Memilih adalah Keputusan Pribadi


Masih aja ada yg ributin ibu full time vs ibu pekerja. Wis kui podo apike, podo muliane. Rasah ribut dewe. @TheUyax

Saya setuju dengan twit salah satu teman saya di atas, beberapa waktu lalu. Menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja buat saya adalah dua hal yang sama baiknya. Sampai sekarang pun, saya masih belum tahu akan memilih apa nanti saat sudah berkeluarga dan punya anak. Bagi saya, dua-duanya adalah pilihan yang sama-sama sulit. Ditambah dengan tekanan sosial yang sepertinya semakin hebat akhir-akhir ini, pilihan ini menjadi semakin sulit.

Saya adalah seorang perempuan Jawa yang dibesarkan dalam keluarga dengan prinsip ‘Mangan ora mangan sing penting ngumpul.’ Kebersamaan keluarga adalah hal utama bagi kami, melebihi apapun. Bagi kami, bekerja boleh apa saja, asal ada waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Sebagai seorang perempuan Jawa, saya juga selalu diingatkan bahwa sebagai perempuan saya punya tanggung jawab untuk merawat dan membesarkan anak saya nantinya, bahkan termasuk harus ‘melayani’ suami. Maka, menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang menarik buat saya, tentu saja.

Namun, kepergian bapak saya yang tiba-tiba kala itu merubah ‘kondisi ideal’ keluarga Jawa kami. Ibu saya harus keluar rumah untuk bekerja, menghidupi anak-anaknya. Kakak pertama dan kedua saya yang perempuan pun, sebagai anak-anak tertua, harus ikut turun tangan mencari nafkah. Maka di keluarga kami, peran perempuan yang ideal tidak sekedar menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Seorang perempuan pun boleh (dan bisa) bekerja, asal tidak melupakan perannya sebagai istri dan orang tua.

Setiap orang punya kisah hidupnya masing-masing. Setiap orang, tanpa kecuali. Bahkan dua anak kembar identik yang hidup dalam satu rumah pun bisa mengalami hal-hal yang berbeda sepanjang hidupnya. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membentuk pandangan atau persepsi seseorang terhadap segala sesuatu. Persepsi akan memengaruhi kerangka berpikir, dan pada akhirnya memengaruhi pengambilan keputusan dalam hidupnya. Ini jadi penjelasan, kenapa ada yang memilih A dan ada yang B. Kenapa ada yang memilih menjadi ibu rumah tangga, dan ada yang lebih memilih bekerja.

Contoh sederhananya begini: Dari kecil saya terbiasa makan nasi, bahkan di lingkungan saya kata ‘makan’ itu ya identik dengan nasi. “Belum ‘makan’ kalau belum ‘makan nasi'”, begitu kata orang-orang di sekeliling saya. Jadi, dalam sehari saya harus makan nasi, minimal sekali. Teman saya waktu kecil juga makan nasi, tapi dia pernah punya pengalaman keselek nasi sampai bulir-bulir nasinya keluar lewat hidung dan itu membuatnya kesakitan. Sejak saat itu, dia tidak mau sekalipun makan nasi. Pengalaman hidup membuat kami memiliki pilihan yang berbeda: saya harus makan nasi, teman saya tidak mau makan nasi. Tidak ada yang salah, bukan?

Manager saya di kantor dulu adalah penggemar durian. Saking senangnya makan durian, ayahnya pernah memborong sekeranjang durian untuk dia habiskan. Hasilnya, dia malah jadi eneg karena kebanyakan makan durian, dan sampai sekarang pun dia pusing setiap mencium bau durian. Pengalaman tidak menyenangkan karena terlalu banyak makan durian mengubah persepsinya terhadap durian, bahwa durian itu tidak enak. Pengalaman mengubah pilihannya. Mengubah pilihan boleh, kan?

Lalu, apa yang salah dengan menjadi ‘ibu rumah tangga’ atau ‘ibu bekerja’?

Memilih adalah keputusan pribadi setiap orang. Ini berlaku untuk konteks apapun, tidak hanya soal jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Setiap orang punya pertimbangan sendiri dalam membuat sebuah pilihan. Tidak ada pilihan yang salah sebenarnya. Sebuah pilihan menjadi (terlihat) salah karena kita tidak siap dengan konsekuensi yang muncul atas keputusan itu. Seringkali, konsekuensi terberat justru muncul dalam bentuk tekanan sosial dari orang-orang di sekeliling kita. Kalau kita tidak siap menghadapi tekanan sosial itu, seringkali kita memilih untuk mengikuti pilihan orang lain.

