Diary Berbagi: 100 Mukena dan Sarung untuk Anak Jalanan


20140723-060957.jpg
Berawal dari sebuah ide sederhana, kalau tak bisa dibilang iseng, saya dan beberapa teman mengadakan kegiatan berbagi mukena dan sarung kepada anak-anak jalanan di Jakarta. Hanya jeda sekitar seminggu dari pertama kali posting artikel di blog tentang ide berbagi ini, donasi terus mengalir ke rekening saya. Pada awalnya, saya tidak cukup optimis ide ini akan terwujud. Berbagi sarung dan mukena bukankah hal yang umum dilakukan di bulan Ramadhan, apalagi untuk anak jalanan. Ini pula yang menjadi pertanyaan pertama dari teman saya saat pertama kali mendengar ide ini. Mayoritas orang akan lebih memilih berbagi sembako, takjil, atau menu buka dan sahur. Sesuatu yang selama ini memang dianggap sebagai kebutuhan dasar dan lebih urgent ketimbang sarung ataupun mukena.
Bagi saya, Berbagi makanan atau sembako memang penting. Tapi sudah banyak yang melakukannya, dan barang-barang itu sifatnya jangka pendek. Rasanya ingin sekali memberikan mereka sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk waktu yang lama, dan mengajak pada kebaikan. Tentunya bukan hanya sarung atau mukena yang bisa jadi pilihan, tapi mengingat saat ini masih bulan Ramadhan, dan sebentar lagi Idul Fitri…rasanya tak berlebihan menginginkan anak-anak jalanan itu bisa merasakan Shalat Taraweh ataupun shalat Ied dengan mukena atau sarung baru yang kami berikan.

Jumlah sarung dan mukena yang terkumpul sebanyak 130 sarung dan 103 mukena, yang kami distribusikan ke berbagai lokasi pada tanggal 19-20 Juli 2014.
Kami memulai distribusi mukena kepada anak-anak jalanan yang ada di Monas. Hari itu, Sabtu 19 Juli 2014… Saya ditemani mbak Fitri, Yeni dan Neil berjalan mengelilingi Monas untuk membagikan beberapa sarung dan mukena. Ada delapan sarung dan lima mukena yang berhasil kami bagikan. Berikut beberapa dokumentasinya:

20140723-060855.jpg
Anak jalanan yang kami berikan mukena langsung mencobanya di tempat. Betapa senang melihat muka sumringah mereka saat mencoba mukena baru tersebut.

Selepas berkeliling Monas, Luki bergabung dalam tim relawan, dan kami berpindah ke Taman Suropati. Meski kecewa karena ternyata disana tidak menemukan anak jalanan, malahan bertemu ratusan polisi yang sedang berjaga, kami cukup bersyukur dipertemukan dengan satu keluarga gerobak. Keluarga tersebut terdiri atas pasangan suami-istri dengan lima anaknya yang akur duduk di dalam gerobak. “Anak kami sebenarnya ada enam, tapi ini yang satu lagi nggak ikut,” sang ibu mencoba menjelaskan. Kami pun menyerahkan dua sarung dan dua mukena untuk anak- anak tersebut. Anak terbesar yang sudah berumur 17 tahun tidak kami beri sarung, karena memang target donasi kami untuk anak-anak. Perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Menteng. Di sini kami bertemu dengan David, mantan anak jalanan yang bersedia menjadi guide kami berkeliling Jakarta.
Dari sinilah petualangan kami dimulai. Di sepanjang jalan, David banyak bercerita soal kehidupan anak-anak jalanan. Berulang kali dia mengucap terima kasih atas niat kami berbagi pada mereka, ” Tidak banyak yang peduli pada anak jalanan seperti ini,” katanya. Pada awalnya saya menganggap ucapan David berlebihan. Baru sadar maksud ucapan David saat kemarin bercerita dengan salah satu rekan Kantor tentang kegiatan ini, “Ahh….anak jalanan. Ngapain kamu peduli sama mereka?” dengan tatapan merendahkan. Bahkan saya yang bukan anak jalanan pun rasanya begitu sedih dan sakit hati mendengar kata-kata itu. ๐Ÿ˜ฆ
Dari Taman Menteng kami meluncur menuju Jembatan Grogol. Di sana kami bertemu banyak anak jalanan. Sebagian besar kami temui saat turun dari bus, selesai mengamen. Sebagian di antara mereka menunjukkan ekspresi keheranan saat kami panggil dan disuguhi pertanyaan, “Adek muslim? Puasa nggak, Dek? Shalat kan? ” dan berbagai pertanyaan interogatif lain. Ada salah satu anak jalanan yang begitu santun, sampai menyentuh hati mbak Fitri. Ia baru saja turun dari bus menenteng gitar kecil saat kami panggil.
“Alhamdulillah puasa, Kak” jawabnya pelan saat ditanya.
“Udah bolong belum puasanya?” lanjut mbak Fitri bertanya.
“Alhamdulillah belum bolong.” jawab anak itu lagi.
Begitu haru dan ikhlas kami menyerahkan satu sarung pada anak itu. Begitu sedih anak sesantun itu harus hidup di kerasnya jalanan Ibukota.

