Arti Sahabat bagi Saya


Malam ini saya kembali bertemu dengan salah satu sahabat saya. Dia kerja di Semarang, dan setiap ada kesempatan ke Jakarta dia selalu hubungi saya untuk ketemuan. Tak pernah ada hal spesifik yang kami bahas. Hanya duduk berdua sambil minum kopi atau teh, menghabiskan 2-3 jam untuk membahas apa saja. Tentang komunitas yang kami bangun bersama (dulu), betapa uniknya teman-teman kami di komunitas, betapa seramnya kehidupan pernikahan beberapa teman kami masing-masing, tentang hal-hal aneh yang kami temui di pekerjaan, impian-impian yang belum tercapai, hingga bahas politik. Obrolan kami tak pernah berpola, pun begitu selalu penuh makna. Ada obrolan yang berulang dibahas, tapi tetap mengundang gelak tawa.

Namanya Taofan, atau sering saya panggil ‘Pan’ saja. Salah seorang yang di mata saya (dulu) kehidupannya ‘tidak cukup bermutu’ untuk diceritakan. Mahasiswa karatan di Fakultas Filsafat yang lulus sesaat sebelum waktunya diusir bagian akademik kampus, punya lompatan pikiran yang sering berseberangan dengan orang kebanyakan. Sialnya, dia pernah jadi koordinator sebuah komunitas, dimana saya adalah sekretarisnya. Sialnya lagi, dia nggak bisa mimpin sama sekali kala itu. Jadilah, setiap rapat komunitas dia hanya bisa garuk2 kepala sambil ngomong ngalur ngidul, dan berujung saya marahi setelahnya. :))

Ada banyak orang yang hadir dalam hidup saya, dan semuanya punya peran luar biasa dalam membentuk pribadi saya sekarang. Seorang Taofan mengajari saya bahwa hidup itu tak harus selalu lurus. Bahwa kita tak bisa selalu setuju dengan orang lain, dan bahwa menjadi ‘berbeda’ itu sah-sah saja. Ada sahabat saya yang lain, yang di umurnya hampir kepala tiga masih sering kekanak-kanakan. Akibatnya, dia sering jadi target bully di komunitas. Kalau sedang beda pendapat, kami bagaikan anjing dan kucing. Sama – sama keras kepala dan tak mau mengalah, dan bahkan bisa berdebat panjang lebar di grup. Saya adalah orang yang cukup keras saat menegur teman dekat, terlalu keras kadang. Meskipun tujuan saya sebenarnya agar teman-teman saya berkembang. Dan orang inilah yang membuat saya sadar, betapa keras kepalanya saya selama ini. Pun begitu, tanpa perlu diungkapkan kami masing-masing sadar, sesering apapun kami saling menyakiti…. Itu adalah bukti bahwa kami saling peduli.

Ada salah satu lingkaran persahabatan saya yang topik diskusinya hampir semua nggak mutu. Mulai dari ngomongin gosip artis, saling bully, bahas istilah-istilah aneh, bahas kenapa ‘orang ini’ berjodoh dengan ‘orang seperti itu’, gebetan yang tak realistis, dan sebagainya. Tapi dibalik semua itu, kami bertemu untuk saling menghibur dan menyemangati. Ketika salah satu sedang menghadapi fase ‘gagal’, kami akan berkumpul (meski virtual) untuk membangun semangat dan saling bertanya “Apa yang bisa kita lakukan?”

Ada sahabat-sahabat yang datang untuk menjadi inspirasi dalam hidup saya. Sahabat yang ceria mengajarkan saya bahwa hidup itu menyenangkan, dan menjadi orang yang ceria itu ternyata sangat menyenangkan. Sahabat saya yang lain menginspirasi saya dengan prestasinya. Ada pula yang membuat saya tergerak untuk menjadi orang baik dan berbuat kebaikan.

Ada orang-orang yang membukakan mata saya pada dunia. Dulu saya terlalu lugu karena menganggap semua orang baik adanya tanpa kecuali, bahwa karakter seseorang pasti tercermin dari penampilannya. Bersahabat dengan teman-teman kantor yang lebih senior membuat saya tahu, Rupanya dunia tak selalu seindah itu. Pada akhirnya saya harus paham, bahwa yang terlihat baik belum tentu sebaik penampilan luarnya, pun begitu sebaliknya. Saya pun belajar melihat segala sesuatu dengan lebih ‘dewasa’. Saya juga belajar paham, kata ‘dewasa’ bisa dimaknai berbeda oleh sahabat-sahabat saya yang sudah ‘terlalu dewasa’ itu. :))

Ada sahabat-sahabat yang justru datang ketika mereka sedang menghadapi masalah. Masalah keluarga, masalah percintaan, masalah pekerjaan, dan banyak lainnya. Belakangan saya baru sadar, merekalah orang-orang yang mengajarkan saya pentingnya bersyukur. Bersyukur bahwa hidup kita tak sesulit orang lain, beban hidup kita tak seberat orang lain, dan bahwa sekedar mendengarkan seseorang bercerita tentang masalah hidupnya ternyata membuat hidup kita (sedikit) lebih berguna.

Pada akhirnya saya bersyukur, karena dikelilingi orang-orang yang memberi saya banyak pelajaran. Saya bersyukur karena punya sahabat dengan latar belakang, karakter, maupun cerita hidup yang berbeda-beda. Coba kalau semua teman saya sama persis karakter atau cerita hidupnya, bisa jadi seumur hidup saya hanya mengenal satu pelajaran saja.

Setiap orang diciptakan Tuhan dengan perannya masing-masing. Saya ingat salah satu fragmen dalam film ‘Hugo’ yang pernah saya tonton. Ada sebuah dialog yang kurang lebih isinya begini:

Everything always have a purpose, just like machines. They do what they meant to do. If they lose their purposes, they may broken….and life is like a machine, a big giant machine. We are part of that giant machine. And I believe that I’m here for a specific purpose …”

Tidak ada manusia yang tidak berguna di dunia ini. Semuanya punya peran masing-masing, sekecil apapun itu. Begitu pula orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Bahkan penjahat hadir untuk membuat kita belajar hati-hati dan waspada, pemarah mengajarkan kita untuk bersabar, pengemis mengajarkan kita untuk bersyukur, dan sebagainya. Sahabat mengajarkan banyak hal untuk kita. Belajarlah dari mereka, syukurilah kehadirannya, jagalah keberadaannya.

Untuk semua sahabat dalam hidup saya. Terima kasih atas setiap pelajaran berharga yang kalian berikan. Tanpa kalian, saya mungkin tidak berada di titik ini…dan menjadi seperti sekarang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s