“Peer pressure and social norms are powerful influences on behavior, and they are classic excuses.” – Andrew Lansley

Bukan hanya sekali saya mendengar teman saya mengeluh kuliah atau pekerjaannya tidak menyenangkan karena, “Ini sebenarnya bukan pilihanku.” Kalau memang tidak suka, kenapa memaksa diri untuk memilih hal tersebut? Kalau memang tidak bisa menghindari pilihan tersebut, kenapa tidak belajar menyukainya saja?

Cita-cita saya dari dulu adalah jadi penulis sambil jadi relawan sosial. Menjadi seorang karyawan BUMN seperti sekarang bukanlah pilihan yang menyenangkan bagi saya, pada awalnya. Tapi saya harus (lebih tepatnya ‘mengharuskan diri’) untuk memilih jalur ini demi keluarga. Tekanan sosial membuat saya memilih pekerjaan yang bukan impian saya. Tahun pertama bekerja adalah tahun tersulit bagi saya. Betapa saya ingin keluar dari perusahaan, lalu mendaftar jadi relawan sosial yang dikirim ke negeri antah berantah. Hingga pada akhirnya saya sadar. Ini hanyalah soal pilihan. Saya sudah memilih jalur ini, maka tugas saya selanjutnya adalah memilih untuk larut dalam penyesalan dan kekecewaan, atau menciptakan kebahagiaan saya sendiri. Saya memilih yang kedua.

Seringkali kita terlalu ingin membahagiakan banyak orang, dan memenuhi keinginan mereka. Hingga pada akhirnya kita justru terjebak pada berbagai pilihan yang sebenarnya bukan pilihan kita. Saya selalu ingat cerita ini (disadur dari berbagai versi):

Suatu hari, ada seorang ayah dan anaknya yang hendak menjual keledai mereka. Berjalanlah mereka dari kampung menuju pasar di kota. Sang anak naik di atas keledai dan ayahnya menuntun keledai tersebut. Ketika orang-orang melihat kejadian itu, mereka pun berkomentar.

“Lihatlah, betapa tidak berbaktinya anak itu. Ia enak naik di atas keledai, sementara ayahnya harus menuntun keledainya.”

Mendengar hal itu, ayah dan anak itupun bertukar posisi. Kini ayahnya lah yang naik keledai dan anaknya berganti menuntun keledainya. Melihat hal itu, orang-orang pun berkomentar.

“Lihatlah orangtua itu. Betapa teganya ia membiarkan anaknya menuntun keledai, sementara ia enak duduk mengendarainya. apa dia tidak kasihan pada anaknya yang kecapaian?”

Kembali mendengar komentar orang-orang itu, sang ayah dan anaknya kembali berpikir keras. Akhirnya mereka mengambil inisiatif untuk menaiki keledainya bersama-sama. Jadilah ayah dan anak itu kini berada di atas keledainya. Melihat hal itu, orang-orangpun kembali berkomentar.

“Lihatlah, betapa teganya ayah dan anak itu, keledai sekecil itu mereka tunggangi berdua. Apa mereka tidak merasa kasihan dengan keledai yang ditungganginya?”

Jengkel dengan komentar orang-orang, maka ayah dan anak itupun turun dari keledai, dan membiarkan keledai itu menganggur. Melihat hal itu, orang-orang pun tak hentinya berkomentar lagi.

“Lihatlah, betapa bodohnya mereka. Mereka punya keledai untuk dikendarai, malah mereka biarkan keledainya menganggur tidak dinaiki.”

See? We can’t please anyone. We may please someone, but not anyone! Apapun hidup yang kita jalani, akan selalu ada orang yang berkomentar, baik positif maupun negatif. Terkadang, ada orang yang mengukur kebahagiaannya dari kebahagiaan orang lain. Itu membuat sebagian orang menginginkan hidup orang lain sama dengan hidupnya sendiri (atau justru hidupnya yang harus sama dengan orang lain?). Kalau sudah lulus kuliah, dia akan bertanya pada temannya yang belum lulus, “Kapan lulus?” Setelah menikah, dia akan bertanya lagi, “Kapan kamu nyusul?” Dan bahkan saat dia sudah punya anak dan memilih di rumah, dia akan bertanya pada temannya yang bekerja, “Kenapa kamu bekerja?” Pun begitu sebaliknya.

