagi lebih banyak. Tapi jangan lantas jadikan itu sebagai alasan untuk kita menunda keinginan berbagi. Waktu yang paling tepat untuk melakukan hal baik itu sekarang. Sekali lagi: Sekarang!

Banyak orang yang berpikir bahwa “berbagi” itu selalu berhubungan dengan materi. Banyak yang mengira, membantu orang lain itu harus dengan uang dan benda-benda fisik lainnya. Padahal, dengan menulis di blog seperti sekarang, saya sudah berbagi pemikiran…dan mungkin inspirasi. Saya sangat senang berdiskusi dengan orang lain, dan itu salah satu cara saya membagi (dan memperoleh) pengetahuan. Saya dengan senang hati mendengarkan curhatan beberapa teman, dan itu cara saya membagi waktu saya untuk membantu orang lain. Bagi beberapa orang, uang seratus ribu mungkin tak berarti banyak. Bahkan di beberapa café atau restoran fancy, seratus ribu tak cukup untuk sekali makan. Buat saya, uang seratus ribu sudah bisa saya gunakan untuk membeli bahan ajar, dan menjadikannya materi yang menarik dan bermanfaat untuk anak-anak di perpus Jendela. Bahkan beberapa kali, saya mengajar tanpa modal sepeser pun.

Saya cuma mau bilang, berbagi itu sederhana. Sesederhana kita berbagi waktu saat mendengar orang lain bercerita, membantu nenek-nenek menyeberang, menahan pintu lift saat ada yang ingin masuk, memberikan kursi kita pada ibu hamil di kendaraan umum, atau bahkan sekedar tersenyum pada orang yang kita jumpai. Menyumbang lima puluh ribu untuk bencana tidak lantas membuat kita miskin kok. Apalagi menyumbang baju layak pakai atau buku layak baca, malah mengurangi sesaknya lemari kan? 🙂

Ada sebuah cerita yang selalu saya ingat, dan rasanya ingin saya bagi ke banyak orang karena sangat inspiratif. Cerita ini saya ambil dan saya tulis ulang dari intisari-online.com.

Kisah ini diceritakan oleh seorang pemuda bernama Don. Suatu hari, saat ia masih menjadi mahasiswa di sekolah tinggi, ia melihat salah seorang teman sekelasnya sedang berjalan pulang. Kyle, nama anak itu, tampak berjalan tertunduk sambil membawa semua buku-bukunya. Tiba-tiba, serombongan anak berlarian ke arahnya, lalu menyenggol tangan Kyle hingga semua buku di tangannya jatuh berantakan. Kacamatanya terlempar jauh dan mendarat di rerumputan. Kesedihan tampak di matanya yang muram. Don berlari menghampiri Kyle, lalu membantunya memunguti buku-bukunya. Berhubung rumah Kyle ternyata tidak terlalu jauh dari rumahnya, Don mengantarnya sambil membawakan sebagian buku-bukunya. Sepanjang jalan mereka saling bertukar cerita, bahkan Don mengajak Kyle bermain bola bersamanya. Empat tahun berselang, tibalah saat wisuda kelulusan. Kyle tampak hebat sekaligus gugup karena harus membacakan pidato kelulusan. Don pun memberinya semangat, “Hai orang besar, Kau benar-benar akan menjadi besar!” Kyle menatap Don sambil tersenyum. Saat pidato tiba, Kyle dengan tenang bercerita, “Teman adalah hadiah terbaik dalam hidup saya. Empat tahun lalu, saya pernah berencana bunuh diri di sebuah akhir pekan. Hari itu saya membersihkan loker saya, dan berencana membawa semua barang-barang saya ke rumah, jadi ibu saya tidak perlu melakukannya nanti.” Kyle tersenyum sambil menatap Don, “Untunglah saya diselamatkan. Teman saya menyelamatkan saya dari perbuatan yang tidak seharusnya saya lakukan.” Don terkesiap mendengarnya, ia benar-benar tidak menyadarinya.

Kisah di atas hanya sebagian dari kisah-kisah yang terjadi di sekitar kita. Terkadang kita tidak menyadari betapa tindakan kecil kita bisa mengubah hidup seseorang, menjadi lebih baik atau lebih buruk. So…. Kalau ingin berbagi, berbagilah sekarang. Tidak usah menunggu nanti, apalagi menunggu kaya. Tidak usah menunggu dana cukup, apalagi berlebih. Karena berbagi tidak harus dengan materi. Karena bantuan yang berarti itu bukan yang bernilai tinggi, tapi yang diberi dengan ketulusan hati.

 

Salam berbagi.

 

 

Advertisements

One thought on “Sederhananya Berbagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s