Di Balik Pertanyaan “Kapan?”


“Kapan kamu nikah?”

Untuk kesekian kalinya saya mendapat pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang simpel, bisa ditanyakan sambil lalu atau sekedar basa- basi saat bertemu, tapi bisa membuat sebagian orang jadi jengah, atau bahkan marah-marah. Pertanyaan yang sering disampaikan saat bertemu muka, di private message, group chat, ataupun interaksi di media sosial. Pertanyaan yang kadang menjengkelkan, namun tak jarang saya rindukan. Ada ‘peduli’ yang saya rasakan dibalik pertanyaan-pertanyaan bertajuk ‘kapan’ itu.

“Doain segera ya….hehehe.” Itu jawaban standar saya, untuk apapun pertanyaan ‘kapan’ yang diajukan. Biasanya sambil cengengesan.

Kecuali pertanyaan ‘Kapan resign?’ dan ‘kapan nulis buku?’, sepertinya Pertanyaan ‘kapan” yang lain tidak terlalu mengusik saya.

Kapan ujian skripsi? Kapan lulus?

Dua pertanyaan ini biasanya akrab di telinga kita saat memasuki semester tujuh ke atas. Semakin banyak angka semesternya, semakin gencar serangan pertanyaan ini akan kita terima. Saya tidak begitu merisaukan pertanyaan ini, karena lulus cepat atau lambat toh bukan jaminan seseorang sukses dalam karirnya. Dan biasanya, untuk hal-hal seperti ini saya sudah punya target sendiri. Jadi…. Peduli amat sama pertanyaan orang! :))

Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan punya anak lagi? Kapan mati? *eh

Ini juga sederet pertanyaan yang tidak perlu saya risaukan. Menikah, punya anak, apalagi mati… Buat saya itu hak prerogatif Tuhan untuk menentukan waktunya. Ya, meskipun semua hal yang terjadi di dunia ini adalah hak prerogatif Tuhan, tapi ada hal-hal yang kita bisa atur waktunya, ada hal-hal yang hanya bisa kita pasrahkan pada Tuhan. Saya pernah punya teman yang sudah pacaran selama hampir sepuluh tahun. Keduanya sudah tunangan, sudah saling yakin bahwa masing-masing adalah jodoh yang disiapkan Tuhan. Namun kisah mereka tidak berakhir di pelaminan. Ada pula yang baru kenal satu atau dua minggu, lalu memutuskan untuk menikah. Apapun itu, pertanyaan “Kapan nikah?” tidak akan membuat saya segera menikah. Kecuali, tentu saja, pertanyaan itu diajukan seorang pria tampan, beriman, dan belum punya pasangan…jadi bisa saya tanya balik, “Kapan kamu mau nikahin aku?” *lahhhh :)))

Pun soal keturunan. Ada yang sudah sepuluh tahun (bahkan lebih) menikah dan tidak kunjung diberi keturunan, ada yang harus usaha sedemikian rupa selama bertahun-tahun baru berhasil punya anak, ada yang setelah menikah perempuannya langsung hamil, ada yang bahkan tiap tahun bisa punya anak. Soal keturunan ini buat saya hal sensitif. Rasanya begitu tak tega bertanya “Kapan punya anak?” pada teman atau kerabat yang baru menikah. Kebanyakan pasangan akan berharap segera punya anak setelah menikah. Sayangnya, tidak semua punya kemampuan untuk langsung mewujudkan harapan itu. Ada campur tangan Tuhan di sana. Pertanyaan kita tidak akan membuat seseorang lantas hamil, bukan? Malah mungkin menambah beban perasaan.

Lingkaran setan pertanyaan ‘kapan’ ini sepertinya tidak akan pernah berakhir sampai kiamat (kecuali mungkin presiden baru nanti membuat peraturan baru “dilarang memberikan pertanyaan dengan kata tanya ‘kapan'”….which is way impossible, kecuali presiden punya trauma tertentu terhadap kata ini. Ditanya “Kapan jadi presiden?”, misalnya :p)

Itulah kenapaย saya tidak merasa terganggu dengan pertanyaan itu. Ngapain juga terganggu, pertanyaan ini toh akan terus muncul dalam hidup saya. Lebih baik dinikmati saja *lahhh

Bisa jadi, Pertanyaan bertajuk ‘kapan’ ini terus ada karena memang sudah jadi bagian dari budaya kita yang kolektif. Budaya kolektif inilah yang menjadikan kita selalu ‘kepo’ dengan kehidupan orang lain, terutama orang-orang yang kita kenal dekat. Kita selalu ingin tahu perkembangan kehidupan orang lain, karena ada perasaan ‘terhubung’ dengan orang-orang tersebut. Either in a positive or negative way.

