The Dressmaker of Khair Khana…. Kekuatan Perempuan itu Nyata Adanya!


20140810-155618.jpg

The Dressmaker of Khair Khana gives voice to many of our world’s unsung heroines. Against all odds, these young women created hope and community, and they never gave up. This book is guaranteed to move you — and to show you a side of Afghanistan few ever see.” ~ Angelina Jolie

Dalam kata pengantarnya, Gayle Tzemach Lemmon — sang penulis — mengawali kisah dalam buku ini dengan detail awal perjalanannya ke Afghanistan. Waktu itu musim dingin tahun 2005. Meski ancaman Taliban bisa dibilang telah usai, namun teror bom bunuh diri dan serangan roket masih menghantui rakyat Afghanistan. Hal ini Membawa Gayle dalam kesulitan yang serius saat harus mewawancarai para tokoh yang akan menjadi isi cerita dalam buku ini. Buku ini memang bukan tujuan utama Gayle terbang ke Afghanistan. Ia datang untuk sebuah riset tentang tokoh perempuan pebisnis yang berpengaruh di tengah kekacauan perang negeri Timur Tengah itu. Dalam usahanya yang penuh resiko itulah, akhirnya ia menemukan sosok Kamila.

Kamila adalah anak kedua dari sebelas bersaudara, lahir dari pasangan Tuan dan Nyonya Sidiqi. September 1996, tepat setelah Kamila menerima ijazah Diploma-nya untuk bekal menjadi guru, Taliban datang ke Kabul. Dua tahun Kamila berjuang menyelesaikan pendidikannya di tengah kekacauan perang saudara. Justru ketika ijazah sudah di tangan, ia harus mengubur dalam-dalam mimpinya menjadi pengajar.

Perempuan harus tinggal di rumah.
Perempuan tidak boleh bekerja.
Perempuan harus memakai cadar saat berada di tempat umum.

Tiga peraturan, yang disusul peraturan-peraturan berikutnya, dari Taliban menjadikan Kamila dan perempuan-perempuan lain di Afghan hanya bisa sembunyi di rumah dalam ketakutan. Jangankan bekerja atau sekolah, untuk sekedar ke warung berbelanja kebutuhan sehari-hari pun mereka dilarang, kecuali didampingi muhrimnya.
Dalam keputusasaan, Kamila tak hilang akal. Didesak kebutuhan ekonomi karena harus menghidupi saudara-saudaranya, sementara orang tua dan beberapa saudaranya yang lain mengungsi ke luar Kabul, Kamila berpikir untuk memulai sebuah bisnis. Dengan bantuan kakaknya, Malika, Kamila mulai belajar menjahit. Kamila yang pintar tak butuh waktu lama untuk menjadi penjahit. Di tengah ancaman Taliban, Kamila berjuang mencari bahan dan peralatan jahit…sekaligus mencari toko yang mau memesan pakaian padanya. Bahkan, Kamila juga membuka kelas pelatihan menjahit, sekaligus kelas belajar bahasa Dari, untuk perempuan-perempuan lain di sekitar tempat tinggalnya. Kamila sungguh tak tega menyaksikan perempuan-perempuan di sekelilingnya tak berdaya. Beberapa di antara mereka ada yang sudah kehilangan suami dan anak lelakinya semasa perang saudara. Sungguh tak adil jika mereka dilarang bekerja, sementara mereka tak punya siapa-siapa untuk jadi gantungan hidup. Menjadi pengemis atau pelacur jelas bukan pilihan terbaik.