 “Happiness is a process, not a product.” – Dr. Monty

Memilih menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja tidak serta merta membuat keluarga kita jadi sempurna dan bahagia. Seperti kata Dr. Monty di atas, kebahagiaan itu sebuah proses bukan produk. Dan menjadi orang tua adalah pengalaman seumur hidup, bukan hanya saat anak kita masih kecil. Menjadi orang tua berarti kita harus siap belajar setiap hari. It’s a daily learning experience. 4d2c82ee10f2e13f9b676a5705e9cd2dMemutuskan menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, seperti juga memutuskan untuk menikah, bukanlah sebuah akhir cerita. Itu justru babak baru dari kehidupan kita. Ada konsekuensi-konsekuensi di belakangnya yang harus kita hadapi dan jalani. Bisa jadi, seseorang yang hari ini memutuskan jadi ibu rumah tangga, terpaksa harus bekerja suatu hari nanti. Pun sebaliknya, yang bangga karena menjadi ibu bekerja, bisa jadi kelak harus meninggalkan pekerjaannya demi keluarga. Buat apa saling menghujat?

Parenting is the easiest thing in the world to have an opinion about, but the hardest thing in the world to do. – Matt Waish

Setiap orang bisa dengan mudah berkomentar dengan pilihan yang telah kita ambil. Tapi kita yang akan menjalani, dan kita pula yang akan menerima konsekuensinya. Buat apa ambil pusing dengan pendapat orang? Menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga adalah pilihan yang baik. Menjadi tidak baik jika pilihan itu diambil hanya untuk kepentingan kita sendiri, dan mengesampingkan kepentingan keluarga, khususnya anak-anak. Menjadi ibu rumah tangga boleh, asal waktunya di rumah benar-benar digunakan untuk membersamai anak-anak, bukan justru dihabiskan hanya untuk membereskan rumah, sibuk dengan gadget atau mengobrol dengan teman dan tetangga. Tetaplah selalu motivasi anak untuk berkarya, karena berkarya tidak harus dengan bekerja. Menjadi ibu bekerja boleh, asal waktu dan energinya tidak habis hanya untuk pekerjaan. Kebersamaan dan kesempatan berbagi tetap bisa dibangun meski kita bekerja. Karena waktu tidak hanya bisa diukur secara kuantitas, tapi juga kualitas. Waktu dua jam yang dimiliki ibu bekerja sebelum anaknya tertidur adalah waktu yang bisa dimanfaatkan untuk membangun kebersamaan dan kesempatan berbagi cerita dengan anak.

Jangan ukur kebahagiaan kita dari hidup orang lain. Apa yang tepat untuk orang lain belum tentu yang terbaik buat kita. Kalau yang terbaik untuk kita adalah jadi ibu rumah tangga, kenapa harus memaksa bekerja? Kalau kita harus bekerja, kenapa maksa jadi ibu rumah tangga? Not every shoes fit in every foot. Pilihan terbaik untuk hidup kita ada di tangan kita masing-masing, bukan di tangan orang lain.

 

Advertisements

6 thoughts on “Memilih adalah Keputusan Pribadi”

  1. bener banget ini tulisan…..
    hiks hiks aku banget,, sangat merasakan tekanan sosial dari kantor supaya berhenti kerja #aneh ya dia sendiri yg nyaranin tetap kerja#
    tapi suami selalu menguatkan untuk menutup telinga yang penting masa depan anak,, insya alloh anak akan mengerti jika ibunya melakukan sudah dengan pertimbangan yang matang

    setuju,, Not every shoes fit in every foot…..

    semangat pri!!!!! jadi siapapun dirimu, ibu tetap hebat!!!

  2. Sebenarnya agak ragu mau komentar, apalagi ada contoh soal bapak-anak-keledai dan penegasan:

    “See? We can’t please anyone. Apapun hidup yang kita jalani, akan selalu ada orang yang berkomentar. Banyak orang yang mengukur kebahagiannya dari kebahagiaan orang lain. Itulah kenapa banyak orang yang ingin hidup orang lain sama dengan hidupnya sendiri.”

    Khawatirnya komentar ini jadi apa yang dipersepsikan penulis soal “komentar terhadap orang lain”.

