Tentang Kehilangan Itu


Air mata mengalir perlahan, membuat sederet tulisan di salah satu halaman buku Titik Nol di tanganku sulit terbaca karena pandanganku mengabur. Kuseka air mata cepat-cepat, kulanjutkan kembali membaca baris demi baris cerita yang ditulis Agustinus Wibowo itu. Sesekali air mata kembali turun di sudut mata, yang dengan sigap kuseka dengan tangan. Begitu berulang-ulang.

Bukan. Bukan karena kisah Agustinus yang penuh drama dan mengharu baru. Bukan karena novel ini berisi kisah melankolis yang mengundang derai air mata. Kisah Agustinus justru banyak berisi keindahan (kalau bisa disebut ‘indah) perjalanannya backpacking ke berbagai negara selama bertahun-tahun. Pun alasanku membeli buku ini karena tahu Agustinus adalah seorang traveller dan fotografer, dan membuatku yakin buku ini akan berisi kisah perjalanannya yang menginspirasi.

Namun, sebuah kata yang muncul di lembar-lembar buku ini sedari awal membacanya membuatku jengah. Agustinus justru mengawali kisah perjalanannya dari samping ranjang sebuah rumah sakit, tempat ibunya terbaring lemah berjuang melawan kanker. Ya. Kanker. Kata yang selama ini aku hindari, bahkan membuatku enggan menonton sebuah film yang beberapa waktu lalu sempat booming, setelah tahu ceritanya tentang seorang penderita kanker.

Sama seperti Agustinus, dan mungkin jutaan orang lain yang bernasib sama, ‘kanker’ selama ini hanyalah kata yang kami temukan di buku, poster rumah sakit, artikel kesehatan di dunia maya, maupun film dan sinetron. Tak pernah terbayangkan, kanker ternyata sudah sebegitu dekat dengan hidup kami. Sedekat hubungan ibu anak dalam hidup seorang Agustinus, atau hubungan kakak-adik dalam hidupku.

“Aku sebenarnya nggak boleh ngasih tahu ini ke kamu, Dek. Tapi aku udah nggak tahan lihat kondisi kakakmu tiap hari. Dia udah bolak-balik pingsan, seminggu ini dia nggak bisa makan. Tiap makan keluar lagi.” Suara perempuan di ujung telepon membuatku terdiam. Hari itu Kamis, 16 Oktober 2013, aku sengaja mengangkat telepon di toilet kantor agar kesedihanku tak perlu diketahui banyak orang.

“Kakakmu udah sakit dari lama, Dek. Selama ini sakitnya ia tahan. Kakakmu emang keras kepala, selama ini ia masih memaksa kerja. Padahal ia sudah sakit parah. Ia sering kesakitan di tempat kerja, payudaranya udah sering keluar darah….”

Sampai di situ, aku sudah tak sanggup lagi mendengar kelanjutan ceritanya. Kutahan air mata agar tak segera tumpah. Berkali-kali kujawab telepon hanya dengan jawaban “Iya, Mbak” berharap percapakan telepon ini segera berakhir.

“Nitip jagain mbakku ya, Mbak. Aku segera jemput kesana… Nanti kukabari lagi. Assalamualaikum”

Kututup telepon cepat-cepat. Tangis tak dapat dibendung lagi. Meski berulang kali berkata “Aku nggak papa,” pada teman kantor yang bertanya, tapi aku tahu…. Kesedihan ini belum akan berakhir untuk beberapa waktu ke depan. Rencana hidupku harus dirubah sejak detik pertama aku mengangkat telepon. Kehidupan keluargaku pun berubah sejak anggota keluarga kami bertambah satu: kanker.

