Kelola Amarahmu


“Speak when you are angry and you will make the best speech you will ever regret.”
― Ambrose Bierce

Apa yang disampaikan Ambrose Bierce di atas sepertinya tepat untuk menjadi pengingat saat ini. Beberapa orang akhir-akhir ini begitu mudah menunjukkan kemarahannya dengan menulis status di media sosial. Dan beberapa di antaranya justru berakhir menjadi korban cyber bullying, dan saya yakin mereka menyesal karenanya.

Marah adalah emosi dasar manusia, artinya setiap orang pasti pernah marah. Seperti juga setiap orang pasti pernah merasa senang, sedih,  jijik, takut atau terkejut, karena kelima emosi ini beserta amarah adalah enam emosi dasar manusia menurut Paul Ekman.  Sementara menurut Richard G. W dalam bukunya berjudul “Personal Awareness: A Psychology of Adjustment”, emosi dasar manusia ada lima yaitu senang, sedih, takut, cinta dan marah. Meskipun para peneliti di Universitas Glasgow, Skotlandia, akhir-akhir ini membantah teori di atas, dan menyatakan bahwa emosi dasar manusia hanya ada empat: senang, sedih, takut, dan marah. Ini tetap  mengukuhkan bahwa marah memang merupakan emosi dasar manusia, yang artinya setiap orang berhak marah.

Yang menjadi perhatian selanjutnya adalah, bagaimanakah cara seseorang mengungkapkan rasa marahnya? 

Ada orang yang memilih diam saat marah, ada yang mengungkapkannya dengan ekspresi wajah, ada yang mengungkapkan secara verbal, dengan kekerasan fisik, merusak/melempar barang,  membuat karya seni, atau menuliskan kemarahannya tersebut. Bentuk tulisan pun bermacam-macam, mulai dari artikel di blog, curhat di buku diary, grafiti di tembok-tembok, atau yang kini sedang marak: status media sosial. Status kemarahan di media sosial ini menjadi perhatian banyak orang semenjak kasus Dinda, seseorang yang menulis kemarahannya di Path, yang kemudian disebarluaskan dan berujung cyber  bullying. Semasa pilpres, ternyata kemarahan demi kemarahan terus bermunculan bak cendawan di berbagai platform media sosial. Meski bentuknya bermacam-macam, tapi esensinya sama: marah karena orang lain berbeda pilihan. Menarik. Karena  ternyata banyak sekali orang yang tidak bisa mengendalikan kemarahannya di media sosial saat pilpres. Berbagai kata kasar muncul , bahkan  ada  yang tak bisa menahan diri sampai membuat berbagai macam nadzar di akun media sosialnya. Kebanyakan berakhir sebagai korban cyber bullying. Kemarahan yang awalnya hanya dimiliki seseorang, kemudian diekspresikan dengan cara yang tidak tepat, menghasilkan kemarahan massal yang begitu viral dan – buat saya – cukup mengkhawatirkan. Rasanya masyarakat kini begitu mudah terpancing amarahnya.

Kebebasan berekspresi, khususnya di media sosial, membuat sebagian orang merasa bahwa akun media sosial adalah akun yang sepenuhnya pribadi sehingga penggunanya boleh ‘melakukan’ apapun di akun media sosial miliknya. Seolah-olah mereka berkata, “Ini akunku pribadi, jadi aku boleh posting apapun di sini. Kalau nggak suka unfollow/unshare aja. Gampang kan?”

Mudah memang. Interaksi di media sosial memang seolah-olah semudah mem-follow akun orang lain. Tapi harus diingat, akun media sosial juga sekaligus representasi dari diri kita. Apa yang kita tampilkan di akun media sosial sangat mungkin membangun persepsi orang terhadap karakter dan kepribadian kita – kecuali akun kita anonim, tentu saja. Kalau kita menampilkan hal-hal baik, orang juga akan berpikir hal yang sama. Sebaliknya, ketika kita secara konsisten menyampaikan kemarahan dan sinisme di status akun media sosial kita, jangan heran kalau orang-orang akan memandang kita sebagai pribadi yang tidak menyenangkan.