Sebenarnya target donasi kami adalah anak-anak jalanan di bawah umur 15 tahun. Beberapa kali kamu harus merelakan hati menolak bapak/ibu yang meminta sarung atau mukena dari kami. Betapa tidak tega saat menolak seorang ibu yang meminta mukena dari kami sambil berkata, “Buat shalat, Kak.” Kami akhirnya menyerah pada dua pria dewasa penyandang disabilitas, dan akhirnya memberikan sarung itu pada mereka.

20140723-062905.jpg

Selepas shalat Ashar di salah satu masjid di Grogol, kami melanjutkan perjalanan ke Senayan. Lihat betapa ceria muka anak-anak di sana, meski di tengah kesulitan hidup yang luar biasa, mereka masih bisa ringan tertawa.

20140723-062743.jpg

20140723-060623.jpg

Perjalanan berikutnya kami lanjutkan ke terminal blok M, dan berakhir di Plaza Senayan. Masih ada lima mukena dan dua sarung saat kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan malam itu. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 8.00 malam, kami belum Shalat Isya pun Taraweh. Bergegas kami menuju Taman Menteng, tempat David memarkir motornya sebelum berpindah ke mobil kami. Tepat di perempatan Taman Menteng, kami lagi-lagi bertemu dengan satu keluarga gerobak dengan anak-anaknya yang masih kecil di dalam gerobak. Yeni pun bergegas turun menyerahkan sarung dan mukena pada anak-anak itu.
Di perjalanan pulang, hanya tersisa satu sarung dan satu mukena. Kebetulan sekali di perempatan lampu merah Tugu Tani, kami bertemu dengan dua anak kecil, laki-laki dan perempuan penjual koran, yang sepertinya sepasang kakak-adik. Segera kami panggil dua anak kecil itu, dan menyerahkan sarung dan mukena terakhir yang tersisa. Betapa haru hati kami menyaksikan si anak perempuan itu berulang kali menciumi mukena yang kami berikan.
Hari itu kami berhasil membagikan 80 sarung dan 48 mukena. Sebanyak 10 sarung dan 10 mukena saya titipkan pada Andi Perdana untuk dibagikan di Manggarai. Sisanya, 40 sarung dan 40 mukena kami bagikan ke anak-anak jalanan di kawasan Kota Tua, lewat komunitas Sahabat Anak. Dibantu Happy dan Andi Priyanto, saya mengantarkan mukena dan sarung tersebut menuju Museum Bank Mandiri, Kawasan Kota Tua pada hari Minggu, 20 Juli 2014. Kami titipkan mukena dan sarung tersebut pada mbak Merry dan relawan-relawan Sahabat Anak untuk dibagikan pada anak-anak yang hari itu sedang mengikuti sebuah acara buka bersama. Lima mukena terakhir kami serahkan pada satpam sekaligus pengurus Mushola di Museum Bank Mandiri. “Terima kasih banyak, kebetulan kami memang sedang kekurangan mukena,” ucap beliau saat kami menyerahkan mukena-mukena tersebut.

Purna sudah tugas kami membagikan mukena dan sarung sesuai rencana. Betapa banyak kisah yang tak sempat saya tuliskan di sini, betapa banyak pula anak jalanan di Jakarta yang belum kebagian sarung dan mukena. Namun begitu, betapa saya sangat bersyukur karna hanya Dalam waktu sepuluh hari sejak pertama kali ide berbagi ini dipublikasikan, sekitar 20 donatur terketuk hatinya untuk ikut berbagi. Jumlah donasi uang yang terkumpul sebesar Rp 11.650.000, sedangkan donasi sarung sebanyak 30 buah dan mukena 3 buah. Dari donasi uang yang terkumpul, kami gunakan untuk membeli masing-masing 80 sarung dan 100 mukena, dengan total pengeluaran Rp 8.720.000. Dengan demikian saat ini masih ada sisa donasi sebesar Rp 2.930.000. Uang ini masih tersimpan rapi di rekening pribadi saya, dan rencananya akan digunakan untuk acara berbagi di Panti Jompo selepas hari Raya Idul Fitri.
Terima kasih tak terhingga saya ucapkan untuk para donatur, yang namanya tak bisa saya sebut satu per satu, namun masih tersimpan dalam laporan donasi. Terima kasih untuk para relawan yang ikut turun ke lapangan, pun pada relawan yang tak sempat ikut berbagi karna satu dan lain hal. Terima kasih pada anak-anak yang kami temui, yang telah memberi banyak pelajaran berharga pada kami. Terima kasih pada siapapun yang membantu publikasi, baik lewat Retweet, Repath maupun Reshare. Mohon maaf untuk calon donatur yang belum sempat mengirimkan donasinya karena keburu saya tutup. Acara berbagi ini Insya Allah akan kami teruskan selepas Ramadhan, meski mungkin dalam bentuk kegiatan lain. Semoga bisa dibuat rutin, minimal sebulan sekali. Semoga kita semua senantiasa dilimpahkan rejeki dan kesehatan agar bisa terus berbagi pada siapapun yang membutuhkan. Karena kebahagiaan akan lebih berarti ketika dibagi, bukan saat dinikmati sendiri. Jadi, mari berbagi…. ๐Ÿ™‚

20140723-060420.jpg

Advertisements

3 thoughts on “Diary Berbagi: 100 Mukena dan Sarung untuk Anak Jalanan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s