Ada yang rajin bertanya “kapan lulus” ke teman-temannya yang belum lulus, hanya untuk menegaskan personal achievement-nya. “Elo belum lulus? Yaelah, apa sih susahnya kuliah & ngerjain skripsi? Gue aja bisa lulus cepet.” Kira-kira begitu yang sebenarnya ingin disampaikan. Atau mungkin, pertanyaan “Kapan Elo laku kayak Gue?” lah yang sebenarnya ingin ditanyakan, dibalik pertanyaan “Kapan nikah?” *tarakdungjesssss :))

Ada pula yang rajin bertanya karena peduli. “Duh, kok dia belum lulus sih, apa ya yang bisa gue bantu?” Ada lagi yang nanya karena gemes, “Hih…kamu tuh kan pinter, ayo dong kerjain skripsinya!”

Yang paling banyak, menurut saya, adalah yang nanya hanya untuk sekedar basa-basi. “Duh, ketemu lagi…mau bahas apa ya. Emmmm…. Eh, ‘udah lulus belum?'” Basa-basi ini banyak penyebabnya. Karena emang nggak deket atau udah lama nggak ketemu, jadi nggak punya bahan obrolan lain. Karena hanya ketemu sambil lalu, nggak sempet bahas yang lain. Karena ingin membuka diskusi lain yang lebih serius, misalnya….”Oh, belum lulus? Kebetulan nih…aku ada tawaran pekerjaan yang bisa disambi ngerjain skripsi. Lumayan buat nambah-nambah biaya fotokopi. Gampang kok, cuma modal 20 ribu udah bisa jualan online, untung cepat…bla bla bla…”

Dan penyebab utama adalah, karena basa-basi itu adalah bagian dari budaya kolektif itu. Coba kalo kita ketemu saudara, trus karena nggak ada bahan obrolan, kita nggak nanyain hal remeh-temeh. Bisa jadi kita malah dicap sombong atau jutek. ‘Kewajiban’ untuk berbasa-basi inilah yang membuat setiap kita berusaha mencari bahan obrolan, dan akhirnya malah memunculkan pertanyaan-pertanyaan menjemukan nan menggelisahkan seperti , “Kapan nikah?”

Ada beberapa orang yang bilang, “Aku nanya gitu kan buat doain.” Halah….Kalau emang niat doain, berdoa aja langsung ke Tuhan, “Ya Tuhan, teman saya yang namanya Fulan ini orang baik, tolong permudah jalannya untuk menikah.” Mana ada doa yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan, “Tuhan, kapan dia menikah? Kapan dia lulus?” :)))

Selalu ada ‘peduli’ dibalik pertanyaan ‘kapan’ itu. Entah apapun motifnya. Ada yang peduli karena ingin mem-bully, ada pula yang ingin menunjukkan empati. Ada yang sekedar basa-basi, ada juga yang berujung diskusi. Yang pasti, jangan berharap pertanyaan-pertanyaan ini akan berhenti. Saya justru takut kalau semua sudah tak saling peduli, dan tak lagi ditanya macam-macam pertanyaan ‘kapan’. Mungkin akan lebih banyak mahasiswa tak kunjung lulus yang depresi, karena merasa ditinggalkan teman-temannya yang lebih dulu pergi. Atau mungkin ada yang takkan pernah lulus karena terlanjur lupa….karena tak ada satupun yang mengingatkan dengan pertanyaan “Kapan lulus?” Hehehe….

Asal tidak berlebihan,ย  dan ditanyakan di waktu yang tepat, seharusnya pertanyaan ‘kapan’ ini tidak akan mengganggu siapapun. Jadi….kapan mau tanya pertanyaan “Kapan…..?” itu lagi? ๐Ÿ˜€

 

Advertisements

13 thoughts on “Di Balik Pertanyaan “Kapan?””

  1. nah . Walaupun aku belum bisa membantu secara nyata dengan tindakan,tapi doaku selalu menyertai “jendela” untuk kedepanya bisa lebih maju,banyak, dan menjangkau semua anak Indonesia,tak ada kebaikan yg sia-sia mba :)) cemungutthh ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s