Hampir tujuh tahun aku berpisah dengan kakak keduaku. Berulang kali merayunya untuk pulang ke rumah, tapi selalu gagal. Ada banyak alasan yang tak pernah ia ungkapkan. Mungkin ia sudah terlalu jengah pulang, mungkin karena ketiga anaknya ada di sana, meski tinggal terpisah bersama (mantan) keluarga mertuanya. Yang pasti, bukan karena ia sudah hidup bahagia di sana. Bahkan tanpa ia cerita pun, aku tahu hidupnya tak cukup bahagia.

Lima bulan lagi aku sebenarnya berencana menjemputnya pulang. Tiket sudah di tangan. Tapi memang benar, manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan. Kakak harus kujemput lebih awal, meski dengan dilema yang luar biasa waktu itu.
“Kenapa nggak berobat di sana aja? Rumah Sakit di sana lebih bagus dan biayanya malah lebih murah. Ada Rumah Sakit bagus untuk kanker di Penang.” kata seorang teman kantor.

“Aku nggak mau dirawat di Sardjito. Temenku kanker juga dirawat di sana nggak berhasil. Aku di sini ada asuransi…” kata-kata kakak membuatku semakin galau. Berhari-hari aku susah makan maupun tidur. Berbagai pertanyaan “bagaimana kalau……” memenuhi isi kepalaku.

“Kakakmu udah nggak bisa makan, Dek. Setiap makan pasti muntah lagi.” Telpon dari sahabat kakak akhirnya membuatku memilih keputusan terakhir: kakak harus segera pulang. Apapun yang akan terjadi, biarkan itu terjadi dalam kondisi seluruh keluarga sedang berkumpul. Bagaimanapun, itu akan lebih baik.

“Jangan lupa makan, Mbak. Harus dipaksa makan, kalau nggak bisa makan nasi…minimal makan biskuit. Itu kamu muntah karena kamu jarang makan, jadi maagmu kumat. Aku juga dua hari ini muntah-muntah karena maagku kumat. Coba makan obat maag.”

Di tengah kepanikan dan rasa takut, aku berusaha menenangkan dan menguatkan kakak. Berusaha meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja, keluarga kami baik-baik saja.

Tentu saja waktu itu kami belum tahu, kanker itu sudah menyebar sampai hati dan tulang belulang. Itulah yang menyebabkan kakak mual dan muntah, bukan maag seperti yang aku katakan.

*
“Uwes rapopo. Diikhlaske. Ora kurang lehmu usaha ngobati.” Ibuku memelukku begitu aku tiba di rumah.

*

Senin, 14 Juli 2014, semenit sebelum alarm Sahur membangunkanku… Sebuah panggilan masuk. Aku membaca nama yang tertera di layar HP, bahkan tanpa mengangkat telponnya aku sudah tahu apa yang terjadi.

“Diikhlaske yo… Mbak Sri wes nggak kuat.” Kakak laki-laki tertuaku terbata di ujung telepon.

Singkat, padat, tanpa perlu prolog panjang lebar.

Aku terbangun tanpa ekspresi. Menuju kamar mandi, mengambil air wudhu, shalat, makan sahur, mengumpulkan keberanian untuk menelpon kakakku yang lain, meneruskan berita yang sama. Sambil berulangkali berkata dalam hati, “Jangan nangis, jangan nangis!” Mantra itu berhasil, karena aku bisa menahan tangis tak pecah di sepanjang perjalanan Jakarta – Yogyakarta – Magelang, pun kesedihan tak menguar di sosial media.

Sejak pertama kali mendengar kabar kakak sakit kanker, sudah stadium lanjut pula, aku memang sudah mempersiapkan ini. Meski terus berusaha mencari pengobatan terbaik, selalu ada kata ‘pasrah’ menyertai. Tentu aku tak berpikir waktunya akan secepat ini. Apalagi melihat perkembangan kondisi kakak setelah kemoterapi. Badannya yang kembali bugar, langkahnya yang semakin tegap, senyum dan tawanya yang kembali sumringah, nafsu makannya yang kembali datang. Bahkan kakak sempat membangun mimpi baru: berbisnis makanan kering.