Buat saya, akun media sosial itu ibarat rumah kita. Kita memang berhak melakukan apapun di dalam rumah kita, termasuk di halamannya. Membuang sampah sembarangan, menyetel musik keras-keras, bertengkar di dalam rumah, berteriak, atau bahkan guling-gulingan di halaman? Itu semua hak kita sebagai pemilik rumah. Tapi, tetangga juga punya hak untuk hidup tenang tanpa mendengar teriakan dan suara musik kita yang belum tentu mereka suka. Tetangga berhak menikmati udara yang segar tanpa diganggu bau tak sedap dari sampah yang menumpuk di halaman rumah kita. Tetangga, sama halnya dengan kita, tidak ingin hidupnya ‘diganggu’ oleh hal-hal tidak menyenangkan yang harus mereka temui setiap hari. Kita memang punya hak untuk ‘nyampah’ di akun media sosial kita, asal sudah siap dengan konsekuensi bahwa kita mungkin tidak disukai atau bahkan ‘diusir’ oleh tetangga-tetangga kita yang sama-sama menghuni media sosial.

Belajar dari berbagai kasus cyber bullying yang mencuat akhir-akhir ini – khususnya kasus Dinda dan Flo – sudah saatnya kita belajar mengekspresikan emosi kita di akun media sosial dengan lebih bijak. Saya sedang tidak ingin membahas cyber bullying di sini. Tapi yang harus kita ingat, “Takkan ada asap jika tak ada api.” Cyber bullying dalam kasus ini muncul karena adanya pengelolaan amarah yang ‘kurang tepat.’ Dan yang lebih saya sayangkan lagi, para pelaku cyber bullying pun terkadang tidak mengelola amarahnya dengan baik, sehingga justru memunculkan ekspresi emosi marah yang berlebihan.

Emosi, termasuk marah, memang harus diekspresikan. Emosi yang terus dipendam justru akan menjadi konflik kecemasan dalam diri seseorang. Jika didiamkan akan menumpuk menjadi bom waktu dan bisa memunculkan masalah di kemudian hari, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun, mengekspresikan emosi dengan cara yang tidak tepat juga bisa menjadi masalah. Pengelolaan amarah (anger management) menurut saya menjadi salah satu hal penting yang sebaiknya dipelajari setiap orang, agar kemarahan kita tidak menjadi sesuatu yang mengganggu.

Berikut adalah kutipan salah satu paragraf dalam buku ‘Anger Management for Dummies’ yang ditulis oleh W. Doyle Gentry:

“Anger, like other emotions, is a judgment. When you get angry, you’re judging other people (“You treated me badly”) and situations (“This just doesn’t suit”). Anger is a statement – your statement – about right and wrong. The more you judge the world, the more likely you’ll be angry, about something.” (hlm. 47)

Sebagai salah seorang yang (juga) mudah marah, saya setuju dengan tulisan Gentry di atas. Ketika menghadapi seseorang atau sebuah situasi, saya seringkali terburu-buru menghakimi orang/situasi tersebut sebagai sesuatu yang ‘salah’ hanya karena tidak sesuai dengan apa yang kita anggap ‘benar.’ Akibatnya, saya menjadi marah. Saya marah karena teman saya terlambat datang, hanya karena saya lebih dulu datang. Padahal, bisa jadi saya juga akan marah jika teman saya meninggalkan saya, karena saya datang terlambat.  Saya marah karena tim saya tidak memahami permintaan saya, sehingga hasil kerjanya (menurut saya) salah. Saya marah karena hidup tidak berjalan sesuai keinginan saya. Alih-alih menghabiskan waktu untuk memperbaiki masalah yang ada, saya justru menghabiskan waktu untuk marah. Hingga pada akhirnya kemarahan itu selesai, masalah belum tentu selesai, malah mungkin bertambah.

