Kita adalah Wajah Indonesia


“CLA-X, INDONESIA”

Tulisan besar-besar dengan huruf kapital berwarna oranye itu tertulis di sebuah batu besar di Gunung Fuji, Jepang.
“Graffiti, Serangan Kesucian untuk Mendaki Gunung Fuji,” demikian salah satu media Jepang memberitakan peristiwa ini. Bukan hanya satu, tapi tiga graffiti yang ditemukan.

Duh, saya sedih sekaligus malu. Jangankan membaca graffiti yang mengotori salah satu gunung yang sudah terkenal di dunia internasional, membacanya di tembok-tembok di pinggir jalan kampung pun mata saya terusik. Apalagi Gunung Fuji adalah gunung yang dianggap suci dan keramat oleh warga Jepang. Banyak orang yang sengaja datang kesana untuk berdoa atau beribadah. Penamaan Fuji diambil dari nama dewa Fuchi, yaitu dewa api bagi rakyat Jepang. Itulah kenapa gunung ini dianggap suci dan keramat. Membayangkan Gunung Fuji dikotori seperti itu buat saya yang beragama Islam seperti membayangkan Makam Rasulullah diperlakukan dengan cara yang sama, atau mungkin bagi umat Budha seperti Candi Borobudur, atau Sungai Gangga yang dikotori bagi umat Hindu di India.

Maka saya mafhum jika warga Jepang marah dengan aksi vandalisme ini. Terlepas dari suci atau tidaknya Gunung Fuji, tindakan vandalisme ini tentunya tidak bisa dibenarkan. Bahkan jika graffiti ini ‘hanya’ dibuat di jalanan, atau bahkan di tempat sampah. Apalagi kalau sampai dilakukan di negeri orang. Duh….

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu saat jadi panitia sebuah acara konferensi internasional di kampus. Dosen saya, yang sekaligus ketua panitia, berulang kali menyampaikan pesan pada kami, “Nak, apapun pengalaman yang akan dialami para peserta asing ini, akan dibawa pulang ke negaranya dan menjadi kesan bagi mereka tentang Indonesia. Kalau mereka merasa acara kita berantakan, mereka akan berpikir bahwa Indonesia itu berantakan. Kalau kita tak ramah pada mereka, mereka akan berpikir orang Indonesia tak ramah. Jadi, berikan yang terbaik, karena bagi mereka kita adalah wajah Indonesia.”

Sampai sekarang, pesan itu selalu terekam di ingatan saya. Benar juga, kalau saya sedang mengunjungi suatu tempat, dimanapun tak harus ke luar negeri…apa yang saya temui dan alami di tempat itu secara otomatis akan membentuk persepsi subyektif saya pada tempat tersebut. Dan persepsi itu pula yang akan saya ceritakan pada teman-teman saya, atau saya tuliskan di blog. Misalnya, saya melihat orang marah-marah dan orang-orang demo di hari yang sama saat berada di Makassar. Saat mencicip salah satu kuliner andalan di sana, saya kecewa karena pelayanannya yang sangat lama, hingga makanan yang tersaji sudah terlalu dingin untuk disantap. Secara otomatis, di kepala saya terbentuk persepsi negatif tentang Makasar: orangnya tak ramah, kulinernya tak enak. Padahal, bisa jadi kalau saya berkunjung di hari lain, pengalaman menyenangkan lah yang akan saya temui.

Begitu juga sebaliknya. Kalau saya bersikap cuek dan jutek saat berkunjung di kota atau bahkan negara lain, mungkin akan ada yang berpikir, “Dasar orang Jawa sombong.” atau, “Ternyata orang Indonesia tak cukup ramah.” Padahal mungkin waktu itu saya hanya sedang mengalami PMS (Pre-Menstruasi Syndrome), atau sedang lapar 😀

Ada yang harus kita pahami, bahwa menjadi Duta Indonesia itu bukan hanya tugas Putri atau Miss Indonesia saja. Menjadi Duta Indonesia yang baik itu adalah tugas kita semua sebagai warga negara Indonesia. Entah Duta Pariwisata, Duta Persahabatan, Duta Kuliner Nusantara, Duta Keramahtamahan, Duta ke-Bhinneka Tunggal Ika-an…hehe, apalagi? Kalau tak bisa semuanya atau salah satunya, minimal bisa lah jadi Duta Kebaikan. Bersikaplah yang baik ketika sedang berada di negara lain, minimal dengan menghormati adat istiadat yang berlaku di negara tersebut.

Sikabau jo Sarilamak
Painan jo Taluak Kabuang.
Dimano bumi dipijak
Disinan langik dijunjuang

Begitu kata orang Minang. Artinya, dimanapun kita berada, hormatilah adat istiadat setempat. Misalnya, Kalau sedang di Singapura, biasakan buang sampah pada tempatnya. Buang sampah dan meludah sembarangan di Singapura adalah perbuatan melanggar hukum, patuhilah. Jangan karena sedang di negara lain, kita justru bersikap dan berperilaku seenaknya. Jangan berpikir, “Mumpung di negara lain nih, nggak ada teman atau saudara yang lihat ini.”

Heiii…. Teman dan saudara mungkin nggak lihat perilaku kalian di sana. Tapi dunia bisa lihat! Ingatlah, ketika kita sedang berada di negara lain, kita adalah representasi wajah Indonesia. Kata-kata, sikap dan perilaku kita bisa membentuk persepsi dunia tentang Indonesia. Mau jadi duta yang baik atau buruk? Itu pilihan.

Saya memilih jadi wajah yang menyenangkan dan enak dilihat. Kamu? 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Kita adalah Wajah Indonesia”

  1. Minimal wajah terjeleknya mah boleh lah dilakuin di negeri sendiri, jangan ikutan dibawa ke luar. Baiknya sih ya selalu tunjukan wajah terbaik.

  2. You share interesting things here. I think
    that your blog can go viral easily, but you must give it initial boost and i know how to do it, just search in google for – mundillo traffic increase go viral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s