    Ada cerita lain yang mungkin bisa direnungkan:

    “Suatu hari si A terjatuh di sebuah sungai yang berarus deras. Sebagai seseorang yang religius, ia sangat percaya bahwa Tuhan akan menolongnya. Saat itu A hanya berpegangan pada batang sebuah pohon yang terjulur ke sungai. Kemudian B lewat dan melihatnya lalu melemparkan tali untuk menariknya, tapi A menolak dan mengatakan bahwa ‘Tuhan lah yang akan menolongku’ dan tak menghiraukan bantuan si B. B pun pergi. Orang lain silih berganti datang membantu tapi A tetap menolak hanya karena berpegang teguh pada prinsipnya. Akhirnya? Batang pohon yang dipegang A pun patah lalu ia hanyut dan meninggal.”

    Kita mungkin bisa berkata bahwa si A bodoh dan tidak menyadari bahwa B, C dan orang lain itu adalah bentuk pertolongan dari Tuhan. Kita boleh menganggap bahwa komentar dari orang lain itu tidak penting karena tidak tahu kenapa kita memilih sesuatu. Tapi aku selalu menganggap bahwa komentar orang lain adalah “bentuk pertolongan dari Tuhan”. Komentar dari orang lain bisa jadi adalah pengingat ketika kita terlalu sibuk dengan sesuatu yang kita pilih, padahal bisa jadi pilihan itu salah. Komentar dari orang lain, bagiku, tetaplah harus dilihat secara proporsional karena komentarnya belum tentu salah.

    Soal ibu rumah tangga dan ibu pekerja, benar itu pilihan. Pilih lah apa yang ingin kalian, para perempuan, pilih. Tapi, kita tentu tahu bahwa setiap pilihan punya konsekuensi dan harus punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, kan? Pun, ada hal yang kadang mungkin saja kita lupa untuk pertanyakan pada diri sendiri saat memilih jadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja,

    “Untuk apa kita berkeluarga?”

    1. (Baru sadar, balesan komenku kemarin yang udah panjang2 ternyata nggak ke-post -___-“)

      Makasih komennya. Aku garisbawahi bagian ini:
      “Komentar dari orang lain bisa jadi adalah pengingat ketika kita terlalu sibuk dengan sesuatu yang kita pilih, padahal bisa jadi pilihan itu salah. Komentar dari orang lain, bagiku, tetaplah harus dilihat secara proporsional karena komentarnya belum tentu salah.”

      Terima kasih buat pengingatnya 🙂

  3. Kalau baca tulisanmu ini jadi semacam diingatkan kembali Mbak, tentang konsekuensi dari semua pilihan yang telah dibuat
    Ketika memilih untuk bekerja, memilih untuk berumah tangga, memilih untuk tetap bekerja setelah berumah tangga, memilih untuk berhenti bekerja setelah berumah tangga
    Pada akhirnya, kita sebagai pengambil keputusan, pasti sudah memutuskan masak-masak atas semua pilihan kita, pasti sudah siap menerima semua konsekuensi baik atau buruknya, yang terpenting mungkin adalah bagaimana cara kita menyikapinya
    Saya sudah cukup kenyang dengan berbagai komentar orang tentang pilihan yang saat ini saya ambil,
    Filter terbaik kemudian datangnya dari kita sendiri, saya berpegang pada prinsip bahwa sebagai pribadi sebenarnya kita sendiri yang paling tahu dan bisa mengukur sejauh mana kemampuan kita, kita yang paling tahu mana komentar yang membangun dan mana yang menjatuhkan, jadi tebal-tebal telinga saja mendengarkan (dan mungkin membaca) hal-hal negatif, toh mau di rumah mau di kantor mau di belahan dunia manapun kita tetap istri dan ibu
    Selama apa yang kita lakukan tidak melanggar aturan Tuhan dan mendapat ridho suami ya ayo aja
    Dan tentang status full time mother, mengutip drai artikel yang pernah saya baca, semua ibu itu adalah full time mother, krn dimanapun kapanpun dia berada IBU tetaplah IBU
    #CMIIW

    1. Uwooo….komennya mantep. Sip, memilih itu keputusan pribadi, dan harus siap dengan segala konsekuensinya.

      Setuju ama kalimat paling bawah, dimanapun dan kapanpun, seorang ibu tetaplah ibu 🙂

      Sure you’ll be a great mom, mamanya Audi :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s