Tidak mudah perjalanan bisnis yang harus ditempuh Kamila. Banyak ancaman maupun kejadian-kejadian lucu yang harus dia alami selama menjalankan bisnis tersebut. Termasuk saat ia harus membuat gaun untuk acara pernikahan, yang ternyata itu adalah pernikahan seorang prajurit Taliban. Meski sempat bekerja di sebuah lembaga internasional dengan gaji yang lebih dari cukup, setelah berakhirnya kekuasaan Taliban, Kamila memilih kembali membuka bisnisnya dari nol.
“Jika saya bekerja di lembaga internasional, saya mungkin akan mendapat gaji yang sangat tinggi. Tapi itu hanya akan saya nikmati sendiri bersama keluarga saya. Itu tidak akan menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, seperti saat masa Taliban dulu. Sementara itu, kalau saya membuka bisnis sendiri, saya bisa mengajari banyak orang sampai orang itu bisa memulai bisnis mereka sendiri. Dan bahkan mungkin mereka akan menginspirasi lebih banyak orang untuk melakukan hal yang sama, begitu seterusnya. Saya tahu bisnis ini akan membuat perubahan besar untuk bangsa ini.”

Begitulah Kamila memandang bisnisnya. Bagi Kamila, bisnis bukan hanya sekedar lahan mencari uang untuk hidup. Bisnis adalah cara dia mengabdi pada Afghanistan…. Caranya membangun kekuatan perempuan-perempuan Afghanistan untuk tetap berperan meski di tengah kondisi perang. Bahkan hanya dari bisnis menjahit pakaian, seorang Kamila bisa menjahit masa depan perempuan-perempuan Afghanistan.

Sebuah kisah yang ditulis dengan apik oleh Gayle. Ceritanya yang kuat adalah hasil jerih payah Gayle melakukan riset di Afghanistan selama tiga tahun. Sebagai seorang editor dan penulis berpengalaman, Gayle mampu mendeskripsikan kondisi carut-marut Afghanistan semasa perang dengan sangat rinci dan enak dibaca. Meski singkat, Gayle juga sempat memasukkan beberapa tokoh perempuan lain yang cukup inspiratif dalam kisah Kamila. Seperti dr. Maryam, yang tetap mengabdi di bawah pengawasan Taliban, dan dengan peralatan Rumah Sakit perempuan yang seadanya. Setiap hari dia bekerja dari jam delapan pagi sampai satu malam di Rumah Sakit Perempuan Kabul, dan pulang kembali ke klinik pribadinya di Khair Khana untuk melayani pasiennya.

Mungkin karena saya lebih dulu membaca tulisan-tulisan Khaleid Hoseini yang juga berlatar belakang Afghan, maka kisah yang disajikan oleh Gayle menjadi terlalu biasa di beberapa bagian. Apalagi Gayle tidak setangkas Khaleid dalam menyajikan twist-twist dalam kisahnya yang mampu membuat jantung berdebar. Atau mungkin karena ini adalah kisah nyata, sehingga secara keseluruhan novel ini mirip sebuah biografi namun dengan bumbu drama yang lebih banyak.

Terlepas dari kekurangan di atas, tulisan ini sangat layak dibaca, khususnya oleh para perempuan. “Buku ini dijamin akan menggerakkan Anda,” kata Angelina Jolie dalam endorsementnya di cover belakang buku ini. Dan saya setuju. Membaca buku ini membuat saya tertampar, sekaligus tercambuk untuk bergerak, bahkan berlari. Di tengah ancaman Taliban yang begitu dahsyat untuk kaum perempuan Afghanistan, seorang Kamila masih bisa mengejar mimpinya…bahkan membangun mimpi untuk orang lain. Ia tidak hanya mampu melawan rasa takut akan ancaman, tapi juga melawan apa yang dilihat orang lain sebagai sebuah ‘kemustahilan’.

Seorang perempuan yang baru saja lulus Diploma, umurnya mungkin belum genap 20 tahun kala itu, tapi mampu melawan dunia. Saya di usia sekarang, di tengah segala kenyamanan dan kemudahan…. Bisa apa??

Selamat mencari buku ini, membaca…dan terinspirasi olehnya šŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “The Dressmaker of Khair Khana…. Kekuatan Perempuan itu Nyata Adanya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s