Ah, kakakku. Dari dulu ia tak pernah berubah. Di tengah sulitnya ekonomi keluarga…ia adalah sosok yang begitu kuat mengayomi adik-adiknya. Ia pula yang mengenalkanku pada buku sedari kecil. Lewat majalah bobo dan buku dongeng bekas, di bawah temaram lampu teplok kamar tidurku yang sesekali meredup tertiup angin, kakaklah yang membuka mataku pada dunia. Dialah yang membuatku berani membangun mimpi, di tengah kondisi keluarga yang tak pasti.

*

“Alhamdulillah, mbakmu dalane gampang. Lungane ora susah, rupane yo kethok ayuuuu…. Tekan omah awakke yo ora kaku, lemes.” Ibuku berbinar saat bercerita proses meninggalnya kakak. Orang kampung seperti kami percaya, orang yang tidak mengalami kesulitan saat proses meregang nyawa pertanda dia adalah sosok yang baik selama hidupnya. Apalagi jika meninggal dalam keadaan wajah yang tersenyum.
“Wes, diikhlaske….” Berulang kali ibu berpesan padaku yang masih sesenggukan. Mungkin itu juga pesan untuk dirinya yang sudah dua kali kehilangan.

*

“Aku udah ikhlas kok.” Begitu kataku berulang-ulang setiap ada teman yang menyampaikan bela sungkawa. Entah ikhlas di level seperti apa, karena toh aku masih sering menangis diam-diam saat teringat kakak. Aku juga masih dihantui perasaan menyesal karena belum berhasil mengantarkan kakak menemui anak-anak kesayangannya. Perasaan bersalah karena sepertinya usahaku tidak cukup keras untuk membuatnya sembuh dari kanker, pun perasaan takut kakak meninggal dalam kondisi ia tak bahagia.

Sebulan sudah lewat sejak kepergian kakak. Harusnya aku sudah cukup kuat untuk tidak lagi menangis, termasuk saat menulis ini. Harusnya aku sudah paham, bahwa “Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan akhir ceritanya.” Termasuk berencana untuk tidak larut dalam kesedihan saat harus menghadapi kehilangan ini. Karena bahkan bertahun-tahun hidup tanpa ayah, bahkan tanpa ingatan sedikitpun tentang sosoknya, aku pernah menangis tertahan di sebuah bus saat perjalanan pulang dari Yogyakarta. Waktu itu umurku 21 tahun, dan baru kali itu aku menangisi sebuah kehilangan yang sudah terjadi 20 tahun silam.

Pada akhirnya aku sadar, aku tak harus pura-pura tegar dan kuat hanya untuk menunjukkan pada semua orang bahwa aku ‘Bahagia’. Karena menangisi sebuah kehilangan itu wajar…. sebagai seorang manusia yang dianugerahi emosi oleh Tuhan.

Aku dan kakak. Punya banyak kesamaan fisik, sampai sering bertukar pakaian. Karakter kami pun tak jauh beda, sama-sama keras kepala dan selalu berusaha bilang ke semua orang ‘aku baik-baik saja’, untuk apapun yang terjadi dalam hidup kami. Kami hanya berbeda nasib, karena mungkin ia lahir 12 tahun lebih awal. Tapi kami sama-sama lahir di bulan Juli, dan berbintang Cancer karenanya. Tak pernah kami duga sedari awal, cancer pula yang akan memisahkan kami dengan begitu tergesa.

Gotta fix that calendar I have
That’s marked July 15th
Because since there’s no more you…..”

There’s no more birthday greeting that I can send.

Begitu tergesanya maut menjemput, tak menyisakan satu hari pun untuk mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ yang terakhir. Mungkin ia tergesa karena ingin merayakan ulang tahun bersama Bapak. Mungkin.

Jakarta, 16 Agustus 2014.
Di antara rasa kehilangan yang tak berkesudahan.

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Kehilangan Itu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s