Bahagia… Cara Merayakan Demokrasi yang Sebenarnya


Pagi ini saya terbangun dengan perasaan damai. Ada undangan perayaan yang harus saya hadiri hari ini. Perayaan demokrasi.
Ini adalah pemilu kedua yang seharusnya sudah bisa saya ikuti, tapi baru kali ini saya bisa merasakan sebenar-benarnya pesta demokrasi. Sewajarnya pesta, semua orang harusnya bergembira. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa khawatir apalagi rasa menyesal. Yang ada hanya harapan dan optimisme, bahwa bangsa ini akan semakin baik, siapapun yang terpilih nanti.
Saya memilih di TPS 12, Kwitang, bersama teman-teman kos saya. Waktu sampai di depan TPS, seorang bapak-bapak berbaju putih menyambut kami ramah, mempersilahkan kami menuju meja registrasi. Suasana TPS sepi. Entah karena mayoritas pemilih datang lebih pagi, atau karena proses pemilihan yang simpel dan efisien, sehingga tidak menimbulkan antrian.
“Boleh dua jari pak?” kata saya sambil tersenyum kepada bapak penunggu tinta.
“Silahkan, Mbak” jawab si bapak sambil menyodorkan tisu.
“Jangan lupa habis ini dituker sama ketupat, Mbak.” seloroh bapak penunggu kotak suara sambil tertawa.
Saya tertawa, lalu saling melempar canda dengan petugas TPS tersebut. Menyenangkan. Meski belum tahu siapa yang akan menang, tapi saya yakin hari ini adalah hari kemenangan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dimana kami bisa menyuarakan pilihan kami dengan begitu bebas, dimana kami bisa berdiskusi tentang pilihan kami tanpa intimidasi, dimana kami bisa saling bercanda di sosial media tentang pilihan kami yang berbeda, atau membahas debat capres-cawapres yang ditayangkan secara langsung di media.
Bagaimanapun, saya harus berterima kasih pada (calon) mantan presiden kita, pak SBY, atas suasana demokrasi yang begitu cair di negeri ini. Meski demokrasi sering disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas, dan karenanya menodai sebagian media dan dunia jurnalisme kita, tapi ini adalah sesuatu yang harus kita syukuri dan rayakan. Karena bertahun-tahun lalu suasana demokrasi kita tidak seperti ini. Bertahun – tahun lalu, demokrasi hanya tertulis di atas kertas, yang setiap saat siap membungkam mulut-mulut yang (ironisnya) berteriak atas nama demokrasi. Telah bertahun-tahun pula, bibit apatis muncul dan mengakar kuat dalam diri sebagian anak negeri, yang melihat betapa demokrasi telah ternodai.

Kini harapan itu muncul kembali. Harapan untuk memiliki pemimpin yang ‘berbeda’, harapan untuk melihat Indonesia dalam kondisi yang lebih baik dari sekarang, harapan untuk melihat pemerintahan yang bersih dan bisa dipercaya, harapan untuk bisa berdiri dengan bangga di depan dunia dan berteriak, “Aku orang Indonesia!”

Jadi, untuk siapapun yang pernah bilang “Kangen jaman Soeharto”, percayalah nak, kondisi sekarang jauh lebih baik dari masa-masa itu. Kalau kamu mau baca sejarah dan mengerti, tentu saja.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan ‘Selamat’, kepada seluruh rakyat Indonesia yang hari ini sedang merayakan pesta demokrasi. Selamat memilih, selamat menanti hasil pemilihan raya ini. Semoga siapapun yang terpilih nanti, bisa membawa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang jauh lebih baik dari sekarang. Dan semoga, lima tahun lagi kita bisa bertemu dalam kebahagiaan yang sama. Bahagia karena bisa ikut ambil bagian dalam menentukan nasib bangsa ini lima tahun berikutnya.

20140709-113542.jpg

Karena pilih satu atau dua, pada akhirnya kita menuju pada yang ketiga… Persatuan Indonesia.
Karena pilih satu atau dua, pada akhirnya yang terpenting adalah ‘Kita’, rakyat Indonesia.

Salam.

9 Juli 2014, salah satu hari bersejarah bangsa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s