Pernah suatu ketika saya dan teman kantor mengalami kecelakaan lalu lintas. Sepeda motor yang dikendarai teman saya ditabrak sepeda motor lain dari belakang, sampai kami berdua terjatuh di jalan raya. Sebenarnya kami bisa saja tidak memedulikan si penabrak, segera menepikan motor dan mengecek kondisi kami apakah baik-baik saja. Tapi kami lebih memilih menghakimi sang penabrak. “Kamu itu salah…bla..bla…bla….” Seolah-olah hanya dia yang melakukan kesalahan, dan kami sama sekali tidak salah.

“Kamu harusnya begini…bla….bla…bla….” Seolah-olah apa yang kami sampaikan semuanya adalah kebenaran, dan orang tersebut belum paham. Hingga akhirnya kemarahan itu kami anggap selesai, kami baru sadar bahwa tas teman saya yang berisi banyak dokumen penting sudah raib.

Ini tak jauh beda dengan suasana pilpres beberapa waktu lalu. Banyak orang yang merasa dirinya paling benar, dan orang lain salah. Sehingga mereka selalu menghakimi orang lain sebagai orang yang “pasti salah”. Ketika ada seseorang yang posting artikel tentang capres yang bukan pilihannya, ia akan dianggap “salah besar”. Kesalahan itu tidak bisa ditolerir dan membuat mereka marah.

Some people think they know everything about everything. They just don’t realize that they actually know nothing about everything, and know everything about nothing.  

Maka, menurut saya, salah satu cara mengendalikan amarah adalah dengan bersikap ‘merendah.’ Ini sejalan dengan konsep pengelolaan amarah dalam agama Islam.

“Jika salah satu dari kamu marah sedang dia dalam keadaan berdiri hendaknya ia duduk, karena sesungguhnya amarah akan pergi. Jika tidak, hendaknya ia berbaring”(HR Ahmad)

Hadist di atas secara harfiah memang menyuruh kita untuk merendahkan posisi badan kita, karena itu berhubungan dengan relaksasi, yang akan membuat tubuh lebih rileks sehingga kemarahan berkurang. Tapi, secara filosofis saya memaknai itu sebagai ‘sikap merendah’ sebagai salah satu cara dalam mengendalikan amarah. Sikap merendah membuat kita berpikir ulang ketika akan meluapkan kemarahan, “Bisa jadi apa yang kupikirkan salah, dan dialah yang benar”. Bersikap seperti ini akan membuat kita tidak terburu-buru marah, dan menahan diri untuk tidak segera meluapkan amarah.

“The greatest remedy for anger is delay.”
Thomas Paine

Marah memang merupakan emosi yang wajar dialami setiap orang. Cara menyampaikan kemarahan lah yang berbeda antara satu dengan yang lain, sehingga ada orang yang disebut ‘pemarah’ dan ada yang tidak. Ada juga yang kemarahannya sampai mengganggu bahkan merugikan orang lain. Sebagai orang yang mudah terpancing amarahnya, saya merasa pengelolaan amarah adalah hal yang penting untuk dipelajari. Minimal, belajar menahan diri untuk tidak menunjukkan kemarahan itu di status media sosial, agar orang lain tidak terganggu dengan amarah saya.  Ya, menahan diri. Cobalah sesekali, ketika anda merasa sangat marah…tunda kemarahan tersebut selama beberapa menit. Semakin lama anda menunda kemarahan, intensitas kemarahan itu akan semakin berkurang. Karena seperti kata Thomas Pain di atas, salah satu cara terbaik mengatasi rasa marah adalah dengan menahan diri.  Selamat mencoba 🙂

 

Advertisements

5 thoughts on “Kelola Amarahmu”

  1. Analoginya baguuus. Rumah & tetangga. Setuju kalo sekarang banyak orang yg bebasnya bablas di media sosial.

    Anyway, sarannya utk menunda marah patut dicoba. Thanks for sharing, Priii 🙂

  2. Saya menyukai artikel2mu Prie, sangat mengInspirasi. Setuju banget, Amarah salah satu bentuk emosi agresif yg bisa melukai orang lain dan diri sendiri. Hanya orang beruntung yg bisa selalu nasehat menasehati dalam